"Mau ngapain kamu di sini, Fatimah Sialan!" Berbarengan aku dan Bang Dwika saling bertukar pandang saat nama Fatimah keluar dari suara Nana yang tampak murka. Ya, memang orang yang aku hubungi sebelum aku turun dari mobil Mbak Eva adalah Mbak Fatimah, firasatku tentang Nana yang bermain hal-hal tidak terlihat membuatku takut untuk menghadapinya sendirian. Aku khawatir sikap denialku yang tidak percaya hal-hal ghoib hanya akan membuatku celaka dengan cara yang sangat konyol. Itu sebabnya tidak mau mengambil resiko aku memilih menghubungi Mbak Fatimah. Sedikit pun aku sama sekali tidak menyangka jika Bang Dwika yang dikali pertama sapaannya terhadapku, yang aku pikir dia mungkin akan berbuat gila seperti kehendak Nana, nyatanya sudah lebih dahulu tersadar. Ya Allah, rasanya di tengah caru

