“Markas mereka ada di sana.” Tunjuk Li Jing dengan tangan kecilnya, rumah itu tampak megah, di sertai beberapa anak buahnya yang berada di sana.
“Aku merasakan ada hal yang tidak asing dari suasana ini.” Ungkap Liu Jun sembari memandangi rumah besar serta pagar yang menjulang tinggi terbuat dari kayu – kayu balok besar yang mengelilingi rumah itu.
Feng Ying memandangi Liu Jun. “Iya perasaanmu memang tidak salah, karena sebelumnya kita pernah melakukan hal ini bukan?” Feng Ying tampaknya memandangi dari jauh, “Apa itu akses jalan satu – satunya? Kalian pernah masuk kesana?” tany Feng Ying kepada Li Jing dan juga ibunya.
“Kami berdua tidak pernah masuk kesana, untuk jalan sepengetahuan kami memang hanya itu saja jalan satu – satunya.” Balas ibu Li Jing, kemudian melihat sekelompok orang yang hendak masuk ke rumah tersebut.
Feng Ying, Liu Jun serta ibu dan anak bersembunyi di balik semak – semak yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari rumah besar yang memisahkan diri di antara warga desa. Terlihat jelas ada dua buah kereta memasuki gerbang rumah tersebut.
“Apa kalian mengenal orang yang berada di dalam kereta?” tanya Feng Ying kepada penduduk asli, ia kembali melihat setelah kereta itu berhenti, kemudian menunggu sosok yang duduk di kereta itu turun dari sana.
Dari jarak jauh tidak terlihat jelas rupanya, “aku tidak bisa memastikannya. Tapi, kemungkinan besar itu adalah tamu, pemimpin perompak yang aku tahu. Ia selalu mengenakan pakaian yang memperlihatkan otot – otot besarnya.” Jelas ibu Ji Ling setelah melihat di gelapnya malam, lalu melihat Feng Ying serta Liu Jun, mempersiapkan diri. “Apa kalian akan masuk ke sana?”
“Iya, malam ini kami akan menyelesaikan masalah kalian, anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku.” Balas Feng Ying dengan wajah tersenyum kepada ibu Li Jing. “Liu Jun, apa persiapanmu sudah selesai?” tanya Feng Ying, melihat rekannya mempersiapkan panah kecil yang berada di saku paha kirinya.
“Aku sudah siap, jadi kita akan lewat mana?” tanya Liu Jun, karena penerangan hanya ada di depan gerbang saja Feng Ying tidak bisa memastikannya dengan keputusan sendiri. “Kalau kamu kesulitan memilih, biar aku saja yang membuka jalan untukmu. Aku akan masuk dari depan, sisanya urusanmu.”ungkap Liu Jun menjelaskan kepada Feng Ying, kemudian ia berdiri dari sana dan berjalan, menuju jalan setapak mendekati gerbang depan yang di jaga ketat oleh keempat penjaga.
“Padahal aku belum memutuskan, main seenaknya saja mengambil keputusan … baiklah, aku akan lewat dari samping.” Gumam Feng Ying yang berjalan mengendap – endap sembari menunggu Liu Jun sampai ke depan gerbang dan menyergap mereka berdua.
***
“Apa kalian melihat sesuatu yang sedang menuju kemari? Tanya penjaga ketika sedang melihat di balik kegelapan. Ia juga sempat mengucek matanya beberapa kali, sebelum memastikannya. “Ternyata memang benar ada orang yang sedang kemari.”
“Bersiaplah, perasaanku tidak enak.” Balas rekannya ketika melihat juga apa yang di lihat rekannya.
Langkah Liu Jun tampak senyap, bahkan tidak terasa sudah berada di depan saja. Jika pun para penjaga tidak melihat mereka sepertinya mereka akan dengan mudah di babat habis oleh Liu Jun. “Permisi, apa aku bisa bertemu tuan kalian … aku punya surat yang harus di berikan padanya.” Ucap Liu Jun sembari menunjukkan kain yang berada di telapak tangannya.
Kedua penjaga, saling melirik. “Boleh kami lihat isi pesannya?” tanya mereka, kemudian dua orang penjaga ikut mendekati mereka berdua. Kemudian berusaha merebut yang berada di tangan Liu Jun. Tangannya begitu kasar di rebut olehnya. “Lah dimana isi pesannya?” mereka pun terkejut.
Seketika itu, pula Liu Jun langsung menusuk d**a penjaga itu, ada seorang penjaga yang tidak bisa di jangkau Liu Jun, ia langsung menembakkan kedua anak panah kepada mereka berdua. Hingga tersisa satu penjaga, yang masih hidup. Namun, ketika ia hendak berteriak, sebuah belati ada di tangan kirinya. “Jangan bergerak atau pun berteriak, maka kau akan mendapatkan hadiah besar malam ini juga.” Liu Jun mengubah posisi mencekik lehernya dan mengarahkan pisau belati ke matanya. “Apa bosmu ada di dalam?” penjaga yang tidak berdaya itu pun langsung mengangguk, mereka sedang menga … dakan pertem … uan ...” ucapnya dengan nada ketakutan.
“Terima kasih.” Liu Jun segera membuat pingsan orang itu, gerakan tangan Liu Jun sudah tidak bisa di remehkan lagi.
***
Feng Ying sudah masuk ke dalam terlebih dahulu, ia mengamati situasi yang berada di dalam, setelah melihat Liu Jun menghabisi ke tiga penjaga yang berada di gerbang depan. Feng Ying melihat satu orang penjaga yang sedang kencing di dekat tembok.
“Haa … sepertinya kali ini aku terlalu banyak minum dari biasanya.” Gumam penjaga yang sedang kencing, kemudian setelah selesai. “Mmph.” Ia di bekap Feng Ying, kemudian ia langsung membekap napas pria itu dan membuatnya pingsan.
“Selamat tidur.” Feng Ying yang saat itu menggeretnya bersender di tembok kayu, ia kemudian membenarkan kepalanya agar terlihat tidur pulas. Lalu melihat ke arah rumah besar, dan mengincar tembok yang berada di lantai atas. Ia berjalan jongkok lalu melangkah secepat yang dia bisa, kemudian memanjat rumah itu melalui kayu – kayu yang bisa di gabainya. Gerakan Feng Ying sangat lincah, tangan Feng Ying dengan mudah menggapai dan kakinya sangat seimbang mengikuti kecepatan tangannya. Lalu, ia pun berhasil masuk ke dalam tempat itu.
Berbeda dengan Feng Ying, Liu Jun tampaknya terlihat melakukan hal yang sangat kentara, ia dengan santainya masuk sembari mengisi anak panah yang berada di tangan kirinya. Beberapa penjaga, belum menyadarinya, mungkin gerakannya ketika membunuh penjaga yang berada di depa mungkin terlalu senyap. Liu Jun menaruh, mayat – mayat masuk ke dalam taman pagar di dekat tembok.
Ia masuk begitu saja, ke dalam rumah. Setelah kembali mengalahkan beberapa penjaga yang berada di depan pintu. “Ini terlalu mudah hanya bagiku … aku harap mendapat lawan yang lebih sepadan dari ini.” Gumam Liu Jun dengan nada sombongnya sembari mengelap belati yang ada di tangan kirinya. Kemudian, ia melirik ke atas setelah melihat tangga yang berada di samping kirinya. Kemudian, ia pun menaiki tangga. Beberapa penjaga terlihat diam, dan hany amemperhatikan dirinya yang tengah melakukan penjaga, beberapa orang sedang bermain dadu di meja tengah di ruangan dapur.
“Oke berapa taruhan kali ini?” kepada rekannya yang sedang memegang bambu yang di dalamnya berisi dua buah dadu di dalamnya, kemudian ia melihat sekelebat orang lewat yang berada di samping pintunya. “Apa bos mengundang orang malam – malam begini? Bukannya Bos hanya memanggil satu tamu saja malam ini?” ia tampak keheranan di tengah permainannya.
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way