Kedua kakak beradik di pisahkan ketempat yang berbeda, mereka melakukannya secara sengaja, karena dicocokan berdasarkan dengan jenis kelamin dan kemampuan yang bisa di bilang seperti biasanya mereka lakukan di tempat sebelumnya, bedanya mereka harus kembali berbaur dengan tempat berbeda. Itu yang membuat mereka berbeda dari yang lain.
"Hei, cepat bagikan yang benar! Kalau tidak aku pukul kau dengan balok kayu ini." ucap salah satu penghuni asli tempat p********n.
Mereka lebih terlihat bebas melakukan apapun, bahkan seperti hidup layaknya masyarakat biasa bukan menjadi seorang b***k seperti yang di alami pria kecil bernama Feng Ying beserta dengan yang lainnya.
"Sepertinya kita memang punya penghuni baru dari desa luar. Aku sudah tidak sabar berkenalan dengan mereka berdua."
***
Ayo! Hajar! Hajar dia sampai babak belur!
Kau sudah ku pasang taruhan tinggi kau harus menang! Dasar brengs*k!
Saling seru antar sesasama b***k, mereka bertaruh dengan harga yang sangat tinggi, b***k disini benar-benar bebas melakukan apapun.
Pertarungan yang seharusnya di lerai, hanya di acuhkan para penjaga dan bahkan ada beberapa penjaga yang ikut mempertaruhkan uangnya.
Serangan demi serangan kombinasi dengan hindaran yang tidak terlalu efektif karena pandangannya kabur. Mereka bertarung karena hal itu sudah menjadi kebiasaaan jika ada penghuni baru tempat itu.
Pukulan telak menyerang ke wajah, keringat bercampur liur keluar secara bersamaan. Ini salah satu hiburan yang bisa dinikmati seluruh penghuni. Mereka terus-menerus saling menghajar, mereka memahami jika tidak melakukan hal ini. Hal yang lebih buruk akan menimpa mereka berdua.
Yaa! pukulan kiri tajam mengarah ke pinggul lawan tak sanggup menangkis gerakan cepat. Sangat terlihat jelas lawan tandingnya begitu memahami cara berkelahi yang benar.
Pukulan demi pukulan sangat efektif mengenai lawan.
Dasar bocah tengil! Cepat habisi dia! Aku sudah menghabiskan uangku hanya untukmu bodoh!
Seruan makin keras tak kala melihat orang yang di jadikan taruhan tidak bisa bergerak seiringan dengan pukulan.
Kakinya tampak begitu aktif bergerak di tengah penonton yang melingkar di jadikan garis batas. Terkadang penonton saling memberikan pukulan kepada pemain hanya untuk membantu pemain yang di jadikan taruhannya.
Pakai kayu itu! cepat!
Pria itu langsung memegang balok kayu yang di berikannya, ia pun memukul keras begitu saja. Hingga lawan tidak bisa bergerak kemudian hilang kesadaran.
Sambutan meriah keluar dari mulut mereka yang saat itu menang taruhan, beberapa dari mereka tampak kecewa saat mengetahui orang yang ditaruhkan kalah.
Cih! begitu saja kalah, dasar lemah!
Beberapa dari mereka menginjak tubuh pria yang kalah dalam bertarung kali ini. Ini masih belum seberapa, biasanya mereka yang mengalami lebih banyak rugi akan melakukan hal yang lebih dari menginjaknya.
***
Enam bulan yang lalu telah terjadi wabah cacar yang mengerikan, akibatnya hampir setengah b***k yang dimiliki Xue Jang mengalami kerugian besar. Mereka memutuskan pindah ke desa Tao yang tidak lain adalah rekan kerjanya juga seorang saudagar b***k.
Sekarang satu tahun telah berlalu Xue Jang masih tetap bekerjasama dengan rekannya, mungkin karena keuntungan yang dimiliki mulai menampakkan hasil yang maksimal beberapa bulan terakhir. Mereka mulai mengerti cara mencari uang yang lebih banyak selain harus menjual para b***k.
Tradisi para b***k yang sering melakukan pertarungan antar b***k menjadi tontonan para masyarakat dan juga oleh pedagang yang melintas sebagai hiburan serta jalan singkat mencari uang yaitu taruhan setiap kali acara itu berlangsung.
Panggung besar telah di bangun khusus untuk menyaksikan pertarungan antara b***k dan tempat itu sudah menjadi arena favorit bagi pejudi-pejudi yang suka menghabiskan uang mereka.
Mulai! Mulai!
Para penonton mulai menyeru untuk di mulainya pertarungan, mereka sudah tidak sabar untuk menghabiskan uang.
Tali kekang terlepas dari kalung seorang remaja berperawakan kecil, ia di juluki Ngengat kecil karena sering menghadapi lawannyalebih tua darinya dan juga petarung termuda yang pernah di miliki.
"Cepat keluar, sekarang giliranmu untuk menghasilkan uang." ucap salah satu pawang menggiringnya keluar untuk memasuki arena tanding, sambil tangannya memegangi gagang pintu berjeruji. b***k-b***k yang lainnya pun hanya memperhatikannya keluar pintu.
Yeaaa!
seruan sang penonton makin meriah setelah acara yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar. Mereka melempar berbagai makanan ke arena.
Makan ini!
seruan masing-masing penonton, mereka melakukan hal itu karena paling hal yang sangat menarik akan segera di mulai.
Pria kecil itu mengambil dua buah apel yang paling dekat dengannya tanpa mengeser kaki sedikitpun. Rasa lapar yang ia tahan akhirnya sedikit terganjal saat memakan buah itu.
Pintu kedua pun terbuka, Penonton terdiam sejenak menunggu pemain kedua keluar dari arena. Setelah itu mereka pun kembali meriah, dan melempari makanan seperti yang sebelumnya.
Para penonton kembali terdiam setelah, ada seseorang lagi memasuki arena. "Kedua petarung sudah ada di dalam arena!" ucap si pengurus acara dengan suara kerasnya.
"Sebelah kiri kita, ia di kenal berbadan besar dan sanggup mengenyahkan lawan dengan tenaga besarnya. Bernama kuda besi Shuei!" seruan meriah, terdengar setelah nama petarung di serukan. "Sisi kanan kita, pemain termuda yang di kenal sering melawan petarung berbadan lebih besar darinya. Ngengat kecil Feng!" tepuk tangan tak kalah meriah dari sebelumnya. Kemudian, ia menunggu aba-aba dari sang pendiri acara.
"Mulai." perintah langsung Xue Jang, lalu kembali di ulangi perkataannya oleh bawahan. Pertarungan pun di mulai, dengan luas arena 50 meter. Mereka memulai pertarungan.
Kuda besi Shuei mulai maju terlebih dahulu untuk menyerang. Namun yang terjadi malah Ngengat kecil Feng, kembali memundurkan langkahnya.
Mereka berdua sedikit melakukan lari kecil karena Ngengat kecil Feng menjauhi lawannya setiap kali Kuda besi Shuei mendekat.
"Sialan! Kau pikir bisa kabur terus menerus dariku Hah!" ucap Kuda besi Shuei, alisnya mengangkat giginya saling beradu saat merasa di permainkan oleh lawan tandingnya.
Mereka berdua saling menatap tajam secara terus menerus. Kuda besi Shuei sudah tidak sabar akhirnya ia pun mulai menyerang dengan berlari ke arah lawannya.
Tidak di sangka, sangka di saat yang sama Ngengat kecil Feng melemparkan buah apel yang masih tersisa satu di tangan kirinya. Ia mengarahkan ke wajah Kuda besi Shuei, dan melakukan pukulan pinggul pada bagian kiri lawan disusul menarik tangan Kuda besi Shuei ke arah belakang menggunakan tangan kirinya. Ketiak lawan tidak luput dari serangannya, karena bagian sendi yang paling banyak mengeluarkan tenaga pada saat memukul.
Gerakan Ngengat kecil Feng sangatlah halus, tidak terasa itu adalah bagian penting langkah penghancuran andalan miliknya. Ia tidak pernah belajar bertarung, namun ia belajar dari pengalamannya sendiri.
"Akh!" jerit Kuda besi Shuei seketika setelah mengalami serangan kecil yang seharusnya tidak terasa olehnya. Setelah itu, ia pun mulai berhati-berhati dengan gerakan Ngengat kecil Feng.
Tepuk tangan semakin meriah, beberapa dari penonton terlihat mengumpat dengan ucapan kasar.
Kuda besi Shuei berlari dia menggunakan telapak bagian dalam untuk menyerang Ngengat kecil Feng yang sedang dalam posisi tidak siap melakukan pertahanan. Namun, hal itu malah menjadi hal sebaliknya, Kuda besi Shuei kembali mengalami hal yang tidak terduga setelah mendapat serangan dengan cara yang persis untuk melukai lengan ototnya pada sebelah kiri. Setelahnya Kuda besi Shuei merasa kehilangan separuh ototnya untuk bertarung, serangannya sering kali di tangkis atau lebih tepatnya di arahkan ke tempat yang sia-sia.
"Sialan kau ngengat!" merasa dirinya di permainkan, membuat Kuda besi Shuei makin menggila. Meski serangannya sering mengarah ke target kosong. Tendangan tinggi memancar keatas untuk tubuhnya yang lebih besar dari pada Ngengat kecil Feng, bahkan serangan itu sanggup mengenainya telak pada d**a.
Akibatnya darah pun keluar dari mulut Ngengat kecil Feng, ia benar-benar berhati-hati karena lawannya mempunyai tenaga yang lebih besar darinya, julukan Kuda besi Shuei bukanlah asal cuap semata. Buktinya organ dalam Ngengat kecil Feng langsung terluka begitu mengenai serangan kencang dari kakinya.
Merasa sudah menemukan momen yang tepat, Kuda besi Shuei. Menyerang balik secara konstan hingga tidak menyisakan ruang untuk membalas lawan tandingnya. Gerakannya begitu lincah meski tubuhnya lebih besar. Setiap serangan yang dilakukan benar-benar cepat dan kasar, sangat berbeda dengan lawannya.
Ngengat kecil Feng menerima berbagai jenis pukulan dan tendangan yang seharusnya dapat ia hindari. Wajahnya berubah corak menjadi warna merah. Akibat darah yang keluar dari pelipis serta mulutnya. Lalu sesosok wanita muncul dari dalam pikirannya, ia meminta tolong untuk segera di bebaskan.
Suara itu serasa telah memanggilnya untuk segera cepat menyelesaikan pertandingan. "Sialan!" Tangan Ngengat kecil mengepal mengarah ke Kuda besi Shuei, dan akhirnya mengenai tubuh Kuda besi Shuei. Karena serangan yang tidak terlalu berefek besar. Ia pun menjadi kacau.
Para penonton hanya tertawa setelah menyadari pukulan Ngengat kecil Feng sama sekali tidak berefek. Kuda besi Shuei, langsung memegangi kepala lawannya, seolah memegang buah kelapa. Tubuh Ngengat kecil Feng menggantung, tatapan wajahnya kosong di saat itu juga.
Perbedaan ukuran tangan Kuda besi Shuei sangat ketara, bahkan telapak tangannya hampir mencangkup seluruh bagian kepalanya. Lalu, ia pun langsung memeras kepala lawannya begitu sudah lemah tidak sanggup melawan.
Hal tidak terduga, terjadi di tengah-tengah genggaman erat Kuda besi Shuei. Ternyata Ngengat kecil Feng masih tersadar, ia segera menggenggam lengan Lawannya, lalu kakinya mengingatkan diri ke lengan lawan sembari menendang wajahnya.
Begitu tersadar Ngengat kecil Feng masih sadar, ia pun langsung menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk mengunci kuat tangan lawannya sambil berusaha melepaskan kepala dari tangan lawan.
Kuda besi Xue pun terjatuh, setelah serangan beberapa kali yang menyerang kepalanya. Tidak hanya sekedar membuat lawan jatuh kehilangan keseimbangan saja, Ngengat kecil Feng, menyerang mata lawan secara langsung. Akibatnya darah pun keluar dari kedua bola mata setelah kedua jari tangannya menyerang bagian lembut itu.
Serangan itu tidak dapat di hindarkan.
Penonton pun merasa puas setelah menyaksikan akhir dari pertandingan yang begitu mereka tunggu. Sorakan mereka tidak berhenti-henti.
"Kak, kemenangan ini untukmu." ucapnya sambil menggenggam erat tangannya sendiri.