Setelah menghabiskan bubur ayam, Nabila langsung kembali ke rumah. Pikiran yang biasanya terfokus pada Regar kini beralih pada Kenaan. Seumur hidup, ia belum pernah menyesal sampai seperti ini. Berkali-kali, Nabila mengecek Handphone, berharap kalau Kenaan akan meneleponnya. Bukannya Nabila ingin pergi jalan-jalan bersama Kenaan tapi—Nabila merasa Kenaan marah padanya. Tidak ingin berlarut-larut dalam penyesalan, ia merebahkan tubuhnya di kasur halus nan lembut miliknya. Detikan jam dinding dan dengungan AC seakan menjadi fokus utama pendengaran Nabila. Kelopak matanya tertutup perlahan. Saat menutup mata, Nabila menemukan sesosok Kenaan. Ia berdecak kesal kemudian bangun dari posisi tidurannya. "Astaga Nabila! Udah atuh jangan terlalu kayak gini. Bisa-bisa kamu gila!" cetus Nabila samb

