Jual Diri?

1194 Kata
“Ah, tentu saja tidak!” sahut Jeff, “karena kau akan tinggal di sini kau pasti akan merasa tidak nyaman, jadi aku akan tinggal bersama temanku, jaraknya hanya dua pintu dari sini,” tuturnya kemudian menunjuk pintu yang dia maksud, “itu dia!” Alice pun menoleh ke pintu yang sudah usang itu, “apa dia tidak keberatan kau tinggal di sana?” tanyanya. “Jangan khawatir, itu sudah seperti rumahku sendiri,” jawab Jeff dengan santai, “Kalau kau ingin pekerjaan, besok kita akan mencarinya bersama, sekarang kau istirahat saja dulu,” sarannya sambil membukakan pintu. Setelah pintu itu dibuka barulah terlihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah kamar sepetak dengan sebuah kamar mandi kecil dengan pintu seng yang sudah berkarat di sana dan sini dan juga sebuah dapur yang dibuat tanpa sekat dengan kamar tidurnya. Terlihat berantakan dan tidak nyaman tetapi setidaknya itu cukup untuk Alice beristirahat. “Kalau kau butuh sesuatu panggil saja aku,” kata Jeff. Tiba-tiba seseorang dari pintu yang Jeff tunjuk tadi berteriak, “hei, Jeff, apa itu pacar barumu?” godanya. Jeff hanya tersenyum sipu lalu melambaikan tangan, “malam ini aku akan tidur di tempatmu!” serunya. “Kenapa tidak tidur saja dengan pacarmu, hahaha,” goda pria itu kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya. Jeff tersipu lagi, “jangan dengarkan dia, dia memang tidak waras,” ujarnya, “baiklah, selamat malam,” pungkasnya kemudian beranjak meninggalkan Alice. “Jeff,” Alice tiba-tiba memanggil sehingga Jeff menghentikan langkahnya. “Ya?” Alice lalu tersenyum dengan sopan, “terima kasih,” ucapnya. Jeff membalas senyuman Alice juga dengan sopan, “panggil saja aku kalau butuh apa-apa,” katanya kemudian benar-benar pergi meninggalkan Alice. *** Esok hari Alice sudah berpakaian rapi dan bersiap mencari pekerjaan. Saat ia membuka pintu Jeff sudah berdiri di depan pintu itu dengan pakaian yang sama. Jeff sejenak terdiam melihat penampilan Alice, “kau rapi sekali,” simpulnya. “Aku akan mencari pekerjaan jadi aku harus berpenampilan rapi supaya diterima,” jawab Alice. Jeff pun mengedikkan bahu, “terserah saja,” gumamnya kemudian melangkah di depan Alice. Alice pun mengikuti Jeff dari belakang. Mereka berjalan cukup jauh sampai Alice pun berkeringat dan pakaiannya jadi bau. Berkas lamarannya juga sudah tidak rapi lagi. Hingga akhirnya mereka sampai di area belakang sebuah restoran cepat saji. Jeff masuk dari pintu belakang dan meminta Alice menunggu di luar. Cukup lama Alice menunggu hingga akhirnya Jeff kembali bersama seseorang dengan seragamnya yang rapi berlogo restoran cepat saji tempatnya bekerja. “Jadi, ini dia orangnya?” tanya orang itu. “Ya, kau pasti bisa kan memberinya pekerjaan?” pinta Jeff. “Sebenarnya dia cocok untuk menjaga kasir tapi tempat itu sudah penuh, hanya ada lowongan untuk petugas kebersihan,” jelas pria itu. “Saya akan menerimanya, apa pun itu saya akan kerjakan,” sahut Alice membuat orang itu terdiam seraya melirik Alice. “Baiklah, kau diterima,” putus orang itu. Alice dan Jeff pun tersenyum gembira dan pada hari itu juga Alice langsung ditugaskan untuk bekerja. Alice pun langsung diberi celemek dan Jeff pergi meninggalkannya. Tetapi, sayang sekali, meski hanya sebagai petugas kebersihan, Alice tidak bisa bekerja dengan baik. Saat ia mengepel lantai ia lupa memberi tanda peringatan untuk para pengunjung sehingga seorang anak pun tergelincir hingga kepalanya terbentur lantai cukup keras. Anak itu pingsan dengan bajunya yang sedikit basah dan ibunya langsung berteriak histeris. Alice pun berdiri gemetar dengan wajahnya yang memucat. Atasannya langsung datang begitu mendengar keributan. “Apa karyawanmu tidak bisa bekerja? Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada anakku, aku akan tuntut restoran ini!” sahut ibu si anak bersungut-sungut. Atasan Alice menundukkan kepala, “maafkan kelalaian kami, kami akan bertanggung jawab atas kejadian ini,” katanya kemudian menatap Alice tajam. Alice gemetaran melihat tatapan atasannya. Ini hari pertamanya bekerja dan ia harus sudah mendapatkan pengalaman seperti ini. “Kau dipecat!” seru atasan Alice tanpa banyak pertimbangan. Seketika lutut Alice lemas dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Atasannya menolong anak yang celaka tadi dan meninggalkan Alice tanpa menoleh lagi. Semua orang yang ada di sana pun memandangi Alice dengan berbagai komentar yang mereka bisikkan pada teman makan mereka. Alice pun harus pergi meninggalkan tempat yang baru saja menerimanya bekerja itu. Saat ia melangkah gontai melewati pintu seorang wanita menghampiri Alice dan menatapnya penuh arti. “Gadis manis, kasihan sekali kau, jika kau mau aku bisa memberimu pekerjaan yang lebih baik,” kata wanita itu. “Pekerjaan? Apa itu?” tanya Alice. “Ikuti aku,” suruh wanita itu kemudian berjalan ke luar restoran dan Alice pun mengekor di belakangnya. Mereka berhenti cukup jauh dari area parkir restoran yang ada di bagian depan. Wanita itu tampak memerhatikan keadaan sekitar. Alice yang tidak sabar lalu bertanya, “pekerjaan apa yang akan kau tawarkan?” Wanita itu kemudian memberikan secarik kertas berisi nomor telepon pribadinya, “namaku Natasya, kau bisa hubungi aku kapan saja,” katanya kemudian memainkan rambut panjang Alice yang diikat ke belakang. “Kau cantik, tubuhmu juga bagus, aku yakin kau juga masih perawan, kenapa kau tidak memanfaatkannya untuk mendapatkan uang?” Alice langsung tahu apa maksud Natasya. Matanya pun mendelik dan ia secara otomatis mundur selangkah, “maksudmu aku harus menjual tubuhku? Tidak!” tegasnya. Natasya terkekeh geli seakan tak terkejut dengan reaksi Alice, “hari ini kau mungkin menolaknya mentah-mentah tetapi besok kau akan mempertimbangkan hal ini dengan baik lalu menerimanya,” katanya. “Itu tidak akan terjadi!” seru Alice. “Baiklah, kau sudah mengantongi nomor pribadiku, aku yakin kau akan membutuhkannya, jadi simpan itu baik-baik,” pungkas Natasya kemudian melenggang pergi meninggalkan Alice. *** “Apa? Jual diri? Jangan lakukan itu!” larang Jeff ketika Alice pulang dan menceritakan apa yang terjadi padanya hari ini. “Tidak, Jeff, aku juga tidak berpikir sampai ke sana,” kata Alice, “tapi, ini hari pertamaku bekerja dan aku langsung dipecat karena kecerobohanku sendiri, aku tidak punya pekerjaan lagi, uangku juga akan semakin menipis dan bagaimana aku akan menyambung hidup?” keluhnya dengan pandangan ragu. “Tidak! Jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk kau terjun ke dunia hitam itu!” tegas Jeff, “di luar sana pasti ada banyak orang yang bisa memberimu pekerjaan yang lebih baik, aku yakin itu!” Alice tercenung beberapa saat teringat akan kata-kata David. “Kakakku bilang aku adalah beban keluarga, aku hanya menyusahkan, sekarang baru aku sadar aku bahkan tak pernah melakukan pekerjaan berat, aku hanya belajar di dalam kamar dan memimpikan banyak hal yang sekarang mungkin mustahil bagiku,” tuturnya sendu. “Kenapa kakakmu bilang begitu? Jika dia memang kakakmu dia harusnya selalu mendukungmu,” protes Jeff. Mata Alice meredup, “dia bukan kakak kandungku, aku adalah anak adopsi, mungkin itu sebabnya dia selalu bilang aku adalah beban keluarga, karena dia tidak suka padaku,” ungkapnya. Jeff terdiam dengan wajahnya yang tampak mengasihani Alice. Ia lalu berkata, “kalau begitu buktikan padanya kalau kau bisa, buktikan kalau kau bukan beban dan kau bisa berdiri di bawah kakimu sendiri,” sarannya. Alice tercenung dengan salah satu tangannya yang ia taruh di belakang punggungnya. Tangan itu menggenggam secarik kertas dari wanita bernama Natasya. Entah kenapa ia merasa suatu saat ia mungkin akan benar-benar membutuhkan bantuan wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN