7. Bertemu Jino

1315 Kata
Selama empat hari Kenaan lebih sering menghabiskan waktu bersama Nabila. Entah itu pergi berjalan-jalan atau makan di luar. Besok adalah hari kepulangan Nabila, ada perasaan tak rela dalam dirinya. Baru sebentar rasanya ia mengenal Nabila dan besok dia sudah pergi meninggalkannya, dan juga meninggalkan kota ini. Ingin meminta waktu lebih lama lagi, tapi ia tahu, ia tidak ada hak untuk melakukan hal itu. Hari ini adalah hari ulang tahun adik tirinya. Kenaan mempersiapkan acara ulang tahun Jingga dengan sangat antusias karena untuk pertama kalinya Jingga merayakan ulang tahunnya di rumah ini. Jingga hanya keluarga baru Kenaan, tapi kenapa Kenaan seantusias ini. Kenaan sangat menyayangi Jingga, begitu pun dengan Jingga. Apa pun yang menjadi keinginan Jingga, sekuat tenaga Kenaan akan mengabulkannya. Jingga bukanlah tipe peminta-minta, jika tidak dipaksa Jingga tidak akan pernah meminta. Tidak salah Kenaan dengan cepat menyayangi Jingga. Lessie—ibu tiri Kenaan menyiapkan dua cangkir teh untuk dirinya dan Aditya. Lessie sangat baik. Walau Kenaan hanya anak tiri, Lessie tidak membanding-bandingan Jingga dan dirinya. Dia membagi kasih dan perhatian sayang secara adil. Kenaan tidak mengharapkan itu semua. Sejak awal kehadiran anggota keluarga baru, ia sudah tak peduli apakah keluarga barunya baik atau jahat. Kenaan sudah dewasa, ia sudah bisa membela dan melawan. Jika mereka jahat, ia akan kembali menjahati mereka. Pikirannya ternyata salah, mereka baik—ya baik, sangat-sangat baik. Kenaan menyeruput teh pelan-pelan lalu meletakan cangkirnya kembali ke meja. "Sudah sampai mana persiapan pesta?" tanya Kenaan pada Lessie. "Mungkin, 75 persen," jawab Lessie ikut duduk di sebelah Aditya. "Kamu tidak ada urusan di luar Ken? Kalau ada, keluar saja biar Papa yang mengurusi semuanya," ucap Aditya menatap Kenaan. "Tidak, Pah. Saya sudah berjanji untuk mengurus semuanya dengan baik," tolak Kenaan sopan. "Ngomong-ngomong, Pah. Ke mana Jingga? Kenaan tidak melihatnya sejak tadi." "Dia masih berada di sekolah, Ken," jawab Lessie dibalas anggukan oleh Aditya. "Dia merengek-rengek pada Mama untuk tidak diadakan pesta besar yang akan menghabiskan uang banyak." Kenaan terkekeh pelan. "Anak itu memang belum kenal siapa Tuan Aditya." Kenaan melirik sang Ayah sekilas disambut pelototan tajam darinya. Aditya selalu menghambur-hamburkan uang untuk keluarga. Demi keluarga, Aditya akan melakukan apa pun termasuk mengeluarkan uang untuk pesta ulang tahun putri satu-satunya. "Papah kayak gini demi—" "Keluarga?" Aditya mendengus kesal. "Apa kamu tidak suka apa yang Papah lakukan, Ken?" "Papah seharusnya tanya pada Jingga, bukan Kenaan." Aditya diam sejenak. Merentangkan tangannya ke udara seperti melakukan pemanasan tidak, bukan pemanasan tapi terbang. Kenaan dan Lessie saling bertatapan bingung. Bahu Lessie terangkat ke atas pertanda tidak tahu. "Jingga akan suka. Lihat saja nanti," ujar Aditya dengan percaya dirinya. "Yaudah! Semangat! Sedikit lagi selesai!" Aditya dan Lessie bangkit dari tempat duduknya. Mereka berdua pergi sambil bergandengan tangan. Selama bertahun-tahun akhirnya ayahnya bisa merasakan kebahagiaan lagi. Beberapa bulan yang lalu, saat beliau meminta izin padanya untuk menikah lagi, ia tidak berpikir terlebih dahulu dan langsung mengiyakan rencana Aditya. Bukan karena Kenaan menginginkan sesosok ibu, ia hanya ingin kebahagiaan ayahnya. Kenaan membuka gadgetnya, jari telunjuknya menari-nari di layar membuka akun sosial medianya. Senyumnya mengembang sempurna, matanya tertuju pada nama sosial media Nabila. Ia bukan tipe kepo pada sesuatu tapi—saat melihat nama akun Nabila tiba-tiba muncul direkomendasi kontak ia langsung membukanya. Hampir semua foto yang Nabila post berisi desain baju dan promosi. Ternyata benar kata adiknya, dia sedang berbisnis. Kuliah jurusan Arsitektur sambil membuka toko pakaian online hasil desain dan buatan dia sendiri. Jarinya berhenti di salah satu foto yang menampilkan Nabila dan adik tirinya beberapa tahun lalu. Senyumnya terangkat, saat membaca caption yang dibuat Nabila. Adik kecilku? Setelah puas memandangi foto Nabila dan Jingga, jarinya kembali menscrool layar sampai menemukan foto Adnan yang sedang menggendong Nabila. Ia mengusap wajahnya gusar, kenapa ia harus marah melihat Nabila bersama adik sepupunya? Ketika Mentari bersinar, kau selalu tersenyum. Lantas apakah aku bisa melihat senyumanmu? @Adnaaan12 Kenaan mendelik melihat komentar-komentar alay di kolom komentar. Hampir seluruh kaum hawa memuji-muji Adnan. @Mel322 lu punya pacar seganteng ini? Pantes aja gak mau deket-deket sama senior 8 balasan lain @Nabila_Aih gimana2 cakep gak? @Mel322 @Mel322 beli dimana? Boleh pinjem gak?? @Adnaaan12 @Adnaaan12 gak bisa dibeli Mba, udah ada yang punya. @Nabila_Aih dia cuma kk saya @Melisha_Rentri11 mantap gila, Bil! Sini buat gue acikiwir @Nabila_Aih Kenaan tertawa pelan, ia memijat keningnya. Semenjak Nabila hadir dalam hidupnya, ia jadi lebih gila. Setiap kali beraktivitas ia selalu teringat senyumannya. Jarinya menekan tanda follow pada akun Nabila kemudian meninggalkan sosial media itu, beralih ke whatsaap. Kenaan ingin mengajak Nabila keluar sekadar berjalan-jalan dan membeli kado untuk Jingga. Nabila anda :  Bil, kamu sibuk? Tidak lama Nabila membalas pesan Kenaan. Bila : Hm, saya mau cari kado buat Mentari nih? anda: Bareng aja mau? Saya juga kebetulan mau cari kado juga. Kamu kan udah kenal sama adik saya. Jadi mungkin tahu, kado apa yang bagus buat Jingga. Bila : Boleh deh. Saya yang ke sana atau kamu yang jemput saya? anda : Saya yang jemput kamu. 20 menitan mungkin sampe Bila : Eh jangan! Kalau kayak gitu lama. Saya tunggu di depan ruko depan gimana? anda : Memangnya gak papa? Yakin di sana aman? Inget loh, ini Jakarta Bila : Iya aman. Kamu tenang aja, saya tunggu di ruko depan ya? anda : Oke. Saya ke sana Kenaan menyimpan handphonenya di saku celana lalu pergi ke luar rumah. Ini adalah hari terakhir Nabila berada di kota ini. Ia harus benar-benar menghabiskan waktunya bersama Nabila. Untuk ke depannya ia akan sulit menemui Nabila. Ia sibuk begitu juga Nabila. Dia kuliah, belajar, bekerja dan mengurusi bisnisnya. Kadang ia malu, dulu ia menghabiskan masa-masa muda dengan bersenang-senang. Kuliah lalu bermain, tak ada hal lain lagi. Untung saja ayahnya pemilik perusahaan jadi ia dengan mudahnya menggapai posisi besar di kantor. Kalau saja tidak, mungkin ia akan menjadi karyawan biasa dengan gaji tak seberapa. "Demi Tuhan, pikiran saya hanya tertuju pada dia." Kenaan menjambak rambutnya sendiri. *** Nabila berdiri di depan ruko sambil bermain Handphone. Ia tidak melakukan apa pun, hanya menggeser-geser layar saja. Meyakinkan semua orang bahwa ia sedang sibuk. Sudah sepuluh menit ia menunggu, Kenaan tak kunjung datang juga. "Hai," sapa seseorang membuat Nabila mendongkak. Nabila menelan saliva kasarnya, matanya mengerjap tak percaya. "Ji—Jino ‘kan?" Orang bernama Jino itu mengangguk. "Yeah saya Jino. Kamu apa kabar? Rasanya saya pangling liat muka kamu... cantik," puji Jino. Nabila tersenyum tipis. "Sa—saya juga kaget. Saya gak percaya ketemu sama orang bandel kayak kamu. Kasian atuh adik kamu!" "Saya menyesal, saya udah baikan sama Jingga. Sekarang, saya tinggal bersama ayah tirinya," tutur Jino merasa bersalah. Ia mendongkak, menatap Nabila kembali. "Oh iya! Kamu lagi ngapain di sini?" "Saya lagi nunggu orang." "Pacar kamu?" "Bukan, cuma temen. Kalau kamu lagi ngapain di sini?" "Tadinya mau cari kado buat Jingga tapi—liat kamu di sini. Saya pikir, saya cuma salah liat," ucap Jino dibalas anggukan oleh Nabila. "Kamu mau ditemenin sampe orang yang kamu dateng atau enggak?" Nabila menggeleng cepat. "Makasih banyak Jino, tapi temen saya sebentar lagi sampe." "Oh, okay. Kalau gitu, saya pergi dulu ya," pamit Jino dibalas anggukan oleh Nabila. "Hati-hati ya Jino." Jino tersenyum tipis. "Kamu juga hati-hati, di daerah sini banyak banget copet." Setelah mengatakan itu, Jino lantas pergi meninggalkan Nabila. Jino, dia teman masa kecilnya. Sikapnya menjadi dingin saat kakaknya bernama Jeno meninggal. Ia pikir sikapnya sama seperti dulu tapi ternyata tidak, dia benar-benar berubah. Entah dari penampilan, tingkah dan perilaku dia berubah. Dalam hati Nabila bersyukur, akhirnya Jino mau berubah dan berkumpul bersama keluarganya lagi. Tiba saja, sebuah sentuhan membuyarkan lamunannya. Ia menoleh, ternyata Kenaan yang menyentuh bahunya. "Sorry banget ya lama. Tadi kejebak macet." Nabila tersenyum. "Gak papa. Yaudah langsung aja atuh kita berangkat, nanti keburu kesorean." "Oke." Kenaan membukakan pintu mobilnya untuk Nabila. Nabila tersenyum lagi lalu masuk ke dalam mobil. Nabila merasa diperlakukan spesial oleh Kenaan, padahal hanya sekadar membukakan pintu untuknya. Setelah Nabila duduk dengan nyaman, barulah Kenaan berputar dan masuk ke dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN