Semangat baru

2037 Kata
Kumandang Azan subuh saling bersahutan dari masjid kampung dan masjid-masjid kampung tetangga, suasana yang dingin menusuk tulang membuat siapa saja enggan untuk meninggalkan peraduan. Sama sepertiku, aku pun enggan meninggalkan hangatnya dekapan selimut tebal semasa aku gadis dulu. Bersamaku ada Emak yang masih terlelap dan juga Zaki di antara kami. Semalam sepulang dari rumah sakit, aku menghabiskan hampir 3 jam untuk bercerita banyak hal dengan Emak. Cerita hidupku yang tragis lebih tepatnya. Emak sampai geleng-geleng kepala, heran denganku yang bisa bertahan hingga 5 tahun lamanya dengan suami parasit seperti Bagus. "Pantas saja, kamu sudah tidak ingat pulang, Nduk. Emak pikir karena hidupmu sudah enak di kota sana, sampai lupa pada kami." Begitu keluh Emak, setelah mendengar cerita hidupku. Ah, andai Emak tahu betapa berat perjuangan anak perempuannya ini pasti beliau tidak akan rela aku menikah dengannya. Namun, semua sudah terjadi. Tak perlu disesali apalagi ditangisi, hidup akan terus berjalan dan kini saatnya bangkit menyambut hari baru. Sedikit terlambat memang, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. "Mak. .udah subuh!" kubangunkan wanita yang dari rahimnyalah aku terlahir sempurna. Beliau mengerjap, tak susah membangunkan Emak sekali panggil saja sudah pasti bangun karena beliau terbiasa bangun pagi. "Sudah subuh?" gumam Emak sembari menguap. "Iya, Mak. Kita shalat jamaah, Mak." ajakku kemudian menyibak selimut lalu turun dari amben (dipan). Kulangkahkan kaki keluar kamar, mencari sosok Bapak dan adik lelakiku satu-satunya itu. Kulihat di kamarnya sudah tidak ada, itu artinya dia pasti sudah bangun. "Mbak, mau mandi?" tanyanya saat kaki ini melangkah menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur sederhana Emak. "Loh, kamu gak tidur? Kok sudah bikin tungku api, malah airnya sudah mau mendidih?" tanyaku saat melihat air yang sudah hampir mendidih di atas pawon (tungku api). "Bapak yang masakin, Mbak. Biasalah Bapak, sebelum subuh pasti sudah bangun." jelas Edi masih duduk di kursi kecil yang terbuat dari kayu. "Bapak ke mana sekarang?" "Di kamar mandi." Tak lama muncul Bapak dari kamar mandi dengan wajah basah, sepertinya Bapak baru selesai mandi. "Nduk, mandi pakai air hangat. Jangan air dingin." ujar Bapak. "Indri biasa pakai air dingin, Pak." sanggahku. "Iya, tapi semalam kamu kurang tidur. Tidak baik mandi air dingin, takut masuk angin. Pakai air hangat saja." ucap Bapak lagi perhatian. "Nggih, Pak." putusku tak ingin membantah Bapak. Toh, semua beliau lakukan untuk kebaikanku. Edi meminta jatah mandi lebih dulu sebab akan ikut Bapak shalat jamaah di masjid, setelahnya baru aku yang mandi dan terakhir Emak. Orang tuaku membiasakan mandi subuh karena banyak manfaatnya terlebih dengan air dingin, padahal kalau di sini mandi air dingin sudah seperti mandi air es. Maklumlah, kami tinggal di perbukitan kaki gunung. Usai shalat berjamaah dengan Emak, niat hati ingin membangunkan Zaki untuk bersiap aku bawa ke daycare, tapi Emak tak memperbolehkan. "Kenang biar di rumah sama Emak. Kebetulan, Emak tidak ada kerjaan. Kamu kalau mau kerja, kerjalah. Tak usah khawatirkan Kenang." ucap Emak yang membuatku dilema. Seumur-umur, belum pernah aku meninggalkan Zaki seharian penuh untuk kerja. Karena kalau di daycare pun jam istirahat aku selalu datang menyusuinya. "Mak, tapi-" "Sudah tidak apa-apa, Emak masih kangen sama Kenang. Kalau saja kamu tidak harus kerja, sudah pasti Emak minta kamu di rumah saja. Masih kangen!" cetus Emak dengan raut sendu. Ya Allah, betapa selama ini aku sudah lalai terhadap perasaan orang tuaku sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Mengabaikan rindu yang sebenar-benarnya rindu demi menjaga ke-egoisan suamiku. Padahal, tidak ada rasa sayang yang melebihi kasih sayang setulus yang orang tua berikan. Mau tak mau, aku menurut saja. Aku yakin, Zaki akan anteng bersama mereka. Hanya nanti, payuda**ku akan sedikit keras karena seharian tidak mengASIhi Zaki. Itu artinya aku harus bawa pompa ASI. Sampai hari ini, Zaki masih menyusu padaku selain juga minum s**u formula. Meski, produksi ASI-nya sudah tak banyak, tapi masih cukup untuknya di saat malam kadang dia bangun. Dan aku pun membiasakan diriku bahwa ketika aku ada bersamanya, maka aku akan mengASIhinya. Akhirnya, aku biarkan Zaki masih terlelap. Aku segera bersiap karena jika berangkat dari sini tentu aku harus berangkat extra pagi. Disamping jarak yang jauh, aku juga tidak membawa baju seragam. Artinya, aku harus balik ke kosan lebih dulu. Tepat pukul setengah 6, Lek Tri datang dengan penampilan yang sudah rapi. Beliau yang akan mengantarkanku ke kosan lebih dulu lalu berangkat ke polsek tempat beliau dinas. Jika saja aku berasal dari keluarga berada, tentu masa iddahku akan aku jalani di rumah saja sembari momong anak. Namun, kenyataan hidup memaksaku berangkat pagi-pagi sekali untuk berjuang mencari rupiah demi kelangsungan hidup kami. Tak apa, selagi Allah kasih kesehatan pasti akan ada rezeki menanti. Aku harus semangat demi masa depan Zaki. Kadang aku terhanyut pada cerita-cerita novel yang aku baca. Membayangkan bahwa setelah ini, aku akan bertemu dengan pangerah berkuda putih atau pengusaha muda yang kaya raya tujuh turunan. Ah, tapi sekali lagi itu hanya di cerita novel. Yang pemeran utamanya setelah menderita langsung bertemu dengan pria kaya yang bisa mengubah hidupnya seketika. Sadar Indri, sadar! Ini realita, bukan cerita. Namun, aku selalu percaya di balik ujian akan selalu ada jalan. Setelah hujan selalu ada pelangi, walau terkadang tidak semua manusia melihat pelangi itu. Dan harapanku setelah ini, semoga pelangi itu datang padaku dan Zaki. Amin! *** Hari Senin seperti biasanya, akan banyak pekerjaan menanti. Mesin akan ada yang rewel karena libur 2 hari dan itu yang menghubungkan operator dengan tim mekanik. Beruntung, mantan suamiku itu sekarang jadi supervisor jadi tidak perlu turun langsung untuk membenahi mesin-mesin yang rewel. Seperti hari ini, entah ada apa dengan mesih jahitku ini. Baru jam 9 sudah ngadat 2 kali. Rasanya pengen nangis di saat begini, mana kerjaan numpuk. Bisa-bisa aku harus lembur karena target tidak tercapai, sedangkan aku sedang tidak ingin lembur. Karena ada Zaki yang menanti di rumah Emak. "Ini belt-nya sudah tipis, Mbak. Sebentar aku mintakan dulu, ya!" ucap Ahmad, mekanik yang tengah memeriksa mesinku "Cepetan, Mad. Barang numpuk ini!" pintaku dengan cemas. "Iya, Mbak." Ahmad lalu berlalu ke ruangan para mekanik untuk mengambil barang yang dibutuhkan. Tak lama, dia datang bersama mantan suamiku. Entah ke mana Mas Yadi? Atasan Ahmad yang menjadi penanggung jawab atau kami sebut Karu (Ketua Regu), sehingga harus supervisornya sendiri yang turun tangan. Tak ada saling sapa di antara kami. Aku tak mendendam padanya, biar bagaimanapun dia pernah aku cintai. Dan bohong kalau sekarang ini aku sudah tak cinta, cinta itu masih ada bahkan masih sama besarnya tetapi aku tak mau rasa cintaku merubahku menjadi kian bodoh. Cukup 5 tahun yang sudah berlalu saja, setelah ini jangan lagi. "Cie, diem-dieman aja, Mbak. Enggak mau bilang apa gitu sama Ayank?" ledek Ahmad saat Mas Bagus selesai memasang belt pada mesin jahitku dan memastikan mesinku sudah baik-baik saja. Aku tersenyum saja menanggapinya, sedang Mas Bagus menatapku dengan tatapan yang sulit aku jelaskan. Menyesalkah? Atau malah senang sudah bebas seperti dulu? Entahlah! Kembali berkutat dengan mesin jahit dan setumpuk jahitan yang harus aku kerjakan, karena sebelum jam 12 siang harus selesai. Tanpa menoleh lagi, aku ngebut mengerjakan semua kerjaanku sebab kalau tidak selesai Mbak Lusi, karu-ku, bisa ngamuk-ngamuk dengan kata-k********r. Dunia garment ngeri kawan, di sini para penghuni kebun binatang berkeliaran bebas. Entah di pabrikku saja atau semua garment begitu, tapi setahuku dan dengar dari banyak cerita teman-teman dunia garment memang begitu. Kita yang hanya buruh harus tahan banting dan tahan uji. Telinga harus tebel dan muka harus kuat menahan malu. Di detik-detik jam 12, pekerjaanku masih satu lagi. Sebelum bel terdengar nyaring 15 menit lagi, semua harus selesai. Karena Mbak Lusi tidak mau mendengar alasan apapun, yang beliau tahu pekerjaan selesai dengan tanpa kesalahan apapun. Keringat sudah mengucur membasahi seluruh tubuhku, panik, buru-buru dan lapar juga membuat tubuhku gemetaran. "Lempar sini aku bantu!" bisik Mbak Nurul di belakangku. Alhamdulillah, pertolongan datang tepat waktunya. Tanpa mikir dua kali, aku berikan satu lagi pekerjaanku pada Mbak Nurul. Kami berdua dan 48 orang lainnya masih terus kejar-kejaran degan waktu yang semakin mepet. *** "Gak ke daycare, Ind?" tanya Mbak Nurul yang melihatku duduk lesehan di dekat loker, memang ada yang berbeda siang ini. "Enggak, Mbak. Zaki ada sama Emak di rumah!" jawabku apa adanya. "Makasih, ya, Mbak. Kalau gak ada Mbak tadi, sudah pasti kena semprot aku." lanjutku saat Mbak Nurul bergabung denganku dan 6 orang lainnya. "Sama-sama, aku juga sering kamu bantuin kok." jawabnya sembari tersenyum. Usai makan siang di kantin, kami selalu menghabiskan sisa jam istirahat dengan duduk melantai di dekat loker, ada juga di mushala sembari kami shalat. "Ndri, kamu pulang kampung?" tanyanya lagi. Aku mengangguk membenarkan. "Barusan kulihat suamimu makan berdua sama si Linda. Kamu gak cemburu?" lanjut Mbak Nurul lagi saat melihatku diam saja. Linda, mantan pacar suamiku saat kami masih berteman dulu. Kulihat mereka selama ini jarang bersapa, tapi jika mulai hari ini mereka dekat kembali ya, apa hakku melarang? Toh, kami sudah bukan suami istri lagi. "Ka-" "Mbak Indri, barangnya datang tuh!" seru Pak Malik saat aku hendak menjawab perkataan Mbak Nurul. Aku sampai melupakan barang pesananku kemarin. "Oh, iya, Pak." balasku, "aku tinggal dulu, ya, Mbak!" pamitku pada Mbak Nurul. Setelah beliau mengangguk, aku gegas bangkit berdiri mengambil catatan kecil di tasku dan melangkah menuju pos satpam. "Berapa totalnya, Ir?" tanyaku pada Ira, rekanku di toko. "750 ribu, Mbak Ind!" jawab Ira sembari menyerahkan nota. "Oh, oke. Ini, separo dulu ya, seperti biasa!" ucapku menyerahkan uang 400 ribu sebagai panjer/dp. Aku memang terbiasa begitu, akan aku talangi dulu semampuku, sisanya akan aku bayarkan setelah semua barang sampai pada pemiliknya. Karena dari toko, Ira yang akan membayarnya lebih dulu agar barang-barang ini bisa keluar toko. "Siap, Mbak. Oh, iya, yang kemarin masih di aku 80 ribu loh!" ujar Ira ceria seperti biasa. "Yaudah nanti tinggal kurangnya saja kalau gitu." jawabku sembari memeriksa barang pesananku. "Oke, kalau begitu. Laris manis ya, Mbak Ind! Biar kita bisa dapet untung juga!" kelakarnya sembari tergelak. "Asiap, kamu juga lancar kerjanya biar bisa nalangin aku!" balasku, lalu kami tertawa bersama setelah Ira mengacungkan dua jempolnya. Beginilah kami, tim pemburu rupiah. Apapun kami kerjakan asalkan itu halal, karena kami sadar kami bukan anak sultan. Kami hanya rakyat jelata yang harus kerja keras demi bisa makan. Ira pamit setelah ikut membantuku mengangkat barang-barang ini masuk ke pos satpam. Segera aku buat story pengumuman kalau barang pesanan sudah ready dan bisa diambil nanti sepulang kerja. Aku tersenyum karena Allah permudah jalanku mengais rejeki. Namun, bukan berarti tidak ada kendala. Ya, pasti ada. Bahkan, ada beberapa yang masih belum kembali uangnya alias masih mangkrak di pemesan yang belum bayar. Dan kalau ditotal hampir 1 juta, tapi ya itu resiko berjualan. Namun, aku tak mau larut dalam rasa kehilangan keuntungan itu, aku anggap saja sedekah jika memang mereka tidak berniat membayarnya. Karena kalau kita larut dalam kegagalan bagaimana kita bisa maju meraih keberhasilan? Itu prinsipku selama ini dan alhamdulillah, semua itu sudah Allah gantikan dengan rejeki di tempat lain. "Mbak Indri ini kayak kurang uang saja. Sudah punya gaji pokok, kadang lemburan juga. Terus gaji Mas Bagus juga udah banyak, anak masih bayi. Masih mau jualan begini juga!" ucap Pak Malik, satpam pabrik yang sudah sangat hafal kalau aku menitipkan batang-barang ini di sini. Bahkan, beliau turut menjagakannya untukku. "Alhamdulillah, Pak. Selagi masih ada kesempatan kenapa tidak?" jawabku tak ingin menjelaskan terlalu banyak. Hidup itu, wang sinawang. Apa yang terlihat belum tentu seperti itu yang terjadi. Kadang orang melihat kita sudah hidup enak, gaji banyak, kebutuhan tercukupi tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya terjadi, bukan? Begitu juga kita, kita melihat orang lain sepertinya lebih beruntung dari kita. Hidupnya lebih bahagia dari kita, bisa ketawa-ketawa, bisa jalan-jalan, makan-makan dan sebagainya tapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Makanya, jangan ukur kebahagiaan kita dengan ukuran kebahagiaan orang lain, jangan samakan kecukupan kita dengan kecukupan menurut orang lain. Kita ya, kita. Mereka ya, mereka. Tidak akan pernah sama! Setelah memastikan semua barang lengkap sesuai catatan, aku memutuskan kembali ke ruang produksi karena jam istirahat akan berakhir 10 menit lagi. Melangkah dengan pasti, tersenyum sendiri karena sudah tak sabar untuk bertemu bayi gembulku. Karena biasanya siang begini aku menghabiskan waktu dengannya di daycare, tapi siang ini tidak. Aku jadi sangat merindukan belahan jiwaku itu. Sampai di loker, aku berniat memasukkan kembali buku kecil catatan pesananku. Namun, urung kulakukan sebab di depan sana kulihat pemandangan yang tak seharusnya, pemandangan yang membuat mataku merebak dan hatiku kembali terluka. "Astaghfirullah. . ." ???????????????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN