Selamat Tinggal, Hindia!

4416 Kata

DEBARAN jantungku masih terasa hingga jarum pendek di kamarku menunjuk angka satu. Lewat tengah malam, namun mengapa aku dibikin kian gelisah? Makin larut, makin pula hati ini terkoyak. Sapuan pandanganku pada langit-langit kamar gelap—selama hampir tiga jam—tidak lantas membikin mataku lelah. Masih kusentuh dadaku. Degupnya tidak turun. Aku perlu memeriksa kadar kewarasanku dengan menyentuh dahi. Tidak demam. Sial, rasanya aku ingin menenggelamkan tubuhku di dalam bak mandi yang dipenuhi air—jikalau aku tak takut tenggelam. Nyaris sepanjang eksistensiku menjadi homo sapiens di bumi ini, aku tiada pernah menyentuh air kolam, tiada berani berenang pula. Ketakutanku terhadap air bisa dikatakan tak wajar. Belum pernah aku tenggelam, namun perasaanku tiap dihadapkan oleh segala macam air—enta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN