sesampainya di rumah sakit Shally langsung di tangani doker dan para perawat. Aldy sangat menyayangkan sikap David hingga mengakibatkan Shally terluka seperti ini. Aldy sangat marah, walau ia tidak tau siapa ayah dari anak yang di kandung Shally ,tapi Aldy begitu menyayangi Shally dan calon anak nya itu, tak peduli dia adalah ayah biologisnya atau bukan.
"apa yang terjadi? kenapa Shally bisa seperti ini"?
David tiba tiba datang dan membuat keributan.
ayah dan ibu Shally berusaha melerai Aldy dan David.
"sudah aku mohon kalian berhenti. apa kalian tidak sadar? ini di rumah sakit, jangan bertindak seperti anak anak yang senang membuat keributan."
mendengar ayah Shally berbicara dengan nada marah, Aldy dan David serentak diam .kemudian ayah nya mencoba menjelaskan bahwa Shally sedang hamill.
"ya, bapak akan beritahu kamu. sebenarnya Shally sedang hamil. dan tadi Shally baru pulih sejak seminggu ke belakang.
namun kali ini bapak tidak tahu apa yg akan terjadi pada shally."
David begitu syok mendengar kabar Shally yang sedang hamil. David tidak menyangka hal ini terjadi pada mereka. David juga tidak menyangka kedua orangtua Shally menyembunyikan hal yang begitu besar tentang kehamilan Shally
"andai saja aku tahu, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. dan kenapa kalian menyembunyikan semua ini dari ku ?aku sungguh kecewa."
disana David mengusir Aldy. David begitu marah dengan Aldy, bukan tanpa perlawanan tapi ayah Shally meminta Aldy untuk bersabar.dan sebaiknya pulang. karena keadaan nya tidak akan membaik jika Aldy tetap bersikeras untuk tetap berada di sana.
"baik pak ,, saya akan pulang .tapi tolong nanti bapak kabari saya jika terjadi sesuatu ya pak"'
"tentu nak Aldy,.. tentu bapak akan menghubungi dan berkabar."
kemudian Aldy pergi meninggalkan tempat tersebut,
dengan perasaan kesal pada David, namun juga dengan perasaan khawatir terhadap Shally,
Aldy takut anak d dalam kandungan Shally mengalami sesuatu yang tak di inginkan
setelah lama menunggu, beberapa kali David memukul tembok dinding rumah sakit.dia merasa sangat menyesal dengan kejadian ini, terlihat perawat keluar ruang IGD, dan memanggil keluarga pasien.
"maaf hanya orangtuanya saja yang boleh masuk saat ini," perintah suster saat ini membuat David tak berdaya.
ayah dan ibu Shally memasuki ruang pemeriksaan tempat Shally berada saat ini,
"saya minta maaf pak, bu, saya sudah berusaha semampu saya, namun janin di dalam kandungan nya belum kuat menghadapi benturan atau guncangan dan semacamnya..
jadi, janinnya tidak bisa di selamatkan.
"iya dokter kami mengerti, karena kondisi Shally juga sebelumnya memang sudah sangat lemah."
"tapi kondisi Shally baik baik saja kan dokter?" tanya ibu nya dengan begitu cemas menahan tatapannya ke pada Shally.
"Shally baik baik saja. hanya saja butuh istirahat total selama satu minggu. jadi sebaiknya di rawat di rumah sakit saja."
"terimakasih dokter"
"a... Aldy" Shally tersadarkan, dan ia terus memanggil manggil nama Aldy.
"nak, ini bapak"
kemudian Shally membuka mata perlahan, matanya mengitari ruangan mencari keberadaan Aldy. namun Shally tak menemukannya.
"Aldy mana pak, bu? kenapa Aldy tidak ada disini?" tanya Shally kepada ayahnya sambil berlinangan air mata,
"Aldy pulang nak, tadi David dan Aldy ribut di luar dan David mengusirnya."
"tapi kenapa bukan David saja pak yang di suruh pulang!" teriak Shally histeris tidak ingin melihat keberadaan David disana.karena yang dia inginkan saat ini hanya keberadaan Aldy untuk berada di sisinya.
David memaksa masuk untuk menemui Shally,
"shally aku mohon, jangan bersikap seperti ini padaku,, apalah arti hidupku tanpa keberadaan mu di sampingku,
hanya kamu yang bisa menjadi penawar bagi luka yang telah lama menganga dalam hidupku."
aku mohon Shally, maaf kan aku, tetaplah bersama ku, suka dan duka biar kita lalui bersama.
jangan pernah kamu berpaling dariku lagi ya sayang!"
bujuk David kepada Shally terus menerus.walau Shally tak mengiyakan. namun David tetap memaksakan kehendaknya.
membuat Shally tak berdaya, membuat Shally menahan perasaan nya yang begitu mengharapkan Aldy untuk menjadi pasangan nya.
satu minggu di rumah sakit, Shally sama sekali tidak mendapat kunjungan dari Aldy.
jelas saja karena David yang terus berada disamping Shally.
beberapa kali Aldy ada datang ingin menjenguk. namun tampak dari luar kamar ada David yang duduk di samping Shally. karena Aldy tidak ingin ada keributan lagi, maka Aldy hanya bisa bertolak dari sana.
"mas hari ini aku bisa pulang kan?"
tanya Shally kepada David lemas..
"iya ayy, kita pulang hari ini, ayy mau mampir dulu beli makanan atau kue gitu mau gk ayy?
"enggak mas, aku ingin pulang saja."
"ya sudah ayy biar aku antar, aku sudah bilang sama bapak dan ibu agar tidak datang hari ini. biar gak repot."
"mobilnya sudah siap di depan . administrasi juga sudah selesai aku urus. jadi kita bisa pulang sekarang."
"iya mas kita pulang sekarang"
aku sudah kangen kamarku."
Shally dan David pergi ke luar rumah sakit, menghampiri mobil yang sudah menunggu di depan lobi rumah sakit.
David membukakan pintu mobil untuk Shally, Shally masuk ke dalam dan menghela nafas..
"huft.. akhirnya aku pulang juga..'"
kemudian David menyusul menaiki mobil dan duduk di depan kemudi, lalu ia melajukan mobil perlahan menuju rumah Shally.
"ayy,, kemarin itu yang berantem sama aku sebenarnya siapa?"
"emh,, dia temen aku, tapi kita udah saling sayang. dia tau semua cerita tentang hubungan aku sama kamu mas. dan dia kecewa sama kamu. karena aku sering dikecewakan sama kamu mas."
"aku ngerti, tapi aku minta, kamu gak usah ada hubungan lagi sama dia ya.. aku mohon ayy, demi hubungan kita."
"aku nggak janji ayy.. karena saat kamu gk ada buat aku,, dia selalu siap buat aku..
jadi kalo kamu ingin aku gak ada hubungan lagi sama Aldy, kamu harus hilangkan celah itu."
David menatap jalan dengan serius, namun dengan pikiran yang hanya berlari mencari solusi untuk menutup celah yang Shally maksudkan itu.
akhirnya Shally dan David tiba di rumah. David meminta ijin kepada keluarga Shally, bahwa dia ingin sesegera mungkin melaksanakan pernikahan dengan Shally.
"bapak sih terserah Shally nya saja, jika Shally mau melanjutkan hubungan dengan mas David ya bapak setuju saja. yang penting Shally bisa bahagia. tapi jika Shally tidak ingin, bapak minta tolong jangan dipaksakan."
"kalau begitu saya pamit pak ,biar nanti malam saya mengajak ayah dan paman saya ke sini untuk membicarakan nya"
"baiklah kami akan menunggu"
David pergi dari rumah Shally, dengan tujuan untuk membawa ayah dan paman nya ke rumah Shally.
dan ayah Shally menanyakan kepada Shally tentang perasaan nya kini.
" nak, bapak mau tanya sama kamu, kamu mau melanjutkan hidup dengan siapa? Aldy atau David?
karena nanti kamu yang akan menjalani bukan kami. dan kamu merasa nyaman dengan siapa?"
"sejujurnya aku merasa sangat nyaman dengan Aldy pak, tapi Aldy tidak ada menghubungiku lagi, menjenguk ku pun tidak waktu aku dirawat kemarin.."
pecah tangis shally memeluk ayahnya.
Shally memang sangat dekat dengan ayah nya, dia selalu mengadu kepada ayah nya karena ayah nya selalu menanggapi Shally dengan kelembutan. ayah Shally menenangkannya.
"nak, Aldy ada menjenguk mu, namun dia tidak ingin keadaan menjadi kacau karena kedatangan nya." coba kamu hubungi dia, dan bicarakan sama dia, dan putuskan semua dengan cara yang baik ya nak"
Shally mengangguk, di angkat wajahnya dengan kedua tangan ayah nya, dan di usapnya air mata di pipi Shally oleh tangan ayah nya untuk menenangkan hati anaknya itu. perasaan bimbang selalu saja memenuhi hati dan jiwanya.