[Alhamdulillah, Ibu sudah menemukan mantu idaman. Lalu, bagaimana dengan Linda, yang katanya sedang hamil anak Mas Bagus?]
Beberapa detik, akhirnya pesanku centang dua dan langsung warna biru karena memang Ibu mertua terlihat tengah online. Lalu, tulisan online itu segera berubah menjadi mengetik. Ah, penasaran aku dibuatnya. Kira-kira apa tanggapan Ibu mertua?
Satu pesan masuk dari kontak Ibu, buru-buru aku buka saking penasarannya.
[Gak usah nebar fitnah! Hubungan Bagus dengan Linda sudah berakhir lama.]
[Ririn inilah calon menantuku, menggantikan kamu!]
[Mereka sudah pacaran 4 bulan ini.]
[Awas kalau karena fitnahanmu ini, rencana pernikahan mereka gagal.]
Pesan beruntun masuk dari kontak yang sama, aku terkejut dengan reaksi dan balasan Ibu mertua. Jadi, mana yang benar? Linda berhubungan dengan Mas Bagus sudah 8 bulan dan sekarang sedang hamil. Sedangkan pengakuan Ibu mertua, hubungan Mas Bagus dengan wanita bernama Ririn ini sudah 4 bulan dan akan segera menikah.
Ya Allah, Bagus-Bagus! Nama saja yang bagus, kelakuan naudzubillah! Jangan-jangan, ada lagi wanita-wanita lain di luar mereka berdua? Jangan-jangan, Zaki punya saudara sedarah lain selain yang di kandungan Linda? Astagfirullah! Kan, hatiku jadi su'udzon. Untung udah cerai, kalau belum? Duh, gak bisa ngebayangin gimana rasanya. Udah cerai aja hatiku sakit gimana jadinya kalau belum cerai? Ambyar! Ajur mumur!
Jadi, rengekannya di kamar waktu itu yang katanya 'bukan perceraian yang dia mau' itu hanya omong kosong? Lalu, pintanya di hadapan Bapak kemarin juga hanya isapan jempol? Akting? Kalau iya, sudah sangat layak disandingkan dengan aktor Vicky Prasmanan. Sama walau tak serupa, astaghfirullah!
"Nopo, sih, Nduk? Kok demimil (bergumam) dari tadi?" teguran Emak membuatku melepaskan perhatian dari layar ponsel. Lalu kuperlihatkan ponsel itu ke hadapan Emak.
"Astaghfirullah! Sebej*t itu kelakuan mantan suamimu, Nduk? Ya Allah, keputusan yang tepat kamu memilih lepas dari manusia tak berad*b sepertinya, Nduk!" pekik Emak saat melihat dan membaca chat Ibu mertua.
"Lanangan ed*n!" (Laki-laki gil*!) umpat Emak emosional.
"Istigfar, Mak!" tegurku mengusap bahu Emak. Lalu kudengar istighfar dari bibir Emak.
Segera aku screenshot percakapan berikut foto unggahan ini. Aku yakin, dengan semua bukti yang sudah terkumpul gugatan perceraiaanku tak akan berlangsung lama untuk segera dikabulkan.
Kutatap wajah menggemaskan Zaki, matanya, hidungnya bahkan 80% parasnya mirip dengan ayahnya, tapi dengan begitu tega mereka menolak bayi lucu ini. Semoga, kelak hidupmu bahagia, Nak. Dan tidak akan aku biarkan kelakuan bej*t ayahnya menurun padanya, insya Allah aku akan bekali dia dengan ilmu agama yang baik seperti Bapak membekaliku sejak kecil.
Dia mulai mengucek-ucek matanya pertanda dia sudah ngantuk, wajar saja ini sudah hampir jam 10 malam. Akhirnya, kubawa dia ke kamar, kukelonin sebentar sudah langsung tidur pulas. Kupandangi lagi wajah tampannya, mata yang terpejam dengan bibir yang sesekali berkedut seolah masih menghisap sumber makanannya.
Tak puas-puasnya kuciumi pipi gembulnya, turut merasakan pedihnya penderitaan batin bayi tak berdosa ini. Namun, dia jauh lebih beruntung dunia akhiratnya, karena dia terlahir dari ikatan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Nasabnya jelas, dengan dua orang tua yang jelas dan tercatat di sipil negara. Tak bisa kubayangkan, bagaimana anak yang lahir dari rahim Linda nantinya? Ya Allah, kasihan sekali anak tak berdosa itu harus menanggung dosa orang tuanya.
"Sudah jangan dilihatin terus, tidurlah sudah malam!" tegur Emak yang rupanya telah bergabung denganku dan Zaki, selama dua malam ini Emak memilih tidur dengan kami. Kasihan sekali Bapak, harus tidur sendiri.
"Emak juga, sudah lelah seharian menjaga Kenang!" sahutku.
Kunaikkan selimut beliau, kucium pipi tuanya yang sudah mulai kempot termakan usia itu. Lalu turut merebahkan diri di samping Zaki, tak lama alam mimpi membuaiku dengan nyaman.
****
Pagi ini, sesuai kesepakatan. Kubawa Zaki ikut serta denganku, diiringi tangis tak rela dari emaknya (Emak tidak membahasakan dirinya nenek atau mbah pada Zaki, sehingga dibahasakan 'mak' sama sepertiku dan Edi) seolah kami akan pergi jauh.
Lek Tri membawa motor dengan santai, karena waktunya juga masih pagi. Jadi, tidak perlu terburu-buru.
"Hari ini, Lelek akan masukkan gugatan kamu, Nduk. Kamu nanti tinggal tunggu kabar dari Lelek saja." ucapnya di tengah perjalanan kami.
"Alhamdulillah, Lek. Semoga lancar, dan segera bisa diproses." sahutku agak keras agar Lek Tri mendengar.
"Berdoa saja biar semua lancar. Lelek kaget dikasih tahu Bapakmu semalam, gak nyangka kelakuan Bagus tidak sesuai namanya." ujarnya lagi. Aku mangut-mangut saja, Lek Tri belum tahu yang semalam, kalau tahu entah akan seperti apa reaksinya.
"Jangankan, Lelek. Indri saja tidak menyangka, Lek!" jujurku apa adanya.
"Edan tenan suamimu!" decaknya geleng-geleng kepala.
"Mantan, Lek!" sergahku, tak mau lagi mengakui Mas Bagus adalah suamiku meski memang secara hukum dia masih suamiku. Rasanya, jijik saja setelah tahu kelakuannya begitu.
Sepanjang jalan kami isi dengan percakapan hingga tanpa terasa 30 menit sudah kami di perjalanan dan kini sudah sampai di depan kosan milik Pak Suradi yang biasa kupanggil Pakdhe itu.
Kedatanganku langsung diburu oleh wanita baik hati yang kupanggil Budhe, ibunya Retno alias istri Pak Suradi.
"Masya Allah, Kenang! Akhirnya kamu datang juga, Le!" sambutnya sembari setengah berlari menghampiri kami, diikuti Retno di belakangnya.
Segera dipintanya Zaki dari gendonganku, bahkan selimut yang membalut tubuh Zaki pun masih menempel sempurna tanpa mau dilepaskan dulu. Setelah Zaki beralih ke gendongan beliau, segera diciuminya bocah gembulku itu mengabaikan aku dan Retno. Aku dan Retno saling tatap sambil geleng-geleng, tapi membuatku amat terharu.
Sekali lagi, mataku memanas melihat orang lain yang tidak ada ikatan apapun bisa begitu sayangnya dengan putraku, kenapa Mas Bagus dan Ibu Mertua tidak? Padahal jelas-jelas darah mereka sama, bagi mereka hanya ada Sheril -anak Mbak Santi- saja yang pantas mereka sayangi.
Segera kubuka pintu kamar, membiarkan Budhe dan Retno asyik dengan Zaki. Lalu, aku beranjak ke kamar mandi, tapi hidungku menangkap bau-bau tak sedap. Rupanya bau tak sedap itu berasal dari ember panjang yang tertutup oleh ember mandi Zaki. Karena permasalahan yang menguras pikiranku, aku sampai melupakan cucian yang belum aku jemur sejak 2 hari lalu. Pantaslah baunya sudah tak sedap lagi. Kuputuskan untuk merendamnya lagi dengan pewangi, berharap baunya yang tak sedap itu akan berganti menjadi wangi.
"Ind, hari ini Kenang biar di rumah sama Budhe, ya? Kamu kerja saja, gak usah khawatirin Kenang." ucap Budhe Win saat melihatku sudah rapi.
"Tapi-"
"Uwes gak usah tapi-tapian, sana berangkat saja. Yang penting ditinggalin s**u sama botolnya saja, Budhe masih kangen sama Kenang." sergahnya tak ingin dibantah, bahkan beliau sudah berlalu ke rumahnya tanpa memperdulikanku yang belum memberi jawaban. Kulihat Retno hanya mengendikkan bahunya.
"Budhe!" panggilku, akhirnya beliau menoleh.
"Beneran enggak apa-apa?" tanyaku memastikan.
"Aman!" sahutnya mengacungkan jempolnya sekilas lalu kembali melangkah ke rumahnya.
"Kenang belum mandi, Budhe!" teriakku lagi.
"Wes paham!" sahutnya tak mau kalah dan tanpa menoleh. Retno terbahak lalu melangkah menyusul ibunya yang sudah menghilang di balik pintu rumahnya.
Alhamdulillah, banyak yang menyayangi putraku walau mereka tak ada keterikatan darah. Maka, kuputuskan untuk segera berangkat saja tanpa mengunci pintu kamarku agar Retno mudah untuk mengambilkan segala keperluan Zaki.
***
"Indri!"
Baru saja aku turun dari angkutan umum sudah disambut tarikan di tanganku oleh mantan suamiku. Aku sedikit kepayahan mengikuti langkah lebarnya, tak peduli dengan ratusan karyawan yang berada di luar gerbang pabrik ini. Dia terus saja menarik lenganku menuju tempat agak jauh dari depan gerbang pabrik.
"Apa, sih, Mas! Lepas!" kutarik paksa lenganku hinga terlepas dari cengkeramannya. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. Bukan tatapan kerinduan apalagi tatapan penuh cinta, melainkan tatapan penuh amarah. Entah apa yang membuatnya semarah ini, pagi-pagi begini?
"Makasud kamu apa, hah?" tanyanya, bentaknya lebih tepatnya.
"Maksud yang mana?" tanyaku tak paham.
"Ngapain kamu wa Ibu, bilang kalau Linda sedang hamil? Apa tujuanmu? Kamu ingin rencana pernikahanku dengan Ririn batal, begitu?" cecarnya dengan wajah merah padam. Aku semakin tak mengerti dengan jalan pikiran laki-laki yang 5 tahun ini hidup seatap denganku. Nyatanya, aku tak mengenalnya sama sekali.
"Harusnya aku yang nanya apa maksudmu, Mas. Yang kamu hamili si Linda, tapi yang kamu nikahi wanita lain. Di mana otakmu, hah?" balasku tak kalah sengit.
"Kamu itu hanya mantan, orang lain! Tak perlu ikut campur urusanku, urus saja dirimu dan anakmu itu!" kulihat kedua tangannya mengepal di samping tubuh, nafasnya memburu.
Kusunggingkan senyum mengejek ke arahnya yang tengah menahan amarah.
"Kamu lupa, talak yang kamu ucapkan baru dua malam lalu? Namun, dengan terang-terangan kamu mengatakan sudah memiliki rencana menikah dengan wanita bernama Ririn. Dan ibumu juga mengatakan bahwa kalian sudah pacaran dari 4 bulan lalu. Wow, keren sekali Anda! Anda tidak takut kalau saya laporkan Anda ke polisi atas kasus perselingkuhan?" gertakku tanpa takut sedikitpun. Dia melotot ke arahku, mungkin tak menyangka aku akan berkata demikian.
"Dan, saat ini ada wanita lain yang mengaku sedang hamil anak Anda dan dia mengakui sendiri kalau dia sudah berhubungan dengan Anda sejak 8 bulan lalu. Apa Anda lupa, saya bisa membawa kasus ini ke ranah hukum atas kasus perzinahan?" lanjutku pelan namun penuh penekanan. Senyum terindah kulukis di wajah manisku melihatnya yang mulai gelagapan.
"Kamu!" tangannya terangkat hendak menamparku, tapi segera ia urungkan karena kini ada beberapa pasang mata yang melihat perdebatan kami dari depan gerbang pabrik.
"Kenapa? Takut dengan mereka? Takut reputasi Anda buruk di mata ribuan karyawan itu?" ejekku.
"Sayangnya, adegan ciuman Anda di lorong dekat ruang mekanik kemarin dengan wanita bernama Linda Sustiani sudah dilihat banyak pasang mata, saudara Bagus Dwi Putra. Bersiaplah, hari ini pasti akan ada berita hot dari seluruh karyawan pabrik." lanjutku lalu kuputuskan membawa langkah menjauh darinya. Tak lagi kupedulikan wajah tampan yang kini pucat pasi itu.
Ternyata, peringatanku untuk menjaga nama baiknya kemarin dianggap angin lalu olehnya. Dan rupanya peringatanku sia-sia belaka, karena nyatanya sang pemilik nama justru membiarkan namanya menjadi tranding dengan melakukan hal bodoh demi menuruti nafsunya belaka. Lihatlah, setelah ini namanya pasti akan tercoreng. Predikat peselingkuh akan menggantikan predikat maintenance teladan yang selama ini melekat padanya.
"Indri! Kalian bertengkar karena kejadian kemarin, ya?" tanya Mbak Nurul dengan nafas ngos-ngosan karena harus berlari kecil demi mengejarku. Ah, rupanya dia melihatku bersitegang dengan mantan di luar tadi.
"Enggak, Mbak. Kenapa memangnya?" sahutku datar, masih mencoba menutupi kabar perceraian kami.
"Jangan bohong! Aku lihat sendiri, si Bagus mau nampar kamu." bantahnya dengan mata memicing.
Kuhela nafas besar, kalau sudah begini apa lagi yang harus ditutupi, kan? Apa kuceritakan saja yang sebenarnya.
"Mbak Nurul, kami--"
"Indri!!" pekikan suara wanita yang memanggilku cukup keras itu membuatku urung menceritakan keadaanku pada Mbak Nurul. Sontak kami berdua menoleh ke sumber suara. Bukan hanya kami berdua, rupanya banyak pasang mata yang tengah antri absen pun juga menatap ke arah wanita itu.
Wanita itu adalah Linda, ya, Linda memanggilku dengan keras hingga menarik perhatian banyak pasang mata. Linda menghampiriku dengan tergesa dan nampak penuh emosi.
Plak,
Seketika tangannya melayang dan menghantam pipi kiriku dengan keras. Saking kerasnya, aku sampai terhuyung. Kudengar Mbak Nurul memekik kaget. Kupengangi pipiku yang terasa panas. Ya Allah, ada apa lagi ini?
???????????????