9. Kenaan nyaman

1149 Kata
Acara ulang tahun Jingga berlangsung dengan sangat meriah. Nabila sangat menikmati pesta yang diselenggarakan oleh keluarga Kenaan. Ia hanya diam di kursi, memperhatikan kebahagiaan Jingga dari kejauhan. Saat ia sedang asyik menatap Jingga tiba-tiba lengannya di tarik orang seseorang. Orang itu adalah Kenaan, dia menariknya ke arah kolam renang. Nabila diam tak berontak atau pun berkomentar, percuma saja kalau ia banyak bicara toh tidak akan terdengar. Suara bising lagu menggema akan kalah dengan suara kecil Nabila. Kenaan menghentikan langkahnya, tepat di tepi kolam renang. Sinar rembulan memantul dan bersinar di atas genangan air. Wajah Kenaan bersinar, terkena pantulan dari cahaya rembulan. Dia melepaskan cekalannya, menatap Nabila dalam diam. "Nabila," panggil Kenaan lirih. "Iya, Ken? Kenapa?" "Kamu pergi besok?" Nabila mengangguk ragu. Kenaan mengembuskan nafasnya panjang, tangannya terulur menyentuh bahu Nabila. "Saya sudah nyaman sama kamu Nabila. Bolehkah saya sering menghubungimu nanti?" "Boleh kok Ken," jawab Nabila. "Kamu minum ya?" Nabila menutup hidungnya ketika menghirup bau alkohol di sekitar Kenaan. Kenaan menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali. "Sorry Bil. Saya tidak bisa menahan minum hari ini. Kamu tidak perlu takut, saya tidak benar-benar mabuk." Nabila terdiam, ia menggigit bibir bawahnya pelan. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. "Boleh saya menciummu?" "Huh? Eh, enggak." Kenaan tersenyum, mengusap wajah Nabila lembut. "Saya tidak mau kamu pergi. Saya sangat nyaman bersamamu." Hari ini Kenaan sangat aneh. Nabila bingung, ia harus menyikapi Kenaan bagaimana. Entah kenapa ia tidak menolak saat Kenaan menyentuh wajah dan rambutnya. Kenaan mendekatkan wajahnya ke wajah Nabila, refleks Nabila menutup matanya. Aroma alkohol begitu menusuk di hidung Nabila, jantung keduanya berdebar-debar. Nabila bisa merasakan debaran jantungnya dengan Kenaan bersahutan. Kenaan tersenyum, mengecup kening Nabila. "Maafkan saya Nabila. Saya sudah mengecupmu walaupun kamu sudah menolak. Hanya kecupan seorang sahabat yang ingin berpisah, itu saja." Nabila diam bergeming, kepalanya tertunduk tak berani menatap Kenaan. "Semangat, Edelweeis." "Kenaan, kamu tunggu di sini sebentar ya? Saya akan kembali," ucap Nabila dibalas anggukan oleh Kenaan. Kenaan duduk di tepi kolam renang, memasukkan kakinya masuk ke dalam kolam. Ia merasakan ketenangan, dinginnya air serta keindahan bayangan rembulan yang terlihat jelas di kolam renang. Kenaan memijat-mijat kepalanya pelan. Tidak lama menunggu, Nabila datang kembali membawa secangkir air jahe hangat. Nabila ikut duduk di samping Kenaan, memasukkan kedua kakinya ke kolam. Ia menatap wajah Kenaan dari samping, memberikan gelas itu pada Kenaan. "Ini Ken. Minum dulu, semoga kesadaran kamu cepat pulih." Kenaan mengambil gelas yang dipegang Nabila lalu meminumnya sampai habis. "Saya cukup sadar Nabila. Saya benar-benar sadar. Satu gelas kecil wine tidak akan bisa membuat saya mabuk, sebanyak apa pun saya minum... saya tidak akan mabuk." "Tapi, kamu—" "Bisa saja saya minum lebih dari tiga gelas malam ini, tapi— saya tiba-tiba teringat kamu." Kenaan meletakan gelas itu ke samping. Ia menatap Nabila dingin. "Jam berapa kamu berangkat, Nabila?" "Sekitar jam 8 pagi," jawab Nabila takut-takut. "Oh, oke." Keduanya terdiam kembali. "Kamu merasa ada sesuatu yang aneh tidak?" tanya Kenaan tiba-tiba. Nabila mengerutkan dahinya bingung. Ia menoleh, menatap wajah Kenaan. "Aneh?" "Ya, aneh, lebih canggung." Nabila kembali terdiam, tangannya memilin-milin ujung dress yang ia kenakan. Bagaimana tidak canggung, kalau Kenaan sendiri yang membuat kecanggungan itu. Setelah membuat jantungnya meronta-ronta, Kenaan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. "Kamu ketemu Jino?" "I-iya. Tadi saya sempet ngobrol-ngobrol sama dia." "Kamu seneng 'kan?" "Hm ... seneng sih, Ken. Udah lama gak ketemu eh sekarang ketemu." Kenaan tersenyum tipis. "Semoga setelah kamu di sana nanti, kamu tidak lupa sama saya." "Gak akan lupa. Kenaan kan teman saya," sahut Nabila yakin. "Bener?" "Iya!" "Seandainya saya dateng pas kamu lagi main sama temen-temen kamu. Kamu gak bakal pura-pura lupa sama saya?" "Enggak Kenaan, saya teh orangnya bukan kayak gitu. Seharusnya saya yang nanya sama kamu, apa kamu akan lupain saya?" "Tidak akan pernah." Nabila tersenyum hangat. "Kamu nanti sering-sering main Ke Bandung, toh dari Jakarta ke Bandung cuma sebentar." "Kamu— kamu gak akan main ke Jakarta lagi?" "Paling teh saya main ke sininya pas liburan panjang kayak gini. Kalau liburan sehari atau dua hari gak bisa, saya bener-bener sibuk," jelas Nabila. Memang benar, Nabila akan disibukkan dengan kuliah dan bisnisnya. Jatah tidurnya akan kembali dipersempit. Kuliah, tugas kuliah, menjahit dan mendesain. Ia hanya memiliki 3 karyawan, dan itu saja tidak cukup. Padahal, ia tidak perlu bersusah payah berbisnis karena pamannya sudah berjanji akan membiayai kehidupan Nabila. Sebelum almarhum ayahnya meninggal, beliau menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan pada pamannya hanya saja beliau memberikan hak sepenuhnya pada Nabila. "Kamu wanita hebat, Nabila. Saya bener-bener salut sama kamu. Sukses di usia muda, terampil dan berbakat. Beda lagi sama saya, masa muda saya bener-bener hancur. Mangkanya saya suka iri, saya jadi pengen balik lagi ke masa muda. Saat saya sekolah atau pun berkuliah," puji Kenaan sambil tersenyum kecut. "Saya belum sukses Kenaan, bukannya kamu yang sukses? Masih muda, udah bisa jadi CEO." Kenaan tertawa pelan. "Astaga Bila, saya mendapatkan posisi itu bukan karena prestasi atau pun otak saya. Kamu tahu? Ayah saya pemilik perusahaan itu, karena itulah saya mendapatkan posisi itu." "Kita belum sukses ternyata," ucap Nabila sedih. "Kita perbaiki sama-sama. Kita bisa Kenaan! Kamu perbaiki kinerja kamu sebagai CEO dan saya perbaiki nilai saya. Sebenarnya bisa saja saya berhenti kuliah dan fokus pada bisnis saya. Omset yang di dapat juga sangat lumayan ... menurut kamu bagaimana Kenaan?" "Awal mula kamu memilih jurusan itu karena apa?" Nabila terdiam, mengetuk-ketukan jarinya di dagu mencoba mengingat. "Karena cita-cita. Waktu kecil, saya ingin sekali bisa membuat rumah yang unik, berbeda dari yang lainnya. Hahaha, benar-benar konyol." "Itulah jawabannya Nabila. Kamu harus melanjutkan semua itu. Apa yang kamu bangun, jangan pernah kamu sia-siakan. Bisa bangun keduanya?" "Hm ... bisa. Mungkin saya harus menambah karyawan." "Bagus sekali. Kata Jingga kamu yang mendesain, menjahit, mengepack dan memasarkan? Itu betul?" Nabila mengangguk. "Setelah ini kamu hanya perlu mendesain dan memasarkan. Ini saran saya Nabila, kamu bukan super hero yang bisa melakukan semuanya sendirian." "Tapi—saya teh sebenernya bisa ngelakuin semuanya sendiri—" "Sekali lagi saya ucapkan kamu bukan super hero, kamu cuma manusia biasa. Kapan pun, kamu bisa sakit dan saya tidak mau kamu sakit," potong Kenaan menekankan setiap katanya. Nabila menahan senyumannya, pipinya tiba-tiba memanas. Ucapan Kenaan lagi dan lagi bisa membuatnya salah tingkah. "Dengan ini kamu juga bisa membantu orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan." "Makasih, Kenaan." "Seperti beras yang ingin kamu genggam. Kamu menginginkan semuanya bisa terkepal, alhasil tak ada satu pun yang ada di kepalanmu. " Kenaan membuka kedua telapak tangannya di depan. "Kosong, itulah kenyataannya." Nabila menyenderkan kepalanya di bahu Kenaan. Ucapan Kenaan memang benar. Ia bukanlah super hero yang bisa melakukan semuanya. Ia hanya-lah manusia lemah dan tak berdaya. Terkadang waktu sering merampas semuanya. Merampas segala yang ia punya termasuk kedua orang tuanya. Tak terasa air matanya lurus. "Kenaan... aku boleh nangis di sini?" Kenaan tersenyum manis, tangannya terulur mengusap rambut Nabila. "Boleh Edelweeis. Boleh, apa pun—apa pun untuk bungaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN