Salah satu penjaga mengayunkan pedang ke semabrang tempat, Feng Ying masih sanggup menanganinya jika hanya satu orang saja. Feng Ying menahan dengan tangan kanan. “Berdamai saja, aku tidak ingin melukai kalian … kecuali orang yang tengah memegang pedang yang sedang tersungkur di sana.” ucap Feng Ying sembari menyindir keras pria itu. Kemudian pria itu terlihat menyeringai lalu menggunakan kedua tangannya untuk menekan pedang itu yang hampir mengenai bahu kanan Feng Ying.Seringainya menujukkan ia menggunakan sepenuh kekuatan yang ada, Feng Ying masih menggunakan satu tangannya. Lalu secara tidak terduga, Feng Ying melayangkan tendangan ke arah samping kiri.
Pria itu langsung sempoyongan, lalu di setengah sadarnya. Ia pun mengambil pisau yang berada di tangan kirinya,kemudian berusaha menusuk ke arah perut Feng Ying. Feng Ying menendang tangan yang memegangi pisau tersebut. Lalu di saat yang sama ia melakukan tendangan memutar hingga langsung mengenai kepala.
Musuh itu terpelanting ke arah kanan Feng Ying, belum selesai di situ saja, Feng Ying masih sempat memegangi pedang yang berada di tangan kanannya dan melempar. Pisau itu melayang, kemudian menancap ke lehernya setelah tubuhnya membentur tembok.
Suara keras itu, lantas terdengar, tapi sepertinya itu masihlah aman. Mereka yang tersisa sepertinya tertegun, ketika melihat gerakan cepat yang tidak masuk akal itu baru saja terjadi. “B-Bagaimana bisa ini terjadi?” kejutnya dengan nada terpatung tidak karuan.
Feng Ying menunjuk ke arah belakangnya. “Kalian tidak bisa keluar dari kamar ini kecuali dari sana.” Mereka pun mematung, lalu menengok ke arah belakang, yaitu sebuah jendela yang terletak di lantai dua. Kemudian, mereka kembali menengok, “Kalau kalian tidak mau keluar dari sana, mungkin bisa saja kalian mempersiapkan diri untuk mengantri seperti mereka.” Lagi – lagi Feng Ying menujuk bagian yang mustahil di lakukannya.
Mereka pun memohon, “Tolong ampuni kami, kami benar – benar hanya keroco saja.” Kedua memohon dengam memasang wajah melas sambil membenamkan wajahnya ke lantai. Tapi ada seseorang yang masih berdiri, pria itu adalah orang yang sempat memegang pedang milik Feng Ying.
Tangannya merogoh sesuatu di saku kirinya, Feng Ying secara tanggap langsung saja menangkis tameng yang ada di tangannya. Lalu di saat itu jug rekan keduanya tiba – tiba menancapkan pisau ke kaki Feng Ying.
Feng Ying menahan sakit, ia menggigit lidahnya sendiri agar tidak berteriak kencang. Ruangan yang sempit sangat menulitkan Feng Ying untuk bergerak bebas dari biasanya. Namun, Feng Ying kembali menerimas serangan, lawan yang berada di hadapannya mengarahkan pisau kepada Feng Ying. Feng Ying langsung segera menangkis serangan, lalu mengunci sendi pria itu, sesudah itu di arahkan kembali ke arahnya. Pria yang baru saja menyerangnya terkena tusukan pisaunya sendiri setelah gagal menusuk Feng Ying.
Kedua yang baru saja berlutut, menyerang Feng Ying menggunakan pisau yang berada di pisaunya pula. Serangan demi serangan ia halangi dengan tameng yang di miliki Feng Ying. Namun saat itu juga, Feng Ying harus menahan rasa sakit saat pisau yang tertancap belum berhasil ia cabut.
Kerutan wajah Feng Ying saat menahan diri, sepertinya membuat Feng Ying tidak bisa menahan lebih lama lagi. “Sialan!” Feng Ying berhasil mengenai lengan pria itu kemudian tulang lengannya ia patahkan sekali pukul. Kemudian ia pun mendorongnya bersamaan, hingga tubuhnya membentur tembok. Sembari menahan pria yang itu dengan tameng Feng Ying belum puas, ia malah menghajarnya beberapa kali ke area wajahnya. Rekannya sempat berniat untuk menyelamatkan namun sayang malah ia terkena serangan yang lebih parah. Ketika tubuh rekannya di lempar, hingga mereka berdua tersungkur secara bersamaan.
Feng Ying dengan santai, mengambil salah satu pedang yang tergeletak. Keduanya masih tertindih, dan belum menyadari Feng Ying telah mengambil pedang itu. “Pose yang bagus, sekarang matilah …” sekejap Feng Ying menusuk mereka berdua dalam posisi saling menindih, darah mereka tercampur di tengah sela – sela antara mereka beruda. Salah sau dari mereka masih sadar, wajahnya begitu pucat, serta di mulutnya mengeluarkan darah. “Apa yang kau lihat? Jangan menyalahkanku, ini salah kalian.” Balas Feng Ying demikian, dengan nada datar. Setelahnya Feng Ying membuka pintu.
Sebuah pedang baru saja nyaris saja menyanyat hidungnya. Lalu Liu Jun berkata, “Masih untung, kau tidak terkena pedangku.” Ungkapnya dengan waspad masih menaruh pedang di dekat wajah Feng Ying, karena mereka sempat tidak mengetahui sama lain mereka berdua saling waspada saat itu. Tapi sudah jelas, suara itu membuat telinga Feng Ying merasa ia mengenalnya. “Liu Jun, ini aku Feng Ying.” Paparnya, “turunkan pedangmu dari wajahku sekarang juga.” Sambungnya demikian menyingkirkan pedang itu dari wajahnya.
Pedang Liu Jun di turunkan, ia sedikit mundur ke belakang. Setelah pintu terbuka. Tampaknya wajah Liu Jun yang tadinya tampak tegang, mulai lega. “Bagaimana caramu masuk ke sini?” tanya Liu Jun, sembari memegangi dadanya. “Aku sedikit kecewa, dengan tempat ini, ternyata hanya sedikit yang menjaga.”
“Aku memanjat lantai dua, ternyata bukan hanya aku yang merasa begitu, ini benar – benar aneh.” Feng Ying sempat berpikir keras, karena dia sempat membuat kegaduhan di dalam ruangan. “Apa kamu tadi mendengar hal gaduh yang berasal dari ruangan ini?” tanya Feng Ying, bulan yang tadinya gelap berubah menjadi sedikit terang, dari jendela masuk ke dalam ruangan yang berisikan tubuh – tubuh yang sudah kehilangan jiwanya, sinarnya menerangi mereka.
“ Aku tidak mendengarnya.” Balas Liu Jun, “lagi pula sepertinya ketika aku baru sampai ke lantai ini, pertarunganmu dengan mereka sudah selesai.” Liu Jun tampak mengintip karena Feng Ying membelakangi ruangan itu, kemudian hendak menggeser tubuh Feng Ying. “Apa ini semua ulahmu?” tanya Liu Jun dengan wajah terkagum.
“Aku sebenarnya tidak berniat melakukan hal itu, mereka yang memaksaku.” Balas Feng Ying memberi alasan ketika Liu Jun melihat lawannya, kehilangan nyawa dengan cara yang mengenaskan. “Apa kamu baik saja?” sambung Feng Ying, yang terdiam melihat rupa – rupa lawan Feng Ying.
“Apa kamu merasa ini hanya jebakan saja?” tanya Liu Jun ketika melihat mayat – mayat ini dan memegang darah yang menempel pada peda yang tertancap di kedua tubuh orang yang saling menumpuk. “Bagaimana kamu melakukannya?” sepertinya Liu Jun mengalihkan pembicaraannya sendiri, karena rasa penasaran Liu Jun akan cara Feng Ying membuat mereka semua mati dengan cara yang mengenaskan seperti ini.
Feng Ying tidak terlalu menanggapi ucapan Liu Jun yang penasaran dengan cara kerjanya membunuh semua orang yang berada di ruangan ini. “Aku sedikit merasakan hal itu, karena tempat ini sangat lah sepi.” ungkap Feng Ying, setelah mengingat kejadian sebelum memasuki tempat ini. “Kita sama – sama melihat bahwa tadi ada tamu yang masuk kemari … ruangan ini sangat banyak, bahkan setiap aku menaiki tangga, hampir di setiap sisinya, di isi oleh tiga pintu sampai lima pintu sekaligus.”
“Kalau pemikiran kita sama, berarti ada yang salah dengan tempat ini.” Balas Liu Jun, lalu kembali keluar dari ruangan ini dan meutupnya. “Aku sudah menanyakan kepada penjaga – penjaga yang berada di sini, jawaban mereka semua sama. Mereka semua berada di atas. Tapi aku tidak terlalu yakin dengan ucapan itu.” Liu Jun menepuk bahu Feng Ying dan berkata. “Kalau begitu, sepertinya salah satu dari kita harus memeriksanya di setiap pintu, yang berada di sini.”
Wajah Feng Ying mengekerut, “Permainan yang sangat membuatku benci … lagi pula cara ini terlalu lama, kita butuh mempersingkat waktu.” Papar Feng Ying.
“Kita harus membuat salah satu dari mereka menuntun kita ke tempat persembunyian aslinya.” ungkap Liu Jun, “Hanya cara seperti ini yang bisa ku pikirkan.” Balas Liu Jun.
“Kalau begitu, sepertinya kita harus ke atas bersama – sama.” Ungkap Feng Ying, kemudian melanjutkan berjalan menaiki tangga sembari mengecek setiap pintu yang ada. Liu Jun membantu Feng Ying melakukan tugas yang sama agar mempercepat menemukan mereka.
Mohon tinggalkan komentar, atau love jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way