12. Lupa bales

1171 Kata
Kenaan mengecek Handphone berulang kali, berharap ada pesan Nabila tapi nyatanya tidak. Jangankan pesan, sapaannya saja tidak dibalas jelas-jelas dia online.  Kenaan menghela nafasnya gusar. Kakinya melangkah menuruni anak tangga dengan tak bersemangat. Berusaha untuk tetap berpikir positif kenapa Nabila tidak membalas sapaannya. Dia mungkin terlalu sibuk, sampai-sampai dia tidak bisa membalas pesannya. Keluarga Wijaya sedang berkumpul di meja makan. Mereka diam, tidak menyantap hidangan. Melihat wajah ayahnya yang tampak kelaparan. Ia tahu keluarga ini tidak akan makan sebelum semuanya berkumpul dan—dengan santainya Kenaan berjalan bak semut tadi? Pelan-pelan Kenaan mendudukkan bokongnya di kursi. Sontak semuanya menatap ke arah Kenaan. Ia menelan saliva kasarnya, melihat tatapan Aditya membuatnya bergidik ngeri. Aditya seakan ingin melahapnya, seperti macan yang ingin memburu mangsanya. "Kenapa kalian tidak makan duluan?" tanya Kenaan sok polos. Aditya tertawa pelan. "Sudahlah Kenaan kau tidak perlu bertanya seperti itu. Kau lupa aturan keluarga ini?" "Astaga! Untuk apa ditegakkan lagi setelah sekian lama aturan itu menghilang?" Kenaan mendengus kesal sementara Aditya masih menatap anak kandungnya tajam. Lessie, Jingga dan Jino diam, menyaksikan perdebatan antara ayah dan anak. "Sudah, sekarang kita makan!" perintah Aditya mengakhiri perdebatan. Dirasa sudah tahu ujungnya akan seperti apa jika terus-terusan berdebat dengan Kenaan. "Jino kau tidak mau bekerja dengan Papa?" tanya Aditya pada Jino. Semuanya sibuk memakan santapannya tak ketercuali Jino, dia menghentikan aktivitasnya. Jino menggeleng pelan. "Tidak Pah. Jino sudah nyaman dengan pekerjaan Jino sekarang." Aditya mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah Jino. Papa tidak akan memaksa." Kenaan melirik Jino sekilas. Pria itu tampak sangat tenang menyikapi ayahnya. Setelah melihat Jino berduaan dengan Nabila, entah kenapa ia menjadi sedikit benci. Kepribadian dia sangat memuakan. Bukan karena dia dekat dengan Nabila saja melainkan dia pernah kabur dari rumah dengan alasan tak tahan hidup miskin. Meski pun dia sudah meminta maaf dan berjanji, tapi tetap saja melihat wajahnya membuat Kenaan naik pitam. "Dan kau Kenaan. Tingkatkan kinerjamu! Kalau tidak Papa turunkan jabatanmu menjadi karyawan biasa!" ancam Aditya membuat Kenaan tersedak. Cepat-cepat Kenaan meminum segelas air sampai habis kemudian menatap Aditya tajam. "Kalau sampai itu terjadi, Kenaan—" "Apa?! Mau berhenti kerja?!" potong Aditya seakan sudah tahu apa yang ingin anaknya ucapkan. "Bukan! Kenaan akan meningkatkan kinerja Kenaan," sela Kenaan. "Huh!" kompak Aditya dan Lessie sementara Jingga dan Jino masih menikmati makanannya. "Kenapa?" "Kok tumben!" seru Aditya. "Iya, tumben," timpal Lessie. "Kalian mau Kenaan berhenti kerja? Kalau gitu—" "Eh enggak dong Ken! Mau dikasi makan apa nanti anak istrimu. Papa tuh cuma kaget sama kamu, biasanya kan kamu ngancem bakal berhenti kerja," sentak Aditya. Lessie tersenyum. "Bagus dong Ken. Kamu benar-benar sudah dewasa sekarang." "Jadi, selama ini Ken dianggap anak-anak?" tanya Kenaan emosi. "Ya Tuhan! Kamu itu lagi PMS? Ini salah dan itu salah," geram Aditya berancang-ancang melempar sendok ke arah Kenaan. "Kak Ken galau karena Teteh Bilanya pergi," gerutu Jingga dibalas pelototan oleh Kenaan. "Apa?" beo Aditya. "Jingga!!" *** Setelah jam kuliah sudah selesai, Nabila memutuskan untuk pergi ke sebuah ruko kecil tempat para pegawainya bekerja. Di tangannya sudah terdapat beberapa lembar desain pakaian untuk diberikan pada pegawainya nanti. Alih-alih masuk, ia tiba-tiba dikagetkan dengan keberadaan seseorang. Matanya sontak membulat, kertas-kertasnya berhamburan di udara. Melisha— sahabat Nabila cekikikan. Dia berdiri di depan pintu, seolah tahu detik-detik Nabila datang. Meli membereskan kertas-kertas desain Nabila setelah itu meletakannya di meja. Nabila mengusap-usap dadanya, masih belum bisa menerima respon apa pun. "Ck, Bil. Lo itu kenapa? Pasti bengong-bengong ya? Astaga—masih muda loh Bil," oceh Meli menatap Nabila dari atas sampai bawah. "Saya buru-buru, Meli. Kamu gak ngerti?" Meli mengangguk-ngangguk pelan seraya mengambil desain pakaian Nabila. Ia meneliti, dari titik dan garis serta warna. Kakinya mengetuk-ngetuk ke lantai, tampak berpikir keras. "Sebenernya desain-desain kamu tuh patut diacungi jempol. Saya bener-bener kagum punya temen berbakat kayak kamu," puji Meli kembali meneliti gambar-gambar Nabila. Menirukan seorang Apresiator seni rupa. "Oh, iya. Sesuai permintaan tuan putri Bilbil. Gue bawa 2 orang pegawai baru. Ayo Bi." Meli menyuruh dua pegawai baru untuk menghampirinya. Kedua wanita berumur 20 tahunan menghampiri Meli dan Nabila. Mereka sepertinya lebih muda dari pada Nabila. "Ini Rena dan ini Vindi," ucap Meli sambil menunjuk kedua wanita itu bergantian. Nabila tersenyum ramah, kepalanya sedikit mengangguk memberikan sapaan. "Rena tugasnya mengepack sambil mengontrol penjualan aplikasi online dan Vindi menjahit sesuai rancangan lo." Nabila tersenyum, ia sangat bersyukur mempunyai teman yang baik seperti Meli. Dia selalu memberikan semangat dan membantunya dalam menyelesaikan masalah. Meli sangat frontal ketika berbicara, dia juga sangat kritis. Banyak orang yang menilai, dia sombong dan arogan tapi pada nyatanya dia baik. "Kalian gak kuliah?" Vindi terkekeh pelan. "Jangankan kuliah atuh Teh. Sekolah aja kami mah cuma sampe SMP, gak ada biaya. Sekarang teh, nyari kerja sulit pisan." "Nah betul eta teh. Mangkanya kami teh bersyukur diterima kerja di sini. Dari pada nganggur di rumah," timpal Rena. "Saya juga senang kalian mau kerja di tempat kecil-kecilan kayak gini. Semoga ke depannya maju terus," tutur Nabila. "Aamiin!" Kompak Meli, Vindi dan Rena. "Yaudah, saya sedikit jelasin ya mekanismenya," ucap Nabila dibalas anggukan oleh Rena dan Vindi. *** "Lo tuh seharusnya jangan terlalu capek Bil." Nasihat Meli menepuk bahu Nabila pelan. Nabila menghela nafasnya panjang. Setelah menjelaskan mekanisme pada pegawai baru, Meli langsung menyeretnya ke kedai kopi tak jauh dari ruko. Sebanyak apa pun usaha Meli untuk bisa menenangkannya tapi selalu gagal. Nabila tidak akan pernah tenang, sebelum semua pekerjaannya selesai. "Kamu udah baik sama saya, Meli. Saya—hidup saya bener-bener rumit saya capek." Meli tersenyum miring. "Si b*ngsat tiri?" "Meli!" tegur Nabila tak suka jika ada orang yang berbicara kasar di depannya, walau pun u*****n itu bukan untuknya. "Lo gak ada niatan buat ikutin usul om lo? Dia benci banget kayaknya sama ibu tiri lo." "Om Hendra pasti kecewa banget sama saya." Nabila menundukkan kepalanya. "Almarhum abi nitip pesan ke saya kalau saya teh harus jaga mereka berdua. Janji itu— buat saya kecekik." Meli berdecak. "Almarhum abi lo sekarang pasti tahu kelakuan mereka, Bil. Mungkin beliau narik ucapan dia dan merasa bersalah. Oh, C'mon Nabila sayang ... lo itu udah dewasa. Gak capek?" "Saya sudah tetap dengan tekad saya Meli. Janji itu hutang, saya gak mau ngecewain beliau," tegas Nabila. "Oh ya ampun...." Meli mengusap wajahnya gusar, menatap wajah Nabila lelah. "Okay, terserah lo. Gue bakal selalu dukung lo." "Makasih banyak Meli." Meli mengangguk. "Btw, lo kemarin ke Jakarta? Ketemu si ganteng dong?" "Adnan?" "Iyalah siapa lagi!" "Udah punya pacar." "Iya tahu." "Terus?" "Ya, gue bakal tetep setia nunggu dia putus sama siapa— si manis?" "Mentari." "Nah itu. Ngomong-ngomong Nabila... lo liburan ke mana aja? Terus sama siapa? Pasti bosen." Nabila terdiam, tiba-tiba ia teringat Kenaan. Seharian ini ia tidak membuka-buka Handphonenya. Saking pusing dengan pekerjaannya, ia melupakan teman barunya. Bukannya menjawab, Nabila cepat-cepat mengambil Handphonenya. Ternyata ada beberapa pesan muncul. "Gue lagi nanya loh, Bil. Lo seriusan ngacangin gue?" "Sebentar." Nabila melihat pesan Kenaan. Senyumnya terbentuk, ia segera mengetikan balasannya. Kenaan : Selamat pagi^^ Kenaan : Sibuk banget ya? anda : Maaf ya Kenaan baru bales? anda : Selamat sore Kenaan:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN