Tok! Tok! Tok! Ketukan itu berulang-ulang, keras dan cepat, seakan tak memberi kesempatan Zenia untuk bernapas. Ia menggeliat, separuh tubuhnya masih terbungkus selimut ketika kelopak matanya membuka perlahan. Sekilas, ia menatap jam di dinding—baru pukul dua siang. Napasnya keluar panjang dan kesal. Ia baru memejamkan mata satu jam lalu, mencoba menenangkan diri setelah pagi yang penuh tekanan. Tapi ketukan itu tak berhenti. Kini suara Matteo terdengar di balik pintu. “Buka, Zenia.” Nada suaranya rendah, berat, dan memerintah. Zenia menekan keningnya, lalu bangkit dari ranjang. Langkahnya malas, tapi suaranya tetap tenang meski terdengar getir. “Apa lagi sekarang, Matteo? Tak bisakah aku—” Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika pintu terbuka begitu saja. Matteo berdiri di

