6. Thanks, Bil

1448 Kata
Nabila menelan salivanya kasar saat melihat Kenaan sedang berbincang-bincang dengan Lisa. Tidak seperti biasanya, Kenaan yang suka tampil formal sekarang tampil jauh lebih keren dari sebelumnya. Kaos berwarna putih dan celana jeans panjang. Matanya tertuju pada pakaian yang ia kenakan. Baju kaos putih sama seperti Kenaan, hanya saja tulisan di bagian d**a yang berbeda. Untung saja ia memakai celana bahan longgar dan tidak ikut-ikutan memakai celana jeans, kalau saja iya maka orang-orang akan menganggapnya kekasih Kenaan. Ia tidak bisa memakai baju kaos yang sama seperti Kenaan, sebelum Kenaan menyadari keberadaannya Nabila harus cepat berganti baju. "Nabila?" panggil Kenaan membuatnya berbalik. Ia mengaruk tengkuknya lalu tersenyum, menghampiri Kenaan. "Maaf Ken, kamu nunggu lama ya?" tanya Nabila gugup. Ia menghampiri Kenaan dan Lisa. "Iya atuh nunggu lama! Kamu mandi kayak orang tidur, Bil," jawab Lisa mengomel. "Terus itu, kalian janjian pakek baju samaan?" "Eh, enggak kok," balas Nabila melirik Kenaan sekilas. "Iya, Tante. Mungkin cuma kebetulan." "Haduh Ken. Kamu mau nunggu bentar gak? Aku mau ganti baju dulu." Saat Nabila ingin berbalik, Kenaan lebih dulu meraih tangan Nabila. "Gak usah Nabila. Lagian saya gak keberatan kok," ucap Kenaan membuat jantung Nabila berdebar-debar. "Kalau gitu. Kami berangkat dulu ya, Tante." Kenaan menyalimi tangan Lisa, diikuti oleh Nabila di belakang. "Iya Umi. Kami berangkat dulu, Assalamualaikum," pamit Nabila mencium punggung tangan Nabila. *** "Kenaan. Kamu beneran gak masalah? Nanti orang-orang kira kita pacaran." Kenaan melirik Nabila sebentar lalu kembali fokus ke depan. "Saya sih gak keberatan. Mungkin kamu yang keberatan." "Eh enggak sih." "Kamu kan bawa jaket. Nanti kan kamu pake jaketnya, jadi gak ketara banget kalau kita couplean," ujar Kenaan. Nabila terdiam, menatap jaket yang sedari tadi berada di lengannya. "Saya bingung. Kenapa ya, kita bisa samaan?" "Kayaknya cuma kebetulan." Nabila mengambil beberapa helai anak rambut menyelipkannya ke belakang telinga. Kenaan sangat berbeda hari ini. Sungguh penampilan Kenaan yang berbeda, memukau indra pengheliatannya. Menatapnya saja sudah bisa salah tingkah apalagi melihat senyumannya. Saat rambut Kenaan menutupi alisnya karena gerakan kecil, rasanya tangannya gatal ingin membenarkan rambut gondrong Kenaan. "Kenapa kamu terus-terusan natap saya begitu? Saya aneh ya?" Mampus! Nabila gelagapan, ia seperti sedang tertangkap basah mencuri. Ia menggeleng pelan, berusaha bersikap setenang mungkin. "Enggak Ken. Cuma—itu." "Itu apa?" "Itu, Ken. Aish! Kok saya jadi gugup gini si," gerutu Nabila pelan. "Iya apa Nabila? Gimana saya tahu kalau kamu gak kasih tahu." "Itu rambut kamu emang gak ribet ya? Hampir ngalangin mata kamu." Nabila menunjuk ke arah mata Kenaan. Kenaan mengangkat sebelah alisnya, menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. "Gak si. Saya suka gaya rambut seperti ini. Kamu gak suka ya?" "Jujur aja rambut kamu buat saya jengkel. Rasanya saya pengen nguncir rambut kamu." Kesal Nabila. Kenaan terkekeh pelan. "Biasanya ‘kan saya dikuncir. Tadi masi basah jadi saya biarin kayak gini, lagian gak terlalu panjang juga." Kenaan melirik Nabila lagi. "Kalau kamu mau nguncirin, saya gak masalah kok." "Eh... ma—maksudnya saya teh disuru nguncir?" "Iya." "Gak. Saya nguncir sama aja megang-megang kepala dan itu gak sopan. Apalagi kamu teh cowok dan lebih tua juga," tolak Nabila tegas. Ia mengalihkan pandangannya ke kaca samping, menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba memanas. "Tadi 'kan kamu bilang pengen nguncir rambut saya?" "Tapi itu kalau kamunya jadi anak kecil, baru saya teh mau nguncirin kamu!" "Oh ... saya berarti harus jadi anak kecil dulu ya? Biar bisa dikuncirin sama kamu?" *** Awalnya Nabila dan Kenaan hanya memakai baju kaos, sekarang mereka berdua sudah memakai jaket masing-masing. Kenaan membawa Nabila ke Segarra Ancol-Jakarta. Walau sunsetnya tak seindah dari apa yang Kenaan harapkan tapi Kenaan senang, Nabila bisa menikmatinya dengan sangat antusias. Angin sepoi-sepoi, mengembuskan anak rambut Nabila. Beberapa kali, Nabila membenarkan posisi rambutnya kembali. Di sini lumayan ramai, kebayakan para pasangan yang ingin menikmati senja bersama. Menikmati deburan ombak mengalun di telinga, lampu-lampu berkelip indah memadukan keindahan Segarra Ancol. "Kamu suka ke sini ya?" tanya Nabila menoleh, menatap Kenaan. Rambut Kenaan berterbangan menutupi wajahnya. "Gak sih. Cuma penasaran aja." "Dari tadi saya gemes banget liat rambut kamu. Hm, bisa berbalik gak?" Tanpa bertanya lagi, Kenaan langsung mengikuti arahan Nabila. Ia berbalik, membelakangi tubuh Nabila. Sungguh, Nabila sangat geram melihat rambut Kenaan berantakan. Ke sana dan ke mari mengikuti arah angin. Nabila mengambil satu ikat rambutnya, kebetulan ia memakai dua ikat rambut sekaligus. Sesegera mungkin ia mengikat rambut Kenaan karena banyak orang yang memperhatikan aktivitasnya. "Udah!" seru Nabila. Kenan bangkit lalu berbalik. "Makasih ya," ucap Kenaan sambil tersenyum. Nabila membalas senyuman Kenaan. Alih-alih menyembunyikan rasa senangnya. "Iya sama-sama." "Yaudah, kita makan dulu yuk." Beberapa menit yang lalu, Kenaan memesan makanan. Nabila hanya memesan nasi goreng dan jus mangga sedangkan Kenaan memesan seafood dan jus jeruk. Semua makanan yang telah dipesan, sudah tersaji di atas meja. Di tempat ini, sudah disediakan meja dan kursi yang menyorot langsung ke arah laut. Deburan ombak, angin sepoi-sepoi dan sinar matahari sore memadukan suasana romantis seggara Ancol. Nabila dan Kenaan menyantap makanannya masing-masing. Tanpa sepengetahuan Nabila, Kenaan berhasil curi-curi pandang menatap Nabila. Wanita itu cantik, memiliki warna mata teduh yang bisa menyejukkan hati saat memandangnya, mandiri dan—kuat. Rasanya Kenaan ingin terus menerus menatap wajah Nabila. Kenaan mengambil tisu lalu mengelap mulutnya. Pandangannya masih tertuju pada Nabila. "Kamu di sini berapa lama, Bil?" Nabila mendongkak, menatap Kenaan lalu mengangguk. "Iya Ken. Saya di sini sekitar lima harian lagi," jawab Nabila sedikit kikuk. Kenaan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Oh ... berarti sebentar lagi dong ya?" "Iya, Ken." "Kalau saya ajak jalan-jalan kayak gini mau enggak?" tanya Kenaan tiba-tiba, membuat jantung Nabila memompa dengan sangat kencang. Nabila terdiam, menatap Kenaan dengan tatapan cengo. Setelah beberapa detik, barulah ia membuyarkan lamunanya. Nabila memalingkan wajahnya ke samping. "Ya ... boleh aja, mumpung saya lagi liburan. Lagian 'kan nanti kita gak ketemu lagi." Kenaan terkekeh. "Kamu lagi ngomong sama siapa Nabila? Sini, tatap wajah saya." "A—apaan sih, orang lagi liat...." Nabila berpikir sejenak lalu menunjuk ke arah pantai. "Itu! Langitnya bagus banget!" Nabila menutup matanya pelan, jantungnya semakin berdegup kencang. Bagaimana bisa, ia menujukan wajah bodoh di depan seorang lelaki? Ia menggigit bibir bawahnya pelan, sedikit demi sedikit menatap wajah Kenaan. "Jujur aja Nabila, saya nyaman dekat sama kamu," ujar Kenaan dengan santai. Kenaan memang santai, tapi tidak dengan Nabila. Gadis itu tampak gelisah, wajahnya memanas. "Tapi jangan ke geer-an dulu!" Jleb Pikiran Nabila yang sudah meracau ke mana-mana kini kembali pada kenyataan. Sebelumnya Nabila berpikir kalau Kenaan akan menyatakan perasaan, tapi—itu adalah hal yang tidak mungkin dan mustahil. Mana bisa Kenaan mencintainya dengan sangat cepat? Memangnya siapa dirinya yang dicintai oleh seorang Kenaan Ardiwijaya. Pria tampan dan sukses, tidak akan sebanding dengannya yang lemah dan pesimis. "Siapa lagi yang ge-er!" sewot Nabila. "Saya gak bilang kamu ge-er. Saya bilang 'tapi jangan ge-er dulu' itu artinya saya cuma mengantisipasi kamu. Siapa tahu kamu nganggap saya suka sama kamu," jelas Kenaan mengulangi kalimat inti tadi. Nabila diam, pura-pura tak memedulikan ucapan Kenaan. Ia malah menatap langit yang mulai sudah gelap. "Kamu mau enggak jadi teman saya? Teman saya, ya ... sahabat gitu? Sebenernya saya udah gak percaya lagi sama kata sahabat tapi ... saya percaya sama kamu." Nabila menatap Kenaan sambil tersenyum. "Boleh," balas Nabila lembut. "Thanks, Nabila." "Saya juga terima kasih sama kamu, karena kamu udah ngajak saya ke sini. Rasanya liburan saya di sini, gak sia-sia," ucap Nabila sambil tertawa. Kenaan tersenyum tipis. "Kalau gitu, hari-hari terakhir kamu di sini harus jauh lebih menyenangkan dan berkesan." Nabila mengalihkan tatapannya, menyembunyikan wajah yang mungkin akan terlihat bodoh. Setiap kata demi kata yang terlontar dari mulut Kenaan, ia merasa ada kehangatan di dalamnya. Baru bertemu beberapa hari, ia sudah seperti ini. Sejenak ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ini wajar? Sungguh ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. "Bye the way, Nabila... sebelum kamu berteman dengan saya, alangkah lebih baiknya kamu mengenal siapa saya terlebih dahulu. Kamu harus tahu... saya itu orang jahat, saya suka melawan orang tua dan--meminum-minuman keras. Kalau kamu jijik dengan saya, kamu bisa menolak," kata Kenaan terendam nada sedih di dalamnya. Nabila menggeleng pelan. "Saya tahu kamu teh enggak jahat, kamu itu baik. Melawan orang tua atau minum-minuman keras itu bisa diubah Ken. Sedikit demi sedikit, kamu sendiri bisa mengubahnya," balas Nabila. "Kalau boleh jujur saya itu gak jijik sama kamu. Cuma ... sedikit prihatin aja." "Prihatin?" "Iya. Seharusnya kamu hormatiin orang tua kamu, sebelum kamu teh nyesel. Jangan kayak saya, yang belum sempat berbakti dan membanggakan mereka tapi mereka udah dipanggil duluan," sahut Nabila sedih, kepalanya menunduk. "Anak muda zaman sekarang teh gak heran lagi sama pergaulan bebas. Sesuai diri kita sendiri aja, kalau kamu kuat, kamu pasti gak akan masuk ke jalan yang salah." "Terima kasih, Nabila.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN