“Beni!.” Bagas terkejut sahabatnya yang dulu menitipkan Maya kini ada di depan matanya. Dia begitu kikuk berhadapan dengan Beni untuk saat ini, dia sungguh belum siap. “Kok kamu ke sini tidak kabar-kabar sob?.” Beni menghindar ketika tangan Bagas hendak menyentuh pundaknya membuat ketakutan Bagas semakin menjalar. Tatapan mata Elang Beni yang tajam menggambarkan amarah sedang menyelimuti dirinya. “Mana Maya?.” Itulah pertanyaan yang sejak tadi di takutkan Bagas, dia bingung harus menjawab apa. Apa mungkin Beni sudah tahu kalau sebenarnya ia sudah menceraikan Maya atau jangan-jangan Maya mengadu pada Beni?. “Bu buat apa kamu mencari istriku?” ucap Bagas terbata-bata. Ia berusaha menutupi apa yang sudah terjadi. Dia tidak mau kehilangan semua pemberian Beni. “Buat memastikan kalau

