Jealous I

3752 Kata
Honolulu, Hawaii 6.50 AM Matahari kini telah kembali menampakkan wujudnya. Sinar hangatnya memancar dengan begitu indah di penjuru kota yang sering dijuluki "The Big Pineapple" itu. Suara kicauan burung dan deburan ombak pantai yang bergulung secara teratur ke daratan pasir putih, membuat kota Honolulu terasa begitu sejuk. "Eungh.....," lenguhan seorang pria yang baru saja terbangun dari tidurnya memenuhi ruang kamar yang didominasi oleh warna putih itu. Alex—mengerjapkan matanya  demi menyesuaikan cahaya matahari yang menembus lambaian halus gorden putih yang menjuntai. Dan begitu netranya terbuka sempurna, wajah cantik Anna yang sedang tertidur sambil memeluk kepalanya adalah hal yang pertama kali dilihat oleh Alex. Wajah natural yang tidak dipoles make up itu terlihat begitu cantik dengan bibir merah yang mungil, kelopak mata yang indah dan hidungnya yang mancung. Damn!  Anna memang sangat cantik! Melihat wajah cantik isterinya, diam-diam Alex pun tersenyum. Dia senang dengan posisi seperti ini. Tidur di dalam pelukkan Anna memang benar-benar sangat nyaman. Lama Alex terdiam memandangi wajah sang isteri, hingga akhirnya sebuah pikiran akan rencananya terlintas di kepala Alex. "Apa aku tega melakukan hal itu kepada gadis sebaik ini? Apa aku tega menipunya dengan keluguan yang ia miliki?  Apa aku sanggup membohonginya?" Deg! Tiba-tiba saja pertanyaan itu menyeruak keluar dari dalam hati Alex. Alex kemudian menggenggam tangan Anna yang sudah terkulai lemas di antara lehernya. Perlahan, Alex membenarkan posisi tidur gadis itu. Dia memeluk tubuh Anna dengan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menggenggam jemari lentik gadis bernetra cokelat itu. "Apa kau akan meninggalkanku ketika kau mengetahui segalanya?" tanya batin Alex kepada Anna yang masih terlelap.  "Ah biar aku pikirkan itu nanti. Yang terpenting sekarang, aku akan menghabiskan waktuku bersama Anna hari ini," lagi, batin Alex kembali bergumam—seolah mencoba untuk menghilangkan pikiran yang dapat membuatnya frustasi itu.  Kembali ke kegiatan awalnya, Alex kini masih sibuk memandangi wajah polos Anna yang tertidur. Deru napas hangat Anna yang menerpa kulit lehernya, membuat Alex tak ingin membangunkan gadis itu. Tapi, lain yang direncanakan, lain pula dengan keadaan.  Kruk!!! Kruk!!! Ah cacing-cacing yang telah berdemo meminta makanan di dalam perut Alex mengacaukan semuanya pagi itu. Dan dengan terpaksa, Alex pun mencoba membangunkan Anna dengan cara meniup lembut bulu mata lentik isterinya. Lama Alex melakukannya, hingga akhirnya Anna pun menggeliat dari tidur—tanda jika gadis itu mulai merasa terganggu. "Ehmm...., hentikan Alex," gumam Anna sambil menutup rapat matanya. Alex yang mendengar gumaman Anna pun tersenyum dan.. Cup! "Bangun wifey, ayo masakkan aku sesuatu. Aku merasa sangat lapar," rengek Alex dengan manja sesaat setelah ia mengecup kilat kening isterinya.  "Hm... sebentar lagi ya, aku masih sangat mengantuk..." gumam Anna sebelum ia kembali merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat sang suami yang terasa begitu nyaman. Mendengar itu, Alex pun berdecak sebal. "Ck! Hey isteri macam apa yang tega membiarkan suaminya kelaparan di hari pertama bermulan madu huh?" gerutu Alex dengan tatapan tidak percaya yang ia tujukan untuk Anna. Anna yang mendengar gerutuan Alex pun dengan sangat terpaksa membuka matanya. Dia perlahan keluar dari dalam dekapan suami dan bersender di kepala ranjang. Wajah lesu dengan mata yang terlihat merah adalah bukti bahwa Anna benar-benar masih sangat mengantuk. "Kau ingin makan apa?" tanya Anna dengan lesu sambil mengucek matanya dengan sebelah tangan. "Apapun, yang penting enak, sehat dan bergizi," jawab Alex lalu menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Anna pun mengangguk mengerti dengan jawaban itu. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan membasuh wajahku di kamar mandi dulu," ujar Anna yang kemudian langsung turun dari tempat tidur dan berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Alex yang melihatnya pun akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke alam mimpi sembari menunggu Anna memasak sebuah sarapan untuknya. __________________________ Three minutes later... Tak perlu waktu lama bagi Anna untuk membersihkan diri. Setelah selesai menyikat gigi, membasuh wajah dan mengikat asal rambutnya Anna langsung keluar dari kamar mandi. Dan begitu Anna keluar, matanya langsung menangkap tubuh besar Alex yang tengah terlungkup dengan mata yang terpejam damai. Hembusan napas teratur Alex yang keluar dari hidungnya sudah cukup membuktikan bahwa pria itu kembali terlelap—masuk ke alam mimpi. "Ah, kamu memang rajanya tidur," gumam Anna dengan kekehannya. Setelah itu, Anna pun kembali melanjutkan langkah—menuruti keinginan Alex yang ingin dibuatkan sarapan. Ceklek! Begitu pintu terbuka, Anna segera melangkahkan kakinya keluar. Namun, baru selangkah Anna keluar, ia pun teringat jika ini bukanlah mansion yang biasa ia tempati. Anna mencoba melihat ke sekeliling lorong villa yang sepi—berharap ia dapat mengetahui di mana area dapur. Tapi, karena sepi dan gelapnya lorong, Anna pun merasa ketakutan hingga memutuskan untuk membangunkan Alex.  "Alex, bangun! Aku tidak tahu di mana letak dapurnya," ujar Anna sambil menepuk punggung kekar pria itu. Tapi seperti biasa, bukan Alex namanya jika ia akan langsung terbangun saat mendengar suara. Melihat Alex yang tak kunjung bangun, Anna pun menghembuskan napas pelan.  Saatnya mengeluarkan "jurus' andalan! "Alex, dengar! Jika kau tidak bangun sekarang juga, maka aku akan-...." "Okay! Aku bangun Anna!" Dan benar saja, Alex langsung terbangun dan berteriak dengan keras—bahkan sebelum Anna sempat menyelesaikan kalimatnya..  Melihat itu, Anna pun mengulum senyum senang. "Kenapa kau baru akan bangun jika aku mengancammu dengan kata-kata? Ish! Dasar menyebalkan!" ejek Anna dengan geli. Sedangkan Alex hanya tersenyum kikuk. Dia hanya tidak ingin membuat Anna marah seperti semalam. "Ayo, tunjukkan aku dapurnya!"  "Ayo!" ajak Alex yang kemudian menggandeng tangan sang isteri yang mengekori dari belakang. Alex terus berjalan sambil menggandeng tangan Anna hingga akhirnya mereka sampai di ruangan yang lagi-lagi didominasi oleh warna putih.  "Nah kita sudah sampai!" teriak Alex begitu mereka sampai di dapur villa yang luas. Anna menatap dapur villa yang begitu indah dengan laut lepas sebagai view utamanya. Kekaguman jelas terpancar di mata cokelat Anna saat ini. Dapur ini terlihat sangat mengagumkan! "Anna, ayo masakkan aku sesuatu!" Suara lantang Alex yang menggema ke sudut ruangan sontak saja langsung membuat Anna tersadar dari kekagumannya akan dekorasi dapur ini. Gadis itu kemudian mengangguk dan tersenyum. "Baiklah. Kau duduk saja di meja makan, dan biarkan aku memasak sebentar, ok?" tanya Anna dan hanya dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Alex. Perlahan, Anna pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak sebagai sarapan. Pagi ini, Anna berencana membuat muffin, roti bakar dan sandwich, karena itu adalah makanan kesukaan Alex saat sarapan pagi. Dan tak lama, Anna sudah sibuk dengan aktivitas dapurnya. Sedangkan tak jauh dari sana, Alex hanya bisa menopang dagu sambil memperhatikan isterinya yang sedang memasak. Dengan mengenakan apron putih dan rambut yang digelung asal, entah kenapa penampilan Anna bisa terlihat sangat cantik di mata Alex. "Ah, begitu saja dia cantik apalagi jika dipoles seperti para model itu," gumam Alex dengan tatapan memuja yang bahkan tak ia sadari. Alex akui, jika Allianna Estelle adalah wanita pertama yang membuatnya merasa nyaman. Anna bisa menjadi sosok ibu, teman, sahabat dan isteri di waktu yang bersamaan. Sikap tulus dan keluguan gadis itu, semakin hari semakin membuat Alex merasa ragu akan rencananya. Apakah dia akan tega menyakiti Anna?  "Sial" Alex mengumpat dalam hati saat lagi dan lagi pertanyaan itu terlintas di benaknya. Seakan tak ingin memikirkan kemungkinan terburuk rencananya, Alex yang muali merasa bosan menunggu pun memutuskan untuk menghampiri Anna yang saat itu tengah fokus memotong sesuatu. "Anna!" panggil Alex dan langsung memeluk tubuh ramping isterinya dari belakang.   "Astaga Alex! Kau membuatku terkejut!" teriak Anna sembari mengelus dadanya yang berdetak kencang karena ulah jahil sang suami yang tiada habisnya. Mendengar itu, Alex pun tersenyum masam. "Hehe maaf. Aku hanya bosan menunggumu di sana. Jadi aku hampiri saja," jawab Alex yang kemudian menopangkan dagunya di bahu Anna. Anna yang mendengarnya hanya bisa mengangguk kecil dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Oh iya! Bicara soal pekerjaan rumah tangga, Alex memang sudah memperbolehkan Anna bekerja lagi. Meski itu hanya memasak, berkebun dan menyiapkan kebutuhan Alex, setidaknya Anna masih memiliki kegiatan yang dapat membunuh rasa bosannya di dalam mansion. Alex sendiri pun, memperbolehkan hal itu karena Anna yang terus-terusan mernegek dan mengancam jika kemauannya tidak diturui maka ia tidak mau menyanyikan lullaby tidur untuknya. Sebagai seorang pria yang mulai memiliki "ketergantungan" pada Anna, Alex pun mau tak mau menuruti kemauan sang isteri, meski tidak sepenuhnya. "Berhentilah meniup-niup leherku Alex! Aku sedang memasak! Oh kau tahu? Terkadang aku merasa jika kau bukanlah seorang gay!" protes Anna yang mulai merasa kesal karena Alex yang terus menerus meniup lehernya. Alex mengerutkan dahi mendengar protes sang isteri. "Kenapa memangnya?Apa seorang gay tidak boleh mendekati wanita? Apalagi jika wanita itu adalah isterinya sendiri," balas Alex yang tak mau kalah. Alex pun semakin memeluk erat pinggang Anna yang ramping.. "Huh! Jika Matt melihatmu seperti ini, aku yakin jika dia pasti akan salah paham."  "Dia tidak akan salah paham, wifey! Lagipula ini semua aku lakukan atas perintahnya!" balas Alex secara spontan tanpa menyadari apa yang ia katakan. Mendengar hal itu, sontak saja membuat Anna menghentikan aktivitasnya. "Perintah? Perintah apa maksudmu?" tanya Anna dengan bingung. Alex yang baru menyadari perkataannya pun menjadi terdiam. Kegugupan dan kepanikan mulai melandanya. Tapi untungnya, Alex bisa mengatasi rasa itu. "Ah, itu... Maksudku Matthew dia-... Dia menyuruhku untuk bersikap baik padamu. Jadi, ya aku lakukan seperti kemauannya," jawab Alex dengan senyum gugupnya. Mendengar jawaban itu, diam-diam Anna pun tersenyum miris. Ah, ternyata sikap baik Alex bukanlah berasal dari sikap alami pria itu. Dia melakukan semua ini hanya karena Matthew yang meminta. "Ah, kau memang bodoh Anna!" teriak batin Anna—mengejek kebodohannya karena sempat mengira jika Alex bersikap atas kemauannya sendiri. "Oh begitu yah...." Hanya kata itu yang dapat Anna ucapkan setelahnya. "Hmm," gumam Alex menyahut perkataan Anna tadi.  Sebenarnya, terselip sebuah rasa tak rela di hati Alex saat ia mengucapkan hal tadi. Tapi mau bagaimana lagi? Dia memang melakukannya atas perintah Matthew. "Nah sarapan sudah siap!" "Alex bisakah kau menyingkir sebentar? Aku akan menyajikan ini di meja makan," ujar Anna—yang sedang mencoba untuk mengalihkan situasi yang hampir berujung awkward. Alex pun dengan segera menyingkir dan membantu Anna menyajikan makanan yang sudah dimasak olehnya. Setelah semua makanan itu tersaji di meja makan, mereka pun duduk di kursi masing-masing. "Selamat makan!" teriak Anna—mencoba untuk tetap bersikap ceria. Alex pun hanya tersenyum tipis mendengarnya. Mereka akhirnya makan bersama dalam keheningan. Hanya ada suara angin yang menerpa pepohonan dan deburan ombak yang menemani mereka selama beberapa saat. Lama situasi itu mereka jalani, hingga akhirnya Anna memecah keheningan. "Eum, Alex.... Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Anna sambil mengunyah makanannya—ragu-ragu. "Tanyakan saja," ujar Alex lalu mengalihkan pandangannya ke arah Anna. "Hmm...begini...." Anna menarik napasnya sejenak. "Jika aku nantinya bertemu dengan seorang pria yang dapat membuatku jatuh cinta, apakah aku boleh menjalin hubungan dengannya?" Deg! Mendengar pertanyaan itu, Alex langsung menghentikan kegiatannya untuk memasukkan potongan muffin ke dalam mulutnya. Selera makannya tiba-tiba saja hilang. Alex menjadi merasa sangat marah hingga ia melampiaskan amarah itu dengan cara mencengkram erat garpu yang ada di tangannya. Alex terus mencengkramnya, hingga garpu itu menjadi bengkok—tanpa  Anna sadari.  "Alex?" panggil Anna, ketika ia tidak mendapat respon apapun dari Alex. Alex pun langsung tersenyum—mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak sekarang. "Ah iya? Tentu saja kau boleh menjalin hubungan dengan seseorang yang kau cintai. Kau boleh menjalinnya, asal kau tetap menjaga nama baikku," ujar Alex dengan santai, ah tidak. Lebih tepatnya berpura-pura santai demi mentupi kemarahan yang mulai berkobar di dalam hatinya. Anna yang mendengarnya menjadi sedikit kecewa.  Yang ia harapkan ternyata tidak terjadi. "Anna bodoh! Memangnya apa yang kau harapkan dari suami gay seperti dia?!" lagi, batinnya berteriak mengejek. "Memangnya kenapa Anna? Apa kau pernah bertemu dengan seorang pria yang membuatmu jatuh cinta?" tanya Alex dengan nada tidak suka yang tidak disadari oleh Anna.  "Hmm, pernah...," gumam Anna sambil menganggukkan kepalanya tanpa merasa curiga dengan perubahan atmosfer pada diri Alex. Dan dengan santai Anna kembali memasukkan ke dalam mulutnya. Alex memejamkan mata mendnegar jawaban itu. "Siapa dia?" tanya Alex yang kian berusaha menahan emosinya. Entahlah, kenapa Alex menjadi marah ketika ia mengetahui jika Anna pernah jatuh cinta dengan seorang pria. Dia merasa tidak suka dengan apa yang Anna bicarakan saat ini. "Namanya Kenneth. Dia pahlawanku ketika aku masih berada di panti asuhan, dia yang melindungiku, mengajakku bermain dan juga dia yang telah membuatku merasa nyaman dengan seorang pria selain keluargaku untuk pertama kalinya." Kata-kata itu mengalir keluar begitu saja dari mulut Anna yang tengah mengunyah sarapannya. Gadis itu bahkan sesekali akan tersenyum dan tertawa menceritakan pria bernama Kenneth tadi. Alex yang melihatnya pun semakin merasa tidak suka melihatnya. "Kau tahu Alex? Dulu dia sangat sering menggendongku di punggungnya ketika kami pulang sekolah, dia akan selalu bernyanyi dan-...." Prang! Dan Bunyi pecahan piring yang begitu keras itu langsung membuat Anna terdiam seketika. Keterkejutan yang melandanya, membuat Anna mau tidak mau menatap ke arah Alex yang saat ini terlihat sangat marah. "A-Alex?" panggil Anna dengan takut-takut. Nmaun Alex hanya diam dengan deru napas yang terengah-engah. Anna yang melihatnya pun langsung merasa khawatir sekaligus takut melihat perubahan wajah dan sikap Alex. "Alex apa kau baik-baik saja?" tanya Anna dengan lembut. Perlahan, Anna mulai memberanikan diri untuk bangkit dan berjalan mendekati Alex. Dia berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terkena pecahan beling yang berserakan di lantai. Setelah sampai di samping suaminya, Anna pun dengan ragu-ragu memegang pundak kekar yang terbalut kaos oblong itu. "Alex, katakan sesuatu. A-apa kau baik-baik saja sekarang?" tanya Anna dengan tatapan penuh tanya. Alex yang sedang berusaha menetralkan emosinya pun, kini merasa bingung.  Kenapa dia bisa semarah itu ketika Anna membicarakan pria lain di depannya? Apa ini karena Anna adalah isterinya sehingga ia tidak mau Anna memikirkan pria lain selain dirinya? Tapi kenapa? Bukankah ia sendiri menjalin hubungan dengan Matthew secara terang-terangan di depan Anna? Pusing memikirkan jawaban dari pertanyaan aneh itu, Alex akhirnya mengangguk. "Tak apa Anna. Aku hanya sedang banyak masalah. Jadi aku tadi tidak sengaja menjatuhkan piring itu. Maaf karena sudah membuatmu terkejut tadi," ujar Alex memberi sebuah alasan yang kedengarannya logis. Anna lalu menghembuskan napas lega. Ia bersyukur karena Alex tidak apa-apa. Ia kira pria itu marah, tapi nyatanya tidak. Huh! Sekali lagi Anna mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. "Ya sudah kalau begitu..., bagaimana jika setelah ini kita berjalan-jalan ke pantai? Mungkin dengan cara itu, kau bisa sedikit mengurangi beban pikiranmu!" usul Anna yang langsung mendapat anggukkan setuju dari Alex.  "Hmm ajakan yang tidak buruk," balas Alex seakan menyetujui ide Anna. Anna kemudian tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, aku akan membersihkan pecahan ini terlebih dulu. Baru setelahnya, aku akan berganti baju dan kita akan ke pantai, ok?"  Alex menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Anna. "Kau langsung berganti pakaian saja! Pecahan ini biar pelayan yang mengurusnya," ujar Alex yang seketika itu langsung membuat Anna mengerutkan kening. "Pelayan? Memangnya di sini ada pelayan? Tapi kenapa aku tidak melihat pelayan dari tadi,"  tanya Anna dengan bingung. "Tentu saja ada sayang. Kau kira siapa yang akan membersihkan villa sebesar ini jika tidak ada pelayan? Tapi, ya memang para pelayan itu tidak tinggal di sini karena tempat tinggal mereka yang tak jauh dari sini," ujar Alex memberi penjelasan kepada Anna. Mendengar penjelasan Alex, Anna pun mengangguk mengerti. "Oh begitu.... Baiklah! Aku akan mengganti pakaian dulu, ya! "ujar Anna dan dijawab dengan sebuah anggukkan kepala oleh Alex. Tak lama kemudian, Anna sudah keluar dengan memakai dress wanita berlengan pendek yang transparan dan dipadukan dengan rok hitam lima cm di atas. Anna benar-benar cantik! Apalagi dengan rambut yang tergerai seperti itu! Alex bahkan sempat terpaku melihat penampilan Anna yang terkesan "sopan" di pantai. Di saat para gadis lain pasti akan memamerkan tubuh mereka dengan memakai bikini, Anna malah sebaliknya. Isterinya memang berbeda! "Ayo! aku sudah siap!" ajak Anna yang membuat fokus Alex teralihkan. "Ayo!" Mereka berdua pun akhirnya pergi ke pantai dengan bergandengan tangan. __________________________ Sesampainya di pantai, Alex segera membuka bajunya. "Kau mau apa?" tanya Anna yang bingung dengan apa yang dilakuan oleh sang suami. "Apalagi yang dilakukan di pantai selain berenang dan berselancar?" jawab Alex disertai dengan senyum mempesonanya. Anna hanya bisa terkekeh pelan mendengar jawaban itu. "Kau tidak ingin berenang?" tanya Alex. Anna menggelengkan kepala. "Tidak. Aku duduk di sini saja," jawab Anna. "Ya sudah, aku berselancar dulu. Tetaplah diam di sini dan jangan ke mana-mana, okay?"  "Hm," jawab Anna. Dan setelah itu, Alex pun pergi berselancar—meninggalkan Anna sendirian di kursi santai itu. Anna yang melihat suaminya langsung menceburkan diri ke laut pun hanya tersenyum. Tidak bisa ia pungkiri jika Alex memang sangat tampan dan sexy. Apalagi dengan keadaan shirtless yang menunjukkan otot-otot perkasanya seperti itu. Selagi Anna memperhatikan Alex, tiba-tiba ada seorang pria yang datang dan duduk di sebelah Anna. "Kau sangat memperhatikan suamimu itu ya?" ujar pria itu secara tiba-tiba. Anna yang merasa tidak asing dengan suara itu pun segera menolehkan kepalanya dan benar saja! Matthew sedang ada di depannya saat ini. Sontak Anna pun tersenyum. "Oh, ha-hai Matt! A-aku hanya melihat pemandangan," jawab Anna dengan perasaan terkejut sekaligus tidak enak. Matthew tersenyum melihat sikap Anna. "Hahaha santai saja Anna! Tidak usah canggung begitu. Aku tidak akan marah jika kau memang memperhatikan Alex. Pesonanya memang tidak bisa dihindari oleh siapa pun," ujar Mattew dengan santai. Anna pun hanya tersenyum kikuk—merasa tidak enak kepada Matthew. "Kenapa kau ada di sini Matt? Hm, maksudku apa yang kau lakukan di sini? Apa kau ingin bertemu Alex?" tanya Anna. "Hm, aku rindu padanya. Makanya aku ke sini, tak apa 'kan?" tanya Matthew secara terang-terangan. Mendengar itu, Anna pun mengangguk. "Ya tentu saja! Lagipula Alex adalah kekasihmu. Dia sangat mencintaimu dan kau pun juga begitu," ujar Anna—berusaha menutupi getaran aneh yang menelusup ke dalam dadanya. "Kau memang baik. Pantas Alex tidak merasa sensitif berada di dekatmu," ujar Matthew dengan tiba-tiba. Anna hanya menanggapi hal itu dengan senyum tipis.  "Anna...." "Ya?" "Apa boleh aku meminta sesuatu?"  "Ya tentu saja!" ujar Anna dengan pasti. "Boleh tidak aku bersandar di bahumu? Kepalaku benar-benar pusing sekarang," ujar Matthew yang langsung membuat Anna terkejut. "A-apa?"  "Kau tidak mau ya? Ya sudah tak apa," ujar Matthew dengan kecewa. "Ah bukan begitu, ayo sini bersandarlah," ujar Anna sambil menepuk bahunya—memberi izin kepada Matthew untuk bersandar. Matthew pun tersenyum dan tanpa basa-basi langsung meletakkan kepalanya di bahu Anna. "Kepalaku benar-benar pusing selama di pesawatt. Tubuhku juga terasa sedikit hangat," gumam Matthew menjelaskan. Mendengar itu, Anna dengan segera meletakkan tangannya di dahi Matthew dan benar saja! Tubuh Matthew memang terasa sangat hangat! Sedangkan dari jauh, Alex yang tidak sengaja melihat Anna duduk dengan seorang pria pun seketika itu menghentikan kegiatan berselancarnya. Ia kemudian berjalan ke bibir pantai untuk melihat siapa yang telah berani duduk berdampingan dengan sang isteri. Dan betapa terkejutnya Alex ketika melihat jika pria itu adalah Matthew—kekasihnya sendiri!. Ia melihat Matthew sedang bersandar di bahu Anna, sedangkan tangan Anna berada di kening Matthew. Dan saat ia melihat adegan it, perasaan itu kembali muncul, memenuhi d**a Alex hingga terasa sesak. Tanpa mengulur waktu, Alex segera menghampiri keduanya dengan perasaan yang marah. Entah marah karena melihat Matthew yang bersandar di bahu Anna atau marah karena melihat Anna yang perhatian kepada Matthew. "Anna!" panggil Alex dengan sangat kencang begitu ia sampai di depan mereka berdua. Anna yang mendengarnya pun sontak mendongak menatap sang suami. "Oh Alex untunglah kau datang! Ayo cepat bawa Matthew ke villa. Dia sepertinya demam!" ujar Anna dengan khawatir. Alex terdiam sejenak sebelum akhirnya ia membopong tubuh Matthew yang sudah setengah sadar ke villa. Sesampainya di villa, Matt di tempatkan di kamar yang bersebelahan dengan kamar mereka. Anna dengan cekatan melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki Matthew. Sedangkan Alex hanya diam di ambang pintu melihat isterinya sedang merawat kekasihnya yang sedang sakit. "Alex bersihkan dirimu dan tolong ambilkan air untuk mengompres Matthew," ujar Anna yang masih terfokus pada Matthew. Alex sebenarnya merasa kesal ketika Anna berbicara, tapi tidak menghadap ke arahnya. Tapi sesaat kemudia, Alex pun menuruti permintaan Anna. Dia membersihkan dirinya dan mengambilkan air kompresan untuk Matthew. Jika dalam keadaan seperti ini, maka akan sangat terlihat, jika Anna lah yang menjadi kekasih Matthew, bukan Alex. "Terima kasih," ujar Anna ketika air kompresan itu Alex letakkan di nakas. Setelah itu Alex lebih memilih untuk duduk di sofa—memperhatikan Anna yang tengah merawat Matthew. Anna yang sedari tadi sibuk mengompres dahi Matthew juga sering meletakkan tangannya ke pipi atau pun dahi pria iru untuk mengecek suhu tubuh kekasih dari suaminya. Dan semua hal itu tidak terlepas dari pandangan Alex. Ah, mood nya hari ini benar-benar memburuk! __________________________ 11.45 AM Jam sudah menunjukkan pukul 11.45 AM dan itu artinya sudah 4 jam lebih Anna mengompres Matthew tanpa memperdulikan Alex yang sejak tadi menahan lapar karena hampir melewatkan jam makan siang. Anna mengecek suhu tubuh Matthew, dan syukurlah suhu tubuhnya sudah menurun meskipun belum normal sepenuhnya. Setelah itu, Anna mengalihkan pandangannya ke arah Alex yang sudah sejak tadi menatapnya-..... Ah bukan-bukan, lebih tepatnya menatap dirinya dan Matthew dengan tatapan datar. "Alex apa kau lapar? Kau ingin aku masakkan sesuatu?" ujar Anna memecah keheningan yang entah sudah berapa lama menemani mereka. "Iya aku lapar, apa kau bisa menyiapkan makanan untukku?" ujar Alex menanggapi. Anna pun mengangguk. "Baiklah, aku akan masak sekarang," ujar Anna lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Matthew dan Alex. Alex yang melihat Matthew sedang tertidur pulas pun, memutuskan untuk keluar—menghampiri Anna di dapur. "Kau masak apa?" tanya Alex. "Sup jagung dan segelas s**u hangat untuk Matthew dan beef mozarella tortilla untukmu. Apa kau suka dengan menu yang aku buat?" tanya Anna. Alex hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan itu. Tak lama, Anna pun menyajikan makan siang Alex di meja makan. "Ini untukmu," ujar Anna sambil tersenyum dan mengambil nampan yang berisi sup beserta segelas s**u untuk Matthew setelahnya. "Kau mau ke mana?" tanya Alex begitu ia melihat Anna membawa nampan dan ingin keluar dari dapur. "Aku harus memberiakan sup ini kepada Matthew. Dia harus makan karena sekarang ia sedang sakit. Kau tak apa 'kan jika harus makan sendirian di sini?" ujar Anna dengan lembut—seakan memberi pengertian pada Alex. Ting! Dan tanpa diduga Alex malah membanting sendoknya ke piring ketika ia mendengar perkataan itu. Anna bahkan berjengkit kaget dibuatnya. Entah, sudah berapa kali Alex membuatnya terkejut hari ini. "Alex?" panggil Anna yang melihat aura kemarahan di sana. Namun Alex tidak menjawab dan malah pergi begitu saja meninggalkan Anna yang bingung di dapur tanpa menyentuh makan siangnya sama sekali. Anna yang tidak mengerti pun lebih memilih untuk merawat Matthew yang sedang sakit. __________________________ Di kamarnya Alex melampiaskan amarahnya dengan memukul tembok hingga tangannya memar. Ia sangat marah sekarang! Dia marah ketika Anna tidak berbicara dengan menghadap ke arahnya. Dia merasa marah saat Anna tidak lagi memperhatikannya, ia marah jika Anna lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya dan ia marah jika Anna tidak peduli lagi kepadanya. "Argh!!! Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku merasa seperti ini?" tanya batin Alex pada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN