Zenia menunduk, tangannya gemetar ketika ujung jarinya menyentuh dasi Matteo yang tergantung di leher kemeja putih pria itu. Napasnya terasa berat, d**a naik turun dalam ritme yang berantakan. Matteo berdiri tegak di hadapannya, tubuhnya tinggi menjulang, wangi parfumnya menusuk tajam ke hidung Zenia — aroma yang mencampur kemewahan dengan arogansi. “Cepat,” ucap Matteo dengan nada rendah dan dingin. Tidak ada nada memohon di sana, hanya perintah yang mengiris seperti bilah tipis. Zenia menelan ludah, bibirnya bergetar kecil. Ia mengangkat dasi itu perlahan, membungkuskan kain hitam halus di sekitar leher Matteo, lalu mencoba mengikat simpulnya dengan tangan yang terus bergetar. Setiap kali jarinya menyentuh kancing kemeja itu, Zenia bisa merasakan detak jantungnya sendiri semakin kencan

