13. Ulang Tahun Abi

1092 Kata
Hari ini adalah hari jadi mendiang ayahnya. Hampir 5 jam hujan deras mengguyur kota Bandung. Sejak jam 1 sampai jam 5 pagi, seolah tahu hari ini adalah hari istimewa untuk mendiang ayahnya. Selepas hujan, mentari naik dan mengeluarkan sinarnya. Segores pelangi telukis indah di langit, terlihat jelas di balik jendela kamarnya. Bingkai foto mendiang ayahnya mendekam erat dipelukan Nabila. Ibu dan saudari tirinya berpura-pura bersedih. Mereka bisa melakukan drama yang cukup bagus sampai air mata Nabila menetes. Saking bagusnya, ia ingin mengirim mereka ke dunia sinetron. Nabila berdiri di balkon, pikiran kosong memandang luruh ke depan. Bingkai foto mendiang ayahnya masih dipeluknya. Ia sudah lelah terus menerus mengeluarkan air mata. Sampai pagi ini, demi lilin yang sudah mencari, ia berjanji akan selalu menyibukkan dirinya sendiri sampai ia tidak mempunyai waktu sekadar makan bersama di rumah. Nabila muak, ia sudah membenci dunianya. Kapan semua ini akan berakhir? Rasanya Nabila ingin pergi dari sini. Udara dingin bak es menjadi ciri khas kota Bandung. Syal panjang serta jaket pemberian dari Kenaan melekat di tubuhnya. Sangat cocok sekali dipakai saat cuaca seperti ini. Bibir Nabila beku, setiap embusan nafas yang keluar dari mulut akan berubah menjadi asap. Nabila masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kaca pembatas balkon. Ia meletakan bingkai foto itu di meja belajar setelah itu duduk di depan kue tar yang sudah hancur akibat cairan lilin. Air matanya luruh seketika, bayangan mendiang ayahnya muncul. Dulu, sebelum mendiang ibunya meninggal, keluarga ini baik-baik saja. Kebahagiaan serta keceriaan turut menyertai kelengkapan keluarga kecil Nabila. Sampai pada akhirnya—ibunya meninggal terkena serangan jantung. "Nabila gak boleh nangis." "Nabila gak boleh sedih, nanti Abi beliin boneka." "Abi akan selalu dukung kamu, kamu gak perlu sedih. Kampus itu bagus buat kamu, Abi bangga sama kamu." "Abi mau Nabila janji... janji selalu jaga ibu dan saudari tiri kamu. Nabila harus janji sama Abi." Nabila menutup kedua telinganya. Menangis terisak sambil memukul-mukul meja. Suara-suara mendiang ayahnya muncul dan itu membuat Nabila merasa sakit. Hari ini, ia akan pergi ke rumah pamannya. Hanya dialah satu-satunya orang yang mengerti dirinya, ia akan menjelaskan semua pada pamannya. Semoga saja dia bisa mengerti dirinya. "Happy milad abi! Happy birthday kesayangannya Bila. Semoga abi udah bahagia ya di sana, Bila cuma berharap bisa kumpul lagi sama abi dan umi nanti di surga," ucap Nabila seketika suasana menjadi hening. Tirai jendela bergoyang dengan sangat kencang, embusan angin dari luar masuk ke dalam kamarnya. Nabila berdiri, mengangkat kue tarnya kemudian keluar dari kamarnya. "Neng Bila?" panggil Bi Rahmi—asisten rumah tangga di rumah ini berlarian ke arahnya. Nabila membalikkan badannya. "Kenapa Bi?" "Neng mau buang kuenya kan?" Nabila mengangguk. "Boleh buat Bibi gak kuenya? Dari pada dibuang nanti jatuhnya mubazir." Nabila tersenyum tipis. "Ini udah hancur Bi, udah kena lelehan lilin. Kalau mau saya bisa beliin kue kayak gini buat Bibi." Bi Rahmi menggeleng keras. Setiap tahun memang selalu seperti ini. Nabila akan merayakan ulang tahun kedua orang tuanya dengan membeli kue tar setelah itu membuangnya. "Gak usah atuh Neng. Kalau kuenya dibuang nanti Neng kena dosa, karena udah buang-buang makanan. Buat Bibi aja ya?" "Yaudah deh, Bi. Nabila gak bisa nolak kalau gitu hehehe." Nabila memberikan kue tar itu pada Bi Rahmi. Dengan wajah berseri-seri Bi Rahmi menerima kue itu. "Ulang tahun Merrie sebentar lagi kan? Nanti ajak ke sini ya Bi. Saya mau ngasih sesuatu." "Eh, iya Neng... tapi saya enggak enak. Masa iya setiap tahun, Neng Bila selalu kasi kado buat anak saya." Nabila menggeleng sambil terkekeh pelan. "Gak papa atuh Bi. Anak Bibi udah saya anggap adik." "Ah jangan-lah, Neng. Nanti nyonya marah-marah sama saya." "Kalau marah bilangin sama saya ya. Kalau gitu, saya mau keluar dulu," pamit Nabila seraya mengunci pintu kamar. "Iya hati-hati ya, Neng. Semoga lancar urusannya." "Aamiin, Bi. Alhamdulillah, kalau Mama tanya saya ke mana jawab aja ke ruko ya?" "Siap, Neng." *** "Kamu tahu 'kan? Kamu itu anak satu-satunya Kang Varo. Kamu harus bisa berpikir dewasa! Om kayak gini karena Om sayang sama kamu." Nabila menundukkan kepalanya, mendengar semua amarah dan nasihat pamannya. Di kediaman keluarga pamannya, Nabila disambut dengan sangat baik terlebih lagi bibinya. Namun—setelah pamannya melihat Nabila di sini, keluarlah ocehan panjang nan lebar. Nabila hanya bisa diam dan mendengar semuanya. Hendra—paman Nabila menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Sudah puluhan kali Hendra menasihati Nabila agar tidak bersikap santai pada lintah darat seperti Agni—ibu tiri Nabila tapi Nabila masih saja berpegang teguh pada keputusan dan janji. Perdebatan dari dua bulan yang lalu menciptakan konflik besar hingga keluarga Hendra tak memunculkan wajahnya di depan Nabila sebelum Nabila sendiri yang datang ke sini. "Tapi Om ... Nabila sudah—" "Janji! Demi Tuhan Nabila! Abimu juga akan menjilat air liurnya sendiri saat tahu seberapa busuknya istri barunya!" potong Hendra tegas. Ani— istri Hendra menggenggam tangan Hendra, mengode dia agar tidak terlalu keras di depan Nabila. "Maaf Om... Bila akan tetap menepati janji Bila sampai Bila sarjana nanti. Setelah itu, Bila akan pindah ke Jakarta tinggal sama Adnan." "Membiarkan rumah almarhum abimu dikuasai lintah itu?" Hendra tersenyum sinis. "Nabila ke sini ingin memperbaiki hubungan Bila sama keluarga Om, bukan nambah masalah," ujar Nabila menundukkan kepalanya. "Nabila— minta maaf. Nabila pikir setelah Nabila datang ke sini, perasaan Nabila akan membaik tapi salah ternyata memburuk. Kalau gitu, Nabila pamit Om." Nabila berdiri, hendak pergi namun Hendra menhadang Nabila. "Nabila! Duduk!" perintah Hendra. Nabila menatap Hendra lalu kembali duduk, ia tak berani membantah ucapan Hendra. Beliau adalah adik dari mendiang ayahnya. Wajah dan sifatnya hampir sama dengan mendiang ayahnya. Maksud kedatangannya ke sini bukan untuk menambah keributan dan memperburuk suasana. Nabila mendudukkan kepalanya. Mengusap-usap telapak tangannya, menghindari kegugupan. "Maaf," lirih Nabila. "Sepertinya kamu sedang banyak masalah, Nabila. Maafkan saya karena sudah menambah masalahmu. Saya tahu kamu ke sini ingin mengurangi bebanmu," ucap Hendra penuh dengan perasaan bersalah. "Maafkan kami, Nabila. Kamu pasti merasa asing dengan kami," sahut Ani duduk di samping Nabila. Ani menggenggam sebelah tangan Nabila. "Kamu bisa cerita sama Tante." "Nabila juga salah," lirih Nabila. "Semua hak dan keputusan ada di kamu Nabila. Kami tidak bisa memaksa-maksamu lagi... kapan pun kamu butuh kami, kami siap," tutur Hendra. "Makasih banyak, Om, Tante." Hendra dan Ani tersenyum. "Apa pun. Kami, sudah Nabila anggap seperti anak kami sendiri. Apa pun untuk kamu," balas Hendra. "Oh iya, Nabila?" Nabila mendongkak, menatap Hendra. "Iya, ada apa Om?" "Hari ini Regar pulang. Saya nyuruh Regar tinggal sama kamu, biar kamu gak kesepian lagi." Nabila menggeleng. "Gak usah Om. Nabila gak mau—" "Sstt... Regar sendiri yang ngusulin ini. Gak boleh nolak, biar dia jagain kamu di sana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN