Sebuah desa kecil tanpa nama, mereka menyebutnya hal itu dulu. Karena saat itu desa ini tidak memiliki kerajaan, namun kini berbeda, tempat itu menjadi sebuah sarang para perompak dan di sebut sebagai desa tanpa raja yang hanya di pimpin oleh perompak tertinnggi di sana.
Suara ramai – ramai para penduduk asli di sana yang tengah sibuk memasarkan dagangan hasi bumi serta barang - barang kebutuhan lainnya, sahutan demi sahutan mencari pelanggan dan menawarkannya.
Feng Ying dan Liu Jun berjalan memperhatikan lingkungan yang asri di sekitarnya, ini membuatnya melupakan sejenak masalah yang mengampiri mereka, keduanya sengaja tidak menunggangi kuda, dan hanya membimbing kuda mereka, sembari berjalan lamban karena terlalu ramai. “Ini semakin siang, kita belum makan apapun sejak saat itu.” Ungkap Feng Ying, sembari melihat sebuah kedai yang menurutnya enak.
“Jangan di sini, terlalu ramai. Aku tidak mau kehilangan kuda,” balas Liu Jun kemudian Feng Ying hanya menuruti saja dan mengikutinya mencari tempat yang pas membuatnya dapat merawatnya.
Mereka terus berjalan sampai mendapatkan sesuai dengan yang mereka mau, “sepertinya tempat itu bagus, tunjuk Xin Liu menunjuk tempat paling ujung yang di sampingnya terdapat tanah lapang dan kebetulan mempunyai rumput liar serta cukup lebat. Mereka menurunkan kedua kuda liar itu, dan menaruhnya berada di sana. Karena alasan keamanan Feng Ying lebih memilih memesan dan makan bersama kedua kuda di bawah pepohonan rindang. Feng Ying juga tidak sungkan untuk meminta ember untuk menampung air, sedangkan Liu Jun berada di kedai sebagai barang bukti bahwa mereka tidak akan kabur.
Ini kali pertama Feng Ying memakan mi seenak ini setelah sekian lama ia tidak pernah merasakannaya. Rasa gurih, asin, serta sedikit kecut terus menerus memberinya kejutan untuk rongga mulutnya, apa lagi rasa minyak buatannya memang membuat perut sangat nyaman jika di minum.
Di tengah – tengah kesibukan pasar, ada tiga orang pria berpakaian lusuh bersama dengan salah satu anak kecil. Entah apa yang di bicarakan mereka bertingga, Feng Ying tidak dapat mendengar lebih jelas lagi karena pasar yang memang sangatlah ramai. Namun sebuah pemicu kecil berhasil mendorong sifat bawaan yang di miliki Feng Ying. Anak kecil itu berhasil di dorong membuat dagangan yang di bawanya terjatuh kemana – mana.
“Cih aku tidak ingin buahmu, yang hanya aku inginkan hanya uang yang berada di sakumu.” Papar salah satu pria yang terlihat memeras seorang anak kecil, tanpa menghiraukan martabatnya.
“Berapa?” tanya Feng Ying kepada ketiga pria yang berada di hadapannya, setelah menanyakan hal itu ketiganya langsung menegok ke arah sumber suara.
“Hah?! Jangan sokberlaga kau dasar pria asing!” serunya sembari menghina Feng Ying, “kau cari mati ya b******k?!” sambungnya kembali dengan nada yang lebih tidak sopan kepadanya. Pria itu pun melancarkan serangan ke arah perut Feng Ying. Perut Feng Ying memang berhasil di hajar dengan sekali serang, tapi bagian teranehnya adalah Feng Ying. Ia seperti tidak merasakan efek akibat pukulan yang di lontarkannya, kemudian pria itu kembali memukul ke arah perut untuk kedua kalinya, ekspresi yang di tunjukkan Feng Ying masihlah sama, seperti orang aneh dan hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresi.
“Kau tidak apa - apa? Jangan menangis hanya karena mereka lebih besar dan lebih kuat bagimu, sesekali belajar menghajarnya seperti ini!” Pukulan keras mengenai pelipis pria itu menggunakan tangan kanannya yang terdapat tameng serta sarung tangan. Tentu saja, hal tu langsung berakhir dengan bercucuran darah segar yang mengalir di pelipis pria itu.
“Hajar dia bodoh!” seru pria yang baru saja terkena pukulan telak. Mereka berdua pun akhirnya melawan dengan menarik pedang lalu berusaha menebas serta menusuk ke arah Feng Ying. Feng kembali mengejtukan ketiganya dengan menunjukkan wajah seolah ia tidak peduli yang akan di lakukan padanya, serangan keduanya menggunakan pedang pun terhalang dengan cara yang amat baik, membuat Feng Ying menaruh perhatian kepada seluruh pedagang serta pembeli yang berada sekitarnya.
Bukannya bertepuk tangan, mereka malah menunjukkan wajah takut, serta berusaha menjauhi sesuatu dengan Feng Ying, “Kenapa mereka?” Feng Ying terlihat bingung karena hal aneh itu.
“Urusanku denganm belum selesai!” ucap salah satu pria itu, dengan nada mengancam dan mengeluarkan pedanngnya pula.
“Berhenti melakukan hal yang sia-sia, kau lebih baik menyerah saja.” ungkap Feng Ying dengan santai mengatakan hal itu kepadanya. Namun pada akhirnya mereka menarik pedang itu dengan penuh ayunan kuat yang mengarah langsung ke Feng Ying, bukannya menghindar Feng Ying malah menangkapnya, dengan tangan kanannya yang bersarung tangan besi. Ia menariknya dengan sangat mudahnya seolah tanpa rasa takut sesuatu hal buruk yang akan menimpa dirinya. “Sudah aku katakan bukan? Lebih baik kalian pulang dan jauhi anak kecil ini.” Feng Ying merebut pedang yang berada di tangannya. Lalu mengarahkan pedang itu dengan tangan kidal miliknya ke arah ketiga pria itu. “Mau mati sekarang atau besok? Pilihan ada di tanganmu, cepat pilih sekarang atau tidak sama sekali.” Balas Feng Ying demikian kuatnya.
Tidak Feng Ying duga, ternyata ada lebih banyak anggota mereka, yang saat ini mengelilingi Feng Ying, “Kau tidak bisa kabur sekarang.” Senyum angkuh keluar dari wajah pria berambut acak – acakan yang belum di ketahui namanya, “aku memahamimu, mungkin karena berasal dari luar wajar saja kau tidak mengenali siapa aku sebenarnya. Aku kapten disini yang mengurus iuran uang keamanan. Mereka memanggilku Weida.”
Feng Ying memutar penuh badannya, melihat sekumpulan pria mengenakan ikat kepala yang sama dan tatapannya masih mengarah pada Feng Ying. “Sepertinya ini lumayan menarik, aku belum pernah melawan seseorang atas keinginanku sendiri.” Ia pun melihat seorang anak yang terduduk di tanah dengan rasa takut, karena hampir semua pria mengelilinginya. “Kalau kau takut, berdirilah mendekat padaku dan tetaap di belakangku.” Anak kecil itu menurutinya, setelah itu Feng Ying mengeluarkan pedangnya yang berada di belakang punggung.
Liu Jun mengetahui hal itu, namun ia belum enggan membantu karena makanannya belum habis, dan terasa berdosa jika menyisakannya, “Kenapa kau membuat masalah di daerah tidak kau kenali Feng Ying …” batinnya dengan rasa sabar yang masih menahan emosinya.
“Bisakah kalian membiarkannya anak ini keluar dulu? Aku takut jika terjadi apa – apa padanya.” ungkap Feng Ying memohon kepada orang – orang.
“Hah?! Kau pikir apa yang kamu pikirkan hingga berani mengatakan hal itu padaku?!” seru Weida, dengan nada keheranan. “Serang dia!”
“Stop!” teriak Liu Jun, “setidaknya bertindak jantan! Biarkan ia dulu, aku sebagai gantinya melawan kalian nanti, sesuai kemauan kalian!” sambungnya.
Weida malah menurut, dan membukakan jalan kepada anak kecil itu. Lantas, anak kecil itu segera berlari cepat. “Aku sudah menuruti permintaanmu, sekarang tepati janjimu.” ucap Weida dengan nada tegasnya.
“Seperti yang kau mau.” Liu Jun menarik pedang yang berada di tangannya. “Jangan menyesal jika aku mengalahkan kalian.”
---=------------------------------------------------------------------------------------
Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way