"Pemenang kali ini adalah Ngengat kecil Feng! Memenangkan pertandingan sebanyak dua puluh lima kali pertandingan, kurang dua puluh lima lagi hadiah utama hak kemanusiaan akan di kembalikan lagi!" para penonton bertepuk tangan dengan meriah. Pertandingan kali ini sangat meriah karena lawan-lawan tandingnya terbilang kategori yang tidak segan untuk saling membunuh.
Ngengat kecil Feng bernama asli Feng Ying, ia merupakan bintang utama arena pertarungan akhir-akhir ini. Gaya bertarung yang berbeda dari lainnya karena perbedaan tubuh yang sangat mencolok begitu di kagumi oleh para penonton. Berbeda dengan kakaknya, bernama Xue mei. Ia hanya di jadi bahan pemuas nafsu oleh para bawahan yang tidak lain adalah penjaga di setiap malamnya.
Feng Ying di kurung berdekatan dengan kandang yang berbeda meski begitu, dia tidak bisa melakukan apa-apa karena selalu mengancam akan membunuh kakaknya kapan saja, bahkan saat dirinya sedang sibuk melakukan pertandingan hidup dan mati antar sesama b***k.
Erangan serta desahan yang menggebu-gebu dari p****************g, saat ini sedang menikmati tubuh manis seorang b***k yang sedang dikurung bersamaan dengan beberapa penjaga yang lain.
"Teruskan ... teruskan ... aku suka dengan sensasi menjepit ini. Benar-benar hebat ..." penjaga itu terlihat menikmati setiap kali mendorong dan menarik pinggulnya.
Nafsu mereka benar-benar besar, meskipun sudah beberapa kali, tidak bahkan lebih dari ratusan kali menikmati tubuh b***k itu. Namun tetap saja, ia masih merasakan sensasi nikmat yang tiada tanding.
Malam yang gelap, yang hanya di terangi cahaya bulan masuk melalui ventilasi. Membuat para penjaga makin nafsu melancarkan aksinya. Malam ini Xue Mei melayani tiga para penjaga seperti biasanya, ia merasa tubuhnya benar-benar kotor dan tidak dapat mempercayai siapapun kecuali adiknya.
Xue mei melihat semua pria sama brengs*knya dengan ayahnya terdahulu yang rela menjual ibu, adik serta dirinya. Akibatnya ia hampir merasakan neraka setiap hari. Bukan hanya dirinya yang merasakan di tunggangi setiap hari oleh para penjaga b***t. Perempuan yang lain pun sudah mengalaminya pula. Bahkan sudah menjadi rutinitas wajib, melawan pun percuma mereka akan merasakan hal yang lebih menyakitkan.
"AH! ... sial aku mengeluarkan dimulutmu lagi ..." sambil tertawa lirih serta memperhatikan semen yang keluar dimulut Xue mei. Dua pria lain akhirnya mengeluarkan cairan putih lain.
"Kau memang benar-benar favoritku ... berapa kali pun aku bermain denganmu aku tidak pernah puas." ucap penjaga yang telah mencapai puncak kenikmatan.
"Aku mengakui hal yang sama denganmu ini benar-benar nikmat dari luar maupun dalam. Ah membayangkannya saja membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi ..." penjaga itu menjambak erat rambut Xuemei, "Baiklah ayo mainkan ronde kedua ..."
Siang maupun malam tugas melayani pria b***t tidak pernah akan rampung. Ini yang di alami setiap wanita yang hak kemanusiaannya sudah di hapus.
"Aku tidak tahu namamu, tapi ini benar-benar nikmat sampai tetes terakhirku! Ah ..." ia menarik napas dalam ketika kembali mengeluarkan semen untuk kedua kalinya.
"Haha ... Apa yang kau lihat dari tadi?! Apa kau mau mencicipinya?" ucap penjaga menertawakan Feng Ying yang sedari tadi terdiam dengan tatapan tajam memperhatikan kelakuan b***t para penjaga.
Feng Ying tidak membalas ucapannya, namun dari sorot matanya sangat tergambar jelas bahwa ia menyimpan dendam sangatlah dalam.
Xue mei, saat itu hanya menatap kosong ia tidak bisa merasakan apapun bahkan saat tubuhnya sedang di permainkan oleh pria b***t. Ucapan para penjaga b***t pun seolah angin lewat, ia tidak mendengarnya. Mentalnya benar-benar lemah dan hancur pada saat itu.
Penjaga itu baru saja menampar wajah tidak berdaya Xue mei. "Cih seleraku sudah hilang, wanita jalang ini sudah kehabisan tenaga rupanya. Padahal aku sangat mengharapkan suara erangannya dari tadi." paparnya lalu memasang kembali celana dan meninggalkannya begitus saja diikuti dua penjaga lain.
"Cepat tutup pintunya, aku tidak mau bos marah."
Meski permainan Xue mei dan ketiga penjaga telah usai, namun suara erangan nikmat dari beberapa penjaga usai begitu saja. Gadis-gadis lain sedang di permainkan, hingga akhirnya ruangan pun benar-benar sepi setelah tengah malam terlewati.
Xue mei hanya bisa memanfaatkan suasana sepi ini dan kekosongan setelah para penjaga b***t meninggalkan ruangan ini untuk beristirahat.
Xue mei dan beberapa wanita lain sedikit beruntung kali ini, mereka bisa dibiarkan istirahat meski hanya beberapa jam saja.
Pagi pun menyongsong, mereka di datangi oleh para tabib yang menjaga kesehatan para b***k terutama pada gadis-gadis.
"Minumlah teh ini cepat ... ini agar rahimmu sedikit lebih baik. Aku tahu pikiran kalian pasti berpikir lebih baik mati dari pada menjadi mayat hidup yang hanya di jadikan pemuas nafsu." ucap tabib berdiri sambil memperhatikan para gadis-gadis yang sedang di suguhi teh dan berbagai macam obat untuk rahim mereka oleh para perawat. Setelah itu, ia pun mendatangi Feng Ying, "Hhmm, tanganmu sudah lebih baik dari pada dua hari yang lalu saat mengalami terkilir. meski tubuhmu kecil tapi bisa mengalahkan orang-orang berbadan besar. Aku terkesan dengan caramu bermain sampai detik ini." Ia pun memberikan obat kepadanya, "Hari ini akan ada pertarungan bukan? Ini minumlah, staminamu akan bertambah jika meminumnya."
"Terima kasih, kau selalu baik kepada b***k-b***k yang ada di sini, berbeda dengan para penjaga bej*t yang berada di luar sana. Aku hanya ingin segera membunuhnya.' ucap Feng Ying dengan tangan menggenggam erat.
"Jika kau ingin membunuh mereka hentikan itu." ucap tabib Xin Liu.
Xin Liu kini bekerja dengan saudagar Xue Jang dan di bayar lebih. Hanya untuk menjaga kesehatan para b***k. Wabah cacar berhasil di hentikannya dengan cara-cara yang ekstrim, tapi sangat efektif.
"Dua puluh lima pertandingan lagi kau akan bebas seutuhnya bukan? Tahanlah sampai saat itu tiba." papar Xin Liu sambil melakukan beberapa perawatan.
"Itu terlalu lama, aku harus segera membebaskan kakaku dari sini. Dia sudah sangat tersiksa, aku pun sudah tidak tahan melihatnya dipermainkan oleh penjaga-penjaga b***t yang tiap malam datang kemari." ucapnya semakin geram.
"Kita sudah membicarakan ini berkali-kali, jawabanmu pun tidak pernah berubah sejak pertama kali aku bicara padamu," Xin Liu membereskan beberapa barang obat-obatannya dan memberikan kepada perawatnya. "Sepertinya, aku sudah merasakan tekad pada dirimu. Apa kamu mau ku beritahu sesuatu?" Xin Liu terlihat menatap tajam mata Feng Ying. "Tergantung jawabanmu kali ini ... dan sepertinya aku membutuhkan sedikit lagi jawaban darimu." sambungnya.
"Cepat apa itu? Aku harap itu sebuah cara keluar dari tempat busuk ini bersama dengan kakakku." ungkap Feng Ying langsung tertarik dengan ucapan tabib Xin Liu.
"Oh, tidak jadi aku tanyakan. Kau sudah siap ternyata. Baiklah akan aku beritahu," ucapnya sambil menatap gadis-gadis yang sampai saat ini terlihat sangat lemah. Terutama pada Xue mei kakak dari Feng Ying. "Kaburlah dari sini, kalau kau bersedia kabur dari sini ... akan aku persiapkan beberapa alat yang membantumu untuk kabur."
"Aku bersedia!" terangnya.
"Ssstt, jangan keras-keras." Xin Liu langsung memberikan kunci kandang yang selama ini mengunci mereka berdua. "Sembunyikan ini, terserah kapan kau akan kabur dari sini, aku tidak peduli akan hal itu," terang Xin Liu. "Kau bisa beri tahu kapanpun jika kau ingin kabur, jika tekadmu sudah bulat akan ku beri kau momen untuk kabur. Apa kamu mengerti? Pikirkan dari sekarang juga." sambungnya dengan tatapan serius.
Feng Ying sedikit khawatir dengan perawat-perawat yang berada di dekat Xin Liu, "Apa tidak apa mereka mendengarkan hal ini?"
"Tenang saja, mereka berdua orang kepercayaanku ... mereka juga mantan b***k yang aku beli di tempat ini juga. Jadi mereka sangat mengerti apa yang kau rasakan saat ini." jelas Xin Liu kepada Feng Ying yang masih ragu akan keberedaannya.
"Terima kasih." balasnya Feng Ying singkat setelah mendapat keterangan yang cukup jelas baginya. Feng Ying sebenarnya masih ragu dengan ucapan Xin Liu, mungkin saja Xin Liu sengaja menjebak dirinya agar ia makin dapat di percaya oleh Xue Jang.
"Kalau begitu, aku akan lanjut berpatroli ke tempat lain, masih banyak orang yang harus ku cek kesehatannya." papar Xin Liu kemudian pergi meninggalnya bersamaan dengan para perawatnya.
Feng Ying hanya mengamati kepergian Xin Liu dari dalam kandang yang mengurungnya sambil memegangi kunci di pegangnya. Feng Ying menatap kakaknya Xue mei yang sedang tertidur lelap, ia tidak tega membangunkan kakaknya yang sedang tidur. Meski pakaiannya yang di kenakan kumuh namun kecantikan wajah kakaknya masih terlihat jelas di mata.
"Kak, aku tahu kau sedang tertidur saat ini yang jelas. Niatku untuk mengeluarkan kita berdua sudah ada di depan mata." gumam Feng Ying sambil memandangi kakaknya.
Penjaga kembali datang, sepuluh menit setelah keluarnya Xin Liu. "Buka kandang petarung kita." sambil menunjuk ke arah Feng Ying, lalu bawahannya membukakan pintu dan mengunci tangan serta kakinya. dengan brogol.
Kedua bawahannya menjaga Feng Ying dari belakang sambil menodongkan tombak yang tajam. Mereka berjalan di antara kerumunan b***k yang sedang di kurung di kandang masing-masing.
"Apa kau tau, aku adalah penggemar beratmu ..." ucap penjaga yang saat ini sedang memimpin berjalan untuk menuju ruangan tanding. "Aku suka gaya bertarungmu, dan juga aku suka uang. Sebagian uangku aku taruhkan padamu ... ku harap kau akan menang kali ini." ungkapnya, kemudian membuka pintu ruang tunggu untuk para petarung. "Semoga menang." ucapnya sambil tersenyum meskipun Feng Ying tidak membalas sedikitpun ucapannya.
suasana tampak hening, banyak petarung pemula yang sangat khawatir dengan nyawa mereka sendiri, namun berbeda dengan Feng Ying. Dia begitu sangat kosong, seolah tidak mempunya ekspresi takut ketika menginjakan kaki di arena. Feng Ying begitu hebat menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, sangat berbeda dengan di saat ia di tempatkan satu kurungan dengan kakaknya Xue mei. Dari wajah saja sudah tampak bahwa ia sangat tertekan secara emosional ketika melihat kakaknya di perlakukan sebagai boneka pemuas nafsu.