"Indri, aku, aku. . ."
Linda tergagap, bahunya bergetar karena tangis. Aku semakin heran dibuatnya.
"Ada apa, Lin?" tanyaku karena sejak tadi hanya isaknya yang terdengar sedangkan aku harua segera pulang kalau tidak aku tidak akan dapat angkot untuk ke kosan.
"Maafkan aku, Ndri." lirihnya di sela isak tangis.
"Iya, aku maafkan. Maaf, Lin. Aku harus segera pulang, ada Zaki yang menungguku." putusku ingin mengakhiri ini semua. Indri mendongak, menatapku masih dengan mata berair.
"Aku, aku hamil anak Bagus, Ndri!"
Duar! Bagai tersambar petir aku mendengar pengakuannya.
"Hah?!" pekikku dengan mata melebar.
"Maafkan aku, Indri!" isaknya kembali terdengar, wajahnya menunduk dalam.
Tunggu! Apa dia bilang tadi? Hamil anak Bagus? Itu artinya mereka? Astaghfirullahhalazim! Aku menelan ludah susah payah, air mata yang tadi entah ke mana, sekarang tiba-tiba mengalir membasahi kedua pipiku. Lemas seluruh persendianku, seolah kedua kakiku tak mampu untuk menopang bobotku sendiri.
"Jadi, benar selama ini kalian--" lirihku tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
"Maafkan aku!" hanya kata itu yang terucap dari mulut Linda.
Sekuat hati aku mencoba tegar dan menerima luka baru ini. Jika tadi aku berucap untuk melepas Bagus padanya tanpa rasa sakit, tapi kini hatiku bagai disayat sembilu. Perih dan sakit yang luar biasa. Rupanya, selain tidak menafkahiku, tidak menganggap anakku ada, dia juga berselingkuh di belakangku? Ya Allah, manusia macam apa yang kemarin masih bergelar suamiku itu?
"Sejak kapan?" serak suara ini kupaksa keluar.
"8 bulan ini," lirihnya masih menunduk.
Astaghfirullahhalazim! 8 bulan? Sama seperti usia Zaki, putraku?
Allah. .Allah. .
Sakit sekali hati ini! Pikiranku terlempar jauh ke masa lalu, masa dimana aku baru saja melahirkan Zaki dengan penuh perjuangan. Namun sayangnya, tak kutemukan hal ganjil dari suamiku yang membuat pikiranku mengarah ke arah sana. Selain, kami memang jadi jarang sekali melakukan hubungan suami istri setelah masa nifasku selesai.
Bahkan, bisa dihitung dengan jari kami melakukannya sampai terakhir satu minggu lalu kira-kira. Aku pikir itu wajar, karena dia memaklumi kelelahanku mengurus bayi dan rumah, juga masih harus bekerja setelah usia Zaki 1,5 bulan. Rupanya, aku salah! Dia sudah ada tempat pembuangan lain yang lebih memuaskan sekalipun itu haram, astaghfirullah!
Lemas tubuhku, kupaksa diri membawa langkah ini menjauh dari wanita yang masih terus menunduk itu. Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan padanya.
Dengan sekuat tenaga, kubawa langkah sampai ke tepi jalan untuk menunggu angkutan umum yang akan membawaku ke kosan sebelum pulang ke rumah Emak untuk bertemu belahan jiwaku.
Tak kuhiraukan lagi panggilan Linda, kutulikan telinga dan kubisukan mulutku. Aku masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Bahkan, otakku tak bisa berpikir jernih.
Katanya tidak ada hubungan, tapi mesra-mesraan, lalu datang lagi mengaku hamil. Jadi, selama ini yang kulihat hanya akting belaka? Tidak saling bersapa di hadapan umum tetapi mereguk nikmat dunia di luar sana. Lalu, apakah uang nafkah yang selama ini hilang dariku juga diberikan padanya? Apakah Ibu mertua mengetahui ini semua? Pantas saja, semalam tanpa pikir panjang langsung mengucap talak tiga padaku. Rupanya sudah ada pengganti jauh sebelum aku menepi.
***
Sampai di rumah Emak, sudah pukul 7 malam. Karena Lek Tri sempat mengalami bocor ban, sebelum datang menjemputku ke kosan.
Sampai di rumah, aku disambut tawa girang anak lanangku. Wajahnya berseri-seri dan tubuhnya wangi sekali, menguar sudah semua penat dalam ragaku.
Bermain sebentar dengan Zaki, lalu Emak memanggilku untuk makan bersama. Begitulah kami, makan malam selalu barengan dengan duduk melantai. Walau makanan kami jauh dari kata mewah tetapi terasa nikmat karena kami bisa berkumpul bersama untuk menikmatinya.
"Mak, Pak, besok Kenang Indri ajak ke kosan saja bagaimana?" ujarku usai membantu Emak membereskan piring bekas makan kami.
"Memangnya kenapa, Nduk, kalau di sini?" tanya Emak nampak keberatan.
"Jaraknya terlalu jauh, Mak, kalau Indri harus pulang pergi dari sini. Harus berangkat pagi-pagi sekali saat Zaki belum bangun, terus pulang juga sudah malam. Baru main sebentar, tak lama Zaki udah ngantuk terus tidur." keluhku apa adanya.
Terlebih, aku tak ingin membuat Emak kelelahan karena mengasuh Zaki. Sudah cukuplah Emak mengasuhku dan Edi sejak kecil, kini waktunya Emak menikmati masa tua bukan malah kelelahan momong cucu.
"Kalau kamu berhenti kerja saja gimana, Nduk?" sambung Bapak juga nampak tak rela atas usulanku.
"Kalau Indri berhenti, gimana masa depan Zaki, Pak?" tanyaku balik. Bapak diam, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Kalau, Kenang tinggal di sini saja terus kamu yang di kosan gimana? Pulang saat libur seperti saat gadis dulu?" usul Emak lagi.
Oh, tidak! Berpisah dengan Zaki selama itu mana aku sanggup? Baru dalam hitungan jam saja hatiku rindu luar biasa, bagaimana dalam hitungan hari?
"Indri gak bisa pisah sama Zaki, Mak. Sama seperti Emak gak bisa pisah sama kami." ujarku sembari mengulas senyum agar Emak tak tersinggung.
"Emak masih kangen sama Kenang, Nduk!" cicitnya pelan.
Aku paham itu, sangat paham. Selama 8 bulan, baru kali ini Emak memiliki waktu lama bersama cucu pertamanya. Dan benar kata orang, seorang ibu akan jauh lebih sayang pada cucunya ketimbang dengan anaknya sendiri.
"Mak, nanti, Jumat malam atau Sabtu pagi kami pulang ke sini. Bagaimana?" tawarku lagi. Emak dan Bapak saling pandang, berdiskusi tanpa suara.
"Iya, Mak, Pak. Lagian, kasihan Kenang kalau kepisah sama ibunya lama-lama. Yang ada nanti malah gak kenal lagi sama ibunya sendiri, padahal ibunya kerja keras banting tulang untuk masa depannya." sela Edi yang sedari tadi diam saja.
"Yasudah kalau begitu, tapi janji ya, Nduk. Setiap libur kalian pulang ke sini." pinta Emak pada akhirnya.
"Iya, Mak. Memangnya kami mau pulang ke mana lagi kalau bukan ke sini?" jawabku getir. Ya, hanya rumah Emak dan Bapaklah tempatku pulang sekarang karena hanya mereka yang aku miliki selain Zaki.
Mulai sekarang, aku akan kembali pulang ke rumah dimana aku lahir dan tumbuh sampai dewasa. Sama seperti jaman gadis dulu, setiap libur akan pulang dan Senin pagi akan berangkat lagi. Sayangnya, status yang kusandang bukan lagi gadis tetapi janda anak satu. Entah seperti apa tanggapan para tetangga jika mereka mengetahui statusku ini?
Cepat atau lambat, kabar kandasnya pernikahanku pasti akan terdengar oleh para tetangga dan kerabat. Semoga, saat itu tiba kami sudah siap dengan segala reaksi yang akan timbul.
Mengingat pernikahanku, aku jadi teringat akan ucapan Linda tadi, apakah harus kusampaikan pada orang tuaku atau tidak? Sejenak aku ragu untuk mengatakannya, tapi lalu kuputuskan untuk menceritakannya saja. Sebagai jaga-jaga jika ada hal yang tak kami inginkan nantinya.
"Pak, Mak," panggilku pelan, mereka berdua mengalihkan perhatian dari Zaki yang tengah tertawa karena digoda leleknya.
"Tadi, Indri bertemu dengan seseorang." ucapku agak ragu.
"Lalu?" tanya Bapak saat melihatku tak kunjung melanjutkan cerita.
Menarik nafas dalam lalu kuceritakan semua kejadian hari ini, detail dan runut. Mulai dari aku melihat Mas Bagus bersama Linda sampai pada pengakuan Linda sepulang kerja tadi, detail tanpa kukurangi atau kutambahi.
"Astaghfirullahhalazim!" desis keduanya terkejut.
"Lelaki seperti apa, yang selama ini aku bangga-banggakan itu?" lirih Bapak menahan amarah. Emak mengusap bahu Bapak pelan.
"Ya Allah, Nduk. Maafkan Bapak! Bapak sudah berdosa padamu!" lanjutnya menatapku penuh penyesalan.
"Sudah, Pak. Semua sudah terjadi, tidak usah disesali. Indri juga baru tahu tadi sore, Pak." balasku turut mengusap lengan Bapak, membesarkan hatinya.
Masih kudengar Bapak beristigfar berulang kali, menenangkan hatinya sendiri.
"Kalau gitu, segera ajukan gugatannya ke pengadilan, Nduk. Bapak sudah tidak ingin lagi mendengar nama laki-laki biad*p itu disebut sebagai keluarga kita, Bapak malu! Dia tidak hanya membuat malu keluarga kita tetapi juga mencoreng harga diri laki-laki. Bapak sebagai laki-laki saja malu mendengar polah tingkahnya! Tak beradap, tak punya pegangan iman, pantas saja dengan entengnya mengucapkan talaknya tanpa beban. Kelakuannya lebih rendah dari binat*ng!" geram Bapak berapi-api, membuat Edi yang tengah menggoda Zaki memperhatikan kami.
Lagi, kudengar Bapak beristigfar untuk menenangkan emosinya yang kembali tersulut mendengar kelakuan mantan menantunya itu.
"Apa, sih, Mbak?" bisik Edi mendekat padaku, tapi rupanya Bapak mendengar pertanyaan itu. Bapak lantas menoleh.
"Le, belajarlah dari kisah Mbakmu. Kelakuan Masmu sangat memalukan dan tidak boleh dicontoh apalagi ditiru. Untuk itulah, kamu sebagai laki-laki harus punya iman yang kuat. Belajar ilmu agama yang benar, agar bisa membedakan mana yang benar dan yang salah untuk diperbuat." wejang Bapak pada anak bungsunya yang tengah beranjak dewasa. Edi mengangguk paham, walau tak tahu kelakuan Mas Bagus yang seperti apa yang berhasil menyulut emosi Bapak barusan.
Malam semakin larut, usai memberi wejangan. Bapak pamit, katanya mau ke rumah Lek Tri untuk membahas soal gugatan perceraianku. Karena jujur saja, kami tak tahu apapun soalan itu.
Zaki sejak tadi tak mau diam padahal biasanya jam segini sudah terlelap, dia masih asyik bermain bersama Emak karena Edi ikut dengan Bapak ke rumah Lek Tri.
Kuambil ponsel, berniat untuk kembali membuat story daganganku. Namun, beberapa pesan beruntun masuk. Beberapa dari pelangganku yang menanyakan barang pesanan, ada juga yang memesan barang baru. Di antara deretan nomor pelangganku ada nomor Ibu mertua terselip di paling bawah.
Rasa penasaran membuatku membuka pesan dari mantan mertua ajaib yang kemarin pingsan, eh, pura-pura pingsan tepatnya.
[Tagihan air dan listrik belum kamu bayar!]
Begitu isi pesannya, membuatku geleng-geleng kepala dengan menahan tawa. Lah, apa urusannya denganku? Ya, walau sebulan ini aku yang pakai air dan listriknya, tapi aku, kan, sudah tidak lagi tinggal di rumah itu. Ya, semua itu jadi urusan dia dan anaknyalah. Kok, nagih ke aku yang sudah jadi mantan, aneh!
Biarlah, tak ingin aku menanggapinya. Iseng aku bergulir ke layar status. Di paling atas ada kontak Ibu mertua yang baru saja mengunggah foto story, 2 menit yang lalu.
Foto anak lelakinya yang sangat dia banggakan tengah duduk dengan merangkul pundak wanita berambut sebahu, senyum keduanya terlukis begitu manis. Kuperhatikan lagi dan wanita itu bukan Linda. Siapa lagi wanita itu? Terlebih caption yang Ibu mertua tulis membuatku melebarkan mata.
'Calon mantu idaman semua mertua, cantik, pintar, berkelas dan pastinya PNS. Semoga rencana pernikahan kalian lancar sampai hari H'
Mataku membulat sempurna melihatnya. Calon mantu? Kalau wanita itu yang diakui calon menantunya, lalu Linda? Bukankah Linda tengah hamil cucunya? Ataukah Mas Bagus belum tahu perihal kehamilan Linda? Ah, tapi tak mungkin. Bukankah siang tadi mereka begitu mesra? Bahkan, bermesraan sampai tak tahu tempat. Seperti inikah sosok asli mantan suamiku itu? Astagfirullah! Selama ini aku menikah dengan buaya rawa, eh, buaya darat!
Segera aku screenshot foto story itu untuk memperkuat gugatan perceraianku nanti. Akan aku jadikan foto itu sebagai bukti bahwa selain KDRT, suamiku juga selingkuh.
Karena penasaran yang amat sangat, aku putuskan untuk memberikan reaksi atas foto story Ibu mertua ajaibku ini.
[Alhamdulillah, Ibu sudah menemukan mantu idaman. Lalu, bagaimana dengan Linda, yang katanya sedang hamil anak Mas Bagus?]
Tulisku dan segera kukirimkan sebagai balasan atas foto storynya tadi. Aku ingin melihat reaksi Ibu mertua dengan kabar ini, apakah terkejut? Atau justru sudah tahu?
???????????????