Keheningan jatuh bukan seperti debu, tapi seperti peluru yang berhenti tepat di depan dahi. Kedua mata Xavier membulat tajam. Bukan panik. Bukan juga bercanda. Itu tatapan pria yang sudah terlalu sering membaca tanda-tanda sebelum orang lain menyadarinya. “Sayang,” suaranya turun, berat, penuh hitungan. “Jangan-jangan kamu hamil.” Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat ruangan membeku. Ara yang masih duduk di pangkuannya refleks menegakkan badan. “Hah…?” Ia berkedip. Sekali. Dua kali. “Enggak tuh.” Jawabannya terlalu cepat. Leon yang berdiri dekat jendela langsung menoleh. Bara berhenti bernapas sepersekian detik. Nani menatap Ara, lalu Xavier, lalu kembali ke Ara, seperti sedang menyusun potongan puzzle yang tiba-tiba terasa masuk akal. “Bos…” Leon membuk

