"Bang, Ya Allah sadar, Bang!" Dengan bengis Bang Dwika mendekatiku, matanya yang menyorot tajam begitu menebar ancaman, untuk kedua kalinya tangannya terangkat, membuatku langsung memejamkan mata karena tidak sanggup jika harus mendapatkan siksaannya. "Kamu harus di beri pelajaran Alia!" Suara itu begitu dekat terdengar menuju ke arahku, langkah kaki Bang Dwika yang begitu berat bagai malaikat kematian yang bersiap mencabut nyawaku. Degup jantungku menggila seiring dengan rasa takutku yang semakin menggunung, sungguh di saat seperti ini yang ada di dalam kepalaku hanyalah tentang Dika. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana hancurnya Dika jika tahu hidup Ibunya berakhir di tangan Ayahnya karena ada cinta dari masalalu yang tidak pernah usai. Dalam sekejap bayang-batang tentang Dika yang t

