Prang! ...
Salah satu kendi pecah berisikan s**u fermentasi saat tengah akan diangkut dari gerobak seorang pedagang dari luar kota.
"Barang berhargaku! Sialan kau b******k!" Pria berbadan gendut dengan jenggot tebal mengelilingi tulang pipi sedang naik pitam setelah melihat barang dagangan miliknya yang paling berharga pecah.
Pemilik kendi menghampiri seorang b***k yang telah menghancurkan dagangan miliknya. Lalu ia pun berkata, "Bayar ganti rugi daganganku sekarang juga!"
Pria kecil berumur 12 tahun tengah menahan tangis sambil melihat barang pecah serta isinya menyentuh telapak tangan saat tengah mengais-ngais sisa menaruh kembali ke pecahan kendi.
Buk! ...
Pria gendut menendang pinggang dengan keras hingga sanggup melambungkan tubuh kecil sejauh satu meter, "Rasakan itu bocah tengik! Cuihh! ..." Ludah keluar dari mulutnya meludahi pria kecil tengah memegangi pinggang memasang wajah kesakitan.
Meski banyak b***k selain dirinya tengah mengangkut barang. Akan tetapi mereka tak berani untuk mengusik atau pun membela, jika melakukan hal tersebut mereka akan ikut terkena getah.
Setelah itu seorang penjaga mendatangi keramaian sambil memegangi sebuah cambuk ditangan kanannya dengan wajah serius.
"Jangan buang tenaga tuan hanya untuk mengurus b***k kotor dan bau ... biarkan aku saja yang menangani hal ini," ucap penjaga tengah memperhatikan pria kecil tengah kesakitan sembari memberi hormat dengan menundukkan badan.
"Benar juga ucapanmu, sepatu kulitku menjadi korban karenanya dan satu hal lagi, aku ingin meminta ganti rugi kepada pemilik b***k itu." Pria berjanggut meninggalkan Pria kecil hendak menuju kedai tempat berkumpulnya para pedagang dari penjuru daerah.
Ceplak! ... Ceplak! ...
Suara sabetan cambuk mengiringi kepergian pemilik kendi yang baru saja di pecahkan. Para b***k masih tetap sibuk memindahkan barang tanpa menghiraukan kejadian yang sedang berlangsung didepannya.
Setelah selesai mencambuki pria kecil, ia dibiarkan begitu saja terbaring ditanah basah oleh bercak darah serta keringatnya yang bercampur.
***
Suara musik petik dan tiup mengiringi mereka para pedagang. menikmati minum serta makanan yang dipesan sembari melihat tarian-tarian para b***k cantik yang telah didandani.
Seorang Pria berjanggut yang baru saja memasuki kedai. Ia mencari pemilik b***k dan hendak meminta ganti rugi padanya, lalu memergoki sang pemilik sedang menyaksikan tarian-tarian elok dari para b***k sembari meminum anggur.
Ia menghampirinya lalu menepuk pundak dan berkata, "Ada yang ingin aku katakan padamu."
Pria gendut lalu merespon, "Apa kamu mau membeli salah seorang budakku? Aku harap begitu demikian," ucapnya dengan wajah tersenyum sedikit kecut setelah melihat raut wajah orang yang menayapa dirinya.
"Aku tidak akan membeli b***k melainkan mau meminta ganti rugi," balas pria berjanggut.
Pria gendut menepuk janggutnya. "Akhh! ... Sudah aku duga akan terjadi seperti ini, berapa yang kamu minta?"
"Lima belas emas dan dua puluh perak," jawabnya singkat dan langsung duduk disampingnya.
"Apaa! Kenapa bisa semahal itu?!" balasnya seraya terkejut setelah mendengar jumlahnya.
"Dia menjatuhkan s**u fermentasiku yang sudah aku simpan 1 tahun ini," jelasnya sambil menunjukkan kartu tanda pengenal miliknya yang menggunakan perak becampur perunggu.
"Ap-pa! Sial sekali aku hari ini ... tapi aku tidak percaya kau benar-benar seorang pedagang bangsawan," balasnya berusaha mengelak fakta.
"Apa aku perlu melaporkan hal ini pada serikat perdagangan, agar bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan?" Ancam pria berjanggut pada pemilik b***k, "Lagi pula aku yakin dengan kekayaanmu hasil dari menjual b***k pastilah sangat cukup untuk mengganti rugi barang daganganku yang cukup murah," sambungnya menyindir.
"Salah satu cara menjadi kaya adalah menjadi orang pelit. Ini yang membuatku menjadi kaya dan bisa membuka berbagai jenis usaha," belanya menangkis sindiran lawan bicara.
Ia mengadahkan tangannya. "Kalau begitu silahkan bayarkan ganti rugiku sekarang juga sesuai jumlah yang tadi aku sebutkan, atau ... mau aku laporkan saja?"
"Cih! Aku benci dengan cara mengancammu yang kotor tersebut" umpat pria gendut sembari menyuruh seorang wanita yang tengah menari untuk mendekat, "Kau kesini cepat! ..."
Seorang wanita dewasa cantik dengan pakaian tertutup mendekat, "Ada yang perlu aku bantu tuan?"
"Beri dia layanan terbaikmu," perintahnya pada wanita cantik tersebut.
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin meminta uang bukan layanan seperti ini," balas pria berjanggut mengrenyitkan dahinya.
"Cih! Baiklah akan aku bayar! Sebelum itu, b***k seperti apa yang telah menjatuhkan barang mahalmu ini?" selidik pria berbadan gemuk.
"Tanya saja pada penjagamu, dia telah menanganinya." Pria berjenggot langsung pergi meninggalkan kedai hendak kembali untuk mengawasi barangnya.
***
Matahari mulai terbenam memancarkan warna oranye dilangit. Feng Ying menatap dari balik jeruji besi bersama empat orang lainnya yang saat ini tengah tidur terlelap kelelahan, setelah mendapatkan banyak perkerjaan berat diusia belum matang.
Karena itu jalan satu-satunya bagi mereka untuk bertahan hidup agar tidak menjadi korban bahan pertandingan antar b***k yang sering diadakan oleh para bangsawan dan juga ditonton seluruh penduduk kerajaan.
Tap ... tap ...
Suara langkah kaki pelan sedang kemari. Feng Ying pikir langkah kaki itu milik penjaga yang sedang menuju kemari. Namun, ia sedikit kembali berpikir karena suara langkah tersebut terlihat beramai-ramai.
"Tuan, dia salah satu b***k yang telah membuat kesalahan hari ini.”
Ia hanya melirik tajam kearah Feng Ying mengisyaratkan dengan telunjuk menyuruh untuk membuka jeruji. Tanpa berpikir panjang salah seorang pelayan membuka kunci gembok dan langsung menarik paksa Feng Ying membuat kegaduhan yang membuat b***k-b***k lain ikut merasa ketakutan setelah teriakan terdengar keras dari seorang anak kecil tengah memegangi jeruji.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” Teriakan Feng Ying begitu keras.
“Argh! Sumpal mulutnya itu dengan kain,” perintah pemilik b***k.
Mpphh! …
Penjaga langsung menyumpal mulutnya dengan kain kotor berwarna coklat pekat. Feng Ying pun berhasil dibawa keluar dari jeruji dengan tangan terikat kuat. Lalu ia dibawa keluar menuju tempat yang sering dirinya lihat, jika ada seseorang telah melakukan kesalahan yang membuatnya merugi.
Dari pada disebut rumah, tempat tersebut lebih mirip sebuah gudang kecil. Bersamaan dengan enam pria dan seorang wanita muda seumuran dengannya mereka kemudian masuk kedalam. Banyak peralatan tajam yang mengerikan didalam. Namun, ternyata ruangan kecil ini sebenarnya memiliki ruang rahasia dari balik pintu lemari tempat menaruh perkakas. Mereka dipaksa kembali memasuki ruangan yang belum pernah diketahui.
“Cepatlah masuk kedalam berhentilah merengek!” seru salah seorang penjaga dengan kasar mendorong seorang perempuan.
“Tolong lepaskan! Aku mohon! Aku tidak akan mengulanginya lagi …” balasnya masih tetap merengek meski tengah didorong paksa.
Enam pria lain hanya terdiam menunduk pasrah mengikuti arah penjaga yang berada didepan mereka tengah menarik tali. Meskipun mereka mempunyai kesempatan kabur karena jumlah penjaga yang membawa mereka hanya berjumlah dua orang saja. Tapi mereka enggan melakukannya karena rasa keputusasaan telah menyelimuti pikiran.
Tibalah mereka kedalam dasar ruang bawah tanah dan dikejutkan dengan suara teriakan keras dari ujung lorong bawah tanah. Keringat dingin mengucur deras dari semua pori-pori kulit membasahi tangan dan keningnya. Walau begitu mereka tidak dapat kabur karena didasar ruang bawah tanah memilki banyak penjaga.
Mereka kembali didorong menuju ujung ruangan barisan sel kurungan yang telah terisi b***k-b***k terdahulu seolah sedang menunggu giliran. Kemudian, mereka dibawa kembali seorang penjaga membuka salah satu pintu kurungan.
“Aku mohon keluarkan aku dari sini! Aku ingin bertemu dengan ibuku!” Demikian teriak seorang gadis muda merengek.
Namun, semua tindakannya berakhir dengan sayatan tipis mengenai tangan saat dirinya berusaha memegangi tangan seorang penjaga hendak memohon menggunakan pisau belati yang berada dipinggang.
Slash! …
“Singkirkan tangan kotormu itu dari lenganku!” balas penjaga langsung mengunci gembok.
Gadis tersebut masih merengek memegangi pintu kurungan yang tengah dikunci sambil meneriaki ucapannya didepan wajah penjaga. “Tolong lepaskan aku! Aku berjanji akan menuruti semua permintaan tamu!”
Sang penjaga masih tetap tidak menggubris semua ucapan gadis yang kini sudah menangis. “Tolong … lepaskan aku … aku akan menuruti semua permintaan tamu …” ucapnya demikian makin lirih sembari meringkup menyenderkan tubuhnya ke pintu dan mengucapkan perkataan yang sama detik dengan nada putus asa.
Seorang bocah yang sepantaran dengan gadis itu yaitu Feng Ying melihat sosok kakaknya berada didalam diri gadis tersebut hingga ia pun berkata, “Semua akan baik-baik saja, aku yakin akan hal itu.” Bersamaan dengan membalut luka dengan kain yang menjadi ikat pinggang dan membaginya menjadi seperempat bagian.
Gadis itu langsung menoleh kearah Feng Ying yang tengah membalut luka. Seketika, air matanya berhenti keluar. “Terima kasih …” balasnya sembari menyeruput sisa-sisa ingus yang hendak keluar dari hidung.
Feng Ying hanya mengangguk tidak membalas dengan ucapan dan langsung duduk disampingnya sembari menoleh samping kiri dan kanannya memperhatikan sekeliling. “Aku harap bisa keluar dari sini,” batinnya.
Suasana begitu hening hingga suara dengung terdengar dari telinga. Para penjaga pun terlihat sangat focus berjaga dengan mematung. Meski begitu suasana masih terasa tegang, tiga buah obor menerangi ruang bawah tanah meski samar-samar dan sering kali diganti dengan dengan obor baru saat nyala api mulai meredup.
Terdengar suara pintu kurungan terbuka lalu seorang penjaga menarik keluar b***k dan membawanya ke ujung ruangan. Tiba-tiba suara teriakan terdengar jelas sedang meminta ampun.
Ampun! Tolong hentikan! Aku moh …
Sekejap suaranya terhenti ditengah jalan. Kemudian, dua orang penjaga datang membawa seorang b***k yang baru saja dibawa dalam keadaan tidak sadarkan diri dan langsung dibawa kembali menuju kurungan. Selanjutnya, b***k yang satu kurungan dipaksa keluar dengan menarik kuat pergelangan tangan.
“Tolong jangan lakukan hal ini padaku … aku mohon sekali lagi!” Ucapan memelas sering sekali terdengar selama diruang bawah tanah hingga terngiang dan membuat para b***k lain yang masih menunggu giliran menjadi stress dibuatnya.
Selama berjam-jam mereka tidak dapat memperkirakan waktu. Siksaan para penjaga terus berlangsung tanpa henti dengan orang yang berbeda-beda, suara rintihan serta tangisan keras sudah seperti lagu bagi mereka. Hingga pada akhirnya giliran mereka pun tiba satu per satu orang yang berada dikurungan ditarik keluar.
Dua penjaga datang mendatangi kurungan, “Apa ini b***k yang terakhir? Aku sudah cukup lelah bekerja ditempat ini dan sempat berpikir untuk berganti perkerjaan, bagaimana dengan dirimu?”
“Berganti perkerjaan? Aku belum sempat memikirkan hal itu … sepertinya aku harus melakukan hal yang sama sepertimu,” jawab penjaga sejawatnya.
Gerbang pun terbuka setelah percakapan berakhir seorang paruh baya ditarik keluar tanpa perlawanan berarti, matanya terlihat sayu dan kosong ketika dibawa menuju ujung lorong sumber tempat awal mula suara menakutkan para b***k menjerit.
Seorang gadis yang berada disebelah Feng Ying mulai bergumam tak jelas menanyikan lagu sembari tangannya memegangi tangan Feng Ying erat. Sedangkan Feng Ying hanya memandangi tangan serta gerak bibir gadis tersebut.
Aaa! …
Teriakannya begitu keras mengisi ruangan, teriakannya semakin keras terdengar.
Setelah itu, tiba-tiba gadis tersebut menarik perhatian kalangan penjaga setelah mereka melihat benda menggantung dari balik pakainya. Pikiran kotor mereka kini membawa malapetaka bagi gadis tersebut dengan dibawa menuju ujung lorong secara paksa dengan nafsu keji.
Tangan gadis itu menggenggam erat tangan Feng Ying hingga kukunya yang tajam menggoreskan garis merah pada kulit.
Jangan … jangan … jangan!
Suara teriakan serta erangan silih berganti bersamaan dengan para penjaga yang tengah melakukan hal buruk padanya. Namun, setelah suara mereka berhenti mereka kemudian tertawa, “Haha!” Sembari menuju kurungan tempat Feng Ying berada. Akan tetapi ada yang aneh, dirinya tidak melihat gadis itu dibawa kembali menuju kurungan.