Pernikahan Jesi dan Nathan

1270 Kata
Hari ini keluarga Giana dan Nick sangat sibuk, walaupun bukan anak mereka yang menikah tapi Jesi dan Nathan sudah seperti anak mereka. Persiapan yang sangat singkat ini membuat Jesi dan Nathan memutuskan untuk menikah di sebuah gereja kecil dan hanya sahabat dan keluarga saja yang hadir. Selain untuk membuat pernikahannya lebih hangat, Nathan juga tidak ingin banyak orang yang tau keluarganya. Nathan juga ingin Jesi tidak terlalu dipusingkan dengan omongan orang nantinya. Nathan sudah membicarakan hal ini dengan Oma Rina dan orangtuanya dan mereka semua setuju. Karena tugas Nathan dan Jesi setelah menikah akan lebih berat. Jesi dan Nathan sepakat tidak perlu bulan madu, mereka hanya ingin penyesuaian saja untuk Jesi di lingkungan baru selama 1 Minggu. Selama 1 Minggu itu Nathan akan mengajak Jesi keliling daerah mereka tinggal agar Jesi terbiasa. Nathan dan Jesi akan mengurus cabang Hope Hospital di Aussie. Karena Kakak Nathan ( Daniel ) yang menikah dengan Kakak Nick ( Chloe ) memegang cabang Singapore. •••••••••• Pagi ini semua sudah berkumpul di dalam gereja untuk mengikuti prosesi pernikahan Nathan dan Jesi. Selain keluarga Jesi, Nathan ada keluarga Nick dan Giana. Dan Jesi hanya mengundang Bella dan Mora karena 2 sahabatnya yang lain pun sedang berhalangan hadir. Sedangkan Nathan hanya mengundang Derrel dan Jefri. Karena Jefri sudah Nathan beritahu alasannya mundur dari pekerjaan di Hope Jakarta. Semua terharu dengan janji yang diucapkan sepasang kekasih ini di hadapan Tuhan. Oma Rina pun tidak bisa menahan air matanya yang terus menetes karena bahagia melihat cucunya bertemu jodoh yang baik. Setelah acara selesai, mereka langsung menuju resto keluarga Nick yang sudah didekor sederhana untuk membuat kesan romantis dan hangat. Jesi sangat terkejut dengan resto keluarga Nick yang ada di gedung pencakar langit yang sering didatanginya. Jesi sangat terharu dengan semua kebaikan keluarga temannya yang menganggap dirinya keluarga. Pesta pernikahan sederhana yang dilakukan di resto keluarga Nick sangat berkesan untuk Jesi dan Nathan. Karena suasana menjadi hangat dan menyenangkan. Oma Rina sampai menitikkan kembali air matanya. Dia kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tidak dia rasakan. Sejak orangtua Jesi meninggal, Oma Rina merasa sangat kesepian. Karena Jesi yang langsung bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhannya dan adik Jesi. Sedangkan adik Jesi juga sibuk sekolah sambil membantu cafe temannya, karena tidak ingin membebani kakaknya lebih banyak. Dan selama ini Oma Rina berusaha tetap terlihat senang agar cucunya tidak khawatir. Begitu juga dengan keputusannya ikut Jesi pindah ke Aussie, karena dia juga tidak ingin membuat cucunya kepikiran. Oma Rina sangat terharu dan senang karena cucunya mendapatkan mertua yang baik dan sangat menyayangi cucunya walaupun baru bertemu beberapa hari sebelum menikah. Kini Oma Rina sibuk berbincang dengan orangtua Nick dan Nathan, semua berbincang dengan hangat dan penuh canda tawa yang membuat Oma Rina bisa tertawa lepas. Beban yang selama ini menghimpit di dadanya seolah menghilang tanpa jejak. Sementara Jesi dan Nathan duduk berdua sambil menikmati hidangan. Jesi pun ikut menitikkan air matanya saat melihat omanya tertawa dengan senangnya. "Gw dah lama banget ga liat Oma tertawa lepas begitu." "Owwyaa... sejak awal gw ketemu Oma, kayanya Oma happy-happy aja beib. Emang Oma sering murung?" "Murung sih ga cuma ga pernah ketawa lepas sejak papa mama meninggal." ucap Jesi lirih sambil terus menitikkan air matanya. "sssttt... dah jangan sedih beib. Kita dah jadi keluarga sekarang, kita akan buat Oma ketawa terus yaa. Nanti di Aussie, kita juga harus atur waktu untuk keluarga. Kita ajak Oma keliling Aussie ya, biar Oma ga kesepian." "Nath...!" "Hmmm... ya beib." "Terima kasih yaa... lu udah pilih gw yang bukan siapa-siapa ini jadi pendamping hidup lu. Keluarga lu juga bisa terima keluarga gw dengan hangat. Gw bener-bener masih seperti mimpi, gw ga nyangka kalo lu jodoh gw. Gw..." Nathan langsung membungkam bibir Jesi dengan bibirnya yang membuat Jesi membeku dengan mata terbelalak. Adegan itu sontak membuat semua temannya bersorak menggoda mereka. "Suiitt... suiitt... tahan bro tahaaann... !!!" teriak Jefri sambil tertawa. "Woooyy... laaahhh... jomblo ini jomblo. Sabar dikit napa sih!! teriak Mora tak kalah gemas melihat pengantin baru ini. "Jes... napas Jes... napas...!" seru Bella melihat Jesi yang terdiam kaku sambil cekikikan. Jesi yang mendengar semua teriakan konyol temannya pun menepuk-nepuk lengan Nathan dan mendorong bahu Nathan untuk melepaskan ciuman mereka. Namun Nathan tidak peduli, dia merasa Jesi sudah sah menjadi istrinya dan dia sangat gemas dengan tingkah malu-malu Jesi. Nathan melepas ciuman mereka tapi tidak melepaskan pelukannya. Dia tetap memeluk Jesi sambil berbisik di telinga Jesi. "Gimana kalau kita ke hotel duluan?! Gw ga sabar, apa istri gw yang tampangnya galak ini galak juga di ranjang." Muka Jesi langsung bersemu merah dan tersenyum malu-malu, tapi dia menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui usulan Nathan. Nathan yang gemas langsung mencubit hidung Jesi dan melepaskan pelukannya untuk membaur dengan teman-teman mereka. Ya Jesi sudah mengatakan pada Nathan kalau dia ingin bergembira bersama sahabatnya sebelum besok mereka langsung berangkat ke Aussie. Para orangtua pun ikut tertawa melihat kelakuan teman-teman pengantin yang tak kalah konyol. Semua gembira dengan pernikahan Jesi dan Nathan. Ditengah kegembiraan pesta kecil pernikahan Jesi dan Nathan, ada hati yang menggalau. Bella yang sedari tadi mencuri pandang kearah Derrel merasa Derrel cuek padanya. Sehingga Bella semakin merasa Derrel hanya main-main dengannya. Bella yang selama ini selalu mengejar orang yang disukainya, kali ini dia ingin Derrel mengejarnya seperti awal pertemuan mereka. Bella merasa kehilangan dengan puluhan misscall Derrel. Walaupun hal itu baru terjadi satu hari dan esoknya Bella langsung memblokir nomor Derrel. Bella yang selalu ditolak merasa tidak percaya diri, dia bukanlah wanita yang bertubuh ideal dan cantik. Pada saat Derrel menyatakan ingin pdkt dengannya, Bella langsung bimbang. Bella tidak percaya kalau orang seganteng Derrel akan menyukainya lebih dulu dan pada pandangan pertama. Giana yang mengetahui perubahan mimik muka Bella pun mengajak Bella ke balkon. "Sabar ya Bel, kalau jodoh pasti dipersatukan." ucap Giana saat mereka sudah berdiri ditepian balkon sambil memandang kota Jakarta sore hari. "Gw terlalu PD ya Gii. Gw ga tau diri, baru juga mau pdkt udah sombong banget gw nolak-nolak. Padahal gw juga bukan cewek cantik yang pantes dikejar." ucap Bella lirih. "ssstt... ga gitu Bel. Kasih Derrel waktu, mungkin kalian sama-sama perlu waktu. Yang gw tau, Derrel bukan tipe cowok yang suka main-main. Dia selalu serius dengan semua ucapannya. Kalau kalian jodoh pasti akan didekatkan gimana pun caranya." jelas Giana menenangkan sahabatnya. "Tapi gw emang ga tau diri banget Gii. Baru juga ditelponin dah sok-sok nolak, sok-sok jaim pas Derrel Dateng ke kos gw juga. Gw emang ga pantes diperjuangin Gii, buktinya Derrel langsung mundur." "Mungkin Derrel mau membuktikan dirinya Bel. Setau gw juga Derrel udah tahap akhir skripsinya. Mungkin dia mau fokus dulu. Sabar ya Bel... lu itu cantik. Kecantikan orang itu ga diliat dari luarnya aja tapi dari hati lu. Hati lu tuh baik banget Bel, semua orang bisa rasain itu. Jadi yang harus lu percaya adalah kebaikan hati mencerminkan kecantikan sejati dari dalam." Bella sangat terharu dengan semua kebaikan sahabat-sahabatnya. Bella merentangkan tangannya dan Giana memeluk Bella sambil tersenyum. Mereka masuk kembali ke dalam dan bergabung bersama pengantin dan teman-teman yang lain. Hari ini mereka semua berfoto dan tertawa sampai puas. Jesi dan Nathan pun sudah berganti pakaian santai karena acara berlanjut sampai makan malam. Oma Rina pun sudah diajak untuk beristirahat di hotel tapi dia tetap ingin bergabung bersama. Bersyukur ini adalah resto keluarga dan semua khusus untuk Jesi dan Nathan. Oma Rina pun bisa bersantai di sofa yang disediakan sambil mengamati dan sesekali mengobrol dengan siapa saja yang ada didekatnya. Setelah sekian lama merasa sepi, akhirnya Oma Rina merasakan jiwanya seperti hidup kembali sehingga lelah pun tidak dirasakannya. Mereka semua menjadikan pesta hari ini sebagai kenangan yang indah untuk selalu mereka kenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN