Jam terus bergerak mengelilingi setiap angka yang tertera. Detik demi detik dan menit demi menit telah berlalu, namun hingga kini, Anna masih sibuk mengurus Matthew yang sakit. "Ayo lagi, aaaaa.....," ujar Anna sambil membuka lebar mulutnya—berharap Matthew dapat menghabiskan makan siangnya. Namun bukannya ikut membuka mulut dan memakan sup yang ada di sendok, Matthew justru menggeleng pelan—menghindari makan siangnya. "Aku sudah kenyang Anna," tolak Matthew dengan suara lemahnya. Mendengar itu, Anna pun menghembuskan napas pelan. Gadis itu menatap Matthew dengan begitu lembut, sebelum seulas senyum tipis terbit di wajah cantiknya. "Tapi kau baru makan tiga suap Matthew. Kau tidak akan sembuh jika perutmu kelaparan," gumam Anna memberi pengertian. Namun Matthew menggeleng pelan. "Pangg

