Bab 48: Ketertarikan kepada Liu Jun

1644 Kata
“Tidak apa – apa bu, terima kasih sudah merepotkanmu dan mengambil resiko besar hanya untuk kami saja.” Balas Feng Ying merasa tidak enak dengan sikap murah hati ibu dari Li Jing, kemudian, ibu itu memangguk sambil tersenyum tulus dan kembali mengunci pintu rapat. Feng Ying mengambil makanan itu dari lantai ia taruh ke meja.   Mereka berdua di tempatkan di satu kamar yang tidak di terangi satu pun lilin nyala, dan hanya di bantu pencahayaan dari luar jendela. Beberapa rumah masih menyalakan lilin di depan rumah, sisanya tidak menyala karena lilin yang sudah habis. Feng Ying memakan makanan bagiannya terlebih dahulu, sebenarnya Feng Ying berniat untuk membangunkan Liu Jun, tapi karena seharian penuh kelelahan karena mencari kamar yang cocok. Ia tidak tega untuk membangunkannya.   Dengkuran Liu Jun, sedikit terdengar, sepertinya ia tertidur pulas. Feng Ying tersenyum, sembari makan dan memperhatikan Liu Jun dari kejauhan. Feng Ying duduk di dekat jendela, alasan Feng Ying terus duduk di dekat jendela sederhana, karena bisa hal itu bisa mengusir rasa kesepian Feng Ying ketika sunyi menerpa dirinya.   Makanan pun habis, ia meletakan piring kosong itu kembali ke nampan bersebelahan dengan piring penuh berisi bagian Liu Jun. Terdengar suara gaduh di luar, Feng Ying sempat memperhatikan bagian belakang melalui jendela, namun tidak apa –apa, ia berusaha melihat dari sisi lain termasuk bagian pintu keluar, di bawah selah pintu, Feng Ying berusaha mengintip situasi serta mendengarkan seuatu yang aneh kembali.   Lantas saja Feng Ying langsung membangunkan Liu Jun, “Hei bangun, ini darurat …” ucap Feng Ying lirih, ia kembali mendengarkan kembali langkah yang beramai – ramai memasuki tempat ini. Liu Jun sedang tidur sangat pulas, ia susah di bangunkan, ia pun langsung membisikan di telinga Feng Ying “Cepat makan bagianmu, sepertinya ada orang yang tengah menggeledah setiap kamar ini.” Papar Feng Ying Lantas dalam sekejap mata, Liu Jun terbangun, dalam setengah sadar Liu Jun makan. Feng Ying sempat melepas sebagian pakaian tebal, kini seperti di kejar setan dengan buru – buru memakai perlengkapannya.   “Liu Jun, percepat makanmu …” lirih Feng Ying yang sudah memperlngkap diri dengan senjata yang berada di tubuhnya. Namun, Liu Jun malah bersikap santai dengan duduk di bawah lantai. Sembari kembali menyembunyikan dirinya di balik ranjang. Suara pintu terdengar keras hendak di buka paksa. Lantas, ia menunggu di samping pintu menunggu seseorang masuk dengan membuka dengan paksa. Dugaan Feng Ying pun benar, selepas pintu terbuka penuh dengan di dobrak, langsung saja ia membenturkan wajah salah satunya ke tembok.   Bunyi kuat ketika kepala membentur tembok langsung membuat pria ini pingsan, gerak cepat di lakukan Feng Ying, setelah berhasil melumpuhkan lawan. Feng Ying langsung menendang ke arah samping hingga pria yang belum sempat masuk terdorong bersamaan dengan orang – orang asing itu. Gerak cepat Feng Ying langsung berusaha membuat semua orang yang melihat dirinya ia buat pingsan sekaligus, secepat yang dirinya bisa. Tapi ada salah satu gadis yang sepertinya tidak dapat di remehkan, tentu saja ini merupakan sebuah kejutan bagi Feng Ying, dan tanpa sadar ia terkena pukulan kuat yang membuat Feng Ying terdorong dan tubuhnya membentur tembok.   “Bodoh!” Suara langkah cepat terdengar dari dalam ruangan hendak keluar, Liu Jun lantas melompat dan mendorong wanita itu sampai terjatuh ke lantai dasar. Ia masih berpakaian serba pendek, Feng Ying melamun sesaat karena Liu Jun berani membantu dirinya dengan berpakaian serba pendek, hingga lekukan tubuhnya tercetak jelas di pakaian ketat yang di pakai Liu Jun. “Apa yang kau lihat?” tanya Liu Jun menutupi bagian atas tubuhnya. Ia berbalik masuk ke dalam kamar. “Urus sisanya, aku akan berganti pakaian terlebih dahulu.   Suara gemuruh langkah yang serentak memanjat lantai atas membuat Feng Ying semakin bersemangat untuk melawan balik, para pelancong yang kebetulan lewat tentu saja, tidak berani keluar karena situasi yang berbahaya di luar dan memilih tetap di kamar.   Salah satu perompak, menggunakan tombak yang di arahkan pada Feng Ying, ia berlari sambil mengarah ke Feng Ying karena lorong yang cukup sempit membuat tempat sempurna hingga Feng Ying tidak bisa bebas dengan muda, dan cara satu – satunya adalah menghadapinya langsung. Feng Ying langsung membuat perlindungan diri menggunakan tameng yang ada pada diri Feng Ying. “Aaa!” teriak keduanya saling berlari dan menerjang. Kemudian, bagian ujung tombak mulai membentur tameng lalu di susul Feng Ying terus mendorong dengan sekuat tenaganya, lalu pada akhirnya tombak kayu menjadi melengkung dan akhirnya patah. Setelah melengkung bagian runcing tombak melayang, saat itu pula Feng Ying menangkap patahan tombak itu lalu menusukkan ke tubuh lawan, kemudian di susul tameng Feng Ying mendorong masuk tongkat yang sudah tertanam ke tubuh lawan, hingga akhirnya menembu d**a lawan. Ternyata, beberapa orang yang berada di belakang ikut menjadi korban tertusuknya tombak setelah menembus tubuh salah satu rekan mereka. Feng Ying tidak menyangka ia sanggup melawan kedua orang dalam satu tusukan saja.  Belum selesai di situ saja, karena masih banyak orang yang berada di tangga hendak menyerang dirinya, Feng Ying langsung melompat turun ke lantai dasar. Ternyata di bawah pun Feng Ying sudah di tunggu musuh – musuhnya. Lawan mengayunkan kapak ke arah Feng Ying  ketika baru saja turun, dalam posisi jongkok pula ia menerima serangan, untungnya Feng Ying langsung memposisikan tameng di atas kepalanya. Reflek hebat dari Feng Ying, ia sanggup mengantisipasi serangan yang ada. Ketika kapak yang di pegang lawan hendak di ayun ke arahnya kembali Feng Ying langsung saja, menangkap gagang lawan. Lalu dalam sekejap Feng Ying menghajar d**a musuhnya dengan bagian runcing tameng. Luka yang di akibatkan tidak terlalu fatal jika di lihat dari luar, namun bagian dalamnya musuh itu sudah kehilangan hak untuk bernapas dengan bebas. “Liu Jun cepat turun kemari, akan aku bukakan jalan untukmu!” teriak Feng Ying tengah sibuk melawan puluhan orang yang berada di depan matanya. Pedang saling beradu, Liu Jun ternyata masih sibuk melawan musuh yang masih meladeninya, “Sabar! Aku sedang sibuk!” teriak Liu Jun di tengah – tengah pertarungan. Semaki lama melumpuhkan lawan yang berada di depan mata, musuh semakin mengepung mereka berdua. Pintu dan hiasan rumah sudah banyak yang mengalami retak dan rusak sana sini, lalu Liu Jun melihat ibu dan anak sedang di sandara oleh salah satu anak buah perompak. Liu Jun secepat mungkin bergerak mendekati pemilik penginapan ini. Sayangnya, mereka di tahan oleh salah seorang perempuan yang jelas sudah menghadang di tangga. “Urusanku denganmu belum selesai … mari kita selesaikan sekarang juga!” teriak perempuan itu dengan sebilah kedua tongkat besi yang berada di tangan kanan dan kirinya. Feng Ying melihat ke arah lantai dua, mereka  melihat Liu Jun sedang mealawan seorang wanita yang tidak lain perompak juga. Kemudian, Feng Ying melihat ke arah yang sama persis di lihat oleh Liu Jun, setelah mengetahui situasi yang ada Feng Ying segera, bergerak sembaari menaham serta melawan orang – orang yang menghadang jalan keluar untuknya.   Sebuah busur panah baru saja mengenai lawan, yang hendak di lawan Feng Ying. “Selamatkan mereka Feng Ying!” teriaknya sembari sibuk melawan keduanya. Liu Jun sepertinya akan sedikit lebih lama melawan wanita yang menghadangnya tersebut.   “Serahkan pedangmu itu!” teriak Weida, orang kemarin yang ternyata berniat membalaskan dendam. Feng Yin sedikit terkejut dengan ungkapan lawannya, sepertinya tidak ada pilihan lain selain Feng Ying harus memberikan pedang itu kepada Weida, “Kau ingin pedang ini? Baiklah … aku menginginkan kedua orang yang kau sandara.” Ungkap Feng Ying dengan nada  terkesan jengkel namun berusaha tetap tenang.   “Baiklah, dalam hitungan ke tiga.” Ucap Weida, lalu Feng Ying mengangguk menyetujui persyaratan pria pengecut itu. “Tiga!” Weida langsung mendorong keduanya, lalu di saat bersamaan Feng Ying juga melempar pedang yang berada di tangannya. Tepat setelah, pedang yang di lempar Feng Ying di terima Weida, saat itu pula ia mengambil sesuatu yang tersembunyi di bagian dalam sakunya.   Tanpa sadar, pisau itu menancap di d**a Weida setelah berhasil menyentuh pedan Feng Ying, darah pun keluar begitu saja. Sembari memandangi lawannya serta menunjuk ke arah Feng Ying. Ia tidak menyangka akan berakhi dengan cara mengenaskan secara bersamaan pula ternyata Feng Ying hendak di bacok dengan pedang yang di pegang musuh, sempat hampir tidak bisa menolaknya. Namun, pada akhirnya, hari itu pula Feng Ying seolah mendapat kejutan, dengan kembali terbantu oleh Liu Jun yang baru saja selesai melawan wanita yang terjatuh sembari tubuhnya menuruni tangga, dengan suara keras.   Napas keduanya, sama – sama tersengal. “Terima kasih Liu Jun.” balas Feng Ying sembari melihat raut wajah lelah yang sama seperti dirinya. Feng Ying akhirnya dapat terduduk santai, sembari memandangi tubuh yang sudah kaku, serta darah yang mengalir ke sandal jerami pemberian kakek kepadanya. “Maafkan aku, penginapanmu menjadi rusak seperti ini” balas Feng Ying dengan nada bingung, dan tidak berkata memikirkan bagaimana caranya ia harus mengganti rugi.   “Tidak apa – apa, intinya anakku dapat selamat, ini sebuah rasa syukur bagiku.” Balas ibu Li Jing,   Ketika Feng Ying melihat pemimpinnya, yang mati setelah ia lemparkan pedang ke arahnya, “Apa ibu tau dimana tempat mereka berada?” tanya Feng Ying  tentu saja ini membuat kejutan baginya.   “Aku tahu.” ungkap Li Jing, “tempatnya sedikit agak jauh, aku bisa kok mengantarkan kalian ke sana … bolehkan bu?” tanya Li Jing dengan wajah memelas.   Ibuny tidak tega dan pada akhirnya memtutuskan, “Iya, boleh. Kali ini biar ibu ikut ya.” Balasnya demikian. “Besok pagi, aku akan menujukkan tempatnya.” Ungkap ibu Li Jing, sembari mengelus – elus rambut anak gadisnya.   Feng Ying meantap wajah kelelahan Liu Jun yang tampak mempesona bagi Feng Ying, keringat yang berada di tubuh Liu Jun membuatnya tampak terlihat makin menarik.  ---=------------------------------------------------------------------------------------ Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN