“Hei mau kemana? Sekarang giliranmu yang mengocok dadu.” Seru rekannya yang tiba – tiba pergi begitu saja meninggalkan permainannya.
“Biarkan saja, kita lanjutkan saja permainannya.” Papar temanya kemudian mengeluarkan empat koin perak dan ia taruh di meja. “Oke aku sudah siap.” Kemudian temannya masih melirik ke belakang menunggu temannya. Lalu ia pun berdiri berniat untuk mengecek, ternyata temannya yang dia cari ada di ruangan lain yang bersebalahan dengannya yang membuat orang itu sedikit bingung dengan situasi yang terjadi, ia pun masuk kedalam ruangan itu. Melihat temannya duduk di kursi.
“Kenapa kau ada di sini sendirian?” tanya pria itu lalu menyentuhnya, dan ternyata setelah di sentuh pria itu langsung terjatuh dan tidak bergerak. Ia mundur, dan belum bisa berkata apa –apa namun saat hendak berbalik. Tiba – tiba saja di depan matanya melihat seseorang yang kemudian membungkam mulutnya.
“Teriak kamu akan mati.” Papar Liu Jun sembari menunjukkan belati yang berkilau, ke arahnya. Pri aitu langsung menganngguk, “bagus, kalau begitu … diaman tuanmu?” tanya Liu Jun kemudian sembari menempelkan belati yang berada di tangan kirinya menyentuh pipi .” Aku tidak akan mengucapkannya untuk kedua kali … tentang peringatan tadi.” Pria itu kembali mengangguk memahami perkataannya setelah itu di lepas.
“Mereka sedang mengadakan pertemuan ...” ungkapnya dengan nada lirih sembari wajahnya penuh dengan rasa takut yang menghinggapinya.
Liu Jun tetap mengarahkan belati itu ke pipiinya, ia tidak mengendurkan sikap waspadanya,“Baiklah kalau begitu, jangan pernah menggunakan kata yang aneh lagi.” Pria itu kembali mengangguk setiap kali di beri peringatan.”
“Sekarang giliranmu … siapa kau!” serunya sembari terkejut lalu mengeluarkan pedang , namun sebelum mengucapkan kalimat lanjutan. Liu Jun langsung menembakkan anak panah ke arahnya dalam sekejap mata saja.” Suara badan yang terjatuh ke tanah cukup membuat perhatian orang – orang yang berada di ruangan sebelah.” Kemudian, penjaga – penjaga yang sedang mendapat giliran itu memeriksa ruangan sebelah, mereka hanya melihat pria yang baru saja di jadikan alat informasi oleh Liu Jun, saat ini pria itu hanya berdiri dan tidak dapat berbicara karena tahu di samping pintu itu ada seseorang yang bisa kapan saja dapat menembaknya.
“Sepertinya orang ini sedang pingsan, luka tidak terlalu dalam” papar orang tersebut setelah mengecek langsung keadaaan rekannya yang terkena anak panah. “Kenapa kau berdiri saja?” Namun, pria berkepala botak sudah menyadari ada seseorang yang masih berada di sekitar sini, setelah melihat rekanny ayang bersikap aneh. Kemudian, tangannya pun mengambil pedang begitu juga rekannya yang baru saja mengecek orang yang baru saja terkena panah.
Pandangan pria botak itu kemana – mana. Namun setelah menyadari sesuatu yang berada di sampingnya, ia menyadari ada seseorang yang sedang bersembunyi di depan pintu. Pria botak itu langsung mempersiapkan diri dan mencoba menusukkan pedang itu ke pintu.
PIntu berhasil di tusuk namun tidak ada yang terjadi. Yang ada malah tiba – tiba rekannya terkena tembakan panah. Suara tubuh yang terjatuh itu sunggung membuat perhatian kepada ketiga orang yang masih berdiri di balakang pintu. “Bagaimana itu tadi terjadi?” sempat kebingungan, lalu dua panah kembali mengenai mereka dan hanya tersisa pria botak tadi.
Liu Jun mengarahkan panah kecil yang berada di tangan kirinya, “Kau berteriak, artinya mati.” Namun, hal itu tidak membuatnya takut karena hampir sebagian besar rekannya tidak mati melainkan pingsan karena di bius.
Baru saja membuka mulutnya, pria itu terkena lemparan pisau yang mengenai tenggorokannya. Liu Jun pun mengambilnya kembali, “Keputusan yang buruk.” Balasnya, lalu kembali mengelap darah yang menempel pada belati itu, ke pakaian pria botak tadi dan memutuskan menarik semua orang masuk ke dalam kamar tersebut. Lalu, Liu Jun langsung mengunci pintu rapat – rapat.
***
Suara seperti benda jatuh terdengar beberpa kali, Feng Ying memanfaatkan itu dengan cara membekap orang yang sedang melihat ke arah tangga, dan menguncinya hingga tidak bisa bernapas. Kemudian, ia juga melihat ke arah tangga bawah, “Aku penasaran, bagaimana keadaan Liu Jun saat ini.” Gumam Feng Ying kali ini setelah melihat keadaan yang sangat sunyi. Liu Jun langsung membuka pintu dengan bokongnya.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” kejutnya setelah memasuki ruangan dengan membawa salah satu orang yang berhasilkan ia lumpuhkan dengan tangannya sendiri. Tapi dengan tenang Feng Ying tetap menggeret, sesudah itu menyenderkannya ke tembok dan menutup pintu rapat – rapat. Kemudian , menengok ke arah mereka.
Ssuasana saat itu begitu garing dan aneh, bagaimana bisa Feng Ying dengan santainya melanjutkan kegiatanya seolah tidak terjadi apa – apa. “Tenang , temanmu tidaklah mati malah sebaliknya, ia masih hidup.” Tentu saja, itu membuat rekan – rekannya yang tadinya duduk santai, malah harus beridri sambil menyiapkan pedang yang ada di pinggangnya.
“Apa tujuanmu kemari?” ucap salah satu orang yang sedang mengarahkan pedang itu langsung ke arah Feng Ying, begitu dekat dengan wajahnya yang hanya sejengkal tangan saja.
“Bisa kau turunkan pedanmu? Jika tidak mau itu akan menjadi petaka kalian.” Ucap Feng Ying dengan nada merendahkan mereka berempat. Tapi sepertinya, orang-orang tidak terlalu peduli dengan ucapan Feng Ying. “Baiklah, kalian sudah telat untuk menyesali hal ini.” Sambungnya, kemudian langsung saja memegangi ujung pedang erat – erat, kemudian langsung saja menendang dagu lawan hingga pedang pun terlepas darinya. “Aku kan sudah bilang.” Pria itu tampak mengeluarkan darah, di bagian bibirnya.
Feng Ying melempar pedang, setelah pedang itu berhasil di rebutnya, “aku tidak butuh pedang seperti itu.” Namun, hal itu malah kembali membuat marah mereka, mereka pun mulai menyerang pedang, dari berbagai arah, tapi karena Feng Ying sangat handal menghindar dan memanfaatkan jubahnya. Ia malah tidak terkena serangan sama sekali meski ruangan itu sempit dan membuatnya susah menghindar.
Feng Ying saat itu juga malah mengikat ketiga pedang itu jadi satu dengan jubahnya, “Kalian tidak boleh menggunakan pedang, itu akan membuat kalian terbunuh.” Balas Feng Ying dengan nada yang sama. Kesombongan Feng Ying sepertinya membuat lawan semakin tinggi emosi.
Pukulan kuat baru saja meluncur, tapi yang terjadi malah mengenai tameng milik Feng Ying. “Sudahlah pasrah saja, lebih baik kalian diam, sebelum aku melakukan hal lebih buruk kepada kalian.” Kemudian salah satu orang malah melemparkan sebuah kursi ke arah Feng Ying.
Kursi pun melayang, dan mengenai Feng Ying, secara bersamaan ketiga lawan menyerangnya. Hal itu membuat Feng Ying terdorong dan membentur tembok, “Jangan meremehkan kami.” Feng Ying sepertinya langsung tidak berdaya.” Kemudian, mengambil pedang yang berada dibelakang punggungnya. “Apa ini pedang yang sering di bicarakan itu? Sangat indah, dan aneh.” Karena perhatiannya teralihkan, Feng Ying menggunakan ke sempatan itu dengan menghajar dagunya untuk kedua kali menggunakan tangannya sendiri.
“Cih, jauhkan tangan kotormu dari pedangku!” Feng Ying langsung mengambil pedang yang berada di tangannya, kemudian ia sarungkan kembali pedang itu.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way