Abil duduk di baris depan, duduk persis di sebelah supir. Estu, Dian dan Hagia duduk sejajar di bagian tengah mobil. Sedangkan Pak Tomo dan 2 rekannya duduk di bagian belakang. Dengan kecepatan sedang, sang supir melajukan mobilnya, menyusuri jalan di sana yang berlikuk dan menukik.
Lantas, mau kemanakah mereka pergi?
Jelas, mereka semua akan melakukan perjalanan menuju Desa Abimantrana. Sebuah desa, yang sebenarnya tidak pernah ada.
Saat di perjalanan menuju desa, masih berada di dalam mobil, Hagia bertanya kepada abil dengan berbisik pelan, "Kata orang-orang, Desa Abimantrana kan katanya gak ada? Kok ini kita malah ke sana?" Tanya Hagia kepada Abil dengan suara pelan namun ketus.
Sebenarnya pertanyaan tersebut adalah milik Dian, lalu ia sampaikan kepada Hagia, yang kemudian diteruskan kepada Abil. Dan rasanya lumrah jika kedua mahasiswi itu menjadi khawatir. Karena yang keduanya tahu, tiap-tiap orang yang mereka tanyai sebelumnya dengan kompak menegaskan, bahwa Desa Abimantrana memanglah tidak pernah ada. Jadi jika memang demikian, lantas... mau dibawa pergi kemanakah mereka kini?
Tapi berbeda dengan Hagia dan Dian, Abil justru merasa sumringah. Bahkan Abil menegaskan kepada Hagia untuk tidak perlu khawatir. Abil mencoba menenangkan Hagia dengan mengutarakan asumsinya, bahwa Desa Abimantrana mungkin adalah desa yang benar-benar berada di pelosok, sehingga keberadaannya sendiri tidak diketahui oleh umum. Abil pun menambahkan kalau dirinya, Hagia, Estu dan Dian akan sangat berjasa jika bisa memajukan desa itu di akhir cerita nanti. Ditambah, Desa Abimantrana juga merupakan rekomendasi dari ibu pemilik kost dimana Abil tinggal, yang terkenal dengan keramahan serta kedermawanannya. Jadi dengan semua asumsinya barusan, Abil ingin Hagia berhenti khawatir dan percaya saja kepada dirinya.
Hagia yang baru saja mendengar pencerahan dari Abil, pemikirannya mulai terbuka. Penjelasan Abil yang logis membuatnya merasa lebih tenang. Lalu Hagia meneruskan wejangan itu kepada Dian dengan bisikan yang pelan. Kedua perempuan itupun kini diam menurut.
Sedangkan untuk Estu sendiri, saat ini tubuhnya sedang menyandar ke belakang, matanya terpejam, serta kedua lengannya yang saling melipat bersedekap. Selain Abil, rasanya Estu juga menikmati perjalanan ini.
Sekiranya perjalanan telah menempuh 5 kilometer, mereka mulai memasuki kawasan hutan liar. Pemandangan yang mereka lihat di sekeliling hanya berisi pohon-pohon menjulang tinggi yang mengisi sisi jalan. Suasana pun telah berubah menjadi senyap. Hampir tidak bisa ditemukan lalu lalang kendaraan ataupun warga setempat saat memandang keluar. Dengan mengikuti arahan Pak Tomo, Abil dan yang lain kembali lagi ke lokasi asal dimana pertama kali mereka sampai, yaitu Hutan Abimantrana.
Masih mengikuti arahan dari Pak Tomo, mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki Hutan Abimantrana. Masuk lebih jauh. Dan semakin menjauh. Menyusuri hutan yang mulai berkabut di setiap penjurunya.
Merasa heran dengan jalur desanya yang masuk ke dalam hutan, yang bahkan hutannya sendiri menurut warga tabu untuk di masuki, Hagia memberanikan diri bertanya kepada 3 laki-laki asing yang berada di belakangnya dengan berkata, "Pak, ini bener, lokasi desanya masuk ke dalam hutan begini?"
Dari ketiga laki-laki itu, Pak Tomo sebagai perwakilan pun menjawab, "Aneh ya mbak? Tapi gimana, kita semua dari lahir sampai setua ini tinggalnya di sini. Jadi ndak ada pilihan. Tapi tenang aja mbak, mbak ndak perlu khawatir. Meski di dalam hutan, desa kami aman kok. Kami yang jamin keselamatan mbak sama teman mbak yang lain sampai KKN-nya selesai." Tutur Pak Tomo menjelaskan sekaligus menenangkan Hagia.
Tak sampai di situ, Abil juga ikut mengutarakan wejangannya kepada Hagia. Lalu diikuti sedikit cerita dari 2 rekan Pak Tomo tentang desa mereka yang bersahaja. Yang pada akhirnya membuat Hagia lagi-lagi merasa tenang. Dian yang mendengar percakapan mereka juga mulai menurunkan rasa kekhawatirannya. Sedangkan Estu, ia masih dalam kondisi tertidur.
Setelah berhasil mensirnakan semua pertanyaan yang mengganjal, mobil mereka terus melaju lurus memasuki hutan semakin dalam.
Dari sinilah diketahui, bahwa hutan abimantrana adalah gerbang masuk menuju desa.
@ @ @ @ @
Setelah cukup jauh melintasi pedalaman hutan, jalan setapak di sana akhirnya telah sampai di ujung. Di titik ini, terlihat jelas bahwa medan jalan sudah tidak bisa lagi dilewati oleh kendaraan, apalagi mobil yang ukurannya memang besar.
Dengan bertitah untuk turun dari mobil, Pak Tomo juga menjelaskan kepada Abil dan yang lain untuk meneruskan perjalanan yang tersisa dengan berjalan kaki. Abil dan yang lain pun tidak bisa mengelak, karena dengan mata kepala mereka sendiri, terlihat jelas bahwa rute perjalanan berikutnya adalah pilar-pilar pohon tinggi yang diselimuti rerumputan liar, yang tidak mungkin lagi mobil bisa melewatinya.
Di momentum itu, Abil sempat berkata kepada Pak Tomo, mengapa tidak dijemput oleh warga desa menggunakan sepeda motor saja? Tapi sayang, dengan lugas Pak Tomo mengatakan, bahwa tidak ada satupun warga di desanya yang memiliki sepeda motor. Pak Tomo berharap Abil dan yang lain bisa memaklumi hal tersebut.
Sepakat untuk tidak mempermasalahkannya, Abil dan yang lain pun setuju menuruti titah Pak Tomo. Lalu mulai keluar dari mobil satu persatu.
Sesaat sebelum Abil turun dari mobil, sang supir sempat menahan Abil dengan berkata, "Mas Abil, mas yakin mau KKN di tengah hutan kayak begini? Saya pikir mending batalin aja mas. Sabar aja nunggu rekomendasi dari kampus, atau nyari lokasi lain aja lagi."
Tentu ada alasan kuat mengapa sang supir berkata demikian. Karena mau bagaimana pun, lokasi dimana mereka berpijak saat ini memanglah terlihat tidak meyakinkan, hingga akan melahirkan perasaan khawatir. Dan sebenarnya bukan hanya sang supir yang merasakan itu.
Dian pun merasakan hal yang sama. Suasana hutan yang sedang dilihatnya kini menciptakan rasa khawatir tersendiri di dalam hatinya. Tapi Dian yang seorang pemalu tidak bisa mengungkapkan perasaannya begitu saja. Apalagi sampai menolak rencana KKN Abil saat ini. Karena meski tidak begitu mengenal Abil, Dian tahu bahwa Abil adalah orang baik, karena sudah mau menerimanya ikut gabung dan membiayai semua pengeluarannya selama KKN. Dengan alasan itu, Dian tak sampai hati sanggup memprotes. Apalagi tetiba saja bilang ingin keluar dari kelompok, yang nantinya malah merusak rencana KKN mereka. Jadi dibanding menggerutu, Dian memilih untuk menguatkan hati dan meneguhkan diri.
Menceritakan ketakutannya kepada Hagia teman dekatnya juga takkan membantu. Mungkin di awal Hagia adalah orang yang paling banyak memprotes dan menggerutu. Tapi setelah berada di dalam hutan dengan segala rintangannya, Hagia justru terlihat bersemangat. Rasanya wajar, karena Hagia adalah perempuan pencinta hiking. Jadi alih-alih menganggap bahwa saat ini dirinya sedang menuju tempat KKN, mungkin Hagia malah merasa sedang refreshing saat ini.
Apalagi ditambah, dengan wejangan yang datang bertubi-tubi dari Abil, Pak Tomo serta 2 rekan Pak Tomo yang lain, yang akhirnya membuat benak Hagia menjadi tenang. Jadi pilihan Dian memanglah hanya satu, menguatkan hati dan meneguhkan diri.
Dan untuk Estu, ia baru saja dibangunkan dari tidurnya. Setelah keluar dari mobil, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibirnya. Estu adalah laki-laki pendiam. Mungkin sifat itulah yang membuat dirinya tidak banyak memprotes. Dan jujur, Estu tidak sedang memikirkan apapun.
Sedangkan untuk Abil sendiri, jelas ia tidak akan menyerah dengan keadaan. Meski melihat kenyataan bahwa desa yang akan ia sambangi berlokasi di tempat tak lazim, tetap saja KKN kali ini adalah rencana miliknya. Abil tidak mau membatalkannya lalu menanggung malu. Karena harga dirinya yang tinggi itulah, dengan wajah penuh keyakinan, Abil menegaskan kepada supirnya untuk tidak perlu khawatir.
Setelah menasbihkan diri akan menyelesaikan tugas KKN hingga tuntas, Abil pun keluar dari mobil. Wajah tegarnya disambut oleh Estu, Hagia, Dian, Pak Tomo serta 2 rekannya yang sudah berada di luar. Semua gembolan juga telah dikeluarkan. Setelah dipastikan tidak ada perlengkapan yang tertinggal, Abil dan yang lain berpamitan kepada sang supir dengan mengucapkan terima kasih. Tapi sebelum mengakhiri pertemuan, sekali lagi, Abil mengatakan kepada supirnya untuk tidak perlu khawatir. Abil menegaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu kemudian sang supir membalikan arah mobil dan kembali pulang. Sedangkan Abil dan yang lain, melanjutkan perjalanan mereka menuju desa dengan berjalan kaki.
BERSAMBUNG.
Note :
Cerita ini juga bisa dinikmati dalam bentuk podcast. Silahkan kunjungi youtube di bawah :
Youtube : Sini Gue Ceritain (Podcast)
https://www.youtube.com/channel/UCFtMSLJ45g63Hou1yZw7Dlw