"Bagaimana, Mas?" tanyaku setelah Mas Rudi memasukkan ponsel ke saku celananya. Kakak kandungku itu menghembuskan nafas kasar. Perasaanku mendadak tidak enak melihat ekspresi wajahnya. "Wulan tidak bisa ke sini, Yu. Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap lagi." "Maksudnya Mas apa?" ucapku lantang. "Ssttt ... Jangan berisik!" ujar ayah dari pasien yang ada di sampingku. Mas Rudi menjatuhkan bobot di kursi samping rajangku. Matanya menatap kakiku lalu beralih menyelami sorot mata ini. Apa maksud Mas Rudi melakukan itu? Harusnya dia mendukungku bukan? Wulan itu ipar yang baik. Pasti dia juga ingin aku kembali padanya. "Wahyu, seorang suami itu harus mampu bertanggung jawab kepada istri dan anaknya. Apa kamu sanggup bertanggung jawab pada Wulan dan Diana? Memberi nafkah yang layak

