"Kalau Alia tidak bisa diajak berbicara baik-baik, ambil saja dengan paksa, Mas. Ambil semua aset Mas dan ceraikan dia. Siapa sih yang berani mengusik Mas. Mereka tidak akan berani mengusik Mas Dwi, orang-orang di Batalyon semua segan sama Om Yugo." "Rebut semuanya, ya?!" Ulang Dwika seperti robot peniru. "Iya rebut semuanya, kalau perlu kita singkirkan wanita lemah itu Mas. Berani-beraninya dia menantangmu untuk bisa bersamaku." Berbagai rencana kini berkeliaran di otak Nana saat akhirnya Dwika dengan tatapan kosongnya mengangguk menyetujui. Senyuman mengembang di wajah Nana membayangkan bagaimana berkuasanya dia nanti saat akhirnya Alia, penghalang terbesarnya untuk menguasai Dwika dan juga seluruh asetnya, berhasil di singkirkan. Awalnya Nana menganggap Alia hanya sebagai semut yang

