Mobil Nabila berhenti tepat di rumah mewah dan elegan berdominan putih. Salah satu harta peninggalan mendiang ayahnya. Bayangan Nabila kecil terlintas ketika kaki Nabila menginjak rerumputan dekat pohon hias. Dulu, sewaktu Nabila kecil, Nabila selalu bermain-main bersama mendiang ayah dan ibunya di sini. Nabila mencengkeram dadanya kuat, seandainya mereka masih ada di sini mungkin hidupnya akan jauh lebih menyenangkan. Ia seperti anjing peliharaan, melakukan apa pun atas kehendak tuannya.
Nabila tersenyum kecut, helaan nafas kasar lolos begitu saja. Ia menggeret kopernya kemudian masuk ke dalam rumah tanpa memencet bel terlebih dahulu. Asisten rumah tangga terlihat kaget akan kehadiran Nabila. Dia berjalan takut-takut mendekati Nabila.
"Nyonya Agni mencoba membongkar brangkas Neng Bila," bisiknya. Nabila tersenyum tipis lalu mengangguk-angguk.
"Sekarang dia mana Bi?"
"Nona Vella dan Nyonya Agni pergi berbelanja. Bibi mau ngomong ke Neng tapi Bibi takut," balasnya gugup.
"Iya gak papa, Bi. Bila istirahat dulu ya," pamit Nabila lantas pergi sambil menggeret kopernya.
"Bibi udah buatin makanan buat Neng Bila."
Nabila menghentikan langkahnya. "Saya tidak lapar, Bi. Bungkus makanannya buat anak-anak Bibi, habisin aja semuanya jangan sampe tersisa." Setelah mengatakan itu, Nabila pergi. Inilah yang membuat Nabila lelah, setiap hari ia harus melihat ketamakan dan keserakahan ibu dan saudari tirinya. Mereka berdua baik namun baik saat di depannya saja, saat di belakang kelakuan dan sikap mereka nol besar.
Setiap hari Nabila harus berpura-pura tidak tahu tentang keburukan mereka berdua. Mendiang ayahnya menyuruh Nabila berjanji untuk selalu baik dan menjaga mereka. Janji itu seakan mencekiknya. Sesak saat mengetahui kebenaran kalau ternyata ibu tirinya palsu, dia gila harta. Menikahi mendiang ayahnya semata-mata hanya karena harta.
Nabila selalu menuruti apa yang mereka berdua minta. Bukankah setiap janji harus ditepati? Dan inilah salah satu bentuk kebaktiannya kepada mendiang ayahnya. Semua keuangan diatur oleh Nabila. Ini permintaan pamannya. Pamannya sudah tahu seberapa busuknya ibu tiri Nabila.
Senyumnya terbentuk kembali, melihat kamarnya sangat rapih. Ia tahu, kalau sebelumnya kamar ini sangat berantakan. Di kamar Nabila terdapat CCTV. Setiap Nabila pergi, ia selalu menghidupkan CCTV-nya. Sebuah antisipasi jika suatu saat nanti mereka berbuat di luar batas.
Nabila merebahkan tubuhnya di kasur, menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. "Kenapa saya teh harus berjanji. Saya teh capek!"
Nabila mengambil Handphonenya di dalam tas. Mencari-cari nama kontak Kenaan lalu mengetikan pesan untuk Kenaan.
Kenaan : Saya sudah sampe, Ken
Tidak lama setelah pesannya di baca oleh Kenaan, Handphonenya berdering. Nabila bangkit, ia langsung menerima panggilan Kenaan. "Halo, Ken?"
"Halo Nabila. Kamu sudah sampai? Langsung istirahat ya?"
"Iya Ken, saya sudah sampai. Hm... kamu lagi di kantor?"
"Ah enggak, saya libur. Semua badan saya pada sakit tadi, untungnya Jingga ngurut badan jadi agak enakan."
"Oh, alhamdulillah kalau udah membaik. Jingga emang pinter banget ngurut-ngurut." Nabila tertawa pelan.
"Iya. Yaudah kamu istirahat aja. Kalau kamu mau cerita sesuatu, cerita aja sama saya. Saya mau dengerin, kapan pun."
"Wah, boleh nih? Nanti saya tanya-tanya pendapat kamu boleh?"
Kenaan terkekeh pelan. "Boleh banget. Yaudah kamu istirahat ya, kamu pasti capek banget."
"Iya Ken. Kamu juga istirahat."
"Bye."
"Bye juga Ken."
***
Nabila terbangun dari tidurnya saat merasakan ada seseorang datang mengobrak-abrik kopernya. Ia memijat pelipisnya pelan lalu bangkit melihat siapa gerangan yang datang ke kamarnya. Siapa lagi kalau bukan adik tirinya? Si pemalas, manja dan suka mengadu. Bodohnya Nabila karena tidak mengunci pintu kamar sebelum tidur.
"Dek," panggil Nabila.
"Teteh udah bangun?" Dia berlari, memeluk Nabila erat. "Vella kangen banget sama, Teteh. Hm, Teteh beli oleh-oleh buat Vella gak?"
Nabila mencari-cari ikat rambut di meja rias lalu mengikat rambutnya. Ia merapikan baju-baju yang berserakan akibat ulah adik tirinya. Harus berapa lama lagi ia memendam kekesalannya sendirian. Jangan salahkan Nabila jika Nabila berwajah dua, mereka sendiri yang telah menipunya dengan wajah sok baik mereka. Vella—adik tiri Nabila memberengut kesal, pasalnya ucapan dia diabaikan oleh Nabila.
"Teh!" teriak Vella.
Nabila menghela nafasnya pelan, mengambil paper bag berisikan pakaian yang Nabila beli di Jakarta. Vella mengerutkan dahinya, mengambil paper bag itu lalu mengeluarkan isinya. Vella berdecak, menatap mini dress itu dengan tatapan jijik.
"Ini apa Teteh! Kenapa Teteh beliin aku baju kayak gini?! Aku gak suka! Padahal kalau baju, Teteh juga bisa bikinin buat Vella."
"Vella sayang, Teteh gak tahu harus beli apa di sana. Teteh bingung. Di sana ada kerak telor, emang kamu mau kerak telor?" Nabila memasukkan seluruh pakaiannya ke lemari, memendam seluruh kekesalannya sendirian.
"Tapi Teh, aku dengar jam tangan di sana bagus-bagus. Jangan bilang, Teteh sayang sama duit?" tuding Vella.
Nabila tertawa dalam hati, melihat tingkah adik tirinya. Memang dia pikir, pakaian yang ia beli itu harganya murah? Bahkan pakaian itu bisa membeli 20 bungkus nasi warteg. Dia sangat tidak tahu diuntung, beberapa kali pamannya mengancam ibu dan saudari tirinya tapi mereka mengharapkan pembelaannya. Kalau bukan karena janji, Nabila tidak akan mempertaruhkan kepercayaan pamannya demi membela dua orang tidak tahu diri ini.
Vella memberikan pakaian itu pada Nabila lagi. "Vella gak suka Kak. Disumbangin aja," ucap Vella seenak jidatnya.
"Yaudah, gak papa. Nanti Kakak kadoin aja buat Merrie, dia kayaknya suka sama baju ini," balas Nabila santai, melipat baju itu kembali. "Padahal dress ini cocok sama kamu. Harganya juga lumayan, lebih dari jam tangan punya Teteh." Nabila menunjukkan jam tangan yang ia kenakan.
Mata Vella sontak membulat, menarik dress itu kembali. "Vella suka! Makasih banyak, Teh." Vella memeluk Nabila kembali.
Saat menyebutkan harga, dia akan menerimanya. Barang-barang branded adalah incaran dia. Nabila masih berkuliah, ia tak mampu memenuhi kebutuhan ibu dan saudari tiri serakah dalam satu waktu. Mereka selalu mengancam dengan membawa-bawa nama mendiang ayahnya saat Nabila tak bisa mengabulkan apa yang mereka minta.
"Teteh mau mandi dulu, Dek. Badan Teteh bau." Nabila mendorong tubuh Vella pelan. Vella tertawa riang, melepaskan pelukannya. Dia memandangi dress sampai tatapannya tertuju pada nama sebuah brand yang tengah gadis itu cari.
"Teteh tahu kalau kamu lagi cari brand itu, mangkanya Teteh beliin buat kamu... tapi kamu malah mau nolak," ucap Nabila sedih.
Vella menatap sang kakak dengan tatapan sendu. "Teh, maafin Vella. Vella janji, Vella akan nerima apa pun pemberian dari Teteh."
Nyatanya, kalimat Vella hanya-lah omong kosong. Sudah bosan rasanya Nabila mendengarkan kalimat itu. Tidak ingin memperpanjang obrolan lagi, Nabila menanggapi ucapan Vella dengan sebuah senyuman kecil.
"Iya, Teteh percaya."
Nabila mengambil sebuah jaket pemberian Kenaan ke dalam lemari. Ia mengusap-usapnya bulu-bulunya pelan, mengingat saat-saat Kenaan memberikannya jaket ini. Vella menyerobot jaket miliknya, sontak mata Nabila membulat. Selain tamak, Vella juga selalu menginginkan apa pun yang ia punya.
"Bagus nih, Teh. Baru ya? Boleh buat Vella gak?"
Nabila menggeleng cepat. Ia tidak bisa memberikan barang pemberian Kenaan kepada orang lain. Nabila sudah berjanji untuk menjaga barang pemberian Kenaan dengan sangat baik.
"Gak boleh Vella, itu punya orang," balas Nabila pelan-pelan, berharap dia mau mengerti.
"Bohong! Vella mau ini!"
Astaga anak ini!
Nabila menjambak rambutnya sendiri. "Teteh nanti beliin Vella jaket yang lebih bagus dari pada ini. Sekarang, kembalikan jaket itu," pinta Nabila baik-baik.
"Hm ... janji ya? Yang lebih bagus loh."
"Iya sayang, Teteh janji." Vella tersenyum kemudian melempar jaket itu tepat mengenai wajah Nabila.
"Makasih ya, Teh," teriak Vella setelah itu pergi meninggalkan kamarnya.
Nabila mengunci pintunya rapat-rapat, menyandarkan tubuhnya di pintu. "Astagfirullah. Saya teh punya dosa besar apa? Sampe-sampe hidup saya jadi kayak gini."