Bab 17: Manusia akan saling mendewakan jika punya status

1012 Kata
"Bagus sekali, akhirnya sampai juga dengan selamat. Apa ada sesuatu yang terjadi selama perjalanan?" tanya Xue Jang dengan nada cukup antusias dengan pertanyaan yang di ajukan kepada anak buahnya. "Tidak tuan, kami tidak menemui susuatu yang membahayakan." balas Kay yang juga ikut dalam perjalanan kali ini. "Syukurlah, semua barang daganganku selamat sampai tujuan," Xue Jang memperhatikan seluruh barang dagangan dengan penuh haru. "Tolong bantu aku carikan barang bagus milikku yang tersisa. Mandikan semua b***k terutama perempuan dan juga gadis-gadis lalu pisahkan mereka." ucapnya dengan nada serius. "Seperti yang kau minta tuan, akan kami laksanakan secepat mungkin." "Cepat-cepat ... aku tidak sabar mendengar gremcing uang yang akan datang kali ini." ungkapnya. Kemudian seseorang berpakaian mewah menghampiri Xue Jang, "Jangan lupakan perjanjian kita, ingat itu," paparnya berbisik setelah itu kembali tersenyum. "Aku ada makanan kecil apa kau mau?" tanya pria itu yang tak lain adalah kenalan satu profesinya. Keringat dingin muncul keluar dari kepalanya. "Ah, t-tidak aku sudah kenyang dengan teh aroma yang kamu sajikan tadi pagi, teh itu benar-benar sungguh nikmat." balas Xue Jang. "Sialan, aku lupa kalau pembagian kali ini hampir menguras seluruh keuntunganku kali ini." batin Xue Jang dengan tatapan dingin. *** "Lakukan betul-betul saat memilih barang yang bagus, jangan sampai ada barang yang cacat ataupun berpenyakit." papar anggota yang lain menyampaikan ucapan tuannya saat kembali menyibukkan diri. "Jika sudah merasakan hal ini rasanya ingin segera keluar dari pekerjaan ini dan memulai hal yang baru." keluh salah seorang bawahan. "Cukup, aku tahu apa yang kalian rasakan dan keluhkan. Tapi yang perlu kau ingat setelah kau keluar, apa kamu yakin akan dapat pekerjaan yang lebih baik dari ini? Terutama soal bayaran, apa ada yang lebih tinggi dari ini?" seketika setelah pertanyaan ini di lontarkan, tidak ada lagi yang berani menjawab. Kemudian, Kay menyambung kembali ucapannya. "Lagi pula tuan kita masih baik, pada kita bukan sebaliknya. Kumpulkan saja lebih banyak uang jika ingin keluar dari sini. Aku tidak akan mengganggu pendapatk kalian kali ini." Mereka termenung dan lebih memilih melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. *** "Waah, aku menemukan barang bagus, lihat saja tubuh gadis ini, dadanya memang masih kecil karena belum pernah di sentuh pria. Aku yakin ini akan di jual harga yang tinggi." ucap salah seorang prajurit yang membasuh tubuh gadis telanjang, dan membersihkan setiap sela lipatan-lipatan sendi dan kerutan. Mereka beberapa kali menemukan gadis yang masih ranum, belum di sentuh sama sekali oleh pria hidung belah. Ini sudah jelas bisa di lihat dari reaksi rasa malunya dan juga bagian intim yang masih terlihat bagus. Melecehkan seorang b***k bukanlah tindakan yang terela, karena para b***k sudah tidak memiliki hak untuk hidup bebas seperti yang lainnya. Bukan hanya wanita berbadan bagus saja yang mereka temukan, pria tampan dengan tubuh bagus pun mereka temukan di sela-sela pakaian dan wajah mereka yang kotor karena tidak pernah membersihkan diri. "Haha, Lihat belalainya aku yakin para wanita ingin menyewa mereka semua, meskipun harganya tinggi." tawanya cukup keras memeriahkan tempat pencucian para b***k, yang hampir semuanya adalah barang dengan kualitas bagus. "Kalau begitu kita perlu laporkan ini kepada tuan kita, ini benar-benar kabar yang baik. Hampir semua barang bagus yang belum tersentuh di temukan di sini." Barang yang bagus? Kemanusiaan sudah tidak terlihat sejak awal, dan mereka menganggap b***k adalah hewan yang bisa di perlakukan seenaknya, hak kemanusiaan mereka telah di renggut bersamaan dengan hancurnya kerajaan ataupun desa yang sedang di rebut, bahkan ada beberapa orang yang tega menjual keluarganya sendiri untuk mendapatkan uang lebih sekedar memperkaya diri sendiri. Perbudakan sudah berlangsung sejak lama, ratusan tahun, bahkan sudah berlangsung beberapa abad yang lalu. Sifat dan karakter mereka yang dengan tega menjual keluarganya sendiri jelas terlihat dari lingkungan yang mereka tinggali. Banyak orang yang mulai menjual belikan manusia hanya untuk menjadi pembantu dengan bayaran minim bahkan tidak setimpal dengan nyawa mereka. Beberapa dari mereka bahkan dipaksakan ikut berperang dan di jadikan samsak untuk latihan bertarung para prajurit kerajaan. Semua ini memang sudah menjadi hal yang sangat biasa ketika seseorang telah kehilangan hak hidupnya sendiri. Cumbuan demi cumbuan, merayu dan saling membelai tubuh kini menjadi terganggu ketika ada suara ketukan, dari arah pintu, "Tuan ... permisi tuan ..." seseorang bawahan sedang menunggu di depan pintu. "Apa yang sedang kamu lakukan? Aku harap, kau memberiku berita bagus hingga berani menggangguku disaat seperti ini." terangnya langsung sambil mengenakan pakaiannya yang baru saja di lucuti sambil beberapa kali menerima belaian seorang pramunikmat yang di akhiri dengan kecupan. Pintu pun terbuka, lalu dengan wajah sangar ia tunjukan kepada bawahannya, "beritahu sekarang apa yang terjadi, sesingkat mungkin." ungkapnya sambil memegangi gagang kayu dengan tangan kirinya. Tentu saja bawahannya hanya menelan ludah setelah melihat, kayu panjang yang siap kapan saja memberi salam padanya. "A-Aku hanya memberi tahu kita memiliki banyak barang berharga melebihi apa yang kita kira tuan." "Berapa banyak?!" kayu yang di pegang Xue Jang di angkat lalu di tempelkan ke pundak bawahannya. "Anu ... sekitar lima kereta kuda tuan ..." balasnya lirih sambil terbata-bata. "Apa aku tidak salah dengar? Lima kereta kuda katamu?" Xue Jang langsung menyabet keras bawahannya dengan kayu yang di pegangnya mengarah ke bahu kirinya. "I-Iya tuan." "Apa kau kurang tahu seberapa rugiku kali ini?! Masih untung kalian tidak aku pecat, untungnya beberapa dari kalian mati ... aku jadi sedikit lega dan terhindar kerugian yang lebih banyak lagi." tangannya masih sibuk menyabeti dengan gagan kayu yang lebar itu ke kedua bahu bawahannya yang sedang membungkuk. "Itu belum semua tuan, tersisa empat kereta lagi yang belum di bersihkan kali ini." ungkapnya kembali dengan sedikit kejutan. "Apa kamu dengan ucapanmu tadi? Kalau itu sesuai apa yang kamu katakan, akan aku pikirkan kembali cara mengembalikan kerugian yang hampir membuatku bangkrut ini." gumamnya Xue Jang menatap ke arah belakangnya, seorang pramunikmat sedang melambai kepadanya. "Aku pikirkan nanti, urusanku kali ini memang belum selesai. Kau cepat selesaikan semua barang daganganku hari ini juga. Aku tidak suka hal yang menunda-nunda." "Baik tuan" setelah kalimat terakhir di jawab oleh bawahannya keluar. Pintu langsung di tutup dengan keras. Mereka langsung kembali melakukan aktivitas panasnya. Mereka mengerti tidak setiap tuannya akan selalu baik kepada bawahannya, ini yang selalu menjadi momok bagi orang-orang yang bekerja dengan manusia saat mempunya startas tertinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN