Bab 04: Penyiksaan

1334 Kata
 Obor mulai kehilangan cahaya pandangan mulai menipis, udara yang dingin membuat mereka kesulitan bernapas dan tentu saja untuk terpejam walau sejenak itu pun sangatlah sulit karena suara-suara yang dihasilkan oleh para b***k yang saat ini sedang disiksa. Pintu kurungan telah terbuka Feng Ying akan mengalami mimpi terburuk yang pernah dialami untuk pertama kali. Tangannya kembali diikat kuat, ia pun berjalan melewati setiap kurungan sambil melhat para b***k yang telah melewati tahapan penyiksaan. Berjarak tiga puluh meter dari pintu kurungan, dirinya perlahan melihat sebuah kursi telah penuh oleh noda merah masih basah. Lantai yang beralaskan tanah membuat noda merah berubah menjadi merah gelap serta banyak peralatan penyiksa berserakan. “Cepat ikat dia, aku sudah tidak sabar menyakitinya.” “Sabarlah sebentar, apa kamu tidak melihat apa yang saat ini sedang aku kerjakan?” Penjaga sedang mencoba melapas ikatan dan kembali mengikat tangan dan kaki diantara lengan kursi serta kaki. Feng Ying terdiam ketika sedang dilepaskan ikatannya lalu menyuruhnya duduk di kursi. Rasa khawatir akan rasa sakit perlahan digantikan dengan tekad untuk tetap hidup walau dirinya tidak tahu apakah ia sanggup melewati neraka ini. Penglihatan Feng Ying diikat agar tidak ada mengetahui alat-alat penyiksaan yang akan di arahkan  padanya. Ceplak! … Ceplak! … Cambukan mengarah pada Feng Ying cukup kuat hingga membuat memar merah serta berdarah dalam satu kali cambuk saja. Feng Ying seolah tidak merasakan rasa sakit, dia hanya tertunduk termenung. Hingga tubuhnya pun makin banyak memar serta darah yang keluar meski begitu ekspresinya tetap tidak berubah. “Haha … apa-apaan bocah ini. Kemana suaramu bocah tengik! Ayo cepat keluarkan … tidak akan seru jika tidak ada suara yang keluar dari mulutmu! …” Algojo masih tetap mencabuki Feng Ying dan mempercepat ritme cambukan serta kekuatannya. Ceplak! Aaaa! … Suara keluar dari mulut Feng Ying setelah ritme cambukan dipercepat beserta kekuatannya. “Yah … begitulah terus menerus aku menyukai teriakanmu! Haha …” cetus Algojo begitu menikmati semua teriakan Feng Ying yang semakin keras setiap detiknya, “Haha … bagus sekali suaramu … aku benar-benar sangat menyukai suaramu itu! Mari kta coba peralatan yang lain,” Algojo kembali memilah peralatan yang sudah tertata rapi disekitarnya, “Bagaimana dengan ini … Aku harap kamu jangan sampai hilang kesadaran seperti b***k-b***k yang lain.” Tubuh kecil Feng Ying kini bermandikan darahnya sendiri. Tubuhnya menggeliat sambil meringis kesakitan. Kemudian kedua kaki  Feng Ying yang telah terikat dilepas. Feng Ying mendengar suara benda sedang digeser kearahnya serta sesekali merasakan cipratan air yang mengenai punggung kakinya. “Hei bocah … jangan sampai mati … aku sangat menyukai suaramu itu,” Kedua kaki Feng Ying diangkat lalu kembali ditaruh kedalam wadah berisikan air. Dirinya merasakan sesuatu yang sedang menggeliat disekitar mata kaki serta punggung kakinya. Bbzzzttt! … Aaaa! Tiba-tiba tubuh Feng Ying kejang menggeliat dibarengin dengan suara teriakan kerasnya. Gerakan Feng Ying makin menjadi tubuhnya menggeliat begitu hebat memaksakan diri untuk lepas dari ikatan. Lalu, tubuhnya pun langsung berhenti bergerak seketika. Wajah kecewa terpancar dari sang Algojo, “Aahh … padahal aku sangat berharap padamu , kenapa kamu begitu sangat lemah? Cih, cepat ganti yang lain dan lepaskan dia terlebih dahulu.” Penjaga langsung menuruti semua permintaan Algojo, mereka langsung melepas ikatan  Feng Ying lalu dibawa kembali menuju kurungannya. Penjaga membawa menggunakan tandu, kemudian langsung melemparnya masuk dengan kasar ke dalam kurungan. Okhok … okhok! Darah keluar dari mulutnya. Namun, dirinya tak sanggup bergerak meski hanya untuk mengusap saja. Feng Ying kembali tidak sadarkan diri setelah beberapa saat kemudian. Byuur! … Matanya terbuka setelah tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan guyuran air dingin yang membuat tubuhnya menggigil. Feng Ying melihat samar-samar pintu kurungan terbuka dan penjaga sedang memegangi ember kayu menghalangi jalan keluar. “Cepat! Keluar b******k!” seru Penjaga kasar sambil menunjuk penjaga lain untuk mengikat semua tangan para b***k yang saat ini tengah terkulai lemah. Mereka dibawa kembali naik ke permukaan, namun Feng Ying tidak melihat gadis seusia dirinya yang satu kurungan dengan Feng Ying. Feng Ying dan lainnya kini berada digudang lalu penjaga membuka pintu depan. Kilauan cahaya pun menyambut setelah dibuka, Feng Ying merasa sudah lama tidak melihat cahaya cerah ini. Rasa angan ingin kembali ke rumah sering kali membuatnya teringat saat melihat langit biru cerah serta bayangan jelas dirinya yang sering menemani. Sinar matahari yang membuatnya teringat terkadang perih saat diingat, ia benar-benar menyadari dirinya saat ini sudah menjadi seorang b***k. b***k yang tidak akan pernah bebas berkeliaran meski sudah keluar dari tempat kejam ini. ‘b***k adalah hewan peliharaan dan sering kali menjadi bahan pelampiasan.’ Perkataan tersebut paling sering diucapkan para saudagar kaya atau pun para raja-raja. Sebuah kerajaan bisa dianggap sebagai simbol kekayaan dan kemakmuran jika memiliki banyak b***k. Maka dari itu banyak kerajaan memperjual-belikan para b***k. Kerajaan sering mendapat pasokan b***k dari kerajaan lain yang kalah berperang dan menjarah semua isinya termasuk para warganya, mereka juga dapat menerima dari warga biasa yang ingin menjual orang lain ataupun kerabatnya sendiri. Aaa! … brukk! … Tubuh Feng Ying terlempar masuk ke dalam jeruji besi, “To-tolong beri aku sedikit air saja …” pintanya lirih. Namun, semua permintaannya tidak ditanggapi penjaga dan lebih memilih pergi. Feng Ying tersungkur lemah diatas jerami kering dengan aroma yang tidak sedap . Ia hanya memandangi bagian luar dari dalam jeruji besi. perasaan rindu terhadap sang ibu dan kakak kian menusuk karena pikirannya tak karuan akibat kehausan. Feng Ying berusaha tidur demi menghilangkan rasa hausnya yang terasa sangat kering hingga paru-parunya merasa terbakar.   Hei! Bocah sadarlah! … Suaranya samar namun Feng Ying memahami kalau orang asing tersebut tengah memanggil dirinya, ia perlahan membuka mata sembari mengelus leher. “Baguslah kamu sudah tersadar …” ucapnya lirih sambil tersenyum. “Cepatlah bangun aku tau kamu sedang membutuhkan air,” Feng Ying pelan-pelan bangun dengan tenaga yang tersisa sambil mendekati jeruji besi. Kemudian, tangannya meraih bambu berisikan air di dalamnya. Glek-glek! … Tangan pria itu membantu memegangi bambu tersebut  secara perlahan menuangkannya kedalam mulut Feng Ying, “Pelan-pelan … aku tahu kamu kehausan tapi caramu minum tidak baik untukmu,” tegur sang Pria dengan pakaian penjaga lengkap.. “Apa kamu lapar? Aku punya sedikit ubi yang tersisa,” ucapnya mengambil sepotong ubi dari dalam saku pakaian lalu memberikannya pada Feng Ying.  Feng Ying begitu lahap memakan ubi tersebut sampai tak tersisa, ‘uhuk-uhuk’ sampai ia tersedak. “Pelan-pelanlah …” ucap Penjaga dengan lirih sambil matanya tetap awas memperhatikan sekeliling. “Baiklah … cepat kembali beristirahat dan satu lagi jika kamu melihatku jangan sekali-kali menyapaku atau kamu  tidak akan pernah selamat! …” Ancamnya kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Feng Ying. *** Esok harinya Feng Ying melakukan aktivitas seperti biasa, ia mengangkut barang-barang dari kereta kuda untuk diturunkan kembali menuju tempat penyimpanan barang. Luka yang berada ditubuhnya masih segar terlihat, meski begitu ia berusaha menghiraukan rasa sakit yang sedang dirasakan saat ini. Feng Ying sesekali melihat penjaga yang telah menyelamatkan dirinya, namun seperti yang dikatakan penjaga itu, ia tidak bisa menyapa meski hanya menggunakan isyarat mata. “Hei apa yang sedang kamu lakukan! Cepatlah jangan melamun masih banyak barang yang harus segera diangkut ke sana,” tegur Penjaga memergoki Feng Ying yang tengah melamun ‘Ceplak!’ sembari memecut. Feng Ying segera melanjutkan membawa barang yang sudah dibawanya sedari tadi. ‘Bocah bodoh, kenapa kamu melirikku seperti itu! Padahal sudah aku beritahu. ’ Feng Ying sesekali menyeka keringat yang ada di wajahnya setelah menaruh barang dagangan ke dalam gudang penyimpanan. Kemudian, ia kembali membalikkan dan memasang wajah tegar. “Cepatlah kemari b******k! Jangan sampai membuatku menunggu hanya untuk memberi kalian makan!” Siang ini begitu terik para Penjaga membawa kuali besar berisikan ubi rebus berukuran besar dalam keadaan panas dan dibagikan pada para b***k, hawa panas yang menyengat tubuh membuat tenggorokan menjadi kering. Meski begitu, para Penjaga tidak menyediakan air minum dan hanya menyediakan air sisa rebusan ubi berwadahkan batok kelapa sebagai mangkuk. Mereka tidak bisa protes akan hal itu, bisa makan saja sangat bersyukur bagi mereka. Terlebih akhir-akhir ini mereka jarang mendapat makanan akibat kekeringan yang tengah melanda kerajaan ini hingga ladang pertanian merugi. Para b***k terlihat sangat lahap ketika sedang memakan ubi, “Aku belum pernah memakan ubi seenak ini!” racau salah satu b***k sambil sesekali menyeruput air rebusan yang mulai dingin. “Aku setuju semua pendapatmu ini benar-benar enak padahal hanya ubi!” sahut b***k disebelahnya. Feng Ying hanya melihat rekannya yang begitu lahap memakan ubi tersebut sampai habis tak tersisa dan mungkin saja mereka tidak akan mendapat jatah makan lagi pada esok harinya. Ia pun memutuskan membelah lalu memakan sebagian ubi tersebut dan sisanya disimpan pada pakainnya, air sisa rebusan diminumnya habis tidak tersisa. Mereka kembali mengangkut barang seperti biasa, setelah perut terisi penuh hingga sore hari.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN