5. Teka-teki Kenaan

1298 Kata
Nabila masuk ke dalam kamar dengan langkah terburu-buru. Nafasnya memburu, keringatnya bercucuran membasahi pelipisnya. Ia membuka lemari, memilih beberapa pakaian untuk dipakai nanti malam. Beberapa pakaian sudah ia keluarkan dari lemari. Pakaian-pakaian itu sudah bertumpuk di kasur. Nabila menyesuaikan pakaian, berputar-putar memastikannya cocok. Saat sudah merasa pas, Nabila kembali menggeleng. Berdiri menjauhi cermin, melihat dirinya sendiri dari jarak 3 meter dari cermin. Merasa kesal sendiri, Nabila melempar pakaiannya asal. Meringis pelan, merasa lelah karena tidak mendapatkan pakaian yang cocok. Semua pakaian terbarunya berada di Bandung. Ia pikir pakaian di sini banyak, jadi ia tidak perlu membawa banyak baju. Kepalanya bersandar di dinding dekat pintu, menarik dan mengembuskan nafasnya pelan. Nabila menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong, tampaknya ia sedang berpikir keras. Ia mencari-cari pakaian bagus untuk jalan bersama Kenaan, sedangkan ia tidak tahu pasti apa Kenaan jadi mengajaknya jalan malam nanti? Atau dia sekadar ingin menipunya? Sial! Ia merebahkan tubuhnya di atas tumpukan pakaian. Hari ini saatnya membereskan semuanya. Kenaan hanya mengerjainya, mana mungkin dia mengajaknya keluar malam nanti. Lagi pun, ia ini wanita. Wanita yang baik tidak boleh percaya begitu saja pada seorang pria yang baru ia kenal. "Waktunya beres-beser rumah!" seru Nabila menyemangati dirinya sendiri. Nabila merapikan pakaiannya kembali dan memasukkannya ke dalam lemari. Satu persatu, secara rapih dan teliti. Ia yang sudah membuatnya berantakan jadi ia juga harus merapikannya kembali seperti sejak kala. Cara menyampaikan kekesalan terbaik adalah dengan membereskan rumah atau makan-makan. Dan sekarang Nabila memilih untuk membereskan rumah. Setelah kamarnya sudah benar-benar rapih, barulah Nabila keluar mencari tempat untuk dibersihkan juga. Tangannya meraih kemoceng dan sapu ijuk, ia mulai membersihkan ruang tamu. Sebuah foto menarik perhatian Nabila, ia menatap bingkai foto itu sendu. Hatinya terenyuh, tiba-tiba dadanya sesak. Air matanya mengalir, membasahi pipinya. Sebuah foto keluarga besarnya, terpampang jelas di sana. "Abi, Umi... Nabila rindu," lirih Nabila mengusap wajah orang tuanya. Sudah bertahun-tahun Nabila kehilangan mereka. Pertama kehilangan ibunya dan kedua ayahnya. Hidup sebagai anak yatim piatu tidaklah mudah. Berusaha untuk tetap bersikap tegar meskipun tak ada orang tua di sampingnya. Di setiap salatnya, Nabila selalu berdoa untuk mereka. Kadang, rindu yang tak bisa terbendung bisa membuat Nabila terpuruk. Setiap kali menatap gundukan tanah mereka berdua, Nabila selalu mengeluarkan air mata. Seberapa kali pertahanan untuk tidak menangis tapi—saat melihat gundukan tanah serta papan nisan bertuliskan nama mereka, benar-benar menyakitkan. "Umi ... Abi, maaf... Bila gak bisa jadi anak yang terbaik. Maaf, Bila gak bisa jadi anak yang membanggakan. Walau Bila suatu hari nanti sukses pun, kalian gak akan mungkin bangga." Nabila menghapuskan air matanya. Nabila mengambil bingkai foto itu lalu memeluknya erat. "Bila janji ... Bila janji, Bila akan jadi anak yang membanggakan." "Nabila," panggil seseorang lirih. Nabila menghapus air matanya, meletakan bingkai foto itu pada tempatnya lalu berbalik. "Umi?" Lisa tersenyum kecut kemudian berlari memeluk keponakannya. ia mengusap rambut Nabila, memberikan Nabila sedikit kekuatan. Ia sangat tahu bagaimana sakitnya kehilangan kedua orang tua. Menyakitkan, sangat-sangat menyakitkan. Nabila seorang gadis yang sangat kuat. Dia bisa bertahan dengan menumpu kedua kakinya sendiri. Hidup bersama ibu dan adik tiri, tanpa ada saudara kandung yang menemani dia. Sudah berulang kali Lisa menyuruh Nabila untuk tinggal di sini tapi Nabila tidak mau, dia bilang ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Nabila terisak dipelukan Lisa. Tubuhnya bergetar, tak kuasa menahan isak tangisnya. Bukannya tenang dipeluk oleh Lisa, Nabila semakin menagis tersendu-sendu. "Umi Lisa ... Bila kangen umi sama abi," lirih Nabila. "Umi tahu sayang, Umi tahu kalau kamu lagi rindu betul sama mereka. Tapi sayang, mereka sudah tenang. Kamu jangan buat mereka sedih ya? Pasti mereka akan sedih liat kamu kayak gini," balas Lisa melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Nabila lalu tersenyum. "Kami itu bidadari. Mereka pasti bangga punya bidadari kayak Nabila." Nabila meraih tangan Lisa lalu menciumnya lama, membiarkan punggung tangan Lisa menempel di pipinya. "Umi Lisa. Nabila anggap Umi kayak Umi Nabila sendiri. Cuma Umi yang ada dan ngerti Bila ... Bila sayang Umi hiks." Sebelah tangan Lisa terangkat, mengusap rambut Nabila lembut. "Umi juga sayang banget sama kamu. Umi berharap banget bisa serumah sama kamu." Nabila mencium punggung tangan Lisa lagi. "Bila janji setelah kuliah Bila selesai, Bila akan tinggal di sini. Bareng Umi Lisa dan Adnan." "Iya sayang. Umi tunggu kedatangan kamu nanti... kalau kamu butuh sesuatu atau ada masalah di sana, hubungi Umi ya. Nanti Umi akan bantu." Nabila tersenyum lalu memeluk Lisa lagi. "Makasih banyak, Umi. I Miss you." *** Nabila membuat kue sambil mendengarkan lagu yang terputar dari earphonenya. Lisa mengusulkan beberapa ide untuk menepis rasa sedih Nabila. Hari ini ia akan membuat brownis panggang cokelat keju, kesukaan Adnan. Sebenarnya bukan hanya Adnan tapi dirinya juga suka. Sambil menunggu brownis matang, Nabila duduk di meja makan. Mulutnya tak berhenti-berhenti menyanyikan lirik lagu yang terputar di telinganya. Menghilangkan kesedihan Nabila susah-susah gampang. Butuh waktu dan juga proses, untuk itu Nabila memilih bernyanyi sambil membuat kue. Lihat saja, brownisnya akan lebih berwarna dan lezat. Nabila tertawa pelan, untung saja rumahnya sedang sepi. Hanya ada satu asisten rumah tangga dan dirinya. Lisa pergi keluar untuk berbelanja, sedangkan Adnan masih berada di sekolah. Jika ada yang bertanya ke mana suami Lisa berada, jawabannya di rumah dia sendiri karena Lisa dan suaminya sudah berpisah sejak lama. Semakin lama, suara Nabila semakin kencang kalau saja Adnan mendengar suaranya, dia pasti akan mengomel. "Blackpink in your areaaaah!" teriak Nabila mengikuti alunan lagu Blackpink. Tak semua, hanya bagian-bagian termudahnya saja. "Teteh Nabila!! Gak usah kenceng-kenceng bisa?! Suaranya sampe kedengeran ke luar!" teriak Adnan menatap Nabila kesal. Nabila mengerutkan dahinya, membuka earphone yang tertempel di kedua telinganya. Benar saja, saat Adnan mendengar suaranya dia akan mengomel. Adnan berjalan ke arahnya. Hidungnya mengendus-endus seperti seekor kucing menemukan tulang. "Teh?" panggil Adnan matanya mencari-cari sesuatu. "Apa?" "Lagi buat brownis ya?" "Iya." "Buat Adnan, ‘kan?" "Ya enggaklah, masa Teteh capek-capek bikin buat kamu!" Adnan memberungutkan wajahnya kesal. "Yaudah nanti Adnan beli aja di toko depan, lebih enak dari brownis buatan Teteh!" Nabila terkekeh pelan, menonjok-nonjok pipi Adnan yang sedang merajuk. "Cie... ngambek. Teteh buatin brownis ini spesial buat kamu. Hm ... sebentar, kayaknya udah mateng deh." Nabila pergi mengecek oven yang terletak tak jauh dari meja makan. Adnan menatap Nabila dari sini, sedetik kemudian beralih menatap layar Handphone Nabila. Sedari tadi, handphone Nabila berkedip-kedip. Adnan penasaran, ia mengambil handphone Nabila lalu melihat layarnya. Ia tahu, handphone Nabila tidak pernah dikunci, katanya kalau suatu hari dia kecelakaan orang-orang gampang menghubungi orang terdekat dia. Beberapa pesan muncul di layar Handphone. Kening Adnan berkerut ketika melihat nomor tidak dikenal mengirimkan pesan pada Nabila. Tanpa menunggu lagi, Adnan langsung membuka roomchat. 082xxxxxx : Nabila, 082xxxxxx : Tidak jadi jam 7, saya jemput kamu jam 5 Anda : siapa? 082xxxxxx : Kenaan "Adnan!" panggil Nabila kencang, refleks Adnan menyimpan Handphone milik Nabila ke atas meja. Nabila berjalan menatap Adnan intens sambil membawa piring berisikan potongan brownis. "Kamu buka-buka apa di hape Teteh?" Nabila meletakan piring ke atas meja. Bukannya merasa takut karena ketahuan kepergok, Adnan malah mencomot potongan brownis lalu melahapnya. "Tadi ada yang ngechat, katanya jam 5 jemput. Kenaan siapa tuh?" Sontak mata Nabila melotot, cepat-cepat menyambar Handphonenya. Ia melirik sekilas jam dinding. "Astaga! Ini udah jam setengah lima!" teriak Nabila histeris. Adnan memutar bola matanya malas. "Adnan lagi nanya loh, Teh. Kenaan siapa? Pacar ya?" Nabila berdecak kesal. "Kenaan siapa lagi atuh kalau bukan Kenaan kakak tirinya Mentari." Uhuk-uhuk! Adnan terbatuk saat mendengar ungkapan Nabila. Ia mengambil gelas yang sudah terisi air putih lalu meminumnya cepat. "Kenaan? Kok bisa?! Teteh jangan deket-deket sama dia, kalau Teteh disakitin sama dia gimana?" "Teteh 'kan udah pernah cerita, Kenaan baik. Udah ya, nanti lagi ceritanya! Teteh mau siap-siap!" Setelah mengatakan itu, Nabila berlari menaiki tangga dengan kecepatan kilat. Adnan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dibilangin ngeyel, kalau disakitin nanti nangis-nangis," cibir Adnan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN