8. Ancaman Kenaan

1733 Kata
Kenaan dan Nabila saling bertukar pendapat dalam memilih kado Jingga. Sudah lama Nabila terpikirkan membeli sebuah jam tangan untuk Jingga. Lama sekali mereka berputar, mencari-cari jam tangan yang cocok untuk Jingga. Nabila mengetuk-ketukan jari telunjuknya di dagu, memilih-milih jam tangan. "Menurut kamu Jingga cocok pake jam tangan mana? Ini? Atau ini?" Nabila menunjukkan dua kotak jam tangan. Yang satu jam tangan berukuran kecil berwarna silver dan yang satu lagi modelnya seperti gelang lebih cerah dari pada jam tangan sebelumnya. "Menurut saya, yang kotak pertama. Lebih simpel desainnya, Jingga juga kayaknya tidak suka warna mencolok," usul Kenaan menunjuk kotak jam tangan pertama. "Iya. Mentari pasti cocok kalau pake jam ini. " Nabila melihat jam tangan itu dari berbagai sisi. "Yaudah, Mba. Saya yang ini aja." Nabila menyerahkan kotak jam tangan itu sambil menyerahkan kartu rekeningnya. Setelah Nabila mendapatkan kado yang cocok, sekarang giliran Kenaan yang mencari kado untuk adiknya. Kenaan berhenti di salah satu toko perhiasan. Nabila mendongkak, menatap Kenaan sejenak lalu mengikuti langkah Kenaan dari belakang. "Saya tahu, pilihanmu dan Jingga sama. Coba pilih kalung, yang mana yang kamu suka," ujar Kenaan. Nabila tersenyum antusias, matanya mencari-cari kalung yang cocok. Kenaan benar, ia dan Jingga mempunyai selera yang sama jadi tak sulit Nabila menemukan kalung berliontin hati berukuran kecil. "Yang ini bagus, Ken," tunjuk Nabila bersemangat. Kenaan mengangguk, ia menyuruh penjaga toko mengeluarkan kalung itu. Setelah kalung itu berada di tangan Kenaan, matanya menatap Nabila. "Boleh saya coba ke kamu?" "E—eh, bo—boleh," jawab Nabila gugup. Kenaan mendekati Nabila. Jantung Nabila berdegup dengan sangat kencang, ia mengangkat sedikit rambutnya agar Kenaan bisa memakaikannya kalung itu. Kenaan tersenyum. "Pesanan saya sudah jadi?" tanya Kenaan pada wanita penjaga toko itu. Wanita itu mengangguk, mengambil sebuah paper bag dan memberikannya pada Kenaan. Nabila masih bingung, dahinya berkerut sebenarnya Kenaan sedang apa? Kenapa dia tidak membuka kalungnya? "Oh iya. Saya ambil kalung itu juga," ucap Kenaan melirik Nabila lalu menyerahkan kartu Debitnya. Nabila masih tak percaya dengan rencana Kenaan. Pesanan? Ambil kalung itu? "Ken, maksud kamu apa?" tanya Nabila khawatir, ia mencoba membuka kalung itu namun Kenaan menahannya. "Hadiah buat kamu. Terima atau saya cium kamu," ancam Kenaan membuat nyali Nabila menciut. "Ta-tapi Ken. Ini buat Mentari!" "Saya sudah memesannya khusus. Jauh sebelum saya kenal sama kamu," ujar Kenaan santai. "Kenaan! Saya gak mau!" "Ancaman tadi masih berlaku. Kamu tahu? Saya tidak main-main," balas Kenaan dingin. Kenaan mendekat satu langkah ke arah Nabila. "Kenang-kenangan dari saya. Besok kamu sudah pergi ke Bandung. Terima ya?" *** Nabila menatap mobil Kenaan menjauh pergi dari rumah Adnan. Setelah diajak berjalan-jalan bersama Kenaan, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Kenaan sangat bisa membuat jantungnya berdebar-debar. Senyumnya tak luntur, senantiasa melukis bibirnya. Ia menggenggam kalung pemberian dari Kenaan. Saat di mana Kenaan memakaikannya kalung, embusan nafas Kenaan terasa sekali mengenai lehernya. Ia tidak tahu, bagaimana keadaan wajahnya tadi. Mungkin sangat memalukan. "Astagfirullah, Nabila! Kenapa kamu berpikir m***m!" omel Nabila memarahi dirinya sendiri. Teringat ketika Kenaan mengancamnya dengan ciuman, betapa mesumnya pikiran Nabila tadi. "Terima atau saya cium kamu." Ucapan Kenaan kembali terngiang-ngiang di benaknya, refleks tangannya memukul kepalanya kencang. Ia yakin sekali wajahnya sangat konyol tadi. Kenapa?! Kenapa Kenaan masuk ke dalam kehidupannya! Nabila memijat-mijat kepalanya. "Tanggung jawab! Saya gak mau! Kenapa saya begini!" teriak Nabila. "Huh? Tanggung jawab apa, Teh?" tanya Adnan tiba-tiba muncul di balik pintu. Nabila menoleh, matanya sontak membulat. "Teteh, hamil?" "Adnan! Mulutnya!" tegur Nabila kesal sedari menjitak kepala Adnan. "Lagian, bukannya salam malah teriak-teriak minta tanggung jawab. Memangnya Teteh mau minta tanggung jawab sama siapa?" "Kenaan," gumam Nabila. "Huh?! Jadi Kak Ken yang udah nga—" Belum sempat Adnan melanjutkan ucapannya, Nabila lebih dulu membungkam mulut Adnan. "Bukan hamil Adnan ganteng!" desis Nabila gemas. "Terus apa kalau bukan hamil?" "Kamu mau Teteh hamil di luar nikah?!" "Eh, enggak dong, Teh. Amit-amit deh." Adnan mengetuk kepala beberapa kali lalu membuangnya ke bawah, seolah ia sedang membuang perkara buruk. "Terus apa Teh?" Adnan kembali bertanya. "Udah buat jantung, Teteh lompat-lompat!" teriak Nabila tepat di telinga Adnan lalu masuk ke dalam rumah. Adnan menggeleng-gelengkan kepalanya bersabar. "Mabuk cinta?" Adnan tertawa pelan. "Baru sekarang astaga! Jadi si Kenaan cinta pertamanya? Gak, gak boleh! Kalau si Kenaan cuma main-main gak boleh! Nanti Teh Bila nangis-nangis lagi." *** Kenaan mengetuk pintu kamar adiknya pelan. Setelah mendapatkan izin masuk barulah ia masuk ke dalam kamar Jingga. Mata Kenaan menatap ke arah adiknya kagum. Hari ini, Jingga tampil luar biasa. Dress selutut dengan rambut dicepol dan high heels tak terlalu tinggi membuat kesan simpel tapi mengagumkan. "Kamu cantik," puji Kenaan berjalan mendekati Jingga. Jingga tersenyum. "Makasih, Kak Ken. Kakak juga tampan seperti biasanya." Kenaan terkekeh pelan. "Kamu tidak suka memuji Kakak, sekali kamu puji rasanya benar-benar istimewa." Kenaan memberikan sebuah paper bag kecil ke Jingga. "Buat kamu. Langsung buka ya." Mata Jingga berbinar, menerima paper bag dari Kenaan. Ia membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya, sebuah kotak merah. Jingga menatap Kenaan bingung, Kenaan memberikan isyarat menggunakan alisnya untuk segera membuka kotaknya. Gadis itu mengangguk pelan, ia membuka kotaknya pelan. Alangkah kagumnya Jingga ketika melihat kalung berliontin bunga matahari dengan ukiran rumit di dalamnya. "Kakak yang desain. Kamu suka?" tanya Kenaan dibalas anggukan oleh Jingga. "Tapi— ini, ini pasti mahal banget, Kak." Jingga menundukkan kepalanya. Kenaan berdecak, Jingga selalu menolak pemberian dari keluarga ini dengan alasan mahal dan menghambur-hamburkan uang. Ia mengambil kalung itu dari tangan Jingga kemudian memakaikannya di leher Jingga. Setelah selesai, Kenaan menggenggam kedua tangan adiknya. "Kakak sayang sama kamu Jingga. Ini hadiah pertama dari Kakak. Sehari saat kamu datang ke rumah ini, saya berinisiatif membelikan sesuatu yang bisa kamu pakai setiap hari dan—pilihan itu adalah kalung." Kenaan tersenyum tipis sementara Jingga sedikit demi sedikit, dia menatap wajah Kenaan. "Simbol liontin itu adalah kamu. Mentari, yang selalu bersinar di keluarga ini. Kekuatan, kesabaran, kebaktian kamu terhadap orang tua. Lihatlah ketulusan Kakak yang ngasih kalung ini ke kamu— jangan lihat harga. Kakak hanya minta satu dari kamu, tolong jangan lepas." Jingga terdiam sejenak, menatap Kenaan terharu. Ia memeluk Kenaan erat. "Makasih banyak, Kak. Jingga benar-benar senang!" "Happy birthday sayangku. Adik kecil, peri kecilku ... semoga kamu tetap seperti ini," ucap Kenaan sambil mengusap rambut Jingga. "Apa pun, kebahagiaan kamu. Saya akan melakukannya Jingga." "Aku sayang Kak Ken." "Kakak lebih menyayangimu." *** Nabila datang ke rumah Jingga lebih awal karena Adnan yang memintanya. Nabila mengigit bibir bawahnya pelan, betapa gugupnya ia sekarang. Setelah kejadian tadi dan segala kecanggungan lainnya, ia akan bertemu dengan Kenaan lagi. Tak hanya Kenaan, ia juga akan bertemu ayah Kenaan. Kakinya melangkah masuk ke area rumah Kenaan. Adnan memang keterlaluan, tega-teganya dia meninggalkannya sendirian. Ia mengaruk tengkuknya, matanya mengedar ke segala arah. Mencari-cari orang yang ia kenal, entah itu Adnan, Kenaan atau pun Jingga. Banyak orang-orang sedang menyiapkan makanan ke meja. Nabila merasa seperti penganggu di sini. "Nabila?" panggil seseorang membuat Nabila berbalik. Nabila tersenyum. "Eh, Jino?" "Masuk ke dalem aja, Bil. Jingga-Nya aja di dalem," ucap Jino menyuruh Nabila untuk masuk ke dalam rumah. Nabila mengangguk kikuk, lalu mengikuti Jino dari samping. "Udah lama?" "Enggak kok, baru aja dateng," jawab Nabila gugup. Berbicara dengan Jino sangatlah canggung. Dulu, Nabila cerewet jika berada di dekat Jino tapi sekarang—jangankan mengobrol panjang lebar, menjawab pertanyaan Jino pun ia canggung. Jino mengangguk-anggukan kepalanya. "Saya yakin banget kalau kamu jadi idaman di kampus," ucap Jino menatap Nabila dari samping. Nabila terdiam sejenak, lalu menatap Jino. "Eh, enggak atuh." "Kamu berubah banget ya? Jadi—pendiem?" "Enggak pendiem sih, tapi canggung aja kalau ngobrol sama kamu." Jino terkekeh pelan. "Masa? Jadi asing lagi ya saya?" "Iya! Asing banget. Mana kamu teh makin cakep, pasti udah punya pacar," sahut Nabila menebak-nebak. Jino kembali terkekeh, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Saya gak ada waktu buat suka sama orang. Saya ingin membahagiakan Mama Lessie dan Jingga terlebih dahulu, baru urusan pribadi," balas Jino. "Bye the way, Bil. Kamu udah punya pacar?" "Belum sih." "Udah pernah pacaran tapi?" Nabila menggeleng lemah. "Astaga Nabila. Dari dulu sampe sekarang, masih jomblo?" "Iyalah. Dulu teh saya suka sama kamu," jawab Nabila frontal membuat Jino tertawa terbahak-bahak. "Umur 7 tahun! Demi Tuhan Nabila, umur segitu gak bisa dipercaya. Kamu bukan cinta tapi sayang." Jino menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Sekarang? Sekarang masih suka sama saya?" "Enggak. Saya teh kesel sama kamu! Bisa-bisanya kamu ninggalin Jingga sendirian—" "Udah dong. Saya capek banget denger orang ngomelin saya. Tahu Kenaan? Kakak tirinya Jingga?" Nabila mengangguk. "Saya beberapa kali ditampar sama dia." "Huh? Tapi ... bagus sih! Biar sadar, lagian kamu teh bener kelewatan!" "Udah ya. Capek saya denger kamu mulai ngoceh-ngoceh, di depan keluarga lagi kumpul. Kamu ke sana aja, jangan takut— mereka baik. Kalau gitu, saya pergi dulu," pamit Jino. "Eh, tapi kamu teh mau ke mana?" Jino berdecak. "Saya mau pantau dekorasi pesta." Setelah mengatakan itu, Jino langsung pergi meninggalkan Nabila. Ia menatap ruang tamu, sepertinya mereka sedang ada pembicaraan pribadi tapi tunggu— ada Adnan juga? "Bila!" panggil Kenaan sontak saja semua orang yang ada di sana mendongkak. Nabila terkejut, ia sangat tidak sopan. Berdiri dan memperhatikan keluarga Kenaan dari jauh, sungguh memalukan. "Sini, Teh," panggil Jingga. Nabila tersenyum lalu menangguk kikuk. Setelah berada di dekat keluarga Kenaan, ia pun menyalami tangan ayah Kenaan dan Lessie. "Temannya Kenaan?" tanya ayah Kenaan dibalas anggukan oleh Nabila. "Duduk dulu." "Bukan hanya teman Kak Ken, Pah. Teh Nabila juga Kakak sepupunya Adnan," jelas Jingga pada ayah Kenaan. "Iya, Om... saya kakak sepupunya Adnan," timpal Nabila sambil tersenyum. Aditya— ayah Kenaan mengangguk. "Terima kasih ya, kamu sudah datang dipesta ulang tahun anak saya." "Iya, Om. Saya juga terima kasih, karena sudah diundang ke pestanya Mentari," balas Nabila. "Ngomong-ngomong, kamu apa kabar Nabila? Kuliah kamu?" tanya Lessie pada Nabila. "Alhamdulillah baik Tan. Kuliah Nabila juga lancar," jawab Nabila. "Oh... bagus deh kalau gitu. Kamu gak ada rencana buat tinggal sama Lisa?" tanya Lessie lagi. Kebetulan, dulu Lisa dan Lessie adalah sahabat akrab tak hanya dulu, sampai sekarang. "Hm ... sebenernya teh saya udah ada rencana kalau setelah lulus nanti saya akan pindah ke sini." Dan malam itu, Nabila terhujani oleh berbagai pertanyaan. Nabila tidak keberatan, ia akan menjawab pertanyaan mereka dengan jujur. Lama kelamaan, ia merasakan kehangatan. Ia sangat bersyukur, Jingga bisa bertemu dengan keluarga Kenaan. Nabila sudah menganggap Jingga sebagai adiknya sendiri, kebahagiaan Jingga akan menjadi kebahagiaannya juga. Semua keluarga Kenaan baik terutama ayah Kenaan. Ternyata wajah tegas dan berwibawa Aditya menurun ke Kenaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN