"Kalau Diana tinggal satu rumah dengan Naura dan Om Bagus. Apa Diana mau?" tanyaku pelan. Diana diam, berusaha mencerna ucapanku. "Diana tidak mau punya ayah. Diana takut!" ucapnya lalu berlari ke dalam kamar. Ku elus d**a yang kian terasa sesak. Aku tak pernah menyangka perbuatan Mas Wahyu pada kami terutama Diana bisa menorehkan luka begitu dalam. Putriku sampai merasa takut dengan lelaki bergelar ayah. Dalam diam, Diana telah merekam perbuatan kejam ayahnya. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya menumpuk menjadi sebuah kebencian bahkan rasa trauma. Harusnya seorang ayah menjadi cinta pertama bagi anak gadisnya. Menjadi figur yang ia contoh untuk mencari pendamping hidupnya kelak. Bukan justru menjadi rasa trauma seperti yang dilakukan Mas Wahyu. Mungkin lebih baik aku menyendiri

