Kuhela nafas besar, menetralkan degub jantung yang sedikit lebih cepat, ya sedikit saja lebih cepat. Di depan sana, ada mantan suami yang baru semalam mengucapkan talak padaku, tapi siang ini sudah bermesraan dengan mantan pacarnya dulu.
Cemburu? Iya! Aku memang cemburu, karena aku sungguh tulus mencintai laki-laki itu. Namun, bukan karena rasa cemburu itu yang membuatku ingin menangis sekarang. Sampai di sini aku semakin sadar diri, bahwa kehadiranku selama ini memanglah tidak dia anggap sama sekali, itu yang membuatku terluka. Lalu, selama ini aku dia anggap apa? Hingga semudah dan secepat itu dia berpaling?
Fisik? Ku akui kalau Linda jauh lebih cantik dariku, meski dempulannya (make up) yang 80% mendominasi wajah. Sexi? Bahkan meski telah memiliki satu anak, berat badanku tetap ideal, 54 kg dengan tinggi 163 cm. Masih cukup sexi, kan? Hanya memang ukuran dadaku tak sebesar miliknya.
Namun, seindah apapun fisik seseorang, bukankah ia akan pudar termakan usia? Wajah se-glowing apapun pasti akan keriput juga pada akhirnya. Tubuh se-sexi apapun tetap akan kendur seiring usia menua. Lalu, apa yang membuatku berbeda dengan Linda?
Tempat! Ya, tempat di hati Mas Bagus. Kini kusadari bahwa selama ini aku tak memiliki tempat di hatinya. Bodohnya aku selama ini.
Kuteruskan langkah semakin mendekat ke tempat dimana mereka duduk sekarang, karena untuk sampai ke loker harus melewati bangku mereka. Mereka, Linda lebih tepatnya tergagap melihatku melangkah mendekat. Ia nampak gugup sedangkan Mas Bagus sedikit salah tingkah karena kemesraannya terganggu olehku.
"In--" lirih Mas Bagus yang masih bisa kutangkap.
"Ini tak seperti yang kamu lihat, Ind!" ucap Linda dengan wajah memerah.
"Tak apa, aku paham. Hanya saja, setidaknya kalian tahu tempat. Ini kawasan umum dan siapa saja bisa lewat jalan ini, kalau saja orang lain yang memergoki kalian sudah tentu akan jadi fitnah seantero pabrik." tegurku sekuat tenaga menekan suara agar terdengar biasa saja.
"Kamu, Mas. Baru semalam mengucapkan talak padaku, setidaknya tunggulah sampai gugatan cerai kita diputuskan. Jaga harga dirimu sendiri, di sini kamu punya nama yang baik." lanjutku lalu kembali melangkah ke tujuan semula.
Sempat kulihat Linda terbelalak mendengar ucapanku, mungkinkah dia terkejut atas status kami atau hanya pura-pura? Entahlah, aku tak mau ikut campur urusan mereka.
Setelah meletakkan buku ke dalam tasku, kembali aku melangkah melewati mereka berdua yang kini duduk berjarak tidak seperti tadi yang sangat rapat bahkan dua bibir itu hampir menyatu.
Bergegas mempercepat langkah, agar segera sampai di devisiku. Siang ini, aku ingin pekerjaanku selesai tepat waktu karena aku sudah sangat rindu dengan putraku.
Namun, sayang seribu sayang. Sampai di line devisiku justru aku dikejutkan dengan rekan-rekanku yang tengah berkasak-kusuk. Begitu melihatku datang, semua mata sontak menatapku penuh iba. Ada apa ini? Apakah mereka sudah tahu kabar perceraianku? Tapi, rasanya tidak mungkin secepat ini berita itu berhembus sedangkan yang tahu hanya aku, Mas Bagus dan Linda baru saja. Atau mereka melihat Mas Bagus bermesraan dengan Linda tadi?
"Mbak Yesi, pesanan Mbak sudah di bawah, ya!" ucapku memecah keheningan yang terjadi secara tiba-tiba itu.
"I-iya, Ind. Nanti pulang aku ambil." sahutnya agak kikuk.
"Yang punya Mbak Sumi, besok pagi ya, Mbak!" ucapku beralih pada wanita seusiaku di sebelah kiri.
"Siap, Ind. Sore juga gak papa, kan, mau dimakan pulang kerja." jawabnya lalu mengulas senyum. Namun, ada yang aneh dengan rekan-rejan kerjaku ini. Tak seperti biasanya yang heboh saling sahut-sahutan seperti ayam kelaparan.
Aku melangkah menuju mesin jahitku dengan perasaan aneh, lalu aku menoleh ke belakang dimana Mbak Nurul duduk.
"Mbak, ada apa, sih? Kok, pada aneh gitu." tanyaku penasaran.
Mbak Nurul tak langsung menjawab justru menatapku lama sampai membuatku salah tingkah sendiri.
"Beneran kamu enggak tahu, Ind?" Mbak Nurul bertanya balik. Aku mengangguk pasti.
"Aku kasih tahu, tapi kamu jangan semaput (pingsan)." aku mengerutkan kening heran sekaligus penasaran, tapi Mbak Nurul nampak ragu.
Justru menoleh ke arah Mbak Yani di sebelah kirinya dan Jumiatun di sebelah kanannya seolah tengah meminta persetujuan, kedua orang itu pun mengangguk pelan pada akhirnya.
"Opo, sih, Mbak! Waktunya keburu habis ini!" sergahku tak sabar.
"Itu, tadi pas mau masuk ke sini, Erma sama Yulia gak sengaja lihat suamimu sama Linda lagi--" cicitnya pelan sembari menyatukan dua tangan membentuk adegan ciuman, ekspresi wajahnya sulit aku ceritakan bahkan matanya sudah merebak menatapku.
Aku tersentak, bukan karena ucapan Mbak Nurul melainkan bunyi bel yang begitu keras. Setelahnya aku menghela nafas besar, menetralkan degub jantung yang berdetak kencang karena kaget. Iya, kaget bunyi bel. Bukan kaget karena mengetahui berita itu.
Aku mendesah pelan, apa yang aku takutkan terjadi juga. Entah siapa yang salah? Namun, berita ini sudah tentu akan segera menyebar dengan cepat, lebih cepat dari virus corona 2 tahun lalu.
Mas Bagus juga salah, sudah tahu seluruh pabrik mengenal dia dengan status suamiku. Malah mesra-mesraan dengan mantan sebelum sidang berjalan. Astaghfirullah, pasti akan ada berita heboh setelah ini.
"Ind--" Mbak Nurul menyentuh bahuku pelan.
"Ya, Mbak." sahutku pelan.
"Jangan marah, aku tahu juga dari Yulia." ucapnya melas. Aku mengulas senyum padanya.
"Iya, Mbak. Sebentar aku tanya Yulia dulu kebenarannya!" ucapku lalu beranjak dari kursiku menuju tempat Yulia di bangku paling belakang dari line kami.
"Yul!" panggilku pelan sembari menyentuh bahunya karena dia tengah fokus pada bawah mesin jahitnya. Ia mendongak dan sedikit kaget melihatku.
"Eh, Mbak." kejutnya.
"Aku mau tanya berita itu." ucapku langsung. Yulia mengangguk pelan dan sepertinya agak takut padaku. Mungkin takut aku akan marah padanya.
"Maaf, Mbak. Aku lihat sendiri kok, beneran. Bukan maksud aku juga buat cerita ke teman-teman, aku cuma nanya sama Mbak Nurul eh, Wuri dengar. Tahu sendiri, kan, Mbak gimana Wuri?" jelasnya tanpa aku tanya lagi dengan suara takut-takut.
"Iya, aku tahu. Jadi, di mana kamu lihat kejadian itu?"
"Di lorong yang dari kantin dekat ruang mekanik itu, Mbak." jelasnya lagi. Aku mangut-mangut mengerti.
"Oke, nanti kalau ada apa-apa, apa bisa kamu bersaksi bahwa kamu melihatnya sendiri kejadian itu?" entah kenapa aku yakin setelah berita ini berhembus akan ada drama yang terjadi.
"Aku sama Erma, Mbak. Enggak sendiri." kilahnya lagi.
"Iya, apa kalian bersedia jadi saksinya?" ulangku lagi. Dia diam sejenak lalu mengangguk yakin.
"Oke, terimakasih, ya!" ucapku mengulas senyum lalu kembali ke mejaku. Kulihat dia melongo, mungkin heran dengan sikapku.
"Ind, kamu gak papa?" tanya Mbak Nurul yang melihatku kembali dengan ekspresi biasa-biasa saja.
"Ya, harus gimana, Mbak?" tanyaku balik.
"Gak marah gitu?" aku menggeleng yakin, dia terkejut dengan mata melebar.
"Bahkan, barusan aku melihatnya sendiri, Mbak!" bisikku pelan di telinga kanannya. Dia semakin melotot dengan mulut menganga.
Tak kuhiraukan lagi ekspresi Mbak Nurul, aku segera bersiap mengerjakan pekerjaanku siang ini dengan harapan semua berjalan lancar, baik bahan maupun mesin jahitnya.
"Bismillahhirohmanhirrohim!" ucapku lantas memijak pedal mesin jahit. Setelahnya, hanya desing mesin jahit yang terdengar saling bersahut-sahutan.
***
Tepat pukul 4 sore semua pekerjaanku selesai, tapi di dunia garment tidak kenal itu namanya tepat waktu. Pasti molor entah itu 30-45 menit. Bahkan, tak jarang jam pulang kami molor lebih dari 1 jam.
Hampir jam 5 sore dan aku masih berkutat dengan segala pesanan teman-temanku di pos satpam. Ada yang langsung bayar ada juga yang nunggu gajian dan itu sudah lumrah terjadi di tanggal tua seperti ini.
Setengah jam lebih aku habiskan dengan barang daganganku, tinggal dua barang lagi yang dipesan teman dari devisi lain dan mereka kerja lembur sampai jam 7 malam nanti akhirnya aku titipkan di pos satpam saja setelah memberitahukan pada si pemesan.
"Pak Yudi titip ya, nanti diambil sama yang punya jam 7." pesanku pada Pak Yudi, satpam di shift 2.
"Iya, Mbak Ind. Mau ditinggal pulang?"
"Iya, Pak. Udah kesorean, takut gak dapet angkot." jawabku. Setelahnya aku pamit pada Pak Yudi.
Namun, saat kaki hendak melangkah keluar gerbang, sebuah suara memanggil namaku dari arah belakang.
"Indri!"
Aku menoleh, rupanya Linda yang memanggilku. Kuhentikan langkahku menunggunya sampai.
"Apa?" tanyaku datar saat dia telah sampai di hadapanku.
"Kita bicara di sana!" ucapnya sembari menunjuk satu tempat yang agak sepi, di samping gerai ATM di luar pagar.
Aku lantas membawa langkah menuju tempat yang dia tunjuk, dengan dia lebih dulu berjalan.
"Ind, aku minta maaf atas kesalah pahaman tadi." ucapnya begitu aku sampai. Aku masih diam saja menyimak.
"Sungguh, Ind. Aku gak ada hubungan apa-apa lagi sama Bagus." lanjutnya, aku mulai enggan membahas perihal ini.
"Ada hubungan juga tidak apa-apa. Percayalah, aku tidak marah sama sekali. Hanya aku harap, kalian lebih bisa menjaga diri dan tahu tempat seperti yang aku bilang tadi siang." ucapku pelan dan datar.
"Untuk itu, aku minta maaf. Tapi, beneran ya, kalian sudah bercerai? Maksudku, Bagus menceraikanmu?" tanyanya tak tahu malu.
"Tanya saja sama Bagus, bukankah kalian begitu dekat? Atau ada hal yang tak aku tahu selama ini?" ucapku memperhatikan ekspresi wajahnya. Hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang dirasakan mantan kekasih, mantan suamiku ini?
"Maksudmu apa, Ind?" tanyanya sedikit tersentak terlihat jelas dari sorot matanya. Bukankah, mata adalah jendela hati?
Jujur aku sendiri merasa aneh, jika barusan dia bilang tidak ada hubungan apa-apa dengan suamiku, tapi kenapa hari ini mereka mesra sekali? Lalu perihal berita siang tadi? Mungkinkah dalam semalam saja mereka bisa kembali sedekat itu? Atau benar dugaanku bahwa ada hal yang luput dari pengetahuanku tentang mereka berdua selama ini?
"Tidak ada maksud apapun. Hanya mengingatkan saja, di pabrik ini Bagus punya nama yang baik sebagai suamiku dan hampir semua karyawan mulai dari bawahan sampai atasan tahu akan hal itu. Jadi, jangan sampai ada berita yang akan mencoreng nama baiknya juga nama baik kamu. Kamu paham, kan, maksudku?" tegasku menatap wajahnya yang mulai memerah. Entah itu malu atau marah?
"Linda, kamu sebagai ADM di bagian helper. Berinteraksi dengan berbagai sifat karyawan di devisimu. Tentu, namamu juga baik di kalangan mereka. Jangan sampai, kabar kedekatanmu dengan Bagus mencoreng nama baikmu. Sekalipun kenyataannya aku dan Bagus sudah bercerai secara agama, tapi secara hukum belum.
Tahanlah sebentar, sampai sidang perceraian kami diputuskan, atau setidaknya sudah berjalan di pengadilan. Aku hanya tak mau, namamu buruk di mata para karyawan yang 90% adalah wanita dan berstatus istri juga ibu-ibu. Kamu tahu sendiri, kan, predikat pelakor adalah musuh utama para wanita terlebih ibu-ibu?" tegasku lagi masih dengan bahasa yang baik aku rasa.
Jika aku jahat, sudah pasti aku akan biarkan saja mereka berbuat sesuka hatinya dan berakhir pada nama mereka yang buruk karena dianggap berselingkuh dan Linda akan mendapat predikat sebagai pelakor. Sangat buruk, bukan? Dan harusnya aku senang, tapi itu tidak aku lakukan. Kenapa? Karena doa keburukan layaknya paket tanpa alamat, yang suatu saat akan kembali pada kita sendiri.
"Ind, kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya seketika dengan tatapan yang, entahlah!
"Melakukan apa?" tanyaku tak paham.
"Kamu masih sempat-sempatnya memikirkan nama baikku." ucapnya pelan sembari menunduk.
"Lin, jika kalian saling mencintai maka bersatulah. Aku tak akan mempersulit hubungan kalian, tapi aku hanya minta satu hal saja. Tolong bersabarlah sebentar!" tekanku lagi.
Ya Allah, ada apa denganku? Kenapa tidak ada rasa sakit dalam hatiku mengucapkan itu pada wanita yang jelas-jelas merebut tahtaku dari hati suamiku dulu. Apakah hatiku sudah mati? Tapi, waktu kulihat mereka bermesraan kenapa rasanya ingin menangis? Ke mana air mata itu sekarang?
"Ind, aku--" gagapnya lalu menunduk lagi. Kulihat bahunya bergetar, aku rasa dia tengah menangis sekarang. Tapi, menangisi apa? Bukankah seharusnya dia senang, bukan? Aku beri dia kesempatan untuk bersama orang yang dia cintai dan juga mencintainya.
Tiba-tiba dia menjatuhkan diri di hadapanku, bersujud di kakiku. Tentu hal ini membuatku terkejut bukan kepalang. Beruntung lokasi ini sepi dan tak ada karyawan lain yang melihat adegan ini.
"Eh, Linda! Ada apa ini?" panikku seketika ikut berjongkok lalu memapahnya untuk kembali berdiri. Kurasakan getaran tubuhnya semakin terasa dan air mata sudah membasahi wajah. Bahkan, eyelinernya ikut luntur bersama air mata itu.
"Ada apa? Kenapa begini?" cecarku panik dan masih memegang kedua bahunya.
"Indri, aku, aku. . .
????????????????