Episode 17 - move on

1092 Kata
"tuut.. tuut.. hallo,," suara Aldy di balik telepon "Aldy,, ini aku Shally,," "ya, kenapa ly? kamu baik baik aja kan?" "iya aku baik baik aja,, tapi aku nunggu nunggu kedatangan kamu di rumah sakit kenapa gak ada datang sih?" aku cape nungguin kamu Dy"! tangis Shally tak kuasa ia tahan. dengan terbata bata ia berbicara karena tertahankan oleh tangis nya. "sayang, ..maaf ya,.. aku selalu membuat mu menangis. aku hanya tidak ingin membuat suasana di dekatmu menjadi lebih buruk lagi. aku hanya ingin hari hari mu dipenuhi dengan canda tawamu dan senyuman lagi. aku hanya takut karena kehadiran aku di hidup kamu, keceriaan mu berubah menjadi duka. biar aku yang mengalah, jika dia memang bisa membahagiakan kamu, aku ikhlas ly, tapi jika suatu hari kamu butuh aku, kamu tau jika ingin cari aku dimana." "tapi Dy,, aku sayang kamu,, aku gak mau jauh dari kamu, aku nggak mau yang lain nya lagi." Shally terus saja menangis hingga akhirnya ia menutup panggilannya tanpa menghiraukan jawaban Aldy lagi. ayah Shally memeluk Shally yang sedang duduk di sofa di ruang tamu. Shally menangis dan kepala Shally beralih ke atas pangkuan ayah nya. Shally terus saja menangis di pangkuan ayah nya hingga tertidur, ayah nya membelai rambut Shally sambil memandang sedih wajah anak nya itu.. hati ayah nya sungguh terasa sakit, namun ayahnya selalu meyakinkan kepada Shally bahwa Shally pasti bisa melalui ini, dan pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi hidupnya. malam hari nya benar saja, David datang bersama ayah dan paman nya. David melamar Shally dan ingin memastikan tanggal pernikahan mereka. namun Shally masih meminta waktu untuk pernikahan. karena Shally masih ingin bekerja di masa muda nya ini.dia masih ingin menikmati banyak waktu bersama teman, karena Shally tau jika setelah menikah nanti, David pasti tidak akan mengijinkan Shally untuk bekerja lagi. setelah pertemuannya dengan orang tua David selesai , Shally mulai mencari pekerjaan lagi,, masih di pertokoan, dan dia mendapatkan pekerjaan di toko peralatan bayi. tak ada yang dapat Shally harapkan hanya ingin menikmati masa muda nya sebelum pernikahan itu terjadi. Shally merasakan takut, karena dia tidak mencintai David, dia hanya terjebak dengan keadaan yang mengikatnya. dia tak bisa melepaskan hubungan toxic nya dengan David karena dia merasa berhutang budi pada David. karena saat di kelas 3 SMA, David yang membiayai sekolah nya. Dan David juga selalu menanamkan pada diri Shally bahwa tidak akan ada yang mencintai dirinya selain David. sinar matahari mulai terasa hangat, burung burung berkicau dengan riang ,seolah kegembiraan telah menanti. waktunya Shally bergegas untuk pergi bekerja, "move on,, ayo semangat lagi" ucap Shally pada dirinya sendiri. Shally mulai di hari pertamanya. tidak sama seperti di toko sebelumnya. disini Shally mendapatkan banyak teman. ini toko yang lumayan besar. dan ada sekitar 10 orang pegawai. Shally mendapat sambutan hangat disana. Shally sangat senang dia bisa sedikit melupakan masalah yang sedang dia hadapi. "duh gak kerasa sudah waktunya pulang juga. aku di jemput gak yah?" aku coba telepon david aja deh." dirogohnya telepon genggam miliknya dari saku celana nya. "tuuut.. tuut.." "ya sayang, kenapa?" "ay,, aku sebentar lagi pulang kerja. mau jemput gak?" "oh , iya sayang aku jemput, aku pergi sekarang ya. miss u ayy" "miss u to ayy" beberapa menit kemudian Shally dan teman lain nya pergi dari tempat mereka bekerja untuk keluar kompleks pertokoan. terlihat ada David yang telah menunggu nya. "ayy, udah lama nunggu nya?" sapa Shally sambil memeluk hangat terhadap David yang berdiri di samping mobilnya, "enggak kok, aku belum lama ayy, naik yuk,," jawab David sambil merasakan desiran darah yang mengalir hangat dalam tubuh nya juga getaran dalam dadanya yang meronta merasakan dahaga akan hasratnya karena terpancing pelukan dari Shally. "iya ayy, aku masuk ya." Shally memasuki mobil dengan pintu yang David bukakan di susul David yang kemudian duduk di depan kemudi, dan mengendarai kendaraan untuk pergi ke tujuan . "ayy,, kita mau kemana? ini kan bukan arah pulang ke rumah ?" "udah ayy tenang aja ya.. nanti ayy juga tahu kok" "tapi ayy, aku kan belum bilang sama mama sama bapak juga. jika mereka mengkhawatirkan aku bagaimana?" "kamu telepon saja ayy, bilang saja kalo kamu ada tugas jaga toko di luar kota di cabang baru!" "oh ,,gitu ya ayy.. emank nya kita mau keluar kota ayy?" "enggak ayy,, kita masih sekitaran sini kok, aku hanya ingin merasakan ketenangan hanya berdua saja sama kamu ayy." "oh ,,ya sudah aku telepon ke rumah dulu ya ayy!" tak sadar, David telah mengajari Shally berbohong pada keluarga nya yang suatu saat akan menjadi bumerang bagi nya. kemudian Shally memberikan kabar pada keluarganya bahwa ia tidak akan pulang malam itu karena ditugaskan ke luar kota untuk pembukaan toko cabang baru seperti yang telah diusulkan oleh David kepada nya. tak lama setelah itu laju kendaraan beroda empat yang di tumpangi David dan Shally pun berhenti di sebuah hotel berbintang lima David keluar dari mobil yang di susul oleh Shally sambil memandangi sekeliling. jantung shally berdegup kencang. Melihat kemewahan hotel yang sangat ia indah dan megah yang tak pernah ia lihat sebelumnya,, hamparan karpet merah di depan aula gedung mewah itu membuat Shally merasa istimewa. Sambutan yang begitu hangat dari para pelayan hotel tersebut, lorong lorong kamar hotel yang begitu hening saat dia lewati bersama David ketika mereka menuju kamar yang telah David pesan sebelumnya. Dibuka nya kamar mereka, Shally agak ragu untuk memasuki nya, entah mengapa walau sudah begitu lama, namun kejadian dahulu dengan seseorang tanpa nama itu terbayang kembali saat Shally hendak masuk ke kamar hotel tersebut. Shally merasa sangat takut, namun tak tahu kenapa ia tidak bisa menolak nya . Shally masuk ke kamar hotel tersebut diiringi dengan langkah kaki David di belakang nya. Shally duduk di sofa, dan David masih berbincang dengan pelayan hotel di depan pintu kamar. "ayy kamu mau pesan makanan apa?" David sempat menanyakan makanan yang ingin dipesan Shally. "apa saja ayy" Shally menjawab dengan tanpa ekspresi apapun di wajah nya pelayannya bergegas setelah mencatat pesanan yang dipesan oleh David dan Shally untuk segera menyiapkan nya. setelah pelayan nya pergi, David pergi ke kamar mandi yang ada dikamar hotel yang sangat sangat mewah itu, dia menyalakan kran air hangat untuk mengisi bathtub. segera David memanggil Shally untuk membersihkan diri dengan menggunakan air hangat dengan aroma wewangian dari bunga bunga yang David taburkan di bathtub itu. suasana yang begitu membuat mereka berdua merasakan gairah yang begitu menggelora. Perlahan David menarik lengan Shally, mengecup bibir merah jambu nya dengan penuh hasrat... bersambung... untuk para pembaca,mohon dukungannya dengan memberi like dan komen dan follow ya.agar penulis lebih semangat lagi untuk menulis ceritanya TERIMAKASIH
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN