Dari Banjir Turun ke Hati

1323 Kata
Hari ini adalah hari pertama Mbah Sutarno tinggal di Losmen 86, losmen baru yang didirikan Titah, cucunya, setelah pindah ke Indonesia. Setiap pagi, Mbah Sutarno rajin berolahraga. Pulang berolahraga, beliau langsung menuju dapur untuk meminta air minum. Namun, juru masak, Cengek, tidak ada di dapur. Saat hendak mengambil air sendiri, Mbah Sutarno terpeleset. Ia mengikuti aliran air yang tumpah dan menemukan sumbernya: kran kamar mandi tamu yang bocor. Mbah Sutarno mengetuk pintu kamar tamu tersebut. Tamunya, seorang perempuan cantik, menyambutnya. Mbah Sutarno urung marah dan meminta Paijo, karyawan Losmen 86, untuk memperbaiki kran yang bocor. Jakarta, Losmen 86 Di dapur Losmen 86: "Huh... Capek juga, ya, habis lari pagi. Ngek, ambilkan saya air, dong, Ngek..." pinta Mbah Sutarno. "Mbah Sutarno..." Afgan memanggil. "Iya, eh, Afgan," jawab Mbah Sutarno. "Ngapain?" tanya Afgan. "Minta diambilkan minum, Afgan," jawab Mbah Sutarno. "Loh, memangnya Cengek ke mana, Mbah?" tanya Afgan. "Nggak tahu, kamu carikan, ya," pinta Mbah Sutarno. "Oke, siap..." kata Afgan. Satu jam kemudian... "Haduh... Afgan, Afgan... Cari Cengek kok lama banget, sampai satu jam sendiri. Ya sudah, deh, saya ambil airnya sendiri saja. Saya juga sudah nggak kuat nih menahan haus," keluh Mbah Sutarno. Di kafe Losmen 86: Pak Lik Purwanto dan Renaldi menghampiri Afgan. "Afgan..." Afgan menjawab dalam bahasa Jawa Krama Inggil, "Inggih, Pak Lik Purwanto kaliyan Kang Mas Aldi." Pak Lik Purwanto bertanya dalam bahasa Jawa Ngoko, "Kowe golek apa ta, saka mau mondar-mandir wae, Afgan?" Renaldi, juga dalam bahasa Jawa Ngoko, mengeluh, "Tau nih... Mumet tau sirah e awakku, delok kowe mondar-mandir saka mau." Afgan menjelaskan dalam bahasa Jawa Krama Inggil, "Kula nembe madosi Cengek, Pak Lik, Kang Mas... Mbah Sutarno nyuwun dipun ambilkan unjuk kebiasaan si Cengek mboten mangertos enten dipun pawon kala dipun perlukan dipun pawon." Renaldi bertanya dalam bahasa Indonesia, "Oh, iya, ya. Kamu nggak bilang ke istrimu, Titah, Afgan?" "Titah belum pulang dari Kediri, Kang Mas," jawab Afgan. Pak Lik Purwanto menyarankan dalam bahasa Jawa Ngoko, "Ya kowe telepon dong, Afgan." Afgan menjawab dalam bahasa Jawa Krama Inggil, "Oh, nggih. Punapa mboten kepikiran saka wau, nggih..." Pak Lik Purwanto dan Renaldi pun mengeluh, "Capek deh..." .... "Gelasnya sudah, tinggal airnya saja... Haduh..." Mbah Sutarno terpeleset saat hendak mengambil air di dapur. Paijo, yang mendengar suara, berkata, "Perasaan tadi ada suara di dapur, ternyata nggak ada di sini. Ya sudah, lanjut mengasuh anak-anak saja, deh..." Mbah Sutarno menggerutu, "Haduh... Joya, bukannya lihat ke sini malah pergi lagi. Seperti Nano saja kamu itu, ya, Joya! Duh, malah saya ngompol lagi. Emm... Tapi enggak, ah. Bau nya nggak pesing kok. Eh, tapi tunggu deh, ini air apa, ya? Ikuti saja, deh..." Di kamar 012: Mbah Sutarno menemukan sumber air yang bocor. "Dari sini nih sumber airnya. Ketuk pintu saja, deh..." Tok... Tok... Tok... "Iya, eh, Kakek..." Rara membukakan pintu. Mbah Sutarno berpikir dalam hati, "Kowe, wah ayu sekali wedok iki." "Ada apa, ya, Kek?" tanya Rara. "Enggak, saya ke sini hanya ingin bertanya. Ini, loh, air yang sampai ke dapur asalnya dari mana. Ternyata asalnya dari sini. Saya tadi terpeleset dan jatuh," jelas Mbah Sutarno. "Oh, ya Allah, maaf, ya, Kek. Ini, loh, Kek, pompa air di kamar saya sepertinya bocor. Saya baru saja ingin melaporkan masalah ini ke bagian informasi di Losmen 86 ini," kata Rara. "Oh, gitu..." kata Mbah Sutarno. "Iya, Kek..." jawab Rara. "Kalau begitu, saya yang akan membereskannya. Kamu tenang saja, ya. Saya akan segera kembali lagi ke sini," kata Mbah Sutarno. "Iya, Kek..." kata Rara. Di halaman belakang Losmen 86: Mbah Sutarno mencari Paijo. "Haduh, si Joya ke mana lagi, ya? Dibutuhkan nggak ada. Sebelas dua belas nih sama si Cengek. Cocok untuk mereka berjodoh. Ada Betta... Betta... Betta..." Mbah Sutarno memanggil Betta. "Iya, Mbah Sutarno. Ada apa?" tanya Betta. "Sini..." pinta Mbah Sutarno. "Iya..." jawab Betta. "Kamu lihat Paijo di mana? Tidak?" tanya Mbah Sutarno. "Tidak, Mbah Sutarno," jawab Betta. "Duh, ke mana lagi si Joya. Ya sudah, terima kasih, ya, Betta," kata Mbah Sutarno. Betta menjawab, "Io, Mbah Sutarno." .... "Nah, ini dia, eh, Cengek! Kamu habis dari mana saja, sih?" Afgan menegur Cengek. Cengek menjawab sambil bercanda, "Habis ngantar makanan ke kamar tamu di atas. Kenapa? Kangen, ya? Hati-hati, nanti Bu Afgan cemburu, loh, Pak Afgan?" Afgan menjawab, "Sembarangan kamu! Saya kangen sama... saya kangen sama istri saya, bukan kamu. Hemm... Oh, ya, Mbah Sutarno tuh nyariin kamu. Mungkin Mbah Sutarno kali yang kangen sama kamu." Cengek bereaksi, "Ih... Masa saya dikangenin sama aki-aki? Sudah keriput, tua pula. Ih, ogah..." Afgan menyuruh, "Aah, sudah! Kamu antar minum untuk Mbah Sutarno, gih, sana, ke kamarnya." Cengek mengeluh, "Oke... Loh, kok kenapa banyak air begini, sih, di dapur, Agan, Agan, Agan, Afgan...?" Afgan memperingatkan, "Apa kamu bilang? Kamu panggil saya namanya saja? Mau saya potong gaji kamu?" Cengek meminta maaf, "Enggak... eh, iya, deh... Emm, ini, loh, Pak Afgan, kenapa banyak air begini, ya, di dapur? Maksud saya seperti itu, Pak Afgan. Jangan emosi dulu, dong, Pak Afgan..." Mbah Sutarno datang dan memberi salam, "Assalamu'alaikum..." Afgan dan Cengek menjawab, "Wa'alaikumussalam..." Mbah Sutarno meminta, "Kamu ini dicariin juga! Dari mana saja, sih, Cengek? Nih, lihat, saya kepeleset nih. Saya mau ganti baju dulu. Kamu bikinkan kopi, ya. Oh, ya, nanti kalau ada yang melihat Paijo, suruh ke kamar, ya, Afgan, Cengek." Afgan dan Cengek menjawab, "Iya, Mbah Sutarno..." Mbah Sutarno berkata, "Oke..." Di depan Losmen 86: Paijo mengeluh, "Capek juga, anak-anak..." Winda berkata, "Iya, Lik. Lik Jo, Winda haus nih. Ambil minum, yuk, di dapur." Paijo mengajak, "Ayo..." Winda dan Windi menjawab, "Aku ikut..." Dzaka dan Dzaki serempak berkata, "Aku juga ikut..." .... "Iya, ya, benar apa kata Mbah Sutarno. Ini air dari mana lagi? Ini semua gara-gara kamu, Cengek!" Afgan menyalahkan Cengek. Cengek membela diri, "Kok gara-gara saya, sih, Pak Afgan?" Afgan menjelaskan, "Iya lah, gara-gara kamu nggak ada di dapur! Coba kalau kamu ada di dapur, pasti nggak becek seperti ini, dan juga Mbah Sutarno nggak akan kepeleset." Dzaka bertanya, "Lagi apa, Bi?" Afgan menjawab sambil bekerja, "Lagi ini nih, nguras air. Eh, kalian..." Windi bertanya, "Kok sampai banjir, sih, Bi? Lalu itu airnya dari mana?" Afgan menjawab, "Nggak tahu, sayang. Ini Abi lagi cari tahu asalnya dari mana." Anak-anak Afgan menjawab, "Oh..." Afgan memberi instruksi, "Oh, ya, Ngek, kamu nggak usah antar minum ke kamar Mbah Sutarno, deh. Biar Paijo saja." Paijo bertanya, "Loh, kok saya, sih, Pak Afgan?" Afgan menjelaskan, "Biar sekalian kamu menghadap Mbah Sutarno. Tadi kamu dicari Mbah Sutarno. Satu lagi, Jo." Paijo bertanya, "Apa itu, Pak Afgan?" Afgan meminta, "Nanti kamu kasih laporan pada saya kalau Mbah Sutarno menyuruhmu sesuatu, ya." Paijo menjawab dengan semangat, "86, laksanakan, Pak Afgan!" Di kamar Mbah Sutarno: Paijo memberi salam, "Assalamu'alaikum..." Mbah Sutarno menjawab, "Wa'alaikumussalam..." Mbah Sutarno bertanya, "Kamu dari mana saja, sih, Jo? Saya cariin juga?" Paijo menjelaskan, "Maaf, deh, Mbah. Saya tadi menemani anak-anak main dulu. Ada apa, Mbah Sutarno, panggil saya ke sini?" Mbah Sutarno menjawab, "Saya mau curhat, Jo." Paijo bertanya, "Oh, mau curhat? Soal apa?" Mbah Sutarno menjawab, "Soal saya yang sedang kasmaran, Jo." Paijo terkejut, "Oh, Mbah Sutarno lagi kasmaran dengan seorang perempuan...?" Mbah Sutarno membenarkan, "Iya, Jo..." Paijo semakin terkejut, "Atakiwir..." Mbah Sutarno bertanya, "Kamu kenapa, sih, Jo? Kaget, ya?" Paijo menjawab, "Iya, Mbah..." Mbah Sutarno melanjutkan, "Oh, tapi sayang, Jo..." Paijo menebak, "Sayang? Kenapa, Mbah? Ah, pasti ceweknya sudah punya suami, ya, Mbah?" Mbah Sutarno membantah, "Bukan itu, Jo..." Paijo menebak lagi, "Oh, pasti sudah punya pacar, kan, Mbah?" Mbah Sutarno membantah lagi, "Bukan itu juga, Jo..." Paijo bertanya, "Oh, bukan itu, terus apa, dong, Mbah?" Mbah Sutarno curhat, "Mbah nggak tahu dia mau atau tidak, ya, sama Mbah. Oh, ya, satu lagi, Jo. Nanti kalau kamu keluar, tolong bilang ke Afgan atau Titah kalau di kamar kosong dua belas keran airnya bermasalah, dan cewek yang aku suka itu menginap di kamar kosong dua belas, Jo..." Paijo memberikan kopi, "Oh, gitu. Oke, ini kopi nya, Mbah." Mbah Sutarno berterima kasih, "Oke, terima kasih, ya, Jo..." Paijo pamit, "Iya, Mbah. Sama-sama. Assalamu'alaikum..." Mbah Sutarno menjawab, "Wa'alaikumussalam..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN