Semuanya semakin terdengar tidak bisa diterima secara nalar. Tiba-tiba Reihan juga dikatakan sebagai anak dari Farah. Itu juga yang membuat pria itu murung, terdiam sejak beberapa jam lalu dan tidak mengalihkan pandangan dari laptop di hadapannya, padahal laptop itu juga sudah menghitam layarnya. Beberapa jam di jalan juga membuat pikirannya semakin tidak karuan. Panas, pusing, penat, dan tentu saja bingung. Apa semua itu benar? Apa selama ini dia juga dibohongi oleh ayahnya sendiri? “Lu mau kerja, Val?” tanya Reihan yang tiba-tiba menegurnya. Dia sudah menutup laptopnya dan sekarang melihat datar ke arah Reval. “Dengan keadaan rumit kayak begini lu masih kepikiran untuk kerja?” “Gua punya utang yang harus dibayar. Kita bicara lagi nanti setelah semuanya tenang. Lu juga pasti lagi mi

