“Ingat Feng Ying, jangan sampai melukai mereka apa lagi membunuhnya!” ucap Liu Jun dengan suara lantang yang dapat di dengar hampir seluruh pria yang berada di hadapannya. Liu Jun hanya mengangkat pedang yang masih tertutup sarung.
“Hah! Tenang saja, seolah kau tidak tahu senjata apa yang aku gunakan di tanganku ini.” Demikian ucap Feng Ying dengan nada. Pembicaraan mereka berdua tentu saja membuat jengkel Weida yang sedari tadi mendengarkan ucapan keduanya yang seolah benar – benar meremehkannya.
“Berheneti mengatakan hal bodoh! Serang saja!” teriak Weida dengan tangan yang mengacungkan senjata ke atas. Bawahannya langsung saja menuruti dan menyerang Feng Ying beserta Liu Jun. Mereka menyerang dengan mengacungkan senjata dan mulai mengepungnya.
Feng Ying menangkap salah satu anak buah Weida, ia menyandera pria kecil itu, “Berhenti, setidaknya biarkan aku menjaga jarak terlebih dahulu sebelum kalian menyerangku.” Feng Ying mengarahkan ujung tajam pada bagian tameng yang di kenakannya mengarah ke leher. Gerakan lawan terhenti, lalu perlahan membuka jalan serta berhasil menjaga jarak dengan lawannya, setelah itu Feng Yin mulai melepaskan, namun pria yang ia tangkap malah menjerit.
“Lawan!” teriakan pria kecil itu langsung mengejutkan Feng Ying dan seketika itu juga dirinya menyikut Feng Ying, lalu pria ini berhasil melepaskan diri. Waktu terasa begitu lamban, Feng Ying sepertinya benar – benar menahan setiap tindakannya.
Dalam sekejap tempat itu sudah menjadi sarang pertarungan, seluruh warga desa yang berada di dekatnya memlih menjauh dan tidak mau terlibat masalah.
Feng Ying menghalau belasan senjata yang berada di hadapannya dari berbagai sisi. Tidak ada yang mengerti bahkan mereka tidak akan memahami, bagaimana Feng Ying dapat menghalau serangan belasan orang dalam satu gerakan saja, pedang para perompak sudah menjadi dua berkat Feng Ying.
Ini termasuk kejutan bagi Weida yang terdiam memperhatikan bawahanya yang tidak sanggup melawan. “B-Bagaimana mungkin pedang – pedang itu bisa patah menjadi dua bagian?” mata Weida tertuju pada pedang yang dimiliki Feng Ying. “Kabur-kabur!” seru Weida.
Liu Jun beranggapan receh karena melihat Weida yang kabur begitu saja bersama dengan para bawahannya. Keduanya kebingungan, “apa yang sebenarnya terjadi? Kemana perginya keberanian mereka?” tanya Liu Jun demikian dengan nada yang cukup bingung. “Aku hampir lupa tidak membayar.” Sambung Liu Jun hendak kembali, Feng Ying memandangi lingkungan sekitarnya yang sepertinya berubah suasana menjadi tidak terlalu ramai.
Begitu Feng Ying membalikkan badan dan berjalan menuju ke arah tempat kuda – kudanya di letakkan, ia mendengar suara sentakan. “Tidak! Aku tidak butuh uangmu, simpan saja. Aku tidak peduli!” Pria tua itu menyentak sambil menolak uang yang di berikan Liu Jun.
“Aku cuma ingin membayar … apa yang salah dengan hal ini?” Liu Jun tampaknya sangat kebingungan setelah mengetahui hal ini. Kemudian, ia pun kembali mendekati Feng Ying yang tengah berduduk santai sambil memperhatikannya, ia sempat menoleh ke belakang melihat pedagang yang sempat menolak di bayar.
“Pria tua itu menolak di bayar?” singgung Feng Ying setelah mengamati kejadian itu, ia kemudian berdiiri lalu mengelus – elus kuda yang miliknya. Beberapa kali suara kuda itu, terdengar, sepertinya kuda milik Feng Ying menyukai sentuhan tangan Feng Ying yang menyentuh punggung.
“Iya, aku tidak menyangka saja, ada orang yang tidak mau di bayar.” Liu Jun sempat duduk di bawah pohon rindang, sembari menghela napas dan mengamati ke anehan yang sedang terjadi.
“Apa uang yang kamu miliki masih banyak?” tanya Feng Ying kepada Liu Jun.
“Masih, banyak.” Kemudian Liu Jun berdiri tegak, “Kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan. Mungkin cari penginapan, karena hari sudah menjelang sore hari.” ungkap Feng Ying.
Mereka mencari penginapan yang ada di sekitar sini. “Apa masih ada kamar yang tersisa?” tanya Liu Jun.
Tampaknya pemilik penginapan memperhatikan secara detail cara berpakaian mereka. “Tidak, tidak ada kamar yang tersedia.” Balas pemilik penginapan.
Karena tidak ada perasaan buruk akan hal ini Feng Ying memutuskan pergi dan juga Liu Jun, mereka kembali mencari penginapan terdekat. Keduanya secara bergantian menanyakan pertanyaan yang sama kepada pemilik hotel maupun pekerja yang berada di sana. Jawabannya, tetaplah sama dan beralasan semua kamar telah penuh.
Mereka berdua seolah hilang akal, matahari telah tenggelam. Mereka berdua masih saja berjalan mencari penginapan untuk yang terakhir kalinya. “Apa ada kamar yang tersedia?”
Pemilik ini memperhatikan pula cara berpakaian keduanya. “Maaf, kamar kami penuh.” Jawab pemilik penginapan.
“Ibu kenapa berbohong? Padahal masih tersisa tiga kamar.” Anak kecil yang tidak lain adalah anaknya malah menceremahi. “Ibu … kakak ini yang tadi menyelamatkanku.” Tunjuk anak kecil kepada Feng Ying.
Ibu tampaknya merasa bersalah, “Maaf tadi aku berbohong … terima kasih juga sudah menyelamatkan putriku.” Ungkapnya dengan nada senang.
Feng Ying membalas dengan senyuman, “Tidak apa – apa, aku mengerti.” Liu Jun tampaknya memperhatikan anak kecil itu, kemudan ia berjongkok. “Namamu siapa?” tanya Liu Jun, sembari mengangkat tudungnya.
“Ji Ling.” ucap anak kecil itu dengan senyum manisnya. “Kakak juga perempuan sama sepertiku ya?” sepertinya penglihatan Ji Ling sangat tajam.
Liu Jun tersenyum lalu mengangguk, kemudian mengelus rambutnya. “Iya, kamu hebat bisa mengetahuinya.” Puji Liu Jun, dan kembali tersenyum lalu berdiri. “Permisi, kami hanya ingin menginap satu malam saja. Pagi – pagi buta kami akan pergi dari sini.” Pinta Liu Jun kepada ibu Ji Ling.
Sepertinya Ibu dari Ji Ling tidak bisa menolak permintaan seseorang yang telah menyelamatkan anaknya dari anak buah perompak yang telah menyelamatkan dirinya. “Baiklah, pagi – pagi buta kalian harus pergi dari tempat ini karena memang, sudah aturan mutlak jika ada orang yang mengganggu perompak. Maka orang terebut tidak boleh membantu, jika sampai ketahuan mereka yang mempunyai hubungan secara tidak langsung akan terkena imbasnya.” Balas Ibu dengan nada yang super khawatir. Lalu mengarahkan mereka berdua ke kamar yang paling pojok. Ruangan lorong secara tidak langsung berriringan dengan gudang.
“Terima kasih, aku akan membayarnya sekarang. Berapa harganya?” tanya Liu Jun mengeluarkan beberapa koin perak serta prunggu di tangannya sendiri.
“T-Tidak usah, ini gratis.” Balas ibu itu dengan wajah tersenyum. “Kalau begitu, nanti aku siapkan makanan untuk kalian, dan tolong jangan keluar apapun yang terjadi sampai aku sendiri yang membukanya.” Papar ibu tersebut.
Feng Ying dan Liu Jun mengangguk pasrah, ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Pintu pun tertutup rapat, dan sepertinya di kunci dari luar. Setelah menengok ternyata hanya ada satu ranjang saja, ini masih bisa mereka tiduri berdua.
Feng Ying hanya memandangi, “Baiklah, aku akan berjaga seperti biasa, kau tidurlah dulu.” Feng Ying melihat sekeliling ruangan yang tampaknya tidak ada sesuatu yang sepesial. Jendela yang mengarah ke kandang.
Feng Ying melihat ke belakang, ternyata ibu tadi sempat mengarahkan kedua kudanya yang tadi ada di pinggir jalan di tempatkan di kandanganya. Kandang itu tampaknya masih cukup luas, meski sudah di isi oleh tiga kuda yang berada di kandang. Bahkan ibu itu memberi makan kuda – kuda mereka.
Melamun sembari melihat ruangan sepertinya sudah menjadi keseharian Feng Ying , di tengah lamunan, ia medengar sebuah ketukan pintu kemudian terbuka. Fen g Ying lantas langsung berdiri, “Aku sudah siapkan makanan untuk kalian berdua, maaf itu makanan sisa dari tamu yang tidak menyentuhnya sama sekali. Aku mau membuangnya tapi sangat di sayang sekali jika aku buang.” ungkap ibu sembari meletakan makanan dan minuman di sebuah nampan ke lantai. Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way