Tidurlah Denganku

1192 Kata
Tanpa terasa sudah satu bulan lebih Alice tinggal di tempat Jeff dan sampai hari ini ia belum menemukan pekerjaan baru. Uang tabungan yang ia bawa dari rumah sudah semakin menipis padahal uang itu hanya ia gunakan untuk menyambung hidup. Ia bahkan tidak membayar yang sewa pada Jeff. Entah apa yang akan ia katakan pada pria itu jika suatu saat menagih uang sewa. “Huft, hidup mandiri ternyata seberat ini, pantas saja David mengatai aku sebagai beban hidup,” gumam Alice. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya Mildred dan Dorothy bekerja demi menafkahi dirinya dan David. Terlebih Alice memilih sebuah universitas kelas atas karena prestasinya yang bagus. Meski masih ada beasiswa yang membantu tetapi beasiswa itu hanya sedikit meringankan beban Mildred dan Dorothy. Benarkah Mildred sampai harus menjual mobil kesayangannya demi biaya pendidikan Alice? Benarkah Alice hanya beban hidup untuk keluarga Mildred? Itu berarti selama lebih dari 15 tahun Alice sudah menyusahkan keluarga yang sudah mengadopsinya itu. Alice lalu teringat pada Natasya. Ia masih menyimpan nomor ponsel wanita itu di dalam saku jaket yang selalu ia gantung di belakang pintu. Ia pun mengambil secarik kertas berisi nomor ponsel Natasya. Alice pandangi nomor itu hingga cukup lama. Haruskah ia menghubungi wanita itu dan menyetujui untuk bergabung bersamanya? Tapi, kalau Alice tidak menghubungi Natasya, masih adakah cara untuk bertahan? Beberapa kali Alice menekan nomor Natasya pada ponselnya kemudian menghapusnya lagi. Ia sangat ragu tetapi kenyataan hidup semakin memerasnya. Hingga pada akhirnya Alice pun tetap menekan nomor Natasya dan menghubungi wanita itu. Setelah telepon itu tersambung agaknya Alice jadi merasa menyesal karena telah menghubungi wanita yang sama sekali tak ia kenali itu. Tetapi, saat Alice ingin mematikan telepon ternyata Natasya malah sudah menjawabnya. “Halo?” suara wanita itu masih terdengar sama, menggoda. “Ha-halo, ini aku, Alice, yang waktu itu dipecat,” ujar Alice. Natasya terdengar tak terkejut mengetahui Alice menghubunginya, “akhirnya kau menghubungiku,” ujarnya, “jadi, kau setuju untuk bergabung bersamaku?” *** Kini sampailah Alice di sebuah rumah besar yang cukup megah. Ia pergi tanpa sepengetahuan Jeff karena ketika ia pergi Jeff sedang keluar entah ke mana. Dengan jantung berdebar Alice pun masuk ke dalam rumah itu. Di dalam ia langsung disambut oleh Natasya. Alice pun baru tahu bahwa rumah itu semacam lokalisasi atau apa pun itu semacamnya. Ada banyak gadis-gadis cantik di sana dan beberapa juga seusia Alice. Sekilas mereka tak tampak seperti wanita dengan pekerjaan seperti itu karena penampilan mereka yang luar biasa cantik dan berkelas. “Sebenarnya tempat apa ini?” tanya Alice yang kebingungan. Natasya tersenyum pada Alice, “kau bisa tinggal di sini kalau kau mau, anggap saja ini adalah rumah barumu, mereka adalah teman-temanmu,” jawab Natasya, kemudian mendekat, “tapi, jangan pernah benar-benar berteman di sini, percayalah tidak ada satu pun yang bisa kau percaya di sini karena tujuan kita di tempat ini sama, uang, jadi kita semua bersaing di sini,” tambahnya lirih. “Bagaimana kalau aku tidak mau tinggal di sini?” tanya Alice. Natasya kemudian tersenyum penuh arti, “tidak masalah, rekan-rekanmu juga ada yang tinggal di luar tempat ini, tapi kau harus bisa pastikan kau bisa kupercaya,” jawabnya. “Maksudmu?” tanya Alice. “Alice, kau adalah aset berharga untukku, jadi sudah sepantasnya kan kalau aku harus menjagamu?” jawab Natasya dengan senyum penuh arti. Alice sebenarnya tak mengerti tapi ia merasa itu adalah sebuah peringatan keras untuknya. Sekali dia basah dia tidak bisa mengeringkan tubuhnya. Mereka akhirnya berhenti pada sebuah pintu berwarna putih dengan gagangnya yang berbentuk bulat. Natasya lalu membukakan pintu untuk Alice. “Ini adalah kamarmu,” katanya. Mata Alice pun langsung dibuat terpana dengan kamar yang jauh lebih besar dari tempat tinggal milik Jeff. Ada ranjang dan lemari besar di dalamnya dan juga sebuah pintu yang tampaknya itu adalah kamar mandi. “Kau bisa tinggal di sini sampai kapan pun, Alice, aku sengaja membuat suasana senyaman mungkin untuk semua anak-anakku jadi mereka bisa betah tinggal di sini,” ujar Natasya. Alice memberanikan diri. Sejak tadi sesuatu bergelayut di dalam tenggorokannya minta segera dikeluarkan. “Lantas, bagaimana jika aku ingin pergi?” Natasya terdiam sejenak kemudian kembali tersenyum, “kau bisa pergi kapan pun kau mau,” jawabnya, “tapi, aku kira kau tidak akan pernah pergi, bukankah hanya di sini kau bisa mendapatkan semua kenyamanan ini dengan mudah?” tambahnya. “Apa aku harus langsung tinggal di sini sekarang?” tanya Alice lagi. “Memangnya kau punya rencana lain selain di sini?” tanya Natasya. “Tidak, hanya saja aku harus mengemasi barang-barangku dan juga berpamitan pada seseorang,” jawab Alice. Natasya tersenyum ramah, “oh, tentu saja kau boleh melakukannya, ambil barang-barang yang kau perlukan lalu segera kembali ke sini,” katanya. “Terima kasih,” ucap Alice, “em, ada satu pertanyaan lagi,” katanya. “Apa itu? Tanyakan saja padaku,” jawab Natasya. “Apa hari ini juga aku akan mulai bekerja? Siapa yang akan datang padaku? Apakah dia orang yang baik? Aku sering mendengar para pekerja sepertiku terkadang tidak beruntung karena mendapat klien yang buruk,” tanya Alice dengan jantung berdebar. Natasya tersenyum sambil mendekat pada Alice. Wanita itu menangkup wajah Alice seolah ia bersikap seperti seorang ibu bagi Alice, “oh, apa kau takut?” tanyanya penuh perhatian, “tenang saja, aku selalu menjamin keselamatan anak-anakku, tidak ada klien yang bisa berbuat macam-macam, kau hanya perlu lakukan pekerjaan dengan baik kemudian selesai,” tuturnya, “hanya saja kami punya klien spesial, dia selalu menginginkan hal baru jadi malam ini kau harus bersiap,” pintanya. “Spesial?” Alice mengerutkan dahi. “Dia pria yang sudah beristri dan mungkin dia seumuran ayahmu,” jelas Natasya. Alice bergidik ngeri. Ia tak bisa membayangkan pengalaman pertamanya akan ia lakukan bersama pria seusia ayahnya? “Apa aku tidak bisa memilih sendiri siapa klienku?” tanya Alice. Natasya menggeleng, “sayangnya tidak bisa,” jawabnya, “kecuali jika kau beruntung mungkin akan ada seseorang yang bisa membayar lebih mahal sehingga aku bisa membatalkan pertemuanmu dengan pelanggan spesialku ini, tapi tetap saja aku tidak bisa menjamin dia akan sesuai dengan harapanmu,” tambahnya. Alice menelan salivanya berharap ia bisa dengan mudah melalui pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tetapi, melayani pria yang sudah beristri dan dia seusia ayahnya? Alice benar-benar tidak mau! *** Alice pulang ke rumah susun tempat tinggal Jeff. Saat ia tiba Jeff tengah berdiri di balkon dengan wajah cemas. Saat mata mereka bertemu Jeff langsung menghampiri Alice, “kau dari mana saja, kenapa pergi begitu saja, kau juga tidak bisa dihubungi?” omelnya. Alice tertunduk dengan mulutnya yang terkunci. Ia tidak tahu harus bilang apa pada Jeff. Dia pria yang baik dan selama ini pria itu bukan saja selalu membantunya tetapi juga melindunginya. Entah bagaimana jadinya kalau Jeff tahu Alice sudah mengikat perjanjian dengan Natasya. Jeff mengerutkan dahi melihat sikap Alice. Ia menggenggam kedua bahu Alice dan kembali bertanya, “ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?” Alice bergeming dan malah air matanya menetes. Ia benar-benar tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada Jeff. “Ada apa? Katakan sesuatu, apa ada yang mengganggumu lagi?” tanya Jeff lagi. Alice tiba-tiba mendongak menatap Jeff dengan matanya yang masih basah, “tidurlah denganku, Jeff.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN