Dua Belas

1592 Kata
Setelah acara pernikahan selesai, Nora menyeret Tira ke kamarnya. "Jelaskan kenapa Jihan bisa ada di sini!" tuntutnya. Tira berpangku tangan. "Kenapa? Takut?" Nora mengangkat alisnya. Tira mungkin berharap dengan kehadiran Jihan akan membuat dirinya kalap. Sayangnya, sudah terlalu lama ia berlatih menggunakan akal sehatnya ketimbang emosinya. Bertingkah kekanak-kanakan bukanlah perbuatan seorang ratu. "Buat apa saya takut? Dengar, Tira. Saya memang bukan ibu kandungmu. Tetapi selama kamu berada dalam asuhan saya, saya tidak pernah mengajari Elara dan Arby menganggapmu sebagai kakak tiri. Bahkan, kasih sayang kami berlebih kepadamu hingga membuat adik-adikmu iri. "Kalau kamu memang ingin membalaskan sakit hatimu pada saya, setidaknya gunakan otakmu. Heran, volume otakmu itu berapa cc, sih? Sudah sebesar ini kerangka berpikirmu masih amburadul. Kamu pikir dengan mengungkap siapa saya pada semua orang akan membuat saya jatuh? Tidak, Sayang. Ayahmulah yang lebih dulu jatuh. Reputasinya hancur, bisnisnya hancur, kamu pun harus siap-siap menjadi gembel karena selama ini tanpa ayahmu kamu tak bisa apa-apa. "Bila selama ini saya diam, setelah ini jangan harap kamu bisa saya biarkan berlaku semena-mena. Kamu mungkin berpikir saya lunak, tetapi saya tidak bodoh. Kartu hidup dan mati bisnis ayahmu ada di tangan saya. Ingat itu baik-baik. Cukup satu kali kamu menghancurkan anak saya. Sekali lagi kamu keluar batas, jangan harap kamu bisa selamat!" Tira mengepalkan tangannya erat-erat. Dirinya tertohok atas gertakan ibu tirinya, sama sekali tidak mengerti kartu apa yang dipegang perempuan itu untuk menghancurkan dirinya dan ayahnya. *** Resepsi digelar keesokan harinya, masih di lokasi yang sama, sebuah hotel bintang lima. Desain serta dekorasi bertemakan rustic glam yang indah. Semalam mereka juga menginap di sana. Setelah mengantar Elara masuk kamar, Angga pergi entah ke mana. Elara yang tidak ingin mencampuri urusan Angga langsung membersihkan diri lalu tidur. Spekulasinya berkata pria itu menghabiskan malam pengantinnya bersama Attaruna, sepupu i****t–nya. Keterlaluan sekali, bukan? Bukannya Elara cemburu atau sakit hati, tetapi adakah orang yang berhubungan sesama jenis dengan saudaranya sendiri? Ide tersebut terlalu menjijikkan baginya. Semenjak dimulainya acara, ia sudah berganti gaun dua kali. Tamu undangan yang hadir banyak sekali, termasuk rekan-rekan kerja Elara. Resepsi juga dimeriahkan oleh atraksi panggung artis ibu kota. Elara sempat melihat beberapa kameramen yang berasal dari stasiun TV swasta menyorot ke arah pelaminan. Benarlah kiranya bahwa Angga cukup terkenal di media. Malam menjelang, acara pun ditutup untuk para undangan dan digelar tertutup untuk keluarga besar. Gaun Elara berganti dengan gaun malam. Angga mengajak istrinya berkeliling dan memperkenalkannya kepada anggota keluarga yang belum sempat Elara temui. "Ini Om Robert dan Tante Martha," kata Angga memperkenalkan istrinya kepada keluarga adik bungsu ayahnya yang berdomisili di Surabaya. "Ini anak-anak beliau, Dyota dan Martenz." Dua remaja laki-laki bertubuh jangkung menyalami Elara dengan hormat. Elara membalas sapaan mereka dan duduk di meja tersebut beberapa menit lamanya untuk beramah tamah sebelum pindah ke meja lain. "Saya sudah pernah cerita belum, Pakde Bima itu kembarannya ayah saya? Pakde yang paling tua," terang Angga menggandeng Elara ke meja lain. Elara mengangguk. "Kembar tapi, kok, nggak mirip?" "Kembar non identik. Sebenarnya lumayan mirip, tapi beda postur aja." Elara tersenyum maklum. Pakde Bima memiliki postur tubuh ramping dan proporsional, sedangkan ayah mertuanya bertubuh tambun. "Hai, Re," sapa Angga pada seorang perempuan manis berambut panjang, Aretha. "Hai, Mas Angga. Gagah banget. Halo, Mbak Elara," kata Aretha memeluk Elara. Tepat setelah mengatakan itu, datanglah Attar menghampiri meja mereka. "Kenalin, El. Ini Attar. Kamu sudah berkenalan dengan Athalia, kan? Nah, Attar ini kembarannya Athalia. Dan ini Aretha, pacarnya Attar. Seharusnya mereka yang nikah duluan, tapi diundur dulu lima tahun lagi," kata Angga memperkenalkan sang istri pada sepupunya yang sempat dikira perempuan itu sebagai pacarnya. "Eh?" Gerak mata Elara mendadak melambat. Neuron otaknya bergerak cepat mencerna beberapa hal dalam waktu bersamaan. Detak jantungnya seakan-akan berhenti. Tak lama kemudian, raut wajahnya berubah. Syok. Bingung. Panik, melebur menjadi satu. Apa-apaan ini? pikirnya. Melihat bagaimana intens dan lembutnya cara Attaruna memandang Aretha, spekulasi bahwa Angga melakukan hubungan terlarang dengan sepupunya sendiri perlahan lenyap. Kepalanya menoleh penuh tanya pada Angga. Tatapan paniknya dibalas pria itu dengan ekspresi geli seperti mengejek sekaligus menahan tawa. "Kamu bilang saya cantik itu dari kacamata siapa? Kacamata pria normal, atau kacamata seorang gay?" "Kacamata pria normal." Shit! "Namanya Attaruna, adik sepupu saya." The hell?! Beragam percakapan di masa lampau berkerumun hiruk-pikuk di kepala Elara. Kalau diingat-ingat kembali, Angga tidak pernah membantah spekulasi Elara tentang status orientasi seksualnya. Bahkan sedari awal mereka bertemu dalam kencan buta, justru dirinyalah yang menuduh Angga gay terlebih dahulu. Pria itu hanya berjalan mengikuti alur demi memuluskan rencananya. Otaknya mendadak blank! Penipu! Elara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Terbersit rasa takut di hatinya. Bagaimana bila nanti pria itu meminta jatah malam pertama? Nggak sudi! "El?" tegur Angga memutus lamunan Elara. "Y–ya?" Elara tersadar, lalu buru-buru menyambut uluran tangan Attar dengan tangan gemetar. "Hallo, Attar." Tampaknya ia harus melanjutkan aktingnya sedikit lagi. Di bawah sana, lututnya menggigil. "Lain kali lihat-lihat dulu kalau belok ya, Mbak. Masih untung cuma ditabrak sepeda. Coba kalau ditabrak truk, langsung jadi perkedel," kata Attar, masih kesal sepupunya yang paling charming memilih perempuan yang pernah menyumpahi dirinya sebagai istri. Ingin rasanya Elara menggigit besi mendengar sindiran Attar. Kalaulah bukan karena sedang menjadi ratu sehari, entah apa yang akan terjadi. "Kamu dan Elara satu almamater, lho, sama-sama jaket kuning," timpal Angga lagi. "Oh ya?" Nada lembut Angga bicara dengan adik sepupunya membuat Elara yang tadinya ingin nge-gas mengurungkan niatnya. "Maaf, waktu itu saya membentak kamu," pintanya pada Attar. "Ya?" Attar terperenyak. "Bisa minta maaf juga rupanya," gumamnya sebelum terpekik. "Aduh! Jangan cubit-cubit, dong, Sayang. Sakit," rengeknya pada Aretha yang memelototinya. "Dan ini Marcel, ajudannya Aretha," kata Angga memperkenalkan seorang pria yang ikut duduk bersama mereka. Pria bernama Marcel itu mendengus. "Maaf, bercanda," timpal Angga menepuk bahu Marcel, dibalas Marcel dengan senyuman. "Marcel ini saudaranya Aretha." Acara keluarga itu berlangsung hangat. Angga memanggil Attar dengan kedipan matanya, kemudian keduanya naik ke atas panggung disusul oleh Costa. Ketiganya bergerak mengambil alat musik masing-masing. Angga melepas jasnya sebelum menyetem gitar listrik, Costa meraih bass dan Attar duduk di belakang satu set drum. "Lagu ini saya persembahkan spesial untuk adik saya, Arby!" kata Angga penuh semangat di depan mikrofon. Dari meja sebelah, Arby bergabung ke meja Elara. "Ada apa, sih?" Elara mengangkat bahu. "Ada artis mau manggung!" katanya kembali kesal. Begitu intro dari gitar Angga memecah keheningan, Arby langsung berdiri dan melonjak-lonjak. "YEAHHH!" pekiknya kegirangan. Jemari Angga menari lincah pada deretan senar gitar memainkan sebuah anthem yang diciptakan oleh Harold Faltermeyer dan Steve Stevens, sekaligus menjadi sountrack film terkenal yang juga favoritnya, Top Gun. Film yang dibintangi oleh Tom Cruise itu pula yang menginspirasi Arby menjadi pilot pesawat tempur. Ada beberapa nada yang meleset, tetapi tidak mengurangi kesakralan lagu tersebut. Mata Arby berkaca-kaca. Dalam sekejap mata, posisi Beno di hatinya digantikan oleh Angga yang menyebut dirinya sebagai adik, bukan sebagai adik ipar. Sungguh, ia sangat menghargai panggilan sederhana itu. Seturunnya Angga dari panggung, Arby memeluk Angga erat. "Keren banget, Mas! Terima kasih." "Kamu yang keren. Saya salut sama kamu," balas Angga memeluk Arby. "Dance! Dance! Dance!" teriak para sepupu Angga menyuruhnya melantai. Alunan musik syahdu pun mulai terdengar. Angga menarik tangan Elara menuju lantai dansa. Tangan kirinya memeluk pinggang ramping perempuan itu hingga tubuh mereka tak lagi berjarak. "Saya nggak bisa dansa," kata Elara gugup. Sejenak amarahnya terhadap Angga yang telah menipunya pun terlupakan. Pipinya memerah. Jantungnya bergemuruh riuh. Hey, seorang pria tampan memelukmu dan kau berharap jantungmu baik-baik saja? Tampan? Astaga, tolong jaga matamu, El! Angga terkekeh. "Dansa asal-asalan aja ndak masalah," katanya. "Jangan injak kaki saya," tegurnya. "Oops, maaf." Beberapa menit berlalu, terdengar lagi gumaman riuh menyuruh mereka berciuman. Elara memutar bola matanya gusar. Merepotkan sekali keluarga Gunardi ini, batinnya. "Apa sebaiknya kita berciuman saja?" tanya Angga mendekatkan kepalanya. "Jangan macam-macam, Dok!" seru Elara tertahan. Matanya melotot. "Kamu nggak berhak!" "Serius?" Angga nyengir geli. "Kamu istri saya, lho. Sah di mata agama dan negara." Elara menggeram mengingatkan. "Saya pikir pernikahan kita hanyalah quid pro quo." "Tetap saja saya mengucap akad dengan sungguh-sungguh, El, saya ndak main-main," ucap Angga serius. Elara menatap Angga tajam. "Tapi saya nggak mau. Ini di luar kesepakatan kita." "Oh ya?" Angga mengangkat alisnya. Tatapan tajam ala rock and roll dari mata Elara itu power-nya dahsyat sekali. Naluri kelelakiannya semakin tertantang. "Anggap aja improvisasi, bagaimana?" "No way!" Elara berdecak. Sorak-sorai agar mereka berciuman kembali terdengar. "Mereka ndak bakalan berhenti, El." "Serius, Dok. Beneran kamu ... straight?" Dengan jantung berdebar Elara bertanya dan berharap Angga menjawabnya dengan gelengan kepala. Angga tersenyum kecil. "Sepertinya sudah sering saya memberi gelagat bahwa saya pria normal. Kamu saja yang ndak peka dan bersikukuh dengan asumsimu." "Tapi kamu nggak pernah membantah asumsi saya." "Memangnya penting?" Angga mengangkat bahu. "Terlepas dari saya gay atau tidak, pernikahan ini akan berjalan sebagaimana mestinya." "Hah?!" Angga lalu memajukan tubuhnya berbisik lembut di telinga Elara. Bisikan tersebut membuat nyawa Elara seolah lepas dari tubuhnya. "I'm perfectly straight, El. So do not fall in love with me, 'cause it might hurt you someday in the most beautiful way." Kalimat tersebut mengandung ancaman dan peringatan. Tengkuk Elara meremang. Ia sontak terdiam. Lututnya lemas sudah. Rasanya kepingin pingsan. Tetapi kesadarannya tak jua menghilang. Sialan! "Cium! Cium! Cium!" "Persetan, El. I have to kiss you. Mereka berisik sekali." Angga memiringkan kepalanya. Elara tak sempat mengelak. Satu detik kemudian, lembutnya bibir pria itu membungkam mulutnya. Tangan kanan pria itu menahan tengkuknya. Matanya perlahan terpejam. Jiwanya seakan-akan terbang. Irama jantungnya berdentam-dentam. Suara riuh di sekelilingnya tak lagi ia pedulikan. Elara tersadar, baru saja terperosok dalam jurang terdalam permainan paling berbahaya di sepanjang hidupnya. Marriage is gambling. Sometimes you lose, and sometimes you win.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN