4. Bidadari di pinggir jalan

1456 Kata
Nabila merebahkan tubuhnya di kasur. Memeluk jaket pemberian Kenaan semalam. Berbicara tentang semalam, Nabila sangat-sangat menyukai malam itu. Setelah memakan bakmi, Kenaan mengajaknya untuk mencicipi camilan di pinggir jalan dekat pasar baru. Perlakuan Kenaan semalam sangat manis. Saat Nabila disenggol oleh banyak orang, Kenaan dengan sigap melindungi Nabila. Wanita mana yang tidak terbawa perasaan saat ada pria memperhatikan layaknya seorang kekasih. Nabila menutup matanya, mengingat kembali wajah Kenaan dekat sekali dengan wajahnya. Memikirkan kejadian itu refleks Nabila memukul kepalanya sendiri. Ia bangkit dari posisi tidurnya. Memukuli pelan kepalanya. Untuk apa ia memikirkan Kenaan. "Haduh... kenapa saya bisa kepikiran sama manusia itu." Nabila berdecak pelan. Ia berdiri, berjalan ke arah cermin. Bayangan Kenaan semalam kembali terputar di otaknya. Nabila mengembuskan nafasnya panjang, merasa kesal sendiri. Bayangan Kenaan kerap kali muncul dan masuk ke dalam pikirannya. Hatinya bertanya-tanya, apakah semua orang akan seperti ini setelah diajak jalan oleh pria? Tapi tidak, beberapa kali Nabila jalan bersama pria tapi ia tak pernah merasa gila seperti sekarang. Semua yang dikatakan oleh adik sepupunya sepenuhnya salah. Kenaan bersikap seperti itu ke Jingga karena Kenaan menyayangi Jingga. Dia tak ingin adiknya tersakiti karena perbuatan adik sepupunya. Kenaan tidak seburuk dari apa yang Nabila pikirkan, dia baik dan peduli. Tangannya meraih kenop pintu kamar, setelah pintu terbuka ia langsung keluar. Pagi-pagi seperti ini sangat cocok menghirup udara segar di luar. Adnan—adik sepupunya sudah berangkat ke sekolah dari setengah jam yang lalu. Sama sepertinya dulu, saat ia masih bersekolah. Ia selalu berangkat pagi-pagi buta sekali. Bukan tanpa alasan, keluarga besarnya terkenal akan kedisiplinannya. Bagi keluarganya, disiplin bukanlah aturan melainkan sebuah kebiasaan. "Bila?!" panggil seseorang membuat Nabila menghentikan langkahnya. Ia menoleh, lalu tersenyum lebar. "Eh Umi." Nabila memanggil tantenya dengan panggilan umi karena Nabila sudah sangat terbiasa. Ketika Adnan memanggil ibunya dengan panggilan 'mama', ia malah memanggilnya umi. Setelah almarhum ibunya meninggal, hanya umi yang menjadi penggantinya. Kebaikan, tatapan serta kasih sayang yang diberikan umi padanya, sama persis seperti ibunya memberikan itu semua padanya. Hidup sebagai anak yatim piatu tidak menggoyahkan semangat Nabila sedikit pun. Dukungan dari merekalah yang bisa membuatnya kuat sampai seperti ini. "Kamu ke mana aja semalem? Cie ... Adnan sama adeknya, dan kamu sama kakaknya. Tapi ... kalau boleh jujur, kakaknya boleh juga," goda Lisa-tantenya. "Eh, apaan sih," elak Nabila menyembunyikan pipinya yang memerah bak kepiting rebus. "Suka ‘kan kamu?" "Ya enggak lah Mi, coba atuh bayangin. Bila yang cantiknya kebangetan ini masa sama cowok liar kayak dia," dalih Nabila mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Gak suka tapi pipi kamu kayak mau ke bakar," cibir Lisa sambil terkekeh. "Haduh udahlah Mi. Bila teh mau jalan-jalan keliling kompleks, nyari udara seger." Nabila mengalihkan pembicaraan. Tak ambil pusing, ia langsung mengambil punggung tangan Lisa dan menciumnya. "Dah Umi cantik! Bila pergi dulu ya!" *** "Sepeda Adnan boleh juga. Udah lama gak naik sepeda, seru juga," gumam Nabila menggoes sepeda. Keluar dari area kompleks, bergabung dengan kendaraan umum lainnya. Wajahnya semringah, matahari pagi menyorot dan menepis kulit berkeringatnya. Wajah Nabila tampak berkilau saat terkena cahaya matahari. Campuran keringat serta polusi udara membuat wajah Nabila kelihatan berminyak. Sudah lama sekali rasanya Nabila tidak bersepeda. Jika ia kembali ke Bandung maka kesibukan terus-terusan mengepungnya sampai tak ada waktu bermain-main seperti ini. Waktu liburan tinggal 5 hari lagi, setelah itu ia akan kembali ke Bandung. Hari-harinya di kota Jakarta terasa sangat singkat dibanding hari-harinya di Bandung. Entah kenapa Nabila ingin segera menyelesaikan kuliahnya. Setelah ia lulus nanti, ia akan tinggal di sini. Nabila menghentikan sepedanya di bawah pohon rindang dekat jalan raya. Sekarang ia sedikit berani keluar dari area kompleks sendirian. Walau ia tahu, kalau kota Jakarta banyak sekali penjahat. Pencopet, pengamen dan pengemis, berkeliaran di sini. Tak hanya Nabila di sini, di jarak 5 meter ada banyak pengendara sepeda juga yang meneduh di sini. "Weis!" teriak seseorang membuat pandangan semua orang tertuju pada si peneriak termasuk dirinya. Matanya membulat kaget, di sana ada Kenaan. Dia sedang berada di dalam mobil. Tangan dia keluar dari kaca jendela, merentangkan kelima jarinya sedetik kemudian dua jarinya. Dia mengulangnya sampai berkali-kali, kelima jarinya dan dua jarinya. Apa maksud Kenaan? Kenaan tersenyum sebelum lampu hijau menyala, terdengar suara klakson memekakkan telinga. Kenaan menutup kaca jendelanya kemudian menjalankan mobilnya kembali. Nabila mengerutkan dahinya tak mengerti. Ia mencoba mengartikan kode yang diberikan oleh Kenaan. "Neng mau beli minum?" tanya seorang penjual minuman, menyodorkan sebotol air pada Nabila. "Gaklah Pak. Saya teh masih punya minuman," tolak Nabila halus. "Bukan asli sini ya, Neng?" tanyanya. "Bukan, Mang. Saya teh asli Bandung." "Wah sama atuh, Neng. Saya juga asli Bandung ... ngomong-ngomong, tadi sih eta saha pemuda kasep?" *terjemah : Tadi itu siapa pemuda tampan? "Temen, Mang." "Oh, mau beli gak Neng? Nanti Amang kasi tahu si pemuda itu ngomong apa," tawar penjual minuman itu. "Hm ... yaudah atuh, Mang. Berapa itu satunya?" tanya Nabila mengambil sebotol air mineral. "Cuma 5 ribu." Nabila mengambil selembar uang berwarna hijau di saku celana trainingnya kemudian memberikannya pada penjual itu. "Sisanya buat Amang aja." "Alhamdulillah. Semoga rezeki Neng lancar dan terus langgeng ya," ucap penjual itu kesenangan. "Tadi teh, dia ngomong. Jam 7 nanti, dia bakal dateng ke rumah buat jemput." "Hah?" beo Nabila matanya sontak membulat. "Kayaknya sih mau diajakin kencan, Neng," godanya sambil tertawa pelan. "Kalau gitu, saya pergi dulu ya." Nabila syok, membuka air mineral itu lalu meminumnya sampai tersisa setengah. Dadanya naik turun, mengulangi kata demi kata yang diucapkan oleh penjual minuman tadi. Kenaan? Kencan? Jam 7? Nabila menepuk wajahnya pelan, ia baru sadar ternyata kode jari itu jamnya. Nabila tertawa pelan, jantungnya berdebar kian kencang. Kakinya sedikit meloncat-loncat kegirangan. Semua orang menatapnya dengan tatapan penuh tanya, sesekali mereka akan menggeleng mengira kalau Nabila habis menang lotre. Nabila diam, menatap ke arah semua orang. Ia menelan salivanya kasar. Ternyata, semua orang tengah menatapnya. Dengan sekali gerakan, Nabila naik dan menggoes sepedanya kencang menahan rasa malu. "Kenapa kamu seseneng itu Nabila! Kamu teh gak malu diliatin sama orang-orang tadi! Astaga kayaknya kamu harus bunuh diri sekarang deh," gerutu Nabila sambil menghentak-hentakan tangannya ke kemudi sepeda. Kenaan hanya ingin mengajaknya jalan, bukan kencan. Memangnya siapa dirinya? Kenapa ia selalu berharap lebih di setiap perlakuan baik Kenaan. Saat Kenaan tersenyum tadi, dunianya seakan terombang-ambing. Suara bising pun teralihkan oleh senyuman Kenaan. "Fokus Nabila! Fokus! Fokus!" Nabila menarik dan mengembuskan nafasnya panjang. "Gila, saya bener-benar sudah gila!" *** Kenaan tak bisa berhenti-berhenti untuk tersenyum. Hampir seluruh bawahannya merasa bingung dengan sikap Kenaan hari ini. Biasanya Kenaan akan terlihat menyeramkan, dingin dan galak, tapi hari ini begitu berbeda. Ketika ada kesalahan, Kenaan tidak memarahinya. Kenaan akan berbicara dengan sangat hati-hati, memberitahu di mana letak kesalahan berada. Ketukan pintu membuyarkan lamunan Kenaan. Ia mendongkak, menatap ke arah pintu ruangan. "Masuk!" Setelah mendengar intrupsi dari sang atasan, barulah orang yang mengetuk pintu tadi masuk. "Ada apa?" "I-ini, Pak. A-ada berkas yang harus ditandatangani." Seorang wanita sebaya dengan Kenaan, menyerahkan berkasnya. Tangan dia gemetar, keringat bercucuran di dahinya. "Kamu karyawan magang itu?" "I-iya, Pak," jawabnya gugup. Kenaan mengerutkan dahinya bingung, membanting berkas itu ke mejanya. Wanita itu terkaget-kaget, mengelus dadanya pelan. "Kamu takut? Memangnya saya ini monster?!" tanya Kenaan ketus. Wanita itu menggeleng cepat. "Eh, eng-enggak, Pak. Saya cuma gugup, katanya Bapak galak." "Siapa yang bilang!" "Ba—banyak, Pak." "Namamu?" "Eh, namaku?" "Iyalah! Siapa lagi!" "Liora." "Oke Liora." Kenaan membuka berkas itu, membacanya dengan teliti lalu memberikan coretan tinta. Kenaan mendongkak, menatap wanita itu datar. "Kamu mau denger cerita saya?" "Hah?" beo wanita itu kaget. "Eh iya, Pak." "Tadi saya ketemu sama bidadari di pinggir jalan. Rencananya saya mau ngajak jalan nanti malam, kamu tahu tempat romantis di daerah sini?" "Bidadari di pinggir jalan?" "Iya. Cantik banget, kamu tahu siapa namanya?" "Hah? Ya—ya enggak, Pak. Kan Bapak yang tahu, gimana si." "Mau tahu gak namanya?!" tanya Kenaan sedikit memaksa langsung saja wanita itu mengangguk pasrah. Dari pada wanita itu diusir dari perusahaan ini, lebih baik ia menurut. "Namanya Edelweeis." "Cantik ya, kayak bunga." "Ya emang bunga! Saya yang ngasih nama buat dia." Wanita itu mengerutkan dahinya bingung. "Memangnya Bapak, orang tuanya?" "Namanya Nabila tapi saya ngasih panggilan Edelweeis," jelas Kenaan sedetik kemudian matanya terbuka lebar. "Kok saya jadi cerita-cerita ke kamu! Memangnya kamu itu siapa!" "Kan, Bapak sendiri yang cerita. Saya mah dengerin aja, takut dipecat." "Ck, sekarang rekomendasi tempat romantis!" Liora diam, tampak berpikir keras. Ia harus merekomendasikan tempat yang bagus untuk sang atasan. Kalau ia tidak bisa merekomendasikan maka, keberadaannya di sini akan dipertaruhkan. Kenaan menatap intens Liora, menunggu jawaban dari wanita itu. "Kalau sunset bagusnya di Segarra Ancol, Pak. Malem juga bagus ... saya rekomendasinya pas sunset," usul Liora takut-takut. "Makanannya juga enak-enak." Senyum Kenaan mengembang. "Bagus! Thanks. Kamu bisa pesan makanan di kantin, sesukamu. Saya yang akan bayar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN