bc

Sang Pengabdi KKN Di Tanah Terkutuk

book_age16+
38
IKUTI
1K
BACA
dark
HE
curse
badboy
no-couple
scary
campus
highschool
small town
cheating
cruel
like
intro-logo
Uraian

Abil, Estu, Hagia dan Dian adalah 4 mahasiswa yang akan menjalani program KKN. Tapi tanpa mereka ketahui, bahwa Desa Abimantrana yang akan jadi lokasi KKN mereka adalah sebuah desa yang terkutuk.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : BERKUMPUL
Jawa Timur, 2003. Pagi ini, warga desa sekitar telah dikejutkan dengan kejadian yang mengerikan. Dengan raut wajah heran dibalut perasaan ngeri, para warga mulai bergidik di sekujur tubuh. Sejauh mata memandang, pamakaman umum yang berada di desa mereka telah berlubang dimana-mana. Kuburan-kuburan di sana terlihat dalam kondisi yang berantakan. Dan bukan hanya sampai disitu, peristiwa kelam itupun menjadi semakin mengerikan, kala warga melihat jasad para mayat yang telah hilang dari liang kuburnya. Dalam sekejap, berita ganjil sekaligus mengerikan itu dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut hingga keluar desa. Warga desa memang tidak tahu siapa pelakunya. Tapi yang pasti, mereka tahu, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh seseorang yang telah bersekutu dengan iblis. @ @ @ @ @ Jawa Tengah, 2004. Kehidupan kampus berjalan normal seperti biasa. Lalu lalang para mahasiswa serta celoteh mereka menciptakan suara gema tersendiri di dalam gedung. Suara yang saling bersahut itu membumbung lantang ke seluruh penjuru lobi kampus. Membuat seisi ruang menjadi terdengar hingar bingar di sana. Sama seperti mahasiswa lain, Abil dan Estu mengambil bagian mereka untuk duduk di salah satu sisi lobi kampus lalu bercakap-cakap. Tapi apa yang Abil dan Estu bicarakan mengarah ke sesuatu yang lebih serius, atau malah benar-benar hal yang terlampau darurat. Hingga membuat ekspresi wajah mereka pun terlihat lebih dingin. Dengan raut wajah yang serius, Abil berkata, "Gw baru aja dapet tempat buat KKN. Lu mau ikut gak?" tanya Abil pada Estu yang duduk di hadapannya. Estu yang sedang ditanyai mencoba menelaah sesaat. Ada beberapa hal yang tetiba saja terlintas di dalam benaknya. Setelah memilah kata, Estu pun balik bertanya, "Lu yakin, mau nyari tempat KKN sendiri? Pihak kampus bakal lepas tangan kalo gitu nanti." Imbuh Estu dengan nada bicara yang terdengar sedikit ketus. Abil dan Estu adalah 2 mahasiswa yang seharusnya sudah melakukan KKN dari jauh-jauh hari. Tapi mereka berdua sampai detik ini belum dapat rekomendasi dari pihak kampus terkait hal tersebut. Mereka selalu gagal mendapat rekomendasi kampus. Sebenarnya ada alasan kuat mengapa kampus seakan bersikap acuh kepada keduanya. Mungkin di mata kampus, baik Abil dan Estu terlihat seperti mahasiswa yang tidak kompeten, atau bahkan sudah dicap sebagai mahasiswa ugal-ugalan. Yang sering bolos, jarang mengumpulkan tugas, nilai indeks yang jeblok dan juga acapkali mengulang mata kuliah. Kalah kompetitif dibanding mahasiswa yang lain. Jadi alih-alih memberi kesempatan terlebih dahulu kepada Abil dan Estu, pihak kampus justru lebih memilih merekomendasikan anak didiknya yang lain untuk KKN terlebih dahulu. Meski dirasa pilih kasih, tentu pihak kampus telah memikirkan hal itu secara matang. Dari sisi Abil sendiri, meski sadar bahwa dirinya memang mahasiswa yang tidak kompeten, ia merasa bahwa kampus tetap saja tidak pantas memperlakukannya demikian. Abil merasa pihak kampus curang karena hanya merekomendasikan mahasiswa yang memiliki reputasi baik. Karena itu, Abil berinisiatif mencari tempat KKN sendiri dan tidak mau bergantung pada pihak kampus. Jadi Abil sudah membulatkan tekad, bahwa dirinya akan mencari tempat KKN secara mandiri. Dan sepertinya, Abil sudah mendapat tempat KKN-nya sendiri saat ini. Tentu, Abil nanti harus melaporkan niatnya ini terlebih dahulu ke pihak terkait. Meski nanti peluangnya besar untuk diberi izin, tapi sebagai gantinya, Abil tidak akan mendapat bantuan apapun dari pihak kampus, karena tempat dimana dirinya KKN nanti tidak bekerja sama dan bukan dari rekomendasi instansi. Jadi untuk biaya operasional atau apapun itu, Abil harus menanggungnya sendiri. Tapi, siapa takut? Karena Abil sadar bahwa dirinya adalah anak orang kaya, ia merasa tak gentar sama sekali perihal biaya. Kalau cuma soal uang, itu bukan masalah pelik. Abil hanya perlu meminta kepada orangtuanya yang berada di Jakarta, lalu masalah pun selesai. Yang terpenting saat ini bagi Abil adalah membuktikan kepada kampus kalau dirinya juga bisa unjuk gigi tanpa rekomendasi. Terutama kepada dosen wali kelasnya yang benar-benar sudah seperti memandang dirinya rendah. Abil ingin menunjukkan bahwa ia pun bisa KKN tanpa perlu mengemis kepada mereka. Abil ingin membungkam mulut mereka dengan menunjukan nilai kompetensi yang ada di dalam diri. Ya, harga diri Abil memang tinggi. Meski pada kenyataanya, Abil memanglah mahasiswa koboy yang lebih sering menggunakan kesempatan kuliah hanya untuk bermain-main. Tapi untuk kasus KKN kali ini, Abil benar-benar ingin menjalaninya dengan serius. Karena itu, Abil berharap Estu mau ikut gabung dengannya dan menyelesaikan KKN ini bersama-sama. Abil yang sedari tadi menjelaskan panjang lebar niatannya pun kini terdiam. Ia menunggu jawaban dari Estu dengan penuh harap. Di sisi Estu, ada sekilas pertanyaan yang tetiba saja muncul dalam benak. Masih dengan raut wajah serius, Estu kembali bertanya, "Dimana lokasi KKN-nya?" Tanpa basa-basi, Abil pun menjawab, "Masih di satu provinsi. Cuma emang butuh waktu 4 sampai 5 jam dari sini ke sana. Tapi lu tenang aja, ntar biaya operasional semuanya gw yang nanggung. Oke?" Meski beban biaya menjadi hilang, nyatanya Estu terlihat biasa saja. Alih-alih senang, Estu malah kembali bertanya, "Lu dapet darimana tempat KKN?" Sambil merogoh isi dompet, Abil menjawab, "Gw dapet dari ibu kost. Terus ibu kost dapet info dari tamunya. Nih alamat desanya." Jawab Abil sembari menyodorkan secarik kertas. Sempat mengernyitkan dahi, Estu lagi-lagi bertanya, "Cuma alamat? Gak ada nomor kontaknya?" Mendengar pertanyaan Estu, Abil langsung meyakinkan, "Namanya juga di desa pedalaman bos. Mana ada teknologi. Udah lu tenang aja, semuanya gw yang urus. Gw juga udah sempet ketemu sama satu perwakilan pihak desanya kemarin di kost. Santai, lu tinggal duduk manis aja." Ucap Abil dengan menepuk pundak Estu beberapa kali. Melihat upaya, antusias dan kepercayaan diri Abil yang begitu tinggi, akhirnya Estu pun mulai sedikit luluh. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di benaknya. Dengan niat memastikan, Estu kembali melempar pertanyaan, "Tapi aturan kampus, KKN itu minimal 4 orang. Ditambah minimal harus ada 2 fakultas yang kerja sama. Dua orangnya lagi gimana?" Dengan santai Abil mengatakan bahwa ia akan membujuk temannya di fakultas sebelah untuk ikut gabung. Meski tak ada jaminan jika nanti rencananya akan berjalan lancar, tapi Abil menegaskan kepada Estu bahwa kali ini ia akan berusaha keras menyelesaikan masalah KKN dengan caranya sendiri. Abil tidak meminta apapun, ia hanya ingin mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. Termasuk Estu yang sudah Abil anggap sebagai sohib terbaiknya. Dengan menaruh rasa hormat kepada Abil atas rencananya, akhirnya Estu setuju untuk ikut gabung KKN. Dan diminta untuk menunggu kabar baik selanjutnya yang akan datang nanti. @ @ @ @ @ Sekiranya dua hari telah berlalu, hari ini Abil menemui Estu dengan membawa kabar baik. Sembari memasang wajah gembira, Abil pun berkata, "Temen gw mau ikut gabung. Akhirnya kita jadi KKN." Ucap Abil yang tidak bisa membendung rasa senangnya. Apa yang Abil katakan barusan adalah benar. Kemarin sore, temannya dari fakultas sebelah berhasil ia rayu untuk ikut gabung KKN. Namanya adalah Hagia, mahasiswi pecinta hiking. Dengan sedikit mengiming-imingi akan mendanainya pergi hiking, Abil berhasil membujuk Hagia untuk gabung ke dalam kelompoknya. Tentu, Hagia akan didanai setelah menyelesaikan tugas KKN nanti. Dan anggap saja, itu adalah hadiah dari Abil untuk Hagia yang sudah mau membantu tugas kuliahnya. Bahkan bukan hanya Hagia, Abil mendapat bonus tambahan anggota lain yang bernama Dian, mahasiswi berkacamata yang merupakan teman baik Hagia. Dan dengan begini, maka kelompok KKN Abil pun telah sempurna. Setelah selesai jam kuliah, Abil, Estu, Hagia dan Dian langsung bertemu di lobi kampus. Mereka saling berkenalan dan langsung bertukar pikiran untuk membuat proposal. Proposal yang nantinya akan disodorkan ke pihak kampus untuk disetujui terlebih dahulu sebelum KKN. Tentu proposal mereka berpeluang besar untuk disetujui. Tapi tanpa menganggapnya enteng, mereka berempat ingin membuat proposal yang benar-benar memuaskan. Setelah 3 hari berdiskusi, akhirnya proposal mereka pun jadi. Tanpa menunda-nunda, mereka berempat langsung mengajukan proposal kepada pihak kampus. Meski ada sedikit adu argumen disertai beberapa catatan, tapi pada akhirnya proposal mereka telah disetujui pihak kampus. Dan sekali lagi, pihak kampus menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan uang operasional sepeserpun kepada kelompok Abil, karena mereka KKN bukan berdasarkan rekomendasi langsung dari instansi. Pihak kampus hanya akan memberikan beberapa pengarahan semata. Abil dan yang lain pun sepakat dengan aturan itu tanpa ada perdebatan sama sekali. Meski di belakang layar, Abil telah menjanjikan kepada kelompoknya bahwa ialah yang akan menanggung semua biaya operasional sampai KKN berakhir nanti. Setelah melakukan kesepakatan bersama, kini waktu KKN mereka telah ditentukan. Hari ini adalah hari dimana Abil dan kelompoknya akan melakukan perjalanan menuju desa Abimantrana, lokasi desa dimana mereka akan melakukan KKN. Dengan memakai almamater kampus, baik Abil, Estu, Hagia dan Dian, mereka semua saat ini sudah berkumpul di beranda kost dimana Abil tinggal. Mereka berempat sudah bersiap untuk berangkat. Hanya tinggal menunggu transportasi yang akan mengantar mereka datang, yaitu mobil pribadi milik keluarga Abil. Sebenarnya, mobilnya sendiri sudah datang langsung dari Jakarta kemarin siang. Namun, saat ini sedang dipakai oleh sang supir untuk pergi keluar sebentar. Sembari menunggu mobil yang akan mengantar mereka datang, mereka berempat saling bercengkrama, bercakap-cakap membicarakan hal yang acak, hingga menciptakan suara gelak tawa yang menggema di beranda kost beberapa kali. Di saat perbincangan hangat itu terjadi, Abil menyelipkan kisah dengan bercerita tentang mimpinya semalam yang terasa begitu menyeramkan. Dengan wajah serius, Abil bercerita, "Gw tau itu cuma mimpi. Tapi asli kerasa nyata banget. Malah pas gw bangun, gw sampe nangis coy." Tutur Abil tanpa kebohongan. Memang benar, bahwa tadi malam Abil memimpikan hal menakutkan nan kejam. Mimpinya seperti ada seseorang yang menyiksanya, menyeretnya ke ruangan gelap, lalu menghabisinya di sana. Dan benar pula, bahwa Abil menangis setelah terbangun dari mimpi itu. Tapi sebagaimana respon umum mengenai mimpi, ketiga temannya tidak terlalu menanggapinya berlebihan. Mereka mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi, dimana alur ceritanya memang sering tidak jelas dan kacau balau. Karena itu, Abil diminta untuk tidak terlalu memikirkannya. Lalu setelah beberapa waktu, akhirnya mobil yang mereka tunggu pun datang. Mobilnya sendiri berwarna hitam elegan yang diisi oleh satu orang supir saja. Dan saat pintu mobil dibuka, sudah ada beberapa perlengkapan untuk kebutuhan KKN Abil di sana. Jadi meski orangtua Abil tidak ikut mengantar, mereka tetap mendukung dan menyiapkan segala kebutuhan Abil dari jauh, dengan menyuruh sang supir membelikan apa yang sedang Abil butuhkan. Setelah mengecek barang-barang dan yakin tidak ada yang ketinggalan, akhirnya mereka pun berangkat menuju tempat KKN. BERSAMBUNG. Note : Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah : Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast) https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Desahan Sang Biduan

read
55.7K
bc

Menyala Istri Sah!

read
1.6K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.8K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.1K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

After We Met

read
188.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook