BAB 07: Takdir yang tidak bisa ditolak

1714 Kata
Suasana kembali ramai setelah mendengar harga b***k yang begitu mahal dari biasanya. "Harganya terlalu mahal hanya karena mereka mantan bangsawan yang kini menjadi b***k, haha!" cetus salah satu pedagang yang juga salah seorang bangsawan sedang menertawakan hal itu bersamaan dengan rekan-rekan. "Apa kamu yakin mereka punya keahlian? Haha! Menurutku mereka tidak mempunyai hal itu, lihat saja tubuh dan wajah mereka. Apa lagi mereka masih terlampau muda mungkin keahlian mereka yang sebenarnya cuma menyulitkan orang-orang, haha!" cetus kembali salah seorang pedagang yang mengikuti acara lelang. "Tentu saja kami yakin, mereka semua punya keahlian yang cukup sebagai seorang b***k!" "Biar kutebak! Para pria ini mungkin hanya ahli bela diri sedangkan wanita-wanita ini ... sudah pasti ahli dalam urusan ranjang. Haha!" Melihat situasi yang makin tidak kondusif, mereka pum memutuskan menarik kembali para b***k-b***k bekas bangsawan tersebut kedalam jeruji besi. "Ah, baiklah seperti yang kalian duga, lelang b***k bekas para bangsawan ini dinyatakan gagal! Selanjutnya! Aku harap kalian tidak kecewa, mereka semua handal dalam mengurus serta merapikan dan yang paling penting adalah mereka penurut apapun jenis permintaan tuannya akan mereka lakukan dan tidak pernah menolak!" Semua orang terdiam setelah mendengarkan dengan seksama ucapan si pembawa acara, dan kali ini juga mereka juga tidak berkomentar banyak. "Apa perlu aku lanjutkan lelang hari ini atau kita lewati saja? Jika iya maka mereka akan kami bawa kembali ke kandang." ucap pembuka acara memastikan kembali ketertarikan penawar kepada para b***k yang saat ini dilihat oleh mereka. Mereka tidak berkomentar ataupun mencemooh, mereka terlihat tertarik dengan ucapan si pembawa acara. "Kami anggap jawaban diam itu sebagai tanda kalian menyetujui lelang ini untuk dilanjutkan," ungkap pembawa acara, "Baik, kita buka harga lelang dengan harga dua puluh juta koin emas untuk masing-masing dari mereka. Silakan penawar, kami beri kesempatan." Suasana terlihat hening dari biasanya, seperti tengah memperhatikan dengan seksama barang dagangan yang akan mereka beli. Seorang pria berkulit hitam mengangkat papan nomornya, "dua puluh satu juta dua ratus koin perak, untuk wanita kecil di pojok kanan itu!" Tiba-tiba suasana menjadi kacau setelah mendengar ucapan penawar pertama menawar gadis kecil yang belum genap enam belas tahun. Tawar menawar menjadi begitu sengit hingga pada akhirnya salah satu orang menawar dengan harga tujuh kali lipat dari biasanya menghentikan para penawar yang mulai kehabisan uangnya hanya untuk seorang gadis. "Tiga puluh lima juta keping emas dan dua ribu koin perak." cetus pria bernomor papan sepuluh. "Yah sepertinya kita memiliki pemenang dengan harga tertinggi disini. Selamat tuan silakan kebelakang panggung untuk mengurus biaya administrasinya." ucap pembawa acara mempersilakan. Seluruh orang yang berada diruangan memperhatikan orang gila yang menghamburkan uang demi anak gadis. Hingga menuju pintu belakang panggung. "Baik, lelang lagi b***k yang tersisa, dengan harga yang sama siapa yang mau menawar?" *** "Haha ... akhirnya aku mendapatkanmu, tunggu nanti, aku akan mendandanimu seperti boneka agar terlihat cantik untuk nanti malam." ucapnya. "Permisi tuan, tolong berikan cap jempol tuan sebagai tanda bukti telah membeli barang lelang disini, dan juga sertifikat sah b***k milik ..." ucap pegawai sembari memperhatikan sikap bangsawan yang begitu agresif seolah ingin melahapnya. Orang tersebut mengambil dan memberikan cap jempolnya serta sertifikat, "Jadi namamu Mika? Terlihat cantik sekali ... namamu yang begitu cantik membuatku ingin cepat-cepat melakukan ritual pendewasaan untukmu," cetusnya, "Kamu tinggal mengambil uang tersebut di bank serikat perdagangan, dan juga ini uang tip untukmu." sambil memberikan papan kayu tipis berlambangkan serikat pedagang serta nama si pemilik. "Terima kasih tuan Ming-Huang." ucap pegawai langsung pergi meninggalkan Mika dan Ming-Huang berduaan. "Rantai ini tidak cocok untukmu sepertinya aku harus cepat-cepat membawamu kepemandian dan membelikanmu gaun cantik." gumamnya. Mika hanya diam saja kepada orang asing yang kini menjadi pemiliknya, bahkan Mika tidak menggubris tindakan tak senonoh yang tengah dilakukan sang pemilik sampai pada akhirnya, kereta kuda pun datang membawanya menuju keluar membawa dirinya dan juga pemiliknya meninggalkan kerajaan. Sebelum itu, ia dibawa ke pemandian terbuka dimana tempat tersebut tidak ada pembatas antara laki-laki maupun perempuan lalu ia dibelikan gaun mewah yang cantik hingga tidak terlihat lagi seperti seorang b***k dan pada akhirnya ia meninggalkan kerajaan serta berpisah dengan ibunya. *** Sementara itu di lain sisi, ada seorang anak gadis yang sedang menangisi rekannya yang sudah terjual. Kini ia terpaksa kembali sendiri merenungi semua yang terjadi. Gadis tersebut adalah Xuemei, ia menangis selama seminggu penuh. Tidak hanya itu, ruangan yang ditempati dirinya dan juga temannya kini semakin luas karena secara bertahap gadis-gadis tersebut di lelang satu persatu. Meski bertambah orang, namun tetap saja ruangan ini terasa luas dari sebelumnya. Suara pintu terbuka, "Hei kalian semua keluarlah!" Semua gadis yang masih berada dikurungan sontak terkejut atas ucapan tadi, mereka terlihat ketakutan, namun salah satu dari belas orang yang berada di dalam memberanikan diri untuk bertanya. "A-Apa kami akan di jual semua?" tanya salah seorang gadis yang terlihat ragu-ragu atas ucapannya. "Tidak, acara lelang telah berakhir karena sudah mendekati musim salju." balas penjaga. "Lebih baik seperti ini, dari pada harus berpisah dengan keluargaku yang juga berada disini." cetus gadis berambut pendek. "Semoga dewa memberimu kesempatan bebas di lain waktu." cetus penjaga setelah mendengar semua ucapannya. Satu per satu keluar dari kurungan tersebut, kemudian mereka di pekerjakan kembali sebagai pelayan bar. Tapi sebelum itu mereka dikurung kembali kedalam jeruji dingin ditempatkan di bekas kandang sapi yang cukup luas untuk menampung ratusan orang yang berada didalam. Gedung tempat berteduh para b***k di bagi menjadi empat bagian sesuai dengan usia. Tanah yang luasnya sekitar lima hektar, cukup luas untuk menampung seluruh b***k yang berjumlah kurang lebih enam ratus jiwa b***k dari usia satu bulan hingga enam puluh tahun. *** Xuemei kini sampai didalam gedung disana, wajahnya masih saja tetap tampak murung setelah kehilangan teman barunya. Penjaga membuka pintu jeruji besi, "Cepat masuk kedalam keadaan mulai terasa dingin aku ingin segera masuk kedalam bar dan menghangatkan diri," Penjaga langsung menutup pintu jeruji lalu buru-buru pergi meninggalkan gedung, "Ah sial ini memang terasa sangat dingin dari biasanya." umpatnya. "Sepertinya tinggal beberapa minggu lagi, musim dingin akan datang," cetus rekan yang berada didekatnya. *** "Bocah pergilah menyinggir dari sini, jangan ganggu waktu tidurku!" ucap salah satu b***k yang membuat keributan dengan b***k lain didalam jeruji besi. "Tempat ini memang terlalu kecil, lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini?" "Itu bukanlah urusanku, cepat keluar dari sini! Atau aku hajar kau!" seru b***k laki-laki sambil menendang-nendang bocah berusia dua belas tahun memojokkannya di pintu jeruji besi membuat gaduh tempat tersebut hingga mengganggu b***k lainnya yang berada didalam. "Diamlah brengs*k! Jangan buat keributan seenakmu disini!" Setelah itu, disusul b***k-b***k lainnya yang mulai protes pada akhirnya keributan tersebut terdengar dari luar gedung dan penjaga pun masuk untuk mengecek kegaduhan yang dibuat mereka. "Diam! Ada keributan apa ini?!" ucap penjaga memecah keramaian yang dibuat para b***k, "Apa yang sebenarnya terjadi!" Mereka pun tiba-tiba terdiam tidak membalas pertanyaan penjaga. "Baiklah, kali ini kalian biarkan. Jika kami mendengar suara gaduh dan itu berasal dari tempat ini! kalian pasti mengerti akan berakhir seperti apa nanti!" ucapnya penjaga seraya mengancam. para penjaga pergi meninggalkan gedung, suara yang tadinya ramai saat ini begitu hening dari biasanya. Bahkan suara jangkrik pun sanggup memecah keheningan malam. *** Esok hari pun berlalu, hari ini awan begitu gelap dan dingin. Namun, para b***k tetap bekerja melayani para pedagang yang singgah di bar sedangkan yang lainnya terutama laki-laki tetap bekerja diluar yang begitu dingin ditambah pakaian yang tipis serta angin kencang dari arah barat. "Cepat angkut semua barang ini kedalam gudang sebelum hujan turun!" teriak penjaga mengoceh dan memerintah para b***k. Semua terlihat seperti yang seharusnya tidak ada yang istimewa saat itu, yang ada hanyalah kesengsaraan tiada henti bagi para b***k. Menjadi orang yang terkekang layaknya burung berkicau indah, namun pemilik tidak memahami maksudnya tersebut. Entah itu meminta tolong ataupun menangis mengharapkan pertolongan, semua terlihat sama saja namun itu berbeda bagi mereka. Semakin hanyut dalam penyesalan, membuat jiwa pelan-pelan pergi meninggalkan tubuh dengan cara tragis yang bahkan belum pernah terpikirkan sebelumnya. "Aaaa! Pemimpin ... pemimpin!" teriak penjaga terhuyung-huyung berlari sambil memanggil sang pemimpin hendak melapor. "Ada apa? tanya mereka berdua penjaga yang berada disebelah pemimpin. "Ada seorang mayat pria terluka pada bagian leher menembus pangkal tenggorokan, sepertinya dia sengaja bunuh diri." ucap penjaga yang baru saja melihat mayat. "Sial! sepertinya bos akan marah, saat ini kita sudah kehilangan tujuh b***k bulan ini." umpat pemimpin. "Baiklah kalau begitu laporkan ini kepada bos," perintah pemimpin pada salah satu prajurit, "Kamu tunjukkan dimana lokasi mayat tersebut." "Baik!" seru mereka berdua. Mereka memutuskan menuju tempat pandai besi dimana saat ini produksi pembuatan peralatan perang dihentikan karena faktor menipisnya kayu bakar. Mereka pun sampai ke tempat pandai besi yang berlokasi dibelakang gedung tempat tinggal para b***k bagian timur. "Bagaimana menurut?" tanya penjaga kepada pimpinannya yang saat ini sedang menyentuh tubuh pria malang tersebut dari dekat. "Hhem, keadaannya sangat mengenaskan, besi runcing ini ditusukan ke leher hingga menembus kedalam tenggorokkan dalam keadaan sangat panas. Ini benar-benar gila, apa yang sebenarnya dipikiranya hingga bunuh diri dengan cara mengerikan seperti ini." gumam pemimpin mengutarakan pendapat. "Hei cepat panggilkan rekan kita yang lain suruh membawa beberapa karung untuk membungkus tubuhnya kemudian menguburnya." ucap sang pemimpin, "Baik!" balasnya meninggalkan pimpinannya sendirian bersama mayat seorang pria. "Dari yang aku lihat pada kondisi mayat ini, sepertinya sudah semalaman tubuh ini tergeletak. Lalu bagaimana caranya orang ini keluar dari kurungan?" batin Pemimpin penjaga. Pemimpin penjaga yang saat ini sedang di sibukkan menebak-nebak cara Pria muda itu keluar dari kurungan. Di lain sisi penjaga bawahannya menuju bos pemilik b***k untuk melaporkan kejadian kali ini. Ketukan pintu dari luar ruangan, "Maaf tuan, saya ingin melapor!" "Masuklah!" seru Xue-Jang mempersilakan masuk penjaga. Penjaga segera masuk lalu melapor, "Lapor tuan, kita mengalami sebuah masalah lagi yaitu seorang b***k pria muda telah meninggal dari luka yang kami lihat, kami simpulkan ia meninggal karena bunuh diri." "Apa!" Xue-Jang terlihat sangat terkejut sambil memukul meja, "Dimana dia mati! Sialan!" "Di tempat pembuatan senjata tuan yang saat ini sedang di liburkan karena kekurang kayu kering." "Bagaimana bisa kalian baru mengetahuinya pagi ini?! Untuk apa aku membayar kalian dengan mahal." sentak Xue-Jang seketika menjadi sangat hening. "Brengs*k! Cepat lakukan sesuatu supaya b***k lain tidak kabur lalu bunuh diri. Jika tidak segera mengambil tindakan, aku akan semakin merugi!" teriak Xue-Jang begitu kuat menyemprot amarah pada penjaga di depannya. Penjaga seketika berubah kaku setelah disentak, "Caranya tuan? ..." tanya penjaga dengan suara lirih. Xue-Jang makin naik pitam setelah mendengar pertanyaan anak buahnya, "Untuk apa aku membayarmu mahal, jika tidak bisa memikirkan cara menghentikannya! Pergilah dari sini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN