Benar ternyata, Regarsya Leysam— kakak sepupunya datang hari ini. Dia dengan tampang berwibawa, mengeret-geret koper besar sambil membawa beberapa paper bag. Tak sadar akan kehadiran Nabila, dia membagi-bagikan beberapa paper bag kepada adik-adiknya. Senyum Nabila mengembang, menatap punggung pria itu. Sudah lama sekali rasanya ia tak bertemu dengan pria itu. Seorang pria humoris berskala rendah untuk tingkat kelucuannya. Pria itu berbalik, menatap Nabila seakan musuhnya.
Regar—pria itu berjalan mendekat ke arah Nabila. Pelan dan pelan, menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Nabila menelan salivanya kasar. Matanya mengerjap-ngerjap, nyalinya menciut. Regar berhasil membuat Nabila ketakutan.
"Si Nabila ‘kan ya?" tanya Regar menoleh ke arah Hendra.
Hendra mengangguk. "Iyalah! Masa kamu gak kenal! Jahat banget."
"Oh iya, makin cantik ya?" puji Regar menatap Nabila kembali. Wajah Nabila tersipu malu, pasalnya Regar memujinya di depan keluarga Hendra. "Udah punya pacar nih pasti."
Nabila terkekeh pelan lalu menggeleng. "Enggak kok A', Nabila belum punya pacar... tapi—" Nabila mendekatkan wajahnya ke telinga Regar. "Punya gebetan, hahaha." Lanjutnya berbisik, sedikit menjauh dari Regar.
Regar menatap Nabila datar. Tidak ada yang lucu lantas kenapa Nabila tertawa? Jangankan gebetan, pacar pun ya tidak masalah. Toh umur Nabila sudah pantas memilih-milih calon. Nabila menepuk bahu Regar pelan, sedikit menunjukkan smirk pada Regar.
"Aa, teh gak punya pacar atau gebetan ‘kan? Kalau mau cari yang lokal aja... cintai negara sendiri."
Regar berdecih. "Saya punya pacar bule, kamu mau apa huh? Bagus dong, memperbaiki keturunan."
Ani, Hendra dan 2 anak perempuannya terbengong-bengong menyaksikan perdebatan antara Nabila dan Regar. Tidak heran, melihat mereka berdua berdebat karena sedari dulu mereka berdua sering bertengkar dan beradu mulut. Pada awalnya, Nabila terlihat canggung dan merasa asing saat melihat Regar tapi sekarang— kembali seperti dulu. Hendra berharap, datangnya Regar bisa membasmi hama di rumah Nabila.
"Saya izin mau tinggal di rumah kamu, Nabila," ujar Regar.
Nabila tersenyum kemudian mengangguk. "Iya boleh. Tadi, Om sama Tante bilang."
"Mau kapan? Saya kok gak sabar ya liat rumah almarhum Om Varo," sahut Regar antusias.
"Aa pasti capek. Istirahat aja dulu, nanti agak sorean baru ke rumah Bila."
"Oke sip."
***
Angin sepoi-sepoi bersilir-silir menerpa wajah Nabila. Setelah berpamitan dengan keluarga Hendra tadi, Regar langsung mengambil alih mobilnya. Kaca mobil dibiarkan terbuka, menikmati setiap embusan angin sore. Cuaca sedang bagus-bagusnya sore ini, langit berwarna Jingga mendominasi bumi Bandung. Sebulan tinggal di Jakarta membuat Nabila merindukan kota kelahirannya.
Handphone Nabila tiba-tiba berdering. Ia mengambil Handphonenya di dalam tas kecil dan melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Regar melirik Nabila. "Siapa?"
"Kenaan."
"Siapa Kenaan?"
"Nanti saya jelasin." Nabila menggeser tombol hijau ke samping, meletakan Handphonenya di telinga.
"Halo, Kenaan?"
"Halo. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, saya baik. Kalau kamu?"
"Iya. Saya juga baik. Gimana hari ini?"
Nabila melirik Regar sekilas. Ia mengambil anak rambutnya, menyelipkannya ke belakang telinga. "Baik. Hari ini saya main ke rumah sodara saya."
"Kamu gak keberatan kan, kalau saya telepon setiap hari kayak gini?"
Nabila tersenyum. "Iya gak papa, kok. Nabila seneng."
Seketika hening. Nabila diam dan Kenaan pun diam. Nabila bingung, ia harus bertanya apa pada Kenaan. Jujur saja, ia merasa canggung apa lagi di sampingnya ada Regar. Suara ketikan mulai terdengar di seberang sana.
"Nabila? Saya lihat, kamu sudah menambah dua karyawan baru."
"Eh, iya Ken. Alhamdulillah, teman saya yang ribut nyari pegawai."
"Bagus deh."
"Kamu lagi kerja?"
"Enggak. Cuma lagi revisi tugasnya si Jingga. Dia lagi sakit tapi dia maksa-maksa buat ngerjain tugas ya akhirnya saya ambil laptopnya," cerita Kenaan.
"Mentari sakit?"
"Iya. Mungkin baru kerasa capeknya setelah pesta." Kenaan tertawa pelan.
"Nabila, kita berhenti di mini market depan ya?" ucap Regar dibalas anggukan oleh Nabila.
"Yaudah Ken. Saya matiin ya. Titip salam buat Mentari, bilangin jangan capek-capek."
***
"Nabila, kita berhenti di mini market depan ya?" ucap seseorang lelaki di seberang sana. Kenaan terdiam sejenak, suara lelaki? Siapa? Dari suaranya Kenaan bisa menebak kalau dia sebaya dengannya. Saat mendengar suara itu, hati Kenaan sesak. Secepat inikah ia merasa cemburu?
"Yaudah Ken. Saya matiin ya. Titip salam buat Mentari, bilangin jangan capek-capek."
Bahkan Nabila ingin mematikan sambungan teleponnya. Ia tersenyum kecut. "Iya, nanti saya salamin."
Tut
Kenaan diam termenung, menatap nama kontak Nabila. Pikiran negatif mulai bergelung di otaknya. Apa sebenarnya Nabila sudah memiliki seorang kekasih? Atau— itu salah satu temannya? Ia berharap kalau lelaki itu hanya memiliki hubungan, tidak lebih dari teman atau mungkin saudara. Kenaan menghela nafasnya kasar, ia mencoba untuk berpikir positif dengan kembali merevisi tugas adiknya.
***
Nabila dan Regar membeli beberapa camilan dan bahan-bahan memasak seperti; sayur, bumbu-bumbu dapur, daging, ayam dan lain-lain. Tidak ada yang menyangka, seorang Regar si pemilik wajah dingin nan menyeramkan memiliki sifat hangat dan humoris, satu lagi—dia sangat suka makanan. Kata Regar tubuh atletiknya itu karunia dan berkat Tuhan, sebanyak apa pun dia makan tubuhnya tidak akan berubah menjadi gendut. Itu hanya sebuah pemikiran Regar, mungkin saja tubuh dia sedang beruntung.
Regar mengambil beberapa bungkus makanan ringan lagi dan memasukkannya ke dalam keranjang. Nabila menggeleng-gelengkan kepalanya. "A' kamu teh gak mau sekalian beli tempat ini?" tanya Nabila dengan wajah serius.
Regar tertawa. "Kalau saya beli tempat ini, saya bisa bangkrut Nabila. Makanan di sini bisa abis sama saya."
Nabila mendengus kesal, mendorong troli ke arah kasir. Ia tidak bisa menebak-nebak, akan jadi apa nanti setelah tinggal bersama Regar. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, melihat super market ini semakin ramai pengunjungnya. Nabila berada di antrean paling terakhir, tepat di belakang seorang lelaki berperawakan jangkung. Tidak biasanya super market ini ramai pengunjung. Matanya menangkap sebuah poster di depan kasir, poster itu bertuliskan 'Happy birthday! Disc. 10% setiap pembelian minimal 300 ribu' Nabila mendengus, pantas saja ramai sekali.
Nabila tersentak kaget melihat Regar memasukkan beberapa minuman botol ke dalam troli. Baru saja ia hendak mengomel, Regar lebih dulu membungkam mulut Nabila. "Diem! Gak usah banyak protes! Saya yang akan bayar... gak liat apa lagi diskon?"
"Iya tahu tapi—“
"Jangan banyak protes bisa?" sela Regar. "Bye the way, Ini kita kapan selesainya? Kok panjang banget kayak ngantri sembako. Kalau kayak gini terus, lama-lama kaki saya bengkak." Regar menggerutu sambil menatap kesal ke arah kasir. Nabila terkekeh, mendengar gerutuan Regar.
"Sabar atuh."
"Tadi yang telepon, gebetan kamu ya?" tanya Regar tiba-tiba.
Nabila diam sejenak. "Sebenarnya saya teh gak punya gebetan, cuma sekadar suka aja. Gak tau deh, dianya suka atau enggak."
Regar mengetuk-ketukan jari telunjuknya ke dagu, berpura-pura berpikir. "Kayaknya dia suka sama kamu. Siapa? Kasih tahu dong," desak Regas menaik turunkan alisnya. Nabila menutup matanya pelan, selintas wajah Kenaan muncul membuat pipi Nabila memanas.
"Lah kok malah mesem-mesem? Mana mukanya merah gitu."
Nabila menutup wajahnya malu. "Ih... malu A' udah atuh."
"Lah? Beneran suka nih kamu. Saya takutnya cuma kamu doang yang suka hahaha. Duh jadi inget lagu pupus dari hanin dhiya."
Nabila memutar bola matanya malas. Yang dikatakan Regar benar, ia tidak tahu Kenaan mempunyai perasaan yang sama atau tidak? Bisa jadi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Kenaan hanya menganggapnya sebagai sahabat dan itulah kenyataannya. Sikap lembut, peduli dan baik Kenaan telah disalah artikan olehnya. Kenaan sudah masuk ke dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, ada orang yang bisa membuatnya gila seperti ini.
"Masih satu kampus?"
"Enggak A' dia tinggal di Jakarta."
"Oh... Jakarta toh. Susah dong buat ketemu?"
Nabila mengangguk lemah. "Iya. Susah banget. Bila cuma ke sana pas liburan semesteran doang."
"Kasian adek Aa. Yaudah jangan sedih, Aa yakin kok, dia juga suka Nabila. Siapa sih yang gak suka sama Nabila cantik ini," goda Regar mencubit pipi Nabila.
"Aa!!"
***
Nabila masuk ke dalam rumahnya. Langkahnya terhenti ketika melihat banyak orang berkumpul di ruang tamu. Mereka adalah teman-teman Vella—adik tirinya. Hampir setiap hari libur teman-teman Vella datang untuk menginap. Nabila tidak pernah sekali pun melarang Vella, ia tahu anak itu tidak akan pernah mendengarkan ucapannya. Tanpa menyapa mereka terlebih dahulu, Nabila langsung melewati mereka begitu saja.
"Teh Nabila? Udah pulang?" tanya Vella menghentikan langkah Nabila.
Nabila menghela nafasnya pelan kemudian berbalik. "Iya Dek. Teteh capek, mau ke kamar dulu ya?"
"Iya Teh. Oh iya, temen-temen Vella boleh nginep di sini kan?"
Nabila tersenyum. "Boleh. Kalau gitu, Teteh pamit pergi dulu ya?" pamit Nabila bergegas menuju kamarnya.
Vella duduk, matanya masih setia menatap punggung kakak tirinya yang semakin menjauh. Eren—salah satu teman Vella menepuk-nepuk bahu Vella pelan, matanya tertuju ke arah Nabila sebelum Nabila benar-benar menghilang. Vella mengerutkan dahinya, menatap Eren dengan tatapan bertanya.
"Teh Nabila kayak capek banget ya?"
"Iyalah! Tetehku itu punya butik sendiri, ngurus toko online sama kuliah. Kamu pasti iri karena gak punya kakak baik kayak Teh Nabila," balas Vella membanggakan diri.
"Iyaya... enak banget kamu Vel, punya kakak yang baik terus penyayang. Mau apa-apa dibeliin," sahut Fitri, perempuan berambut hitam terurai.
Vella melipat tangannya angkuh. "Vella gitu loh."
"Terus lagi bisa disuruh-suruh hahaha. Padahal cuma kakak tiri tapi baik baik banget," timpal Eren sambil tertawa.
"Iya baik sama g*blok juga hahaha," balas Vella tidak menyadari kalau sedari tadi ada yang berdiri di samping mereka. Eren menoleh, matanya membulat kaget. Dia menepuk-nepuk bahu Vella keras, yang ditepuk pun ikut menoleh. Tak hanya Vella, Fitri pun ikut menoleh. Sontak mereka berdiri, menatap takut ke orang itu.
"Si-siapa?! Pencuri ya?"
Pria itu Regarsya. Tatapan setajam silet serta wajah sedingin es itu menatap ke arah Vella. Regar tersenyum devil, dia pikir—dia siapa yang bisa seenaknya bertindak dan menjelek-jelekan si pemilik rumah. Regar berdecih sambil melipat kedua tangannya di d**a.
"Si—siapa? Maling ya? A-aku telepon polisi!" Vella mengeluarkan Handphonenya dari saku. Kedua teman Vella bersembunyi di belakang Vella, tubuh mereka bergetar ketakutan.
"Mulai sekarang, saya yang akan mengatur semuanya di sini," tegas Regar melangkah mendekati Vella. Ia mengangkat dagu Vella agar dia mendongkak ke arahnya. "Jangan kamu pikir bisa seenaknya di rumah ini. Usir mereka dari sini atau—saya yang mengusirmu dari sini. Mengerti?"
Vella mundur beberapa langkah, kepalanya menggeleng cepat. "Rumah ini punya Teh Nabila sama mama. Kau siapa?!"
"Sudah saya katakan! Kalau saya pemilik rumah ini! Kalau kau masih ingin tinggal di sini, kau tidak boleh seenaknya. Sekarang pilih! Mereka pergi atau kau yang pergi!" bentak Regar emosi. Ia tahu semuanya dari Hendra kalau keluarga tiri Nabila sudah bersikap semena-mena dan lihat saja, baru ia menginjakkan kakinya ia sudah mendengar kata-kata kotor. Lihat saja, apa yang bisa ia lakukan.
"Ve-Vela... aku pergi aja deh," ucap Fitri ketakutan.
"Iya. Aku— aku mau pulang aja," sahut Eren tak lama dia berlari keluar diikuti oleh Fitri.
"Eren! Fitri!" panggil Vella ketakutan. "Vella mau bilang ke Teteh Nabila!" Saat Vella hendak pergi, Regar terlebih dahulu mencengkeram lengan Vella hingga si empunya mengerang kesakitan.
"Saya tidak akan membiarkan gadis sialan sepertimu ada di rumah ini. Lihat saja, dalam 1 bulan saya sudah bisa pastikan kalau kamu dan ibumu akan pergi dari rumah ini."
Vella menelan saliva kasarnya. Ia berontak ingin dilepaskan tapi, semakin ia berontak pria itu akan semakin mengeratkan cekalannya. "Aws... ampun! Iya, iya! Vella gak akan bilang siapa pun hiks."
"Bagus! Tutup mulutmu atau mulutmu akan tak berwujud lagi!" ancam Regar mendorong Vella ke lantai.
Vella menangis tersedu-sedu, mengusap-usap pergelangan tangannya. Sakit, pria itu dengan teganya mencederai lengannya. Mungkin ia akan kesulitan makan atau menulis.
"Sa—sakit hiks... teteh, mama," panggil gadis itu lirih.
Regar tersenyum sinis. "Selamat! Saya akan tinggal di sini sampai ku puas menyiksamu," bisik Regar.