Rumah Kupu-Kupu

5472 Kata

PAPAKU pernah berkata, keberanian terbesar manusia salah satunya adalah memilih. Sebab manusia bila dihadapkan pada dua opsi yang tak memungkinkan untuk dipilih, satu dekade penuh rasanya tak mampu memberinya waktu. Tante Sarah lenyap dari hadapanku dan menyerahkan putrinya untuk kuawasi. Sambil mengobrol bersama koleganya lewat ponsel, ia melenggang anggun mengakhiri perang dingin di antara kami beberapa waktu lalu. Tinggallah aku di sini, memerhatikan Rinai yang tak lekas membuka matanya seraya menunggu respons Gracia. Tentu aku tak mungkin terusmenerus berada di sini. Biarpun aku iba dan masih memedulikan nasibnya yang malang, aku punya kehidupan sendiri. Siapa lagi yang dapat kupercayai untuk mengawasinya selain Gracia? Sepanjang malam itu pula aku tiada mengistirahatkan diriku. Bukan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN